
Setelah dari kamar Marvel, Keira kembali lagi ke kamar. Kamar mandi masih terkunci dan masih terdengar guyuran air. Keira berjalan menuju walk in closet, memilihkan pakaian untuk Kevin yang berwarna senada dengan gaunnya.
''Mas, aku sudah menyiapkan pakain untukmu. Jadi kita memakai warna yang sama.'' Kata Keira dengan senyum lebarnya.
''Terima kasih. Ya sudah mandi, sana.''
''Oke, Mas.'' Kata Keira. Meskipun Kevin masih marah tapi Keira berusaha bersikap ceria untuk meluluhkan hati Kevin. Setelah selesai mandi, Keira keluar kamar dengan mengenakan handuk yang ia lilitkan seperti kemben. Keira sengaja menggoda Kevin yang sudah duduk di sofa untuk menunggunya. Berharap dengan menggoda Kevin, Kevin sudah tidak marah lagi.
''Hhhh aku sebenarnya tergoda tapi aku harus menguatkan imanku untuk memberimu pelajaran,'' kata Kevin dalam hati.
''Tumben Mas Kevin biasa saja melihatku memakai handuk seperti ini. Biasanya langsung srobot saja,'' batin Keira sambil duduk di depan meja rias. Ia mulai memulas make up di wajahnya dengan hanya mengenakan handuk. Keira membalur sekujur tubuhnya dengan lotion dan gak lupa parfum yang aromanya semerbak memenuhi ruangan. Warna lipstik merah menyala pun menjadi pilihannya. Setelah selesai merias wajahnya, Keira lalu memakai dress itu di depan meja rias yang tak jauh dari tempat duduk. Biasanya Keira yang berganti pakaian dengan cara sembunyi-sembunyi namun kali ini terang-terangan. Keira melepas handuknya begitu saja tanpa rasa canggung. Kevin menelan ludah melihat pemandangan indah itu namun Kevin berusaha menahan godaan itu.
''Mas, tolong bantu aku mengancingkan resleting dressku,'' kata Keira. Kevin beranjak dari duduknya dan menghampiri Keira. Kevin mencium aroma tubuh Keira sangat harum, ingin sekali ia memeluk istrinya itu. Namun rasa kecewa masih menghinggapinya.
''Sudah,'' kata Kevin.
''Hmmm tumben Mas Kevin tidak tergoda. Awas saja kalau sampai minta,'' gerutu Keira dalam hati.
''Oh ya, Marvel bilang malam ini dia tidak mau ikut. Dia ingin di rumah saja, Mas.'' Kata Keira sembari merapikan rambutnya.
''Baiklah. Kita jalan sekarang.''
''Oke.''
Keira lalu mengekor di belakang Kevin namun Keira buru-buru menyamakan langkahnya dan merangkul lengan Kevin. Sesungguhnya ia ingin sekali memeluk dan mencium Keira namun rasa kesalnya, belum bisa ia redakan.
''Mama cantik sekali malam ini,'' puji Marvel yang kini sedang berada di ruang tengah menonton televisi.
''Iya lho, Nyonya cantik sekali. Kalian ini seperti prince dan princess, pakainnya juga serasi banget,'' puji Bi Nani yang duduk disana bersama Marvel.
''Nyonya cantik pakai dress merah itu, apalagi Tuan, Masya Allah sempurna sekali,'' sahut Rima yang juga ikut menemani Marvel menonton televisi.
''Terima kasih ya, Bi-Mbak. Kami berangkat dulu ya, titip Marvel.'' Kata Keira.
''Pasti Nyonya.'' Jawab Bi Nani dan Rima dengan kompak.
''Marvel, baik-baik ya di rumah.'' Pesan Kevin.
''Pasti, Pah. Oh ya Mah, Mama yakin mau ke pesta pakai sepatu itu?'' kata Marvel sambil melihat sneaker yang di pakai oleh Keira. Keira lalu melihat kebawah, begitu juga dengan Kevin.
