Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 174 Tremor


Miko dan Gina bersama Nyonya Rosa tengah menikmati makan malam bersama.


''Sayang, sepertinya kita harus menambah dua asisten rumah tangga deh. Apalagi Bibi memberi kabar kalau dia tidak bisa kembali lagi.''


''Untuk apa-apa banyak-banyak sih, Miko. Gina sudah bisa menghandle semuanya, lagi pula kalian belum punya anak kan?'' sahut Nyonya Rosa.


''Justru itu Mah, kita sedang program kehamilan jadi kita tidak boleh capek dan aku akan mengurangi jam kerjaku juga.'' Ucap Miko sambil menahan kesalnya.


''Ya sudah Mas, tidak masalah. Nanti kita cari dua lebih baik. Satu untuk uran dapur dan satunya lagi untuk kebersihan rumah. Aku setuju dengan ide kamu.''


''Baiklah sayang, besok kita tanya saja sama Bi Nani atau Mbak Rima siapa tahu mereka ada kerabat atau kenalan.''


''Iya Mas. Oh ya Mas, besok aku ada wawancara exclusive lho untuk majalah fashion terkenal Miracle Magazine. Jadi mereka ingin mengulas perjalananku di dunia mode, sekaligus aku akan menjadi sampul utama majalah mereka.''


''Wah, kamu memang hebat sayang. Aku sangat bangga dengan prestasi yang kamu raih.''


''Terus aku ingin besok kamu dan Mama temani datang ke wawancara aku ya. Aku juga sudah memberi kabar sama Ayah dan Ibu supaya besok datang juga. Aku ingin orang yang selalu mendukung aku dan mendoakan aku ada saat aku wawancara.''


''Pasti sayang, aku akan dengan bangga datang kesana.''


''Mama tidak janji bisa datang atau tidak,'' ketus Nyonya Rosa dengan sejuta gengsi di dalam dirinya.


Gina tersenyum mendengar jawaban Ibu mertuanya itu. ''Iya tidak apa-apa, Mah.''


''Usahakan lah, Mah. Mama kan sama sekali belum pernah mengunjungi butik Gina. Mama pasti akan bangga dengan kerja keras Gina.'' Sahut Miko.


Karena kebencian yang begitu mendarah daging pada Gina, Nyonya Rosa sama sekali tidak mau tahu tentang Gina, bahkan bisnis apa yang di jalani oleh Gina. Namun hal itu sama sekali tidak Gina permasalahkan karena dari awal Gina sudah tahu kalau hubungannya dengan Miko tidak mendapat restu.


-


Di rumah, Kevin juga sedang menikmati makan malam bersama Keira dan Marvel.


''Kei, setelah ini kamu ingin kegiatan apa?''


''Belum tahu, Mas. Yang jelas aku akan tetap mewujudkan mimpi aku untuk membuka sekolah gratis bagi anak-anak yang membutuhkan.''


''Oke, baiklah. Sesuai dengan kesepakatan kita dulu, aku akan merenovasi rumah almarhum orang tua aku sebagai sekolah. Sayang juga kalau harus di biarkan seperti itu.''


''Kamu serius, Mas?''


''Iya, aku serius.''


''Tapi keuangan perusahaan belum stabil, Mas. Kita pelan-pelan saja ya, Mas.''


''Kamu tenang saja, sayang. Smart bag ku sebentar lagi launching, sayang. Para investor pun berdatangan.''


''Syukurlah Mas, aku senang sekali mendengarnya. Aku bahagia karena semuanya berakhir indah sesuai harapan kamu, Mas.''


''Mah, Marvel boleh kan malam ini tidur bersama Mama dan Papa.'' Sahut Marvel.


''Tentu boleh dong,'' jawab Keira dengan senang hati.


-


Sementara itu Laras dan Krisna tengah duduk bersama di sebuah taman.


''Kak, aku tidak percaya kalau bulan depan kita akan menikah. Aku bahagia sekali.''


''Apa hubungan kita tidak terlalu cepat ya?''


''Memangnya Kakak maunya kapan?''


''Bukan begitu maksudku. Pertemuan kita sangat singkat, eh tahu-tahunya kita sebentar lagi mau menikah.''


''Apalagi aku yang sudah jomblo entah berapa tahun lamanya. Aku takut kalau aku tidak bisa membahagiakanmu, Ras. Aku harap kamu mau menerima semua kekuranganku, Laras. Aku memang sangat bodoh soal cinta, mungkin kalau kamu tidak bergerak cepat, kita tidak akan sampai di titik ini.''


''Aku menggunakan filling ku kalau Kakak adalah jodohku. Maaf ya Kak, kalau aku terkesan menekan Kakak.''


''Ya mau bagaimana lagi, sudah terlanjur.''


''Ihh jahat banget sih,'' kata Laras sambil memukul dada Krisna. Krisna tersenyum lalu merangkul bahu Laras.


