
Keesokan harinya, Keira pun mulai bangun. Namun kepalanya sangat berat sekali. Dalam pandangan yang masih kabur, ia melihat Kevin yang baru saja selesai mandi.
''Sudah bangun Kei?'' tanya Kevin sambil mendekat ke arah Kevin. Keira lalu melihat tubuhnya di balik selimut, ia terkejut karena telah mengenakan piyama.
''Mas, apa yang terjadi semala? Bukanya semalam tidak ada baju ya?'' kata Keira tergagap.
''Kei, apa kamu lupa yang terjadi semalam? Kamu semalam mabuk dan......,''
''Dan apa Mas? Benar kan dugaan ku, kalau Mas merenggutk kesucianku. Iya kan? Kamu pasti memperkosa aku kan? Pasti di dalam minuman itu ada racunnya kan?'' cerocos Keira dengan air mata yang membasahi pipinya.
''Dasar mesum! Jahat!" Keira memukul dengan keras dada Kevin yang duduk di hadapannya.
''Kita kan suami istri, jadi seharusnya kamu tidak usah menangis. Memang ada yang salah?''
''Iya. Karena itu namanya pemerkosaan, aku akan melaporkanmu pada polisi. Hiks, hiks, hiks.''
''Dasar bodoh!'' kata Kevin sambil mendorong kening Keira dengan telunjuknya.
''Bodoh apanya? Iya aku bodoh karena sudah tertipu. Kamu mengambil semuanya setelah itu kamu mencampakkan aku. Dasar duda gatal!"
''Apa katamu? Duda gatal?''
''Iya. Duda gatal? Aku bukan wanita murahan seperti itu ya.''
''Dengarkan aku! Semalam aku meminta Bibi untuk datang ke hotel. Sekaligus memintanya untuk mengganti pakaianmu. Dasar ge-er, di goda begitu saja sudah besar kepala.''
Keira pun terdiam karena merasa bersalah menuduh Kevin sembarangan.
''Kenapa diam? Malu? Malu karena sudah buruk sangka padaku kan? Aku juga bukan pria seperti itu, Keira. Sebaiknya cepat mandi kita sarapan bersama.''
''Maaf!" singkat Keira.
''Apa? Aku tidak mendengarnya?'' Kevin mendekatkan telinganya ke arah Keira.
''Maaf Tuan Kevin.''
''Maaf Mas Kevin. Coba ulangi.''
''Maaf Mas Kevin.'' Kata Keira. Keira yang jahil pun mengigit telinga Kevin.
''Auw, Kei! Sakit!" rintih Kevin. Namun Keira dengan gesit segera lari menuju kamar mandi.
''Makanya jangan iseng,'' sahut Keira.
''Dia pikir tidak sakit apa?'' gumam Kevin sambil mengusap telinganya.
Kevin yang sudah berpakain lengkap, kini di buat tertegun melihat Keira yang keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di tubuhnya. Apalagi rambut Keira yang basah semakin membuatnya seksi.
''Mana bajuku Mas?'' tanya Keira.
''Itu di tas,'' jawab Kevin santai. Walaupun sebenarnya sebagai pria normal, jelas ada rasa yang aneh dalam benaknya.
Setelah berrganti pakaian, Kevin lalu mengajak Keira untuk turun ke lantai dasar.
''Mau sarapan apa Mas? Atau mau sarapan di hotel saja?''
''Aku ingin kita sarapan di luar.''
''Iya tapi sarapan dimana? Atau kita pulang saja? Aku merindukan Marvel.''
''Besok kita akan pulang. Orang-orang akan curiga kalau kita buru-buru pulang. Ingat ya media masih mengawasi kita.''
''Oke baiklah.'' Kata Keira.
''Kita sarapan di resto depan saja. Jadi kita tinggal menyeberang saja. Pegang tanganku!" Kata Kevin sambil mengulurkan tangannya. Keira pun menerima uluran tangan Kevin. Kevin menggenggam erat tangan Keira untuk menyeberangi jalan menuju restoran.
