Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 140 Malaikat Penjaga


Sesampainya di rumah sakit, Keira langsung menuju ruang ICU. Disana sudah ada Cindy dan Kenny.


''Kakak!" seru Keira.


''Kei, kamu sudah bebas?''


''Iya Kak.'' Kedua Kakak dan adik itupun lalu saling berpelukan. Kemudian terlihat Dokter Alan keluar dari ruangan ICU.


''Dokter Alan, bagaimana kondisi Ayah?''


''Kondisi Tuan Ammar mulai stabil meskipun belum sadar. Aku senang melihatmu sudah berada disini.''


''Iya Dokter, semua ini karena Mas Kevin. Dokter, apa aku boleh menjenguknya?''


''Iya silahkan masuk tapi hanya satu orang saja.''


''Iya dokter, terima kasih.''


Keira kemudian masuk dan duduk di sebuah bangku, di samping tempat Ayahnya terbaring. Keira lalu menggenggam tangan dan mencium punggung tangan Ayahnya.


''Ayah, aku disini. Maafkan aku ya Ayah karena aku membohongi Ayah tapi percayalah, aku tidak melakukan hal aneh apapun. Ayah sadarlah, aku telah berhasil membuktikan bahwa aku tidak bersalah. Mas Kevin sebelum menikahi akupun, dia sudah tahu kebenaran ini, Yah. Jadi Mas Kevin sangat percaya padaku, aku pun menjaga kehormatanku dan hanya Mas Kevin yang mendapatkannya, Ayah. Aku mohon Ayah bangunlah,'' ucap Keira dengan air mata yang membasahi pipinya. Hari itu Keira memilih menemani Ayahnya dan meminta Kenny dan Cindy untuk pulang.


-


Setelah Keira pergi, Kevin di temani oleh Miko, Krisna dan juga David menemui penyebar hoax itu yang tengah di kurung dalam sel.


''Jadi kamu penyebar hoax itu? Namamu Ridwan Susanto, usia 45 tahun dan pekerjaanmu hanya seorang supir taksi. Apa yang menyebabkanmu menyebar berita bohong pada istriku?'' ucap Kevin dengan tatapan mata tajamnya.


''David, berapa hukuman yang harus diterima penyebar hoax ini?'' sambung Kevin.


''Empat tahun penjara dan denda sebesar 1 milyar,'' jelas David.


''Kamu yakin memiliki dendam dengan keluargaku? Apa keluargaku pernah menyakitimu?'' desak Kevin tanpa melepaskan tatapannya pada tersangka. Tersangka hanya terdiam dan tidak bisa menjawab, wajahnya menunjukkan ketakutan.


''Tapi namamu tidak pernah ada dalam daftar karyawan perusahaan milik orang tuaku. Papaku orang yang sangat teliti jadi tidak mungkin hal terkecil itu terlewatkan. Atau ada yang menyeruhmu?'' sambung Kevin sambil mencodongkan tubuhnya ke depan.


''JAWAB!" bentak Kevin sambil menggebrak meja.


''Ini orang nyebelin banget, gue tampol mulut elo pakai sepatu ya! Elo bisa nyebar hoax dengan mulut kotor elo, giliran di gebrak elo taku. Pengecut!" sambung Miko yang tak kalah geram melihat pria itu.


''Tu-tuan maafkan aku. Aku salah, Tuan. Aku di paksa mengaku dan di paksa menyebar berita itu. Aku bukan supir taksi tapi aku pemilik sebuah rental warnet yang hampir bangkrut karena semua uang yang aku miliki habis untuk biaya pengobatan istriku.'' Ucap pria itu tergagap.


''Sudah kuduga,'' gumam Kevin.


''Siapa yang menyuruhmu?'' Kevin menarik kerah baju pria yang kini sedang ketakutan itu.


''Aku tidak tahu, Tuan. Dia hanya memintaku melaporkan berita itu ke polisi dan memintaku mengunggahnya di media sosial. Aku sendiri butuh uang untuk biaya istriku dan biaya sewa ruko yang aku tempati. Mereka memberiku uang dan berjanji membiayai pengobatan istriku, selama aku di tahan disini.'' Ucap pria itu dengan tangis penyesalannya.