''Oh ya, hehehehe, Mama lupa. Mama susah jalan kalau pakai dress seperti ini.'' Kata Keira meringis.
''Bi, tolong ambilkan sepatu Nyonya di kamar. Tidak pakai lama!" tegas Kevin.
''Si-siap Tuan!" Bi Nani dengan langkah terburu menuju lantai atas kamar Kevin. Wajah Kevin semakin terlihat kesal karena belum apa-apa, Keira sudah salah mengenakan sepatu. Keira hanya bisa meringis, melihat wajah Kevin yang ingin mengeluarkan tanduk. Beberapa saat kemudian Bi Nani pun kembali dengan sepasang sepatu berwarna senada dengan dress Keira.
''Ini Nyonya."
''Terima kasih ya, Bi.'' Kata Keira. Saat Keira ingin melepas sepatunya, ia kesulitan untuk membungkuk karena gaun itu benar-benar mengunci tubuhnya. Kevin yang melihat itupun mendengus kesal, ia kemudian jongkok untuk melepas sneaker dan memakaikan sepatu yang telah di ambil oleh Bi Nani. Meskipun marah, Kevin tetap perhatian dan peduli dengan Keira.
''Ayo kita berangkat!" kata Kevin.
''Terima kasih, Mas.'' Kata Keira.
''Kami berangkat ya, Bi.'' Pamit Kevin.
''Iya Tuan, hati-hati ya.''
''Have fun Pah-Mah.'' Kata Marvel dengan senyum lebarnya.
-
Selama perjalanan, Kevin hanya terdiam. Keira yang kesal dengan situasi itu, memilih menyalakan musik. Sebuah tembang lawas, dari NAFF berjudul akhirnya ku menemukanmu, mengiringi perjalanan mereka menuju hotel tempat acara di gelar. Lagu ini sangat pas dengan suasana hati Keira malam itu.
''Mas, masih marah?'' tanya Keira dengan lirih. Kevin hanya diam sambil terus fokus menyetir.
''Mas, lirik lagu ini mewakili perasaan ku kepadamu. Akhirnya aku menemukanmu, Mas. Aku harap kamu juga mau mencintai segela kekurangan dan kelemahanku.'' Kata Keira yang berusaha mengungkapkan isi hatinya pada Kevin. Sejujurnya hati Kevin sangat bahagia mendengar apa yang Keira ucapkan, tapi melihat orang yang ia cintai tertawa bersama dengan pria lain, sungguh membuatnya kesal. Keira berusaha mengerti kemarahan Kevin, meskipun ia sangat sedih karena Kevin mengabaikannya. Tiba-tiba ponsel Keira berbunyi, tanda pesan masuk.
Miko : Kei, jangan pernah terpengaruh oleh hadirnya Mauren. Sejak dulu dia selalu menjadi penganggu dalam hidup Kevin, bahkan saat Kania masih hidup. Kamu harus hati-hati dan jaga Kevin. Tunjukkan bahwa kamu adalah satu-satunya ratu dalam hidup Kevin.
Keira : Iya, Kak. Terima kasih ya. Tapi sekarang Kevin yang marah karena melihatku di panti bersama Leon.
Miko : Selesaikan saja sikap cemburu Kevin di atas ranjang, hahahaha. Have fun ya! Pastikan kalian saling berpegangan dan menguatkan satu sama lain.
Keira : Dasar Kak Miko! Makasih ya, Kak. Salam untuk Mbak Gina.
Miko : Oke.
Setelah membaca pesan dari Miko, sedikit memberikan ketenangan bagi Keira. Kini ia tahu apa yang harus di lakukan untuk menghadapi Mauren. Kevin mencuri pandangan, melihat Keira yang sibuk dengan ponselnya, membuatnya penasaran.