Bahkan tanpa mereka sadari, mereka terus saling menggenggam sampai mereka tiba di dalam restoran. Saat mereka telah duduk pelayan menghampiri mereka.
''Kamu pesan apa Kei?''
''Apa saja pasti aku makan.''
''Satu susu full cream, sup daging dua, croissant dua dan satu lemon tea.'' Ucap Kevin pada pelayan itu. Setelah mencatat pesanan Kevin, pelayan itupun pergi.
''Kenapa memesankan susu untukku?''
''Kamu lupa kalau semalam mabuk?''
''Siapa yang tahu kalau di itu bukan air. Aku sangat haus.''
''Miko memang keterlaluan.''
''Tapi Mas serius kan kalau semalam tidak terjadi apa-apa?''
''Bagaimana mau terjadi apa-apa? Kamu saja tidur sampai pagi.''
''Huft syukurlah.''
''Kalau memang aku sudah melakukannya, kamu pasti juga merasakan sakit.''
''Merasakan sakit? Apanya yang sakit Mas?'' tanya Keira dengan polosnya.
''Ah sudahlah, lupakan.'' Kata Kevin yang merasa salah tingkah untuk membahas hal intim itu pada Keira.
''Mas, setelah sarapan aku ingin pergi ke makam Bundaku. Sekaligus aku juga ingin melihat makam Nyonya Kania.''
''Iya. Aku juga sangat merindukannya.'' Kata Kevin dengan suara memelan.
Setelah selesai sarapan Kevin dan Keira lalu menuju ke pemakaman. Kebetulan sekali, makan Kania dan Ibu Keira di pemakaman yang sama. Kevin lebih dahulu mengikuti Keira untuk menuju makan Ibunya.
Keira pun menengadahkan tangan berdoa untuk almarhumah Ibunya.
''Bunda, Kei ada disini. Bunda, Kei sudah menikah. Ini adalah suami Kei. Namanya Mas Kevin. Dia pria yang baik meskipun terkadang dia begitu keras kepala. Kei harap Bunda disana selalu bahagia ya karena disini Kei juga sangat bahagia.'' Ucap Keira selepa mendoakan ibunya.
''Bunda, ini aku Kevin. Aku adalah suaminya Keira. Di hadapan Bunda, aku akan menjaga Keira dengan baik. Semoga Bunda selalu tenang di alam sana.''
Keira tersentuh saat mendengar ucapan Kevin. Ia merasa kalau Kevin itu tulus tapi ketika ia teringat kontrak pernikahan itu, Keira meragukan ucapan Kevin. Kini begantian Keira dan Kevin mengunjungi makan Kania.
''Nyonya Kania. Aku adalah Keira. Aku tidak bermaksud menggantikan posisimu di hati Marvel ataupun Tuan Kevin. Tapi yang jelas aku akan menjaga Marvel dan mencintainya setulus hati. Untuk Tuan Kevin, dia sudah menjaga dirinya sendiri.'' Batin Keira setelah selesai berdoa untuk Kania.
''Sayang, semoga kamu selalu bahagia disana ya. Ingatlah kalau sampai kapanpu kamu tidak akan pernah tergantikan. Aku selalu mencintaimu untuk saat ini, esok dan selamanya.''
Kevin kemudin mengajak Keira menuju makam orang tuanya yang juga berada disana.
''Ini adalah makam Papa dan Mama ku, Kei.'' Kata Kevin. Ada nama Sanjaya di nisan makam Papa Kevin dan ada nama Dewi di nisan makam Mama Kevin. Keduanya lalu kompak untuk mendoakan Papa dan Mama Kevin.
Setelah selsai dari pemakaman, mereka lalu kembali ke hotel. Namun Keira melihat wajah Kevin yang sedih selepas dari makam tadi. Kevin hanya terdiam sambil terus fokus menyetir.
''Kalau boleh tahu apa orang tua Mas Kevin sudah lama meninggal?''
''Saat aku berusia 19 tahun. Mereka meninggal saat akan menjemputku menuju bandara.'' Cerita Kevin yang hanya sepenggal. Keira tidak berani lagi bertanya karena melihat raut wajah Kevin yang tampak memiliki luka yang sangat dalam.
