Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 129 HoneyMoon



Hari yang dinanti Keira dan Kevin pun tiba. Hari dimana mereka akan menikmati hadiah bulan madu dari relasi bisnisnya. Meninggalkan sejenak rutinitas sehari-hari dan selama empat hari mereka akan bersenang-senang dan menikmati waktu bersama.


Little Peter Oasis, Belize - Amerika Tengah. Sebuah pulau yang indah dan memanjakan mata, terlebih sangat cocok untuk pasangan yang sedang menikmati bulan madu. Pulau yang dilengkapi dengan bungalo, kolam renang, koki pribadi, pelayan pribadi, dan masih banyak fasilitas wah lainnya. Serta pemandangan yang sangat menawan akan memanjakanmu.


Keira berdecak kagum sesampainya disana. Tak pernah terbayangkan ia bisa mengunjungi sebuah tempat yang sangat indah ini. Kevin pun tak kalah bahagia, saat melihat senyum Keira merekah sesampainya di sana. Apalagi kedatangan mereka di sambut dengan hangat oleh para pelayan. Kevin dan Keira bagaikan raja dan ratu yang di layani dengan sepenuh hati. Kini mereka sudah berada di atas kapal Yacht. Kevin dengan erat memeluk Keira dari belakang, sembari menikmati pemandangan indah di pulau itu.


''Mas, aku bahagia sekali. Tuan Michael dan Tuan Steven benar-benar sangat baik. Kita berangkat di jemput dengan jet pribadi milik Tuan Steven, bahkan kita di antar sampai tempat tujuan. Terus Tuan Michael memberikan kita hadiah berlibur di Pulau miliknya ini.''


''Aku juga sangat bahagia, Kei. Tapi maaf kalau aku belum sempat mengajakmu bulan madu. Justru orang lain yang memberikan hadiah ini untuk kita.''


''Tidak apa-apa, Mas. Aku mengerti kalau kamu pasti sangat sibuk. Kalau dapat hadiah ini, mau tidak mau, kamu pasti akan berangkat karena merasa tidak enak dengan Tuan Michael dan Tuan Steven.''


''Iya, kamu benar juga Kei. Sebenarnya aku sudah merencanakan bulan madu saat kamu selesai dengan semua skripsi dan wisudamu, sekaligus aku ingin mengajak Marvel.''


''Kalau itu bukan bulan madu tapi liburan. Ya, kamu kan memang gila bekerja, Mas.''


''Yahh, kok jadi marah sih?''


''Ya masa iya bulan madunya nunggu wisuda, kelamaan.''


''Ya gimana ya, kita tiap hari saja sudah bulan madu di atas ranjang. Di kamar bulan madu, di kantor juga bahkan di kamar mandi juga bulan madu. Intinya kan beda tempat saja, iya kan?''


''Iya aja deh daripada debat sama kamu,'' kata Keira dengan bibir manyunnya. Kevin yang gemas pun mengecup pipi Keira dari belakang.


''Oh, istri aku gemesin banget deh kalau lagu cemberut gini,'' kata Kevin sambil mengendus-endus pipi Keira dengan gemas. Keira hanya bisa tertawa geli dengan sikap suaminya itu.


Setelah puas mengelilingi pulau dengan Yacht, keduanya kemudian menikmati fasilitas spa. Mulai dari pijat, lulur, masker wajah sampai meni cure dan pedi cure. Kemudian mereka berendam di dalam kolam susu yang sudah di sediakan. Kevin dan Keira benar-benar merasakan sangat rileks. Semua pelayanan dan fasilitas yang di berikan bukan kaleng-kaleng.


Malam harinya, mereka menikmati makan malam romantis dengan view yang indah. Di tambah iringan live musik yang di hasilkan oleh sexsophone, yang semakin membuat mereka lebih intim. Dress putih selutut tanpa lengan, semakin membuat Keira tampak seksi dan cantik. Di tambah sekuntum bunga yang Kevin selipkan di telinga Keira.


''Kei, kamu cantik sekali. Aku yakin setelah kita pulang bulan madu, kamu akan segera hamil.''


''Memang kamu sangat ingin punya secepatnya ya, Mas?''


''Tentu saja. Usiaku sudah tidak muda lagi, jadi aku ingin secepatnya memiliki anak.''


''Memangnya, kamu ingin punya berapa sih?''


''Dua anak cukup dari kamu, Kei. Kita juga sudah ada Marvel. Supaya kamu tidak terlalu repot dan sibuk karena mengurus banyak anak. Kalau banyak anak, nanti kamu pasti mengabaikan aku.''


''Selalu begitu, masa sama anak sendiri begitu.''


''Aku tidak bisa lepas dari kamu, Kei. Kamu itu candu untukku. Aku juga tidak ingin jarak anak kita terlalu jauh. Jadi cukup setahun saja jaraknya. Aku tidak mau kamu terlalu capek mengurus anak. Apalagi aku tahu bagaimana sakitnya melahirkan, aku selalu khawatir melihat hal itu. Jadi cukup dua saja, bagaimana?''


''Tidak masalah. Aku malah pinginnya satu aja tapi cewek.''


''Jangan satu dong. Aku kan tidak punya saudara, kasihan Marvel kalau adiknya satu, supaya rumah ramai. Jadi dua ya?''


''Iya Mas. Semaunya kamu aja lah.''


