Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 261 Berkah Menikah


Satu bulan sudah Johan bekerja di perusahaan Kevin. Kevin merasa salut dengan kinerja Johan. Dalam waktu satu bulan, Johan berhasil memecahkan rekor target penjualan produk terbarunya. Kevin tersenyum puas melihat hasil penjualan yang di luar ekspetasi.


“Permisi Tuan Kevin. Tuan memanggil saya?” ucap Johan begitu masuk keruangan Kevin.


“Iya Jo, duduklah.” Ucap Kevin. Johan pun kemudian duduk di hadapan Kevin. Johan merasa gugup karena tiba-tiba Kevin memanggilnya.


“Jo, aku puas dengan target penjualanmu. Jujur saja target penjualanmu di luar ekspetasiku. Bahkan staf marketing pun melakukan penjualan bulan lalu tidak sebanyak ini. Karena produk ku ini bukan termasuk kebutuhan pokok tapi lebih kearah teknologi dan tentu saja tidak semua orang membutuhkannya. Tapi kamu berhasil menjual lebih dari itu. Bahkan target penjualan dan kerja sama dengan beberapa toko elektronik pun hasilnya tidak sebagus ini. Tapi kamu langsung menjualnya dan sold out. Baru kali ini ada pegawaiku melakukan penjualan sebanyak ini apalagi dalam bidang elektronik. Apa rahasia strategi marketingmu Jo?”


Johan tersenyum malu mendapat pujian dari atasannya. “Sebenarnya saya menawarkan produk sanda kepada para klien saya dulu. Lebih tepatnya klien pacarsewaan.com saya, Keira dan Laras.  Saya masih mempunyai semua kontak mereka. Akhirnya saya ajak mereka bertemu dan meminta mereka untuk membeli produk saya. Klien kami dulu dari berbagai kalangan Tuan, mulai dari pelajar, mahasiswa, pengusaha, remaja bahkan orang dewasa. Bersyukurnya mereka antusias mendengarkan demo saya. Tentu saja target saya dari sebagaian mereka adalah kalangan menengah atas Tuan. Dan baru saja ada pesan masuk di ponsel saya kalau Tuan Reno, seorang klien yang pernah kami bantu meminta 100 pcs smart watch dan smart bag yang akan ia bagikan pada yayasan anak yatim piatu untuk kelahiran putra pertama mereka. Kebetulan Keira lah dulu yang membantu Tuan Reno.” Jelas Johan.


“Memang benar kata Keira kalau strategi marketingmu sangat bagus. Aku ingin sekali bertemu dengan Tuan Reno. Sungguh dia yang menyewa jasa istriku?”


“I-iya Tuan. Tapi mereka tidak berbuat apa-apa kok. Justru Keira yang membantu Tuan Reno bersatu dengan cintanya. Mereka ingin barangnya di kirim ke Malaysia karena mereka tinggal disana. Dan tadi Tuan Reno bahkan sudah membayarnya cash lewat rekening perusahaan Tuan, anda bisa mengeceknya.”


“Kamu serius Jo?” Kevin terbelalak tidak percaya.


“Iya Tuan.”


Kevin kemudian segera mengecek rekening perusahaan dan ternyata benar, jumlah yang sangat fantastis masuk ke rekening perusahaannya. Kevin benar-benar puas dengan kinerja Johan.


“Wah, kamu sungguh hebat Jo. Aku tidak mau basa-basi lagi denganmu, sesuai janjiku aku akan memberimu reward untuk menjadi manager marketing.”


Mendengar ucapan Kevin, Johan benar-benar tidak percaya bahakan ia sangat terkejut. “Tu-tuan serius? Saya kan baru satu bulan 10 hari disini Tuan. Saya belum pantas mendapatkan jabatan itu Tuan.”


“Jo, tim marketing membutuhkan orang sepertimu. Bukan masalah berapa lama kamu bekerja di perusahaan tapi ini tentang kinerjamu yang sangat bagus. Apa kamu siap Jo?”


“Tuan, ini sungguh di luar perkiraan saya. Saya tidak berharap secepat ini naik jabatan apalagi berpikir kearah sana, Tuan.”


“Tapi aku ada tugas untukmu, Jo. Ada beberapa produk perusahaan yang macet di perusahaan, ibarat orang jualan tentu saja ada yang laku da nada yang penjualannya seret. Aku butuh kamu untuk menjalankan kembali produk itu. Nanti aku akan meminta Siska untuk mengurusnya. Jadi tiga bulan ini aku mentrainingmu sebagai manajer marketing, kalau tiga bulan semua target yang aku berikan gol, jabatanmu aku naikkan dan aku akan memberikan bonus untukmu. Apa kamu menerima tantanganku Jo?”


