Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 282 Bad Boy Vs Good Girl


''Selamat datang di rumah kita, Chika!" seru Miko yang menyambut kedatangan Chika dengan sangat ramah.


''Terima kasih ya, Om. Seharusnya aku ngekos saja tidak masalah.''


''Hei jangan ngekos, kamu anak gadis ya, bahaya kalau di terkam buaya di luar sana.'' Ucap Miko.


''Buayanya buas kayak kamu nggak Mas?'' celetuk Gina dengan tawa kecilnya.


''Apaan sih sayang kamu ini, aku terus yang kena. Aku kan berusaha menasihati Chika supaya dia bisa jaga diri, disini dia tanggung jawab kita lho.''


''Iya-iya Mas, duh suamiku jiwa kebapakannya sudah muncul ya.''


''Oh ya Chika, di belakang ada paviliun, kamu bisa tinggal disana. Biasanya paviliun itu kita pakai kalau kedatangan saudara-saudara jauh. Ada dapur kecilnya dan kamar mandi juga disana.'' Ucap Miko.


''Ya sudah Mas, aku antar Chika ke belakang ya.''


''Oke sayang. Kalau begitu aku ke bandara dulu mau jemput Zidni.''


''Iya Mas, kamu hati-hati ya. Mmmm sama minta tolong belikan pempek ya Mas, lagi pingin nih.''


''Oke, siap laksanakan!" Miko lalu mengecup kening Gina, sebelum ia pergi.


Gina kemudian mengajak Chika menuju paviliun.


''Rumah Tante bagus banget ya.''


''Bukan rumah Tante, tapi ini rumah Om Miko. Kamu tidak apa-apa kan, kalau tinggal di paviliun?''


''Tidak apa-apa Tante. Paviliunnya saja bagus banget, malah lebih luas paviliun ini daripada kamar ku.''


''Soalnya keponakan Om Miko juga mau datang dari luar negeri. Jadi Tante nggak enak, kalau mau minta kamu di kamar tamu.''


''Ya ampun Tante, tidak masalah lagi. Aku justru sebenarnya yang nggak enak tinggal disini, aku takut malah menganggu privasi Tante dan Om Miko.''


''Om Miko sendiri yang meminta kamu untuk tinggal disini. Supaya Tante juga ada temannya soalnya Mama Rosa sudah pulang. Setelah hamil Tante akan lebih sering kerja di rumah, paling kirim desain lewat email saja. Om Miko lebih protektif soalnya, Chik.''


''Iya lah perut Tante sudah besar begini, lebih baik di rumah deh Tante.''


''Makanya Tante juga seneng kalau kamu tinggal disini, Chika. Tante nggak kesepian. Kalau kamu butuh apa-apa tidak usah sungkan-sungkan ya.''


''Begitu juga dengan Tante, kalau butuh apa-apa bisa panggil Chika.''


''Oke siap. Baiklah kalau begitu, kamu istirahat dulu ya.''


''Iya Tante, sekali lagi terima kasih ya.''


''Sama-sama Chika.''


Dua jam kemudian Miko kembali bersama Zidni. Gina terkejut melihat penampilan Zidni yang rock and roll. Apalagi ada sebuah gitar yang menggantung di punggung Zidni.


''Hai Tante,'' sapa Zidni dengan santainya.


''Ayo cium tangan, Tante.'' Perintah Miko. Zidni lalu mencium punggung tangan Gina.


''Kamu semakin tampan ya, Zidni.''


''Tentu saja, Tante. Aku memang tampan.'' Jawab Zidni dengan pedenya.


''Tapi kenapa penampilan kamu begini sih?''


''Ini style, Tante. Aku ini anak band aliran rock, kebetulan aku vokalisnya. Musik adalah hidupku, Tante. Tidak masalah kan?''


''Tentu tidak masalah.'' Jawab Gina penuh rasa heran.


''Om, kamar ku mana? Aku mengantuk. Tadi jetlag!"


''Ayo, Om antar kamu ke kamar.'' Miko lalu mengantar Zidni ke kamarnya. Gina menggeleng melihat tingkah Zidni yang tidak jauh dengan Miko saat masih muda dulu. Gina kemudian berjalan menuju kamarnya untuk istirahat.


Setelah mengantar Zidni ke kamarnya, Miko lalu kembali ke kamarnya. Ia melihat Gina sedang duduk manis di atas tempat tidur sembari membaca majalah.


''Sayang, maafkan Zidni ya? Kelakuannya beda jauh sama Chika. Jadi malu punya keponakan nggak ada akhlak kayak gitu.''


Gina terkekeh mendengar ucapan suaminya. ''Itu keponakan kamu tapi kamu sendiri mengatainya.''


''Habis gimana? Aduh, aku harus tegas sama dia.''


''Memang dia disana kegiatan sehari-harinya apa Mas?''