''Dengan senang hati.'' Jawab Keira sambil mengulurkan tangannya. Mereka kemudian berdansa dengan saling menatap mesra satu sama lain. Menikmati malam yang semakin terasa dingin, dengan tiupan angin pantai yang menyejukkan. Sesekali Kevin mengecup mesra bibir istrinya, membuat Keira tersipu malu.


''Mas, kan ada orang lain? Ada pengiring musik.''


''Anggap saja mereka itu berada dalam daftar musik di ponsel kita. Mereka juga pasti sudah biasa menyaksikan hal seperti ini. Iya kan? Jadi nikmati saja sayang,'' kata Kevin. Entah berapa kali bibir Kevin mendarat di bibir Keira saat mereka asyik berdansa.


''Mas, ke kamar yuk! Dingin,'' bisik Keira.


''Dingin atau lagi pingin?''


''Dingin Mas, ih kamu ini. Lagian kamu mancing juga, pakai cium-cium bibir.''


''Ya aku sengaja mengirimkan kode, tapi kamu yang tidak peka. Aku sudah dari tadi pingin ke kamar. Melakukan ritual sakral.'' Kata Kevin dengan senyum nakalnya.


''Apalagi sejak kita tiba, kita belum melakukannya kan? Padahal kan jadwalnya sehari 3x. Jadi nanti kita langsung gempur sampai pagi ya?'' sambung Kevin.


''Memangnya kamu kuat?''


''Kamu memang selalu meragukan keperkasaanku, sayang.'' Kevin lalu menggendong Keira dan membawanya ke kamar. Sambil menggendong Keira, Kevin sudah mencium pipi Keira bertubi-tubi saking gemasnya. Keira hanya bisa tertawa geli dengan sikap suaminya yang seperti buaya, saat mendapat mangsa ingin langsung di terkam. Sesampainya di kamar, Kevin merebahkan tubuh Keira di atas tempat tidur. Tidak lupa kamar di kunci dan semua tirai di tutup rapat. Kevin mencoba suasana baru, dengan mematikan lampu utama dan hanya menggunakan cahaya dari lilin aroma terapi. Kevin berusaha menciptakan suasana berbeda saat bercinta.


''Mas, kenapa di matikan? Kan jadi redup kalau cuma pakai lilin.''


''Justru redup seperti ini yang bikin enak, sayang. Biasanya kita kan selalu dengan lampu menyala terang tapi sekarang kita pakai minim cahaya, biar semakin romantis.''


''Tapi kan aku takut gelap, Mas.''


''Tenanglah, aku akan membuang rasa takutmu dengan sebuah kenikmatan.'' Kata Kevin. Kevin kemudian melepas kemeja putihnya, ia lalu naik ke atas ranjang. Kevin lalu meminta Keira untuk berbaring membelakanginya. Di kecupnya leher dan punggung Keira dari belakang.


''Pejamkan matamu Kei, rasakan setiap sentuhan yang aku berikan. Dengan itu rasa takutmu akan menjadi hilang.'' Bisik Kevin dengan lembut. Keira hanya menurut dan mulai memejamkan matanya. Kevin muali menjamah tubuh istrinya dengan sangat lembut. Perlahan Kevin menurunkan reslesting dress milik Keira. Keira hanya diam tak merespon namun jantungnya sudah berdegup sangat kencang. Ia pun sudah mulai terangsang dengan sentuhan yang di berikan oleh suaminya. Kevin mulai mencium daun telinga Keira, sampai ia merasakan aroma nafas Kevin yang sangat segar. Ciuman kemudian turun pada leher, bahu lalu menuju punggung. Keira hanya bisa menggeliat dalam diamnya. Karena sungguh ia memang takut akan gelap. Cahaya lilin yang berjajar di setiap sudut dan sisi ruangan, belum cukup membunuh rasa takut Keira akan gelap.


Kevin dengan lembut lalu melorot dress milik Keira. Hingga menyisakan cd putih berenda. Kevin melanjutkan ciumannya hingga sampai pada telapak kaki Keira.


''Mas... Ahhh,'' hanya itu yang terlontar dari bibir Keira. Kemudian di baliknya tubuh Keira menghadapnya.


''Kei, bukalah matamu.'' Kata Kevin. Keira perlahan membuka matanya. Di lihatnya wajah suaminya itu yang sedang tersenyum.


''Apa kamu masih bisa melihat wajahku, Kei?''


''Iya Mas,'' jawab Keira lirih.


''Apa kamu masih takut?''


''Tidak, Mas.'' Jawab Keira sambil menggeleng pelan. Kevin tersenyum lalu melahap bibir istrinya dengan lembut. Keira yang mulai merasakan nikmat, mengalungkan tangannya pada leher Kevin. Ciuman yang di berikan Kevin semakin cepat dan semakin rakus. Bukan hanya sekedar mengigit dan menghisap bibir, tapi persilatan lidah pun di mulai.


Keira benar-benar merasakan sensansi bercinta yang luar biasa. Pria bertubuh atlestus itu begitu piawai membuatnya menggeliat, mendesah, menjerit nikmat bahkan bergetar saat Kevin mampu membuatnya mencapai puncak kenikmatan hingga berkali-kali. Setiap sentuhan, pijatan, remasan dan hentakan yang di lakukan Kevin, membuat Keira merasa di atas awan. Begitu pula dengan Kevin yang mendapatkan seorang gadis perawan kota yang menawan. Membuatnya begitu semangat untuk mencumbunya. Apalagi bertahun-tahun hasrat bercintanya ia kubur dalam-dalam, hingga akhirnya lepas tak terkendali saat bersama dengan Keira, sosok yang selama ini ia cari.



Bersambung.....