''Siapa yang menyuruhmu? Dia pria atau wanita?'' sambung David.


''Dia seorang pria. Usianya sepantaran dengan ku.''


''Apa kamu ingat wajahnya?'' tanya Kevin.


''Iya Tuan, aku mengingatnya.''


''Mik, elo bisa gambar sketsa wajah kan?'' tanya Kevin pada Miko.


''Tentu saja bisa,'' jawab Miko dengan santainya. Miko kemudian duduk berhadapan dengan pria itu. Pria itu mulai menunjukkan ciri-ciri wajah pria yang menyuruhnya dan Miko pun mulai menggambarnya. Tak butuh lama bagi Miko untuk menggambar sketsa wajah seseorang, menggambar desain rumah dan bangunan gedung saja terlalu mudah baginya karena Miko sendiri seorang arsitek handal.


''Apa ini?'' ucap Miko sambil menunjukkan sketsanya pada pria itu.


''I-iya benar. Dia orangnya Tuan.''


''Apa kamu tahu dimana dia sekarang?'' tanya Miko.


''Tidak tahu, Tuan. Aku tidak banyak bertanya karena aku sendiri sedang terhimpit ekonomi.'' Tangis pria itu.


''David, tolong awasi dia jangan sampai dia lolos!" pinta Kevin pada David.


''Kamu tenang saja, Kevin. Semuanya aman disini.'' Ucap David meyakinkan.


''Dan kamu, aku harap kita kerja sama. Awas kalau sampai kamu menghianatiku, istrimu akan jadi jaminannya.'' Ancam Kevin dengan tatapan tajamnya.


''Iya Tuan. Tapi tolong jangan sakiti istri saya. Tolong lindungi dia.'' Ucap pria itu sambil mengatupkan kedua tangannya.


''Oh ya, dimana istrimu di rawat?'' tanya Miko.


''Di rumah sakit Sentral, ruang ICU.'' Ucap pria itu dengan gugupnya. Miko lalu melirik kearah Kevin, memberi kode untuk mengecek ke rumah sakit.


''David, terima kasih untuk bantuanmu. Aku pergi dulu dan awasi dia.''


''Oke.''


Kevin, Miko dan Krisna pun segera menuju rumah sakit tersebut.


''Krisna, sebaiknya kamu kembali ke kantor. Awasi Mauren!" pinta Kevin.


''Nona Mauren? Untuk apa Tuan? Apa Nyonya tidak cemburu?'' celetuk Krisna dengan polosnya.


''Bodoh! Memang kamu pikir, aku menyukainya? Ikuti saja perintahky! Awasi Mauren setiap gerak-geriknya, jangan mencurigakan. Lalu periksa ulang semua data kantor 11 tahun yang lalu, jangan sampai ada yang terlewat. Ini adalah misi rahasia jadi jangan sampai semua orang tahu, termasuk istriku juga.''


''Ba-baik Tuan.''


''Awas ya Kris, sampai bocor. Gue tambal mulut elo pakai tambal panci. Ini misi kita berempat dengan David. Pokoknya elo nurut sama kita.'' Sahut Miko.


''Iya Tuan Miko. Saya akan menjaga rahasia ini.''


''Bagus!" kata Miko sembari manggut-manggut.


-


Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Kevin pun tidak langsung ke rumah, melainkan ia menuju rumah sakit menyusul Keira. Disana masih ada Johan dan Laras yang setia menemani Keira.


''Kei,'' panggil Kevin. Melihat suaminya, Keira langsung memeluk erat Kevin.


''Kamu darimana saja? Kenapa baru datang kemari?''


''Banyak sekali hal yang harus aku urus. Kak Kenny dan Cindy mana?''


''Mereka aku suruh pulang, kasihan kan. Apalagi Mbak Cindy sedang hamil muda.'' Kata Keira.