''Ya udahlah Mas, kita ajari dia pelan-pelan. Apalahi dimasa tumbuh kembangnya, Zidni sudah ditinggal Papanya. Dia butuh kasih sayang orang tua yang lengkap, bukannya malah tekanan.''


''Jadi kamu tidak masalah?''


''Kenapa harus di permasalahkan, Mas. Dia suka musik, oke. Kita jangan larang dia tapi kita arahkan dia. Jadikan musik sebagai hobi dan pengusaha sebagai pekerjaan utamanya. Kalau kamu mau didik dia, jadi temannya.''


''Syukurlah kamu bisa mengerti dan memahai Zidni, sayang. Aku khawatir kalau kamu akan marah dan kita bertengkar.''


''Ya tidaklah, Mas. Masa hanya karena itu, kita bertengkar. Zidni sedang masa peralihan menjadi dewasa. Nanti kalau dia sudah mengerti, dia akan berubah dengan sendirinya kok.''


''Terima kasih ya sayang untuk pengertiannya, aku khawatir kalau kamu stress mikirin Zidni.''


''Aku saja bisa menghadapi dan menaklukkan kamu, masa iya Zidni tidak bisa aku hadapi, Mas.''


''Hehehe kalau aku kan sudah jinak sayang. Memang cuma kamu pawangnya.''


-


Kini Gina, Miko dan Chika sedang duduk bersama di ruang makan. Mereka sedang bersiap menikmati makan malam.


''Mas, Zidni mana?'' tanya Gina.


''Tadi aku lihat dia baru selesai mandi.''


''Astaga, jam segini baru selesai mandi?''


''Nah itu sayang, dia itu malesnya ampun deh.'' Kata Miko. Tak lama kemudian tampak langkah kaki, Zidni terdengar menuruni anak tangga.


''Hai Om-Tante!" sapa Zidni.


''Zidni, ayo kita makan malam!" ajak Gina.


''Iya Tante.'' Zidni lalu duduk di sebelah Chika.


''Oh ya Zidni, itu Chika. Dia keponakan Tante Gina. Dan Chika, dia Zidni keponakan Om.'' Kata Miko yang mencoba memperkenalkan keduanya. Chika lalu mengulurkan tangannya dan Zidni menyambutnya.


''Chika."


''Zidni.''


''Kamu jangan macam-macam sama Chika ya, Zidni.'' Pesan Miko.


''Don't worry! Dia bukan tipe aku, Om. Sekalipun aku seorang cassanova, dia tidak masuk dalam kriteria ku. Sangat jauh.'' Ucap Zidni sambil melirik sinis kearah Chika.


''Zidni, jaga ucapanmu!" tegas Miko.


Mendegar cibiran Zidni, Chika tersenyum sinis.


''Terima kasih sekali karena ku bukan masuk kriteriamu. Karena aku juga tidak mungkin mau denganmu.'' Sahut Chika dengan kesal.


''Chika, jaga ucapanmu juga.'' Sahut Gina.


''Tapi dia dulu, Tante. Seharusnya dia bisa menjaga ucapannya.'' Kesal Chika.


''Kamu keterlaluan Zidni. Sebagai orang yang berpendidikan, kamu harus bisa menjaga ucapanmu. Ingat itu! Disini orang tua kamu adalah Om Miko dan Tante Gina.'' Miko pun kesal dengan sikap keponakannya itu.


''Sudah-sudah, ayo kita makan! Keburu makanannya dingin.'' Kata Gina yang berusaha mengalihkan pembicaraan. Makan malam itu berlangsung hening, tidak ada obrolan sama sekali. Selesai makan, Zidni langsung pamit menuju kamarnya. Sementara Chika, membantu untuk membersihkan meja makan dan juga mencuci piring.


''Chika, sudah ada Bibi, kamu mending istirahat saja.'' Kata Miko.


''Tidak apa-apa, Om. Chika sudah biasa melakukan ini di rumah kok. Sudah menjadi kebiasaan sebelumnya. Lagi pula biar Bibi pekerjaannya cepat selesai. Om sudah baik memberikan Chika tempat tinggal dan makan gratis. Jadi ini yang bisa Chika bantu untuk Om dan Tante.''


''Kamu memang anak yang baik. Maafkan ucapan Zidni tadi ya. Dia memang begitu suka nyeplos.''


''Tidak apa-apa, Om. Meskipun kesal tapi tidak Chika masukkan hati kok.''


''Ya sudah, kalau sudah selesai, kamu istirahat ya.''


''Iya Om.''


Miko kemudian berlalu menuju kamarnya menyusul Gina yang sudah lebih dulu ke kamar.


Bersambung.... Yukkk like, komen dan votenya ya. Terus mampir juga ke karya baru author "Takdir Cinta Aruna" Cerita yang berbeda dari karya author yang lainnya, dijamin seruuuu, cusss mampir kesana ya.... ❤️🤗