''Sebaiknya sekarang aku antar kamu pulang ya.''


''Kakak mau kan menginap di rumah ku?''


Krisna terkejut dan melotot dengan ajakan Laras. Mendadak penyakit gugupnya menyerang. ''Un-untuk apa Laras? kita belum menikah.''


''Aku sendirian di rumah sama Bibi saja. Mama dan Papa keluar kota. Memangnya kalau menginap Kakak mau ngapain? kita kan tidak harus tidur satu ranjang.''


''Laras, kita ini belum menikah jadi kamu sabar dulu ya. Kasihan Ibu juga kalau sendirian di rumah.''


''Sebenarnya Kakak cinta nggak sih sama aku?''


''Lah, kamu ini gimana sih? kalau nggak cinta, untuk apa aku menikahi kamu, Laras. Kamu ini ada-ada saja. Mempertanyakan pertanyaan yang sudah tahu jawabannya.''


''Ya habis, aku belum pernah merasakan perjuangan kamu untuk mendapatkanku. Sampai detik ini, selalu aku yang berjuang untuk kamu.''


''Kita ini sudah mau menikah tapi pikiran kamu masih saja seperti itu. Laras, kamu tahu kalau ini punya penyakit gugup yang parah. Seandainya aku tidak di pertemukan dengan kamu, bisa jadi aku tidak akan menikah atau mungkin aku semakin sulit mendekati seorang wanita. Ya hanya kamu satu-satunya wanita yang berani mendekati aku dan perlahan membuat rasa gugup ini mereda, meskipun belum total. Apa seserahan yang aku bawa saat lamaran kurang? atau konsep pernikahan kita kurang mewah lagi?''


Laras lalu meraih tangan Krisna dan memeluknya. Ia kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Krisna. ''Tidak ada yang kurang, Kak. Justru apa yang Kakak berikan sangat melebihi ekspetasi aku. Maaf ya Kak, aku tidak maksud seperti itu.''


''Laras, aku kan sudah bilang kalau aku tidak pandai mengobral cinta. Bagi aku yang terpenting adalah tindakan, bukan kata-kata.''


''Kalau begitu sekarang bilang kalau Kakak mencintaiku.''


''Kamu masih memintaku untuk mengatakan itu? padahal sebelumnya aku sudah bilang will you marry me, sebuah kata yang melebihi kata cinta.''


''Habis Kakak hampir tidak pernah bilang aku cinta kamu duluan. Selalu aku yang memulainya.''


Krisna menghela nafas panjang, ia heran dengan pikiran seorang wanita. Di lamar sudah, di nikahin pasti tapi masih ingin mendengar kata cinta, heran. Itulah yang ada dalam benak Krisna.


''Baiklah Laras, aku mencintaimu. Apakah itu sudah cukup?''


''Lagi,'' pinta Laras dengan manja.


''Aku mencintaimu, Laras. I love you full. Sudah cukup?''


''Ah nggak tulus, nggak romantis, masa nadanya seperti orang marah,'' kesal Laras. Lagi-lagi Krisna menghela nafas panjang. Krisna kemudian menangkupkan kedua tangannya pada wajah Laras dan menatap Laras dalam-dalam. ''Laras, terima kasih kamu sudah hadir dalam hidupku dengan waktu yang begitu cepat dan singkat. Aku tidak percaya kalau sebentar lagi, aku akan menikah. Kamu satu-satunya wanita yang datang dan menyembuhkan luka ku. Maaf kalau aku tidak pandai merayu, puitis apalagi romantis. Yang jelas cukup kamu tahu bahwa aku mencintaimu dari lubuk hatiku yang terdalam. Apapun akan aku lakukan untuk membuatmu bahagia.'' Krisna kemudian mengecup kening Laras untuk beberapa saat.


Laras tersenyum. ''Terima kasih ya, Kak.'' Krisna lalu melepaskan tangannya karena mendadak ia tremor lagi.


Laras pun kesal kembali. ''Ihh Kakak ih, masa gitu lagi. Belum hilang gugupnya? terus nanti kalau kita malam pertama gimana? masa iya mau tremor, yang ada mana bisa masuk.''


''Masuk? apanya yang masuk?'' tanya Krisna gugup.


''Itu terongya. Gimana mau masuk ulekan, kalau Kakak nanti mendadak tremor.''


''Oh biar Ibu saja atau kamu yang masak terongnya. Lagian aku juga nggak bisa ngulek. Yang ada kalau gugup dan tremorku kumat, semuanya malah berantakan.''


Laras mendengus kesal, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menepuk keningnya. ''Hmmmm Kak Krisna ini memang kebangetan. Bayangin coba kalau nanti terongnya ikutan tremor? mana bisa masuk. Sabar Laras.'' Gerutu Laras dalam hati.


Bersambung....