Johan berpikir sejenak sebelum memutuskannya.


“Ini adalah rezeki Jo. Tidak semua orang mendapatkan kenaikan jabatan secara langsung seperti ini. Ayo Jo, kerahkan dan tunjukkan kemampuanmu. Ingat juga cicilanmu masih banyak. Kalau jabatanmu naik, Tessa tidak perlu kerja lagi. Kamu bisa membangun mimpi-mimpimu. Apalagi Tuan Kevin sudah sangat baik kepadamu.” Gumam Johan dalam hati.


“Baik Tuan, saya menerima tantangan dari anda.”


Kevin tersenyum lalu mengulurkan tangannya pada Johan. Johan pun menerima uluran tangan Kevin.


“Selamat ya Jo atas prestasimu ini. Aku salut dan bangga dengan kinerjamu. Kamu sangat tekun dan ulet dalam bekerja. Semangat ya, Jo.”


“Iya Tuan, saya akan memberikan yang terbaik untuk anda dan perusahaan. Sekali lagi terima kasih untuk kepercayaan yang anda berikan.”


“Aku akan mentransfer sejumlah uang kedalam rekeningmu sebagai bonus target penjualanmu.” Ucap Kevin.


“Ya Allah terima kasih Tuan Kevin, sekali lagi terima kasih Tuan. Saya pasti akan lebih semangat untuk bekerja.”


“Siap Tuan, kalau begitu saya permisi.”


“Iya silahkan.”


 


#####


 


Sore hari tepat jam 5 Johan sampai di butik Gina untuk menjemput Tessa dan Anrez.


“Hai Papa!” sapa Anrez begitu masuk kedalam mobil.


“Hai juga jagoan Papa. Kita makan di luar ya.”


“Oke Pah.” Jawab Anrez dengan semangat.


“Mas, kita sedang berhemat. Kita makan di rumah saja ya.” Kata Tessa.


“Hari ini kita makan enak pokoknya karena aku dapat bonus.”


“Wah, syukurlah Mas. Tapi kamu kan baru kerja satu bulanan Mas, kok sudah dapat bonus saja. Kamu tidak korupsi kan?”


“Ya ampun, Tessa. Apa yang kamu pikirkan itu salah. Ya tidaklah, untuk apa aku korupsi. Aku mendapatkan bonus dari Tuan Kevin karena aku bisa melebihi target penjualannya dan kamu tahu kalau aku naik jabatan.”


“Kamu serius, Mas?” Tessa merasa masih tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Johan.


“Iya Tessa, kamu bisa tanya langsung sama Tuan Kevin. Yang jelas ini adalah berkah yang luar biasa. Aku naik jabatan juga karena kerja keras kok. Itupun aku setelah ini harus mencapai target lagi, Tessa. Kamu doakan aku ya, semoga semuanya lancar.”


“Amin. Aku selalu mendoakan semua yang terbaik untukmu dan juga keluarga kecil kita. Ya Allah tapi aku rasanya masih tidak percaya dengan semua ini. Ini rasanya terlalu cepat dan singkat saja, Mas.”


“Akupun juga sama, Tessa. Kalau karir aku bagus, kamu tidak perlu kerja lagi ya. Kamu cukup fokus dengan Anrez, aku dan rumah tangga kita. Biarkan aku yang kerja. Dan nanti aku ingin tetap mewujudkan mimpi aku mempunyai sebuah café. Yang jelas aku juga ingin segera menyelesaikn cicilan rumah.”


“Apapun keinginanmu, aku akan selalu mendukung selagi itu positif. Aku bahagia sekali mendengarnya. Tapi ingat ya Mas, jangan sombong dan tetap rendah hati ya. Pasti nanti aka nada saja orang yang iri denganmu. Tetaplah menjado Johan yang rendah hati dan apa adanya.”


“Iya Tessa. Lagi pula apa yang ingin aku sombongkan, semua yang kita miliki itu titipan. Jadi selagi kita diberi lebih, kita harus menjaga dan memanfaatkan sebaik mungkin.”


“Kamu juga jangan mengecewakan Tuan Kevin ya. Kamu juga harus amanah karena banyak sekali yang ingin berada di posisimu, Mas.”


“Iya-iya itu pasti. Kamu tenang saja ya, aku tidak akan berubah.”


Bersambung.....