
Keesokan harinya, jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Kevin sengaja bangun terlebih dahulu untuk menyiapkan sarapan. Setelah selesai ia membawa sarapan ke kamar untuk Keira. Karena ia tahu kalau Keira pasti sangat lelah.
''Kei, bangun." Kata Kevin dengan lembut sambil membelai wajah Keira. Perlahan Keira membuka matanya. Lagi-lagi tubuhnya terasa berat karena semalaman Kevin mengajaknya untuk bercinta.
''Mas, aku lelah sekali,'' kata Keira dengan suara malas.
''Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu.''
''Mas, kamu lihat kan? Aku saja masih belum memakai baju karena perbuatanmu semalam.'' Protes Keira.
''Makanya aku sengaja bangun terlebih dahulu untuk menyiapkan sarapan untukmu. Giliran aku yang melayani kamu. Aku sudah membawanya ke kamar,'' kata Kevin dengan senyum lebarnya.
Dengan tubuh yang terlilit selimut, Keira lalu berusaha untuk bangun dari ranjang. Sebuah kecupan melayang di keningnya.
''Mas tahu, aku sebelumnya tidak pernah bangun siang seperti ini. Aku selalu bangun saat subuh tapi karena kamu selalu menggangguku, aku selalu bangun kesiangan.''
''Maaf ya. Namanya juga pengantin baru, sudah sewajarnya kita terlalu sering bercinta.'' Jawab Kevin dengan tatapan tak berdosanya.
''Kamu tidak ke kantor?''
''Besok saja aku ke kantor. Renovasi kamar kita sudah jadi. Jadi aku mau hari ini kita pulang dan kita mencobanya.''
''Mencoba? Lagi Mas? Mas mau minta lagi?'' tanya Keira dengan mata membulat.
''Iya. Kei, kamu benar-benar membuatku merasa kecanduan. Aku ingin kamu lebih aktif dan jangan malu-malu ya. Apa kamu melakukannya karena terpaksa?''
''Kalau terpaksa kenapa aku menikmatunya?'' celetuk Keira.
''Oh jadi kamu sangat menikmatinya ya?'' goda Kevin.
''Mas, aku lapar. Jangan banyak bicara,'' ketusnya. Kevin tersenyum lalu menyuapi Keira makan.
''Kamu tidak makan, Mas?''
''Iya, kita makan sepiring berdua saja. Bagaimana rasanya? Hanya ini yang bisa aku masak.''
''Kamu coba saja,'' kata Keira dengan senyum penuh arti. Kevin lalu menyendokkan nasi goreng ke dalam mulutnya dan rasanya sangat asin.
''Asin sekali! Mmmm sepertinya terlalu banyak garam. Sudahlah jangan dimakan, kita makan di luar saja ya.''
''Jangan Mas, ini masakan pertama suamiku. Jadi aku akan menghabiskannya.''
''Tidak-tidak! Nanti kamu bisa darah tinggi karena memakan ini.''
''Tidak apa-apa, Mas. Aku akan memakannya, lebih baik kamu bereskan pakaian kita untuk pulang. Aku ingin bertemu Marvel.''
''Baiklah kalau kamu memaksa. Terima kasih ya sudah menerima masakan ku yang asin ini.''
''Melihatmu, membuat makanan ini menjadi gurih,'' kata Keira.
''Wah, kamu sudah bisa menggombal ya. Dasar!"
-
Sesampainya di rumah, Kevin dan Keira segera masuk ke dalam kamar. Mata Keira berbinar melihat suasana baru di dalam kamar. Desain interior yang semula klasik dengan dominasi warna gold, kini berubah total. Dominasi warna putih dan abu-abu.
''Apa kamu suka suasana barunya, Kei?''
''Iya Mas. Aku sangat suka. Apa ini karyanya Kak Miko?''
''Iya. Siapa lagi? Dia itu arsitek sekaligus perancang desain yang handal.''
Kevin lalu melingkarkan pinggangnya pada Keira. Menarik Keira dalam pelukannya.
''Mas, Marvel dimana?''
''Dia bersama Miko dan Gina. Marvel ingin kita membuat adik, jadi dia tidak mau menganggu kita. Jadi kita nikmati saja waktu kita saat ini. Besok aku sudah sangat sibuk. Krisna memberitahuku kalau akan ada tamu dari luar negeri yang akan membantu menjual produk terbaruku.''
''Lalu apa yang kamu inginkan, Mas?''
''Membuat adik untuk Marvel.''
''Semalam kan sudah, Mas.''