''Kasihan juga kamu, Mas.'' Batin Keira.
''Oh ya Mas, aku ingin pergi mengunjungi para lansia ku. Apa boleh? Sekaligus aku ingin tahu rumah orang tua Mas.''
''Oke baiklah.''
''Tapi mampir ke toko puding ya. Aku ingin membelikan mereka puding. Maklum saja itu salah satu makanan yang bisa mereka kunyah.''
''Oke.'' Singkat Kevin.
Akhirnya Keira dan Kevin sampai juga di rumah orang tua Kevin.
''Mas, rumah sebesar ini sayang sekali kalau tidak di tempati.'' Ucap Keira saat sampai disana.
''Ya mau bagaimana lagi. Tapi disini juga ada yang mengurusnya.''
''Mas apa rumah ini akan di jual? Kalau di jual aku ingin sekali membelinya. Uang kontrakku akhir tahun, di tambah uang mahar, sekaligus gajiku sebagai istri kontrak tiap bulan, apa sudah cukup untuk membeli rumah ini?''
''Tentu saja belum cukup. Ada yang menawar 20 Milyar saja tidak aku berikan Kei. Memangnya kamu mau beli untuk apa? Sok-sokan segala,'' ledek Kevin.
''Aku ingin menggunakan rumah ini sebagai panti asuhan atau panti sosial. Sekaligus sekolah gratis untuk anak jalanan. Setidaknya rumah ini tidak dibiarkan kosong. Kalau kita gunakan untuk hal positif akan menjadi ladang amal untuk orang tua Mas disana. Jadi amal kita tidak akan terputus sekalipun kita sudag meninggal.'' Jelas Keira sambil menatap rumah di hadapannya itu. Angan dan cita-cita Keira pun melambung tinggi. Kevin tidak menyangka ternyata Keira memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi. Selama ini penilaiannya terhadap Keira salah, ya meskipun Keira terkadang menyebalkan.
''Kalau untuk itu sepertinya aku bisa mempertimbangkannya untuk menjualnya kepadamu.''
''Sungguh Mas?'' ucap Keira yang reflek memegang kedua tangan Kevin.
''Iya. Aku bisa mempertimbangkannya.''
Mendengar jawaban serius Kevin, membuat Keira spontan memeluk Kevin dengan sangat erat. ''Makasih ya, Mas. Aku senang sekali. Mereka semua pasti akan sangat bahagia kalau tinggal disini.'' Tanpa Keira sadari, Keira memeluk Kevin cukup lama.
''Kei, berapa lama lagi kamu mau memelukku? Jangan-jangan kamu sudah mulai nyaman ya?'' goda Kevin. Keira lalu melepaskan pelukannya segera.
''Nyaman? Seperinya lebih nyaman gulingku di rumah.'' Kata Keira sambil menjulurkan lidahnya. Keira kemudian berlalu dan segeea masuk ke dalam rumah panti sementara itu. Kevin tersenyum kecil sambil mengikuti langkah kecil Keira. Keira dengan penuh semangat menyapa para lansia disana tak lupa Keira membagikan puding yang ia bawa untuk mereka semua. Dan saat Keira berjalan ke halaman belakang, Keira melihat Leon disana.
''Leon!" seru Keira sambil melambaikan tangannya.
''Hai Kei!" balas Leon dengan senyum sumringahnya. Kevin kembi kesal saat melihat Leon disana.
''Lho ada apa dengan wajah mereka, Le? Kamu juga kenapa putih semua?''
''Aku sedang bermain bola bergilir dengan musik. Jadi kalau musiknya berhenti di tangan siapapun, yang terkahir memegang akan di hukum. Mereka yang menang akan mengoleskan bedak ke wajah yang kalah. Mereka senang sekali Kei dan sepanjang permainan, mereka tidak henti tertawa karena melihat wajah mereka penuh dengan bedak,'' jelas Leon dengan tawa kecilnya.
''Kayaknya seru nih. Aku boleh gabung nggak?''