''Aku bawa makanan untuk kalian bertiga. Kamu makan dulu ya, jangan sampai sakit.'' Kata Kevin.


''Oh ya Ras-Jo, kalian balik aja ya. Sekali lagi makasih banget ya kalian udah temenin gue. Sekalian bawa makanan ini pulang. Kalian bisa makan sekaligus istirahat di rumah.''


''Iya apa yang di ucapkan Keira benar. Sekali lagi makasih ya sudah menemani Keira. Maaf kalau kami merepotkan kalian. Aku tidak menyangka kalau kalian akan menemani Keira sampai jam segini.''


''Tidak apa-apa Tuan. Kita sudah berjanji untuk susah dan senang di lewati bersama. Jadi memang sudah seharusnya seperti ini.'' Kata Laras.


''Iya Keira beruntung memiliki kalian.'' Ucap Kevin.


''Kami juga beruntung memiliki Keira, Tuan. Baiklah kalau begitu kami permisi dan kalau ada apa-apa segera hubungi kami,'' kata Johan.


''Iya pasti. Oh ya bawa saja mobilku, Jo. Kalian kemarin pas ke rumah naik taksi kan, jadi bawa saja mobilku. Besok kamu bisa mengantarnya kerumah, lagipula ini juga sudah malam.''


''Tuan serius? Itu mobil mahal lho? Apa Tuan tidak takut kalau mobilnya aku bawa kabur?'' kata Johan. Mendengar ucapan Johan, Kevin pun tertawa kecil.


''Tidak, tinggal beli yang baru saja dan kamu siap-siap saja mendekam di penjara,'' kata Kevin.


''Hehehe maaf, bercanda Tuan. Sekali terima kasih untuk kebaikan anda. Kami permisi ya.''


''Iya-iya, kalian hati-hati.'' Ucap Kevin.


''Kei, kita balik ya. Elo jaga kesehatan dan jangan lupa makan. Elo pucat banget, seharian sama sekali nggak kemasukan nasi.'' Ucap Laras seraya memeluk sahabatnya itu.


''Iya, kalian tenang saja.''


Laras dan Johan pun akhirnya meninggalkan rumah sakit.


''Sayang, makanlah. Apa yang dikatakan Laras benar.'' Kata Kevin. Kevin kemudian membuka kotak warna putih berisi makanan itu.


''Buka mulutmu,'' perintah Kevin.


''Mas, aku tidak lapar. Dalam keadaan seperti ini, rasa lapar tidak ada lagi.'' Ucap Keira dengan suaranya yang memelan.


''Kei, kamu harus sehat. Jangan sampai saat Ayah tersadar, Ayah melihatmu menjadi kurus. Nanti Ayah pikir, kamu tidak bahagia hidup bersamaku. Jadi makanlah, aku akan menyuapimu.'' Bujuk Kevin sambil menyendokkan makanan kearah mulut Keira. Keira lalu perlahan membuka mulutnya.


''Nah, anak pintar.'' Kata Kevin sambil mengesuap kepala istrinya.


''Kamu sendiri sudah makan, Mas?''


''Sejak kamu di bawa ke kantor polisi dan sampai detik ini, hanya minuman yang mengenyangkan perutku.''


''Kalau begitu kita makan bersama ya. Gantian aku suapin kamu. Nanti kalau kamu tidak makan, maag kamu kumat, kamu sakit terus siapa yang jagain aku?'' kata Keira.


''Iya baiklah. Aku mau juga di suapin,'' kata Kevin dengan senyum lebarnya. Mereka pun akhirnya makan bersama dengan saling suap. Keira semakin menyadari bahwa Kevin adalah pria yang sangat bertanggung jawab dan bijaksana. Dan kini rasa cintanya terhadap Kevin semakin besar, membuatnya justru semakin takut kehilangan Kevin. Kejadian ini pun juga semakin membuat Kevin menyadari bahwa Keira sangat berarti dalam hidupnya.


Bersambung.... Yukkk like, komen dan votenya ya, makasih 🙏❤️