Sesampainya di hotel, kedatangan Keira dan Kevin menjadi pusat. Terutama penampilan Keira malam itu. Semua mata tertuju pada Keira yang memang sangat cantik dan menawan. Melihat mereka yang menatap Keira penuh dengan kekaguman, membuatna merangkul erat pinggang Keira. Keira sedikit terkejut saat Kevin menarik tubuhnya untuk lebih dekat dengannya.
"Selamat malam Tuan Armando," sapa Kevin dengan senyum ramahnya.
"Oh Tuan Kevin, senang sekali anda bisa hadir di pesta saya ini, setelah empat tahun anda menolak undangan saya." Kata Tuan Armando. Keduanya pun saling berpelukan.
"Maafkan saya Tuan. Tapi sekarang datang bersama istri saya."
"Selamat malam Tuan, saya Keira." Kata Keira sambil mengulurkan tangannya.
"Kecantikan yang sempurna," puji Tuan Armando sambil mengecup tangan Keira. Keira melihat kearah Kevin, saat Tuan Armando mengecup punggung tangan Keira. Kevin tersenyum sambil mengangguk. Begitulah Tuan Armmando, dia tidak sembarangan untuk mengecup tangan seorang wanita. Hanya yang di anggapnya spesial lah yang mendapat kecupan itu, memang Tuan Armando di kenal flamboyan tapi kesetiaannya terhadap istrinya tidak bisa di ragukan.
"Halo Nyonya, bagaimana kabar anda?"
"Aku sangat baik dan selalu bahagia. Meskipun usia ku sudah tidak muda lagi."
"Oh ya, perkenalkan ini istriku, namanya Keira."
"Senang bertemu dengan anda Nyonya," kata Keira sambil menjabat tangan Keira.
"Kamu sangat cantik. Muda dan masih mulus. Kamu pintar sekali mencari istri." Kata Nyonya Armando.
"Nyonya Keira, bergabunglah bersama ku. Aku akan mengenalkanmu dengan teman-temanku. Sangat bosan bukan, kalau menemani para pria yang selalu membicarakan bisnis." Seloroh Nyonya Armando seraya tertawa. Lagi-lagi Keira melihat kearah suaminya, Kevin mengangguk dan memberikan senyuman, tanda kalau Kevin memberinya ijin.
"Baiklah Nyonya."
Usia Tuan dan Nyonya Armando sudah 50 tahun. Tapi jiwa muda mereka masih sangat terasa. Terutama istrinya yang sangat supel dan pandai bergaul. Keira sebisa mungkin menempatkan diri di tengah-tengah kalangan elit. Banyak sekali tamu berwajah bule disana. Sembari mengobrol dengan Tuan Armando dan tamu yang lain, pandangan Kevin tidak pernah lepas dari sosok Keira.
"Semua tamu disini orang yang hebat, aku hanyalah remahan rengginang disini," batin Keira.
"Kore o watashi no yūjin ni shōkai shite kudasai, kanojo wa wakakute utsukushīdesu
(perkenalkan ini teman saya, dia masih muda dan cantik)." Kata Nyonya Armando pada temannya yang berasal dari Jepang.
"Hajimemashite, watashi wa Keira desu." Sahut Keira tiba-tiba.
"Wah, anda mengerti juga dengan yang saya ucapkan Nyonya?" kata Nyonya Armando yang terkejut karena Keira mengerti bahas Jepang. Dari kejauhan, Kevin tampak kagum dan tidak menyangka kalau Keira bisa bahasa Jepang.
"Hanya sedikit saja, Nyonya." Jawab Keira malu-malu.
"Nan-saidesu ka? Anata wa totemo wakaku miemasu(Berapa usia anda? Anda terlihat sangat muda)." Tanya teman Nyonya Armando.
"Watashi wa 22-saidesu." Jawab Keira.
"Oh Tuan Kevin sepertinya memang sangat menyukai daun muda ya. Tapi itu pilihan tepat supaya Tuan Kevin bisa selalu muda." Kata Nyonya Armando dengan tawa kecilnya. Keira pun dalam sekejap bisa menyesuaikan diri bergabung dengan teman-teman Nyonya Armando. Bahkan Nyonya Armando sangat menyukai Keira yang ramah dan cerdas.
