Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 146 Dua bulan pernikahan


Malam harinya, Keira sedang berada di teras balkon kamar, melihat sketsa wajah pria yang pernah di berikan oleh Kevin.


''Kei, kamu sedang apa?''


''Eh Mas, ini lagi lihatin sketsa ini.''


''Ini aku buatkan teh untuk kamu.'' Kata Kevin sambil meletakkan secangkir teh di hadapan Keira.


''Makasih ya, Mas. Kamu tidak usah repot-repot.''


''Masa sama istri sendiri merasa di repotkan sih.''


''Oh ya Mas, apa orang ini pernah ada perusahaan orang tua kamu?''


''Tidak ada, sayang. Aku sudah mencarinya tapi tidak menemukan apapun. Oh ya besok dua bulan pernikahan kita lho.''


''Satu bulan? Emang iya ya, Mas?''


''Kamu ini bagaimana? Memang tidak ingat?''


''Tidak. Ya karena awalnya pernikahan ini hanya sebuah kompromi jadi aku tidak mengingatnya.''


''Kamu jahat sekali. Padahal aku sudah berusaha mengingatnya.''


''Hehehe maaf ya, Mas. Namanya juga lupa mau gimana dong? Ya sudah mulai besok aku akan mengingatnya.''


''Bagaimana kalau besok kita merayakan hari jadi kita di panti jompo? Apa kamu setuju?''


''Aku setuju sekali, Mas. Terima kasih ya, Mas.'' Ucap Keira seraya memeluk Kevin yang duduk di sampingnya.


''Sama-sama istriku sayang.''


Sebelum tidur, Kevin mengirimkan pesan pada Krisna untuk mengundang beberapa staf inti untuk menghadiri hari jadi pernikahannya bersama Keira. Setidaknya ada perwakilan dari masing-masing divisi tak terkecuali Mauren.


-


Di rumah Miko.


Gina tampak termenung di teras samping rumah. Seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Tiba-tiba suara Miko mengejutkannya.


''Door! Kamu kenapa sayang? Ini dingin lho.''


''Ya ampun kamu bikin kaget aja. Lagi pingin disini aja. Mama sudah tidur?''


''Sudah kok. Oh ya besok kita dapat undangan perayaan dua bulan pernikahan Kevin dan Keira.''


''Tumben di rayakan?''


''Ya kan sekarang mereka udah beneran akur jadinya ya, pasti ada momen seperti itu lah. Besok kita datang ke panti jompo, mereka mau merayakannya disana.''


''Aku senang melihat mereka bahagia.'' Kata Gina.


''Oh ya honey, ada yang ingin aku katakan padamu.''


''Apa? Katakan saja.''


''Jadi tadi saat aku menemani mama makan siang, Mama mengenalkan aku pada seseorang namanya Nadia dan dia seorang jaksa.'' Mendengar cerita dari Miko, Gina bagaikan di sambar petir. Firasatnya sedari tadi seolah menjadi kenyataan.


''Nadia? Untuk apa Mama mengenalkan wanita lain padamu, Mas? Dia single atau sudah berkeluarga?''


''Aku juga tidak tahu. Ya mungkin hanya sekedar menambah koneksi saja. Dia masih single. Tapi aku juga biasa saja sih, ya aku akui dia cantik.''


''Tuh kan kamu bilang dia cantik? Cantikana mana sama aku? Awas ya kalau sampai jiwa playboy kamu muncul.'' Ancam Gina.


''Tenang saja. Makanya aku cerita sama kamu sayang. Aku justru ingin meminta bantuan Nadia untuk membuka kasus kematian orang tua Kevin. Karena semuanya masih terasa ganjil. Siapa tahu dulu semua jaksa dan hakim di suap, sampai kasus itu di tutup dengan mudah. Walau bagaimanapun mereka juga keluarga aku, sayang.''


''Aku sih tidak masalah. Tapi awas aja kalau kamu sampai keganjenan ya? Jangan salahin aku juga kalau aku kegeanjenan sama cowok lain.''


