Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 279 Cemburu


Setelah tiga hari di rawat di rumah sakit, akhirnya Johan di perbolehkan pulang. Kevin dan Keira sudah berada di rumah Johan.


''Maaf ya Tuan, kalau saya harus ijin sakit.'' Kata Johan.


''Kenapa harus minta maaf Jo? Kamu kan memang sedang sakit. Sejak pertama kali masuk kerja sampai sekarang, aku melihatnya kamu terlalu bersemangat, Jo.'' Ucap Kevin.


''Iya nih Jo, kerja santai aja lagi.. Nggak ada yang ngejar juga. Kalau sakit kayak gini kan kasihan tubuh elo juga.'' Sahut Keira.


''Hehehe iya Kei. Cicilan yang buat gue ngebut kerja.'' Celetuk Johan terkekeh.


''Aku pun tidak menagihmu, Jo. Kerja sesuai porsinya saja, Jo. Kamu adalah salah satu aset perusahaan di bidang marketing jadi harus jaga kesehatan juga ya.''


''Iya Tuan. Untuk kedepannya saya akan lebih memperhatikan kesehatan. Apalagi sekarang Tessa sedang mengandung, jadi saya ingin sehat dan panjang umur,'' ungkap Johan.


''Mbak Tessa hamil? Wah, bisa barengan sama Laras juga ya. Seru nih nanti.'' Celetuk Keira.


''Selamat ya Tessa-Johan untuk kehamilan Tessa, aku turut bahagia mendengarnya.'' Sambung Kevin.


''Terima kasih Tuan Kevin.'' Ucap Tessa.


''Bayangin deh Jo, nanti anak kita pada gede terus kompak nongkrong bareng, seru kayaknya,'' seloroh Keira dengan tawanya.


''Hahaha iya juga ya, Kei. Semoga anak-anak kita bisa sahabatan kayak kita sekarang ya.''


''Tentu saja dong, Jo.'' Kata Keira.


Setelah menjenguk Johan, Keira dan Kevin pun pamit. Keira ikut Kevin menuju kantor. Sesampainya di kantor, para karyawan menyapa Keira dan Kevin dengan ramahnya. Hari itu Keira ikut membantu Kevin menyeleksi calon asisten sekretaris pengganti Siska.


''Jadi ini sayang, keponakan Gina namanya Chika.'' Kata Kevin sambil menunjukkan civi Chika.


''Masih muda ya Mas. Dari facenya lucu dan imut. Nilainya sih bagus semua ini, Mas.''


''Semuanya terserah kamu sayang. Kamu pemegang kekuasaan tertinggi untuk menentukan ini. Lagi pula Chika ini tetap mau bersikap profesional kok. Dia tetap mau mengikuti serangkaian tes jadi bukan hanya karena faktor orang dalam. Kalaupun dia tidak memenuhi kriteria perusahaan, dia juga siap di tolak.''


''Aku suka gadis seperti itu, Mas. Lalu kapan kamu akan mulai memanggil mereka?''


''Lusa bagaimana sayang?''


''Tidak masalah Mas, lebih cepat lebih baik.''


''Tapi kamu yakin tidak cemburu?''


''Cemburu bagaimana Mas? Selisih usianya dengaku saja hanya 2 tahun kan? Aku yakin dia gadis baik-baik seperti Mbak Gina. Aku yakin dia profesional dan bekerja sungguh-sungguh. Kalau memang dia niat macam-macam, aku sendiri yang akan memecatnya. Aku yakin Mbak Gina dan Kak Miko tidak akan keberatan dengan keputusanku.''


''Kamu memang tegas dan berani, sayang. Itulah yang aku suka dari kamu. Sering-seringlah sayang kamu bantu di perusahaan.''


''Iya tapi kasihan Rachel kalau aku tinggal lama-lama. Setelah ini aku pulang ya, Mas. Lusa aku bantu kamu.''


''Iya istriku sayang.''


-


Nadia begitu terkejut, saat ia hendak menuju tempat parkir, Leon sudah berada di tempat parkir menunggunya. Leon tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Nadia.


''Dasar bocah satu ini, selalu mengejutkan.'' Gumam Nadia seraya mendecih. Nadia kemudian menghampiri Leon.


''Ada apa Leon?'' tanya Nadia.


''Calon istri? Aku saja belum memberimu jawaban, bagaimana bisa kamu menyimpulkan hal itu?''


''Aku tidak butuh jawabanmu sekarang ini. Yang aku butuhkan, ayo ikut ke rumah.''


''Leon, maafkan aku tapi aku harus melakukan penyidikan. Ada kasus yang harus tangani, aku mau bertemu klienku.''


''Baiklah aku ikut! Aku akan mengantarmu.'' Leon lalu menggandeng tangan Nadia dan memaksa Nadia masuk ke dalam mobilnya. Nadia pun tak bisa berkutik dengan apa yang Leon lakukan. Leon kemudian segera melajukan kembali mobilnya.


''Leon, aku tidak suka di paksa seperti ini. Aku ini sedang kerja bukan untuk main-main.''


''Iya aku tahu Nadia. Aku juga serius untuk mengantarmu. Aku hari ini ingin ikut bekerja denganmu. Aku ingin tahu bagaimana rasanya menjadi seorang jaksa. Aku juga ingin tahu bagaimana caranya memahami pekerjaanmu ini.'' Jelas Leon.


''Kamu yakin?''


''Kenapa tidak? Ini sebagai bukti kalau aku tulus padamu.''


Nadia hanya bisa menghela menghadapi sikap keras kepala Leon. Akhirnya Nadia dan Leon sampai di sebuah kedai makan yang sangat sederhana. Nadia menemui kliennya seorang wanita paruh baya. Sementara Leon, memilih tempat duduk yang agak jauh dari Nadia.


''Nona, akhirnya datang juga.'' Kata seorang ibu paruh baya itu.


''Saya pasti datang, Bu Dijah.''


''Tolong saya Nona, selamatkan suami saya dari tuduhan keji itu. Suami saya hanya sedang mencari kayu bakar di hutan dan tidak sengaja menemukan mayat seorang wanita tergeletak disana. Suami saya bukan pembunuhnya. Untuk membunuh seekor lalat saja dia tidak tega apalagi ini seorang manusia.'' Tangis Bu Dijah sambil menggenggam tangan Nadia.


''Ibu tenang ya, saya pun sudah menyiapkan pengacara untuk membantu kasus Ibu dan sebentar lagi dia akan datang. Dia akan membantu Pak Danar di persidangan nanti. Untuk sementara tim saya sedang melakukan penyidikkan.'' Jelas Nadia.


''Terima kasih Nona. Tapi saya tidak punya uang untuk membayar pengacara.''


''Sudah, Bu Dijah jangan pikirkan itu dulu ya. Kita fokus untuk melepaskan Pak Danar dari tuduhan itu.''


Leon pun bisa mendengar apa yang sedang Nadia dan kliennya bicarakan. Leon merasa kagum dengan pekerjaan mulia Nadia itu.


''Tidak semuanya dari mereka yang berada dihukum tebang pilih. Nadia benar-benar menjalankan tugasnya dengan penuh amanah tanpa membedakan status sosial. Tak lama kemudian datanglah seorang pria gagah menghampiri Nadia. Yang ternyata itu adalah pengacara yang Nadia siapkan untuk membantu Bu Dijah. Leon menatap kesal kearah pria itu. Apalagi dari obrolan itu Nadia dengan pria itu terlihat sangat akrab. Ada rasa cemburu di hati Leon. Leon hanya bisa memperhatikan dari kejauhan sambil terus menunggu Nadia menyelesaikan tugasnya. Leon yang mulai jenuh, memesan satu gelas minuman. Namun tiba-tiba Leon merasakan ponselnya bergetar di saku celananya.


''Halo Pah, ada apa?''


''Kamu ini bagaimana? Katanya mau mengajak calon istrimu ke rumah? Papa dan Mama sedang menunggu.''


''Maaf ya Pah, sepertinya rencana di batalkan. Dia sedang menangani kasus pembunuhan.''


''Wah, seram sekali. Apa dia seorang polwan?''


''Dia seorang jaksa, Pah.''


''Wah, hebat sekali dia. Kalau dia sibuk, seharusnya kamu tanya dulu kapan waktu luangnya.''


''Iya Pah maaf. Kalau dia sudah tidak sibuk, Leon akan membawanya ke rumah.''


''Ya sudah kalau begitu, semangat berjuang.''


''Iya Pah.'' Jawab Leon dengan nada lemas. Panggilan berakhir. Hampir dua jam Leon menunggu dan di abaikan oleh Nadia. Satu jam lalu Nadia berdiskusi bertiga dengan Bu Dijah tapi sekarang hampir satu jam hanya Nadia dan pengacara tampan itu yang sedang berdiskusi. Leon semakin kesal karena Nadia seolah lupa dengan kehadirannya. Kekesalan dan cemburu Leon sudah di ubun-ubun.


''Sabar Leon, Nadia itu wanita dewasa. Jadi stop bersikap kenanak-kanakan,'' gumamnya dalam hati. Padahal perasaannya campur aduk entah kemana melihat keakraban Nadia dengan pengacara tampan itu.


Bersambung...