''Tapi pagi ini belum. Harus pagi, siang dan malam supaya cepat jadi.''
''Mas tapi aku harus menyelesaikan magangku dan aku harus menyelesaikan skripsiku.''
''Dosa lho menolak, suami.'' Bujuk Kevin sambil menempelkan hidung mancung pada hidung Keira.
''Aku semakin mencintaimu saat aku tahu kalau kamu adalah gadis kecil itu. Seandainya yang pertama aku temui adalah kamu setelah aku kecelakaan, aku pasti akan menikahimu.''
''Ya, aku akan tunggu sampai kamu dewasa.''
''Mas, jangan pernah sesali masa lalu. Nyonya Kania adalah wanita terbaik.''
''Iya aku tahu kok. Dan kamu itu adalah jodoh yang tertunda. Aku juga sangat bahagia karena ada Kania dalam hidupku dan di masa depanku ada kamu, Kei. Sebenarnya kamu mencintaiku apa tidak? Aku belum pernah mendengarmu mengucapkan cinta padaku.''
''Memang cinta harus dengan kata-kata ya, Mas? Apakah dengan aku menyerahkan tubuhku, itu belum termasuk cinta? Lagipula aku pernah bilang, aku tidak mau melakukannya tanpa cinta. Jadi kamu pasti sudah paham apa maksudku.''
''Iya tapi aku ingin mendengarnya langsung, Kei. Ayolah, Kei!" rengek Kevin.
''Ternyata seorang kepala batu bisa merengek dan terlihat seperti anak kecil ya.''
''Iyalah. Kalau aku sudah mencintai satu orang, ya tetap satu, Kei. Aku tidak mudah berpaling. Jadi katakan i love you,'' paksa Kevin.
''Dasar! Kamu suka sekali memaksa.''
''Ayo bilang i love you. Aku ingin mendengarnya.'' Kata Kevin yang sedari a masih memeluk erat pinggang Keira.
''I love you,'' ucap Keira dengan sangat cepat.
''Apa? Aku tidak mendengarnya. Lebih keras, Kei.'' Kata Kevin.
''Mas, aku kan sudah bilang. Tidak ada siaran ulang!" jawabnya ketus.
Kevin yang gemas, mengecup sekilas bibir Keira. Muach. ''Ayo katakan!" paksa Kevin. Keira hanya menggeleng. Kevin kemudian mengecup kembali bibir Keira.
''Ayo katakan! Selama kamu tidak mengatakannya, aku akan terus menciummu.'' Kata Kevin yang memberikan kecupan bertubi-tubi di bibir Keira.
''Mas, kamu ih!" kesal Keira.
''Makanya bilang. Ayo bilang! Oh, jangan-jangan kamu suka kalau aku cium terus?'' goda Kevin. Wajah Keira mendadak memerah, mendapat serangan dari bibir seksi di hadapannya itu.
''Lepaskan aku dulu, nanti aku akan bilang.'' Kata Keira.
''Baiklah aku akan melepaskannya.'' Kata Kevin sambil melepaskan tangannya dari pinggang Keira.
Keira kemudian mendekatkan wajahnya pada Kevin. ''Aku bohong!" kata Keira seraya tertawa dan berlari menghindari Kevin.
''Kei, kamu menggodaku. Awas ya, aku tidak akan melepaskanmu.'' Kata Kevin sambil mengejar Keira. Di kamar yang luas itu, mereka justru saling mengejar. Keira bahkan melempar bantal ke arah Kevin sambil menjulurkan lidahnya. Mereka saling mengejar mengelilingi sofa. Kevin lalu melompati sofa dan berhasil menangkap Keira. Mereka lalu terjatuh di atas sofa, dengan posisi Keira berada di atas tubuh Kevin.
''Aku mendapatkanmu, Kei.'' Kata Kevin dengan nafas terengah begitu pula dengan Keira.
''Sekarang katakan kalau kamu mencintaiku.'' Paksa Kevin kembali.
''Aku tidak mencintaimu.'' Kata Keira.
''Apa? Kamu tidak mencintaiku?''
''Iya. Aku tidak mencintaimu jadi apa yang aku rasakan itu palsu.''
Mendengar ucapan Keira, membuat Kevin bangkit dari sofa bersama tubuh Keira yang menindihnya. Wajah Kevin seketika berubah kecewa.
''Kalau memang semuanya palsu, lebih baik kamu pergi dan jangan pernah kembali. Lupakan semua yang pernah terjadi.''
Mendengar ucapan Kevin, Keira ingin sekali tertawa. Ia kemudian menangkupkan tangannya pada wajah Kevin dan menghadapkan wajah Kevin kearahnya.
''Maaf ya, Mas. Kalau apa yang aku katakan membuatmu kecewa dan sakit hati. Tapi sungguh apa yang aku katakan itu bohong.''
''Maksudmu? Jangan permainkan aku!" kata Kevin dengan sinis sambil menepis tangan Keira. Keira lalu duduk di pangkuan Kevin sambil melingkarkan tangannya pada leher Kevin. Sikap Keira yang agresif itu, membuat Kevin tak berkutik.
''Mas, aku tidak mempermainkanmu. Aku tadi bohong dan ingin menggodamu saja.''
''Turun dari pangkuanku dan jangan merayuku!" ketus Kevin.
''Kevin Harris Sanjaya, si kepala batu, entah mantra apa yang kamu ucapkan sampai aku bisa mencintaimu. Perasaan yang entah kapan datang dan bahkan tanpa aku sadari, membuatku menyerahkan seluruh diriku padamu. Jadi aku Keira Nensia Putri mencintai Kevin Harris Sanjaya.'' Jelas Keira dengan senyum lebarnya.
''Terima kasih ya, Kei. Terima kasih.'' Kata Kevin dengan mata berkaca-kaca. Keira kemudian memberikan ciuman mesra pada bibir Kevin. Kevin merasakan bastone sudah turn on sejak tadi. Ciuman Keira membangkitkan gairah dan adrenalinnya. Tangan Kevin yang mulai aktif, menelusup ke dalam kaos yang Keira kenakan. Sentuhan tangan Kevin, mulai membuat darah Keira berdesir tubuhnya semakin terasa panas. Keira kemudian melepaskan ciumannya lalu tersenyum kecil pada suaminya, Kevin pun membalas senyuman itu.
Tanpa banyak bicara, Kevin menyingkap keatas dan melepaskan kaos milik Keira. Sementara tangan Keira melepas kancing kemeja yang Kevin kenakan. Melihat gunung kembar yang indah itu, selalu membuat Kevin ingin menjamahnya. Perlahan tangan Kevin membuka pengait bra. Tanpa meminta ijin, Kevin menenggelamkan kepalanya di antara dua gunung kembar itu, sembari menghisapnya dengan bergantian. Keira hanya bisa pasrah dan mendesis nikmat. Gairah cinta yang membara, membuat keduanya saling melepaskan pakaiannya dan melemparkannya dengan kasar. Kevin kemudian mengangkat tubuh Keira dan memindahkannya ke atas tempat tidur.
''Kei, buat aku merasakan kalau kamu benar-benar mencintaiku,'' bisik Kevin tepat di telinga Keira. Mendengar ucapan Kevin, Keira lalu mendorong kasar tubuh Kevin. Kini Keira yang berkuasa berada di atas tubuh Kevin. Melihat keindahan tubuh Keira yang duduk di atas tubuhnya, membuat Kevin tersenyum nakal. Membuatnya bebas bermain di atas gunung itu. Hari itu Keira menunjukkan perasaannya pada Kevin dengan permainan yang lebih panas dan mengajak Kevin mencoba berbagai gaya. Kevin sangat terkejut karena ternyata Keira bisa bermain dengan sangat liar, sungguh di luar di dugannya.
''Kei, kamu ternyata sangat liar.'' Kata Kevin di sela-sela tangan Keira memainkan bastone.
''Aku hanya melakukan apa yang kamu ajarkan, Mas. Kamu bermain dengan milikku dan sekarang aku bermain dengan milikmu,'' kata Keira sambil memainkan bastone dalam genggamannya.
Keira pun bergantian menggoyang bastone, sampai sang empunya mengerang dan mendesis. Gerakan naik turun dan goyangan yang Keira lakukan, membuat Kevin tak berkutik, ia begitu menikmatinya sambil bermain dan menciumi pucuk gunung kembar itu. Peluh dan nafas mereka beradu sampai akhirnya, keduanya melenguh panjang karena telah sampai di puncak kenikmatan. Kevin meremas pantat Keira, saat jepitan yang Keira lakukan pada bastone sangat kuat. Akhirnya bastone meledak dan menyemburkan lavanya. Keira merasakan semburan itu sangat kuat dan terasa hangat di dalam rahimnya. Keira pun terkapar di atas tubuh Kevin, Kevin kemudian memeluknya dan mengecup pucuk kepala Keira dengan penuh cinta.
Bersambung....