''Boleh-boleh saja.''
''Ehem... ehem...'' suara Kevin berdehem.Keira hampir lupa kalau ia datang bersama Kevin.
''Tuan Kevin. Oh ya aku hampir lupa mengucapkan selamat menempuh hidup baru.'' Kata Leon sambil mengulurkan tangannya pada Kevin dan Kevin pun menerima uluran tangan Leon dengan baik.
''Padahal aku ingin sekali hadir tapi sayang tidak mendapat undangan,'' sambung Leon.
''Undangannya memang sangat terbatas. Hanya untuk keluarga dan orang terdekat saja.'' Jelas Kevin.
''Iya tidak apa-apa. Oh ya terima kasih juga ya Tuan, karena anda sangat baik dengan memberikan mereka tempat tinggal sementara.'' Kata Leon.
''Tidak perlu berterima kasih. Memang sudah seharusnya seperti itu.''
''Mas, kamu ikutan juga ya?'' sahut Keira yang berusaha mengalihkan pembicaraan itu.
''Aku?''
''Iya, kamu. Ayo duduk disampingku!" Keira lalu menarik tangan Kevin dan mengajaknya duduk melingkar seperti yang lain. Keira mengajak Kevin supaya Kevin terhibur dan tidak larut dalam kesedihannya selepas dari pemakaman.
''Baiklah, ayo kita mulai! Kakek-Nenek, kalian siap-siap ya? Apalagi ada pengantin baru disini jadi kalau mereka kalah, kalian bebas menaburkan bedak ke wajah mereka. Oke?'' Kata Leon dengan penuh semangat.
''Oke!" jawab mereka dengan kompak. Permainan pun di mulai. Baru juga bermain Keira sudah kalah. Kevin sangat puas melihat Keira kalah, ia mencelupkan lima jarinya pada bedak dan mengusapkannya ke wajah Keira.
''Mas, peraturannya kan cuma satu jari? Kenapa lima?'' protes Keira dengan kesal.
''Tidak apa-apa, kamu sangat lucu,'' kata Kevin dengan tawanya. Giliran Leon yang mengusapkan bedak ke wajah Keira.
''Aku hanya akan memberikan satu titik di kening kamu, supaya hanya ada aku yang berada di dalam pikiran kamu.'' Bisik Leon yang tanpa ada rasa segan dengan Kevin. Kevin sendiri tidak tuli dan mendengar apa yang Leon ucapkan. Tanpa banyak bicara, Kevin memalingkan wajah Keira ke arahnya. Ia lalu menghapus bedak yang di tempelkan Leon di kening Keira.
''Bedak di keningmu, justru membuatmu semakin jelek.'' Kata Kevin dengan kesal.
''Ini hanya permainan saja, Mas. Jadi aku tidak masalah, aku harus fair dong.''
''Ya aku tidak suka!" kata Kevin.
''Le, kamu kasih bedak lagi aja kening aku. Kan sama aja curang.'' Kata Keira.
''Oke baiklah,'' kata Leon dengan senyum lebarnya. Belum sempat Leon mengusapkan bubuk bedak itu, Kevin langsung memalingkan wajah Keira kearahnya dan mengecup kening Keira. Keira seolah hilang kesadaran saat Kevin mendadak mencium keningnya.
''Nak Kevin dan Nak Keira, kalian mesra sekali. Jadi ingat masa muda nenek dulu,'' sahut salah satu Nenek lansia disana. Kevin lalu melepaskan ciumannya dan merangkul Keira.
''Semoga kalian selalu bahagia dan segera punya momongan ya?'' sahut yang lainnya.
''Iya terima kasih Kakek-Nenek.'' Jawab Kevin dengan senyum lebarnya. Keira hanya terdiam karena merasa bingung dengan situasi yang di alaminya. Keira tidak menyangka kalau Kevin akan bersikap seperti itu padanya. Sementara Leon berusaha menahan rasa cemburnya. Leon berani mengatakan itu karena ia telah mendengar sendiri alasan Keira menikah dengan Kevun karena apa.
Bersambung....