"Kevin!" sapa Mauren yang juga hadir disana.
"Mauren," gumam Kevin. Melihat Mauren yang datang, Keira pun segera mendekat kearah suaminya.
"Nyonya, saya menemui suami saya sebentar ya."
"Silahkan Nyonya Keira." Kata Nyonya Armando.
Mauren lalu melenggang dengan penuh percaya diri kearah Kevin, baru saja Mauren ingin menyapa Kevin dengan memberinya pelukan dan ciuman pipi, tiba-tiba saja Keira dengan sigap memeluk lengan suaminya dan alhasil, Mauren dan Keira lah yang saling berpelukan dan saling cipika-cipiki.
"Selamat malam Nona Mauren. Anda disini juga?" sapa Keira dengan gaya elegan dan tegasnya.
"Selamat malam Nyonya Keira. Senang sekali bertemu anda disini. Anda sangat cantik sekali." Puji Mauren.
"Terima kasih untuk pujian, anda Nona."
"Usianya saja jauh lebih tua dari ku, malas sekali berpura-pura hormat," gerutu Mauren dalam hati.
"Nyonya Keira, mau kah anda berdansa dengan saya? Pesta dansa akan segera di mulai." Kata Tuan Armando.
"Tuan Kevin, boleh aku meminjam istri anda?"
"Silahkan saja Tuan." Jawab Kevin. Dengan anggukan dari Kevin, Keira menerima uluran tangan dari Tuan Armando.
"Bagaimana bisa, Tuan Armando mengajanya berdansa? Sudah jelas aku lebih berkelas dari wanita itu," gerutu Mauren dalam hati.
"Kevin, bagaimana kalau kita berdansa?" ajak Mauren.
"Maaf Mauren, aku tidak bisa." Jawab Kevin. Nyonya Armando, kemudian mendekati Kevin lalu mengajaknya berdansa.
"Tidak adil rasanya kalau saya membiarkan anda hanya melihat mereka saja. Sebaiknya kita juga berdansa," kata Nyonya Armando. Kevin tersenyum dan menyambut uluran tangan Nyonya Armando.
"Tuan Kevin, selama empat tahun terakhir aku dan suamiku sangat sedih karena anda melewatkan undangan kami sejak Nyonya Kania pergi. Tapi sekarang, saya sangat bahagia melihat anda bisa tersenyum dan tampak bahagia kembali." Kata Nyonya Armando.
"Anda benar Nyonya. Dia adalah seseorang yang di kirim Tuhan untukku, putraku lah yang memilih Keira untuk menjadi Mama dan istriku."
"Luar biasa sekali. Insting seorang anak itu tidak bisa di bohongi Tuan. Lihat saja suamiku, dia langsung menyukai istri anda. Anda tahu sendiri bagaimana sikapnya terhadap wanita asing kan? Dia tidak akan mendekat, kalau dia tidak merasakan something di dalam diri istri anda."
"Iya, tentu saya sudah sangat hafal. Tapi mungkin istri saya yang terkejut dengan sikap Tuan Armando."
"Dan anda pintar sekali, bisa mendapatkan daun muda seperti itu."
"Hahahah anda bisa saja Nyonya."
Setelah selesai berdansa, Tuan Armando mengembalikan Keira pada Kevin dan begitu juga sebaliknya.
"Tuan Kevin, pilihanmu sangat tepat!" kata Tuan Armando sambil menepuk lengan Kevin.
"Terima kasih Tuan."
Mauren benar-benar kesal dengan pesta malam itu. Ternyata Keira di sambut baik oleh sang empunya acara.
"Sabar Mauren, jangan gegabah. Lakukan dengan halus." Gumam Mauren sambil menenggak segelas wine.
Bersambung....