''Lho-lho kok gitu? Kamu balas dendam sama aku?''


''Iya lah. Katanya suami itu imam dan istri makmum, jadi makmum harus mengikuti imamnya kan?''


''Ya bukan begitu juga konsepnya, sayang. Ihhh kamu ini gemesin.'' Kata Miko sambil mencubit gemas pipi istrinya.


''Ya biarin, emang kamu saja yang bisa jadi playboy? Aku juga bisa kadi playgirl.'' Ketus Gina.


''Mas, aku takut.''


''Takut apa?''


''Takut kalau wanita itu akan merebutmu dari aku. Aku takut Mama akan meminta kamu untuk menikah lagi supaya kita mendapat keturunan.'' Kata Gina mendadak sedih.


''Kenapa kamu berpikir seperti itu?''


''Ini hanya sebuah firasat seorang istri, Mas.''


''Kamu seharusnya tidak usah berpikir sampai sejauh itu, sayang. Aku saja tidak punya pikiran ke arah sana. Bagaimana kalau kita mengadopsi anak saja? Untuk pancingan kita, apa kamu setuju?''


''Aku setuju saja tapi Mama? Mama pasti akan mengatur kehidupan kita.''


Miko bisa merasakan kesedihan yang di rasakan oleh Gina. Ia kemudian memeluk Gina dengan erat.


''Sudah, sebaiknya kita ke kamar saja untuk berusaha. Kamu jangan sedih lagi. Aku akan membuat kamu bahagia dan merintih nikmat,'' kata Miko yang berusaha menghibur Gina.


''Dasar mesum kamu!"


''Sudah jangan malu-malu.'' Miko kemudian menggendong Gina dan membawanya ke kamar. Sesampainya di kamar, Miko pun melancarkan aksinya dengan mengecup mesra bibir Gina. Dan terjadilah pertempuran sengit antara Miko dan Gina malam itu.


-


Keesokan harinya, suasana di panti pun sangat meriah. Mereka menyambut dengan penuh antusias hari jadi pernikahan Keira dan Kevin ke-2 bulan. Suasana pun penuh suka cita. Kevin sendiri sengaja mendatangkan chef dari hotel bintang lima untuk memasak langsung hidangan disana.


''Kei, happy wedding anyversary.'' Suara Leon mengagetkan Keira yang tengah sibuk berada di dapur untuk melihat chef memasak.


''Leon? Kamu disini? Kenapa tidak di sana aja?'' ucap Keira seraya mengajak Leon untuk menjauh dari dapur.


''Aku sengaja hanya ingin bertemu denganmu saja, Kei. Ini hadiah untukku dan untuk suamimu. Aku harap kamu benar-benar bahagia dengan pernikahan ini.'' Kata Leon sambil menyerahkan sebuah paperbag berukuran besar pada Keira.


''Leon, kamu tidak perlu repot-repot. Sebenarnya aku juga tidak menyangka bahwa ternyata dia adalah pria yang sangat baik dan bertanggung jawab, Leon. Jujur saja aku bahagia, bahkan kontrak itupun sudah kami akhiri. Dan kita menjalani hubungan ini penuh dengan cinta. Maafkan aku yang tidak bisa membalas perasaanmu ya.'' Mendengar ucapan Keira, hati Leon terasa amat sangat sakit. Ia gagal mendapatkan cinta dari Keira. Seseorang yang mampu menggetarkan hatinya.


''Kalian memang sudah di takdirkan bersama jadi aku pun turut bahagia dengan kabar ini.''


''Leon, aku harap kamu bisa menemukan wanita yang jauh lebih baik daripada aku. Tentunya yang bisa mencintaimu dengan tulus.''


''Iya. Aku juga berharap seperti itu. Walaupun sebenarnya harapanku adalah kamu, Kei.''


''Leon, jangan katakan itu. Aku malah merasa bersalah denganmu.''


''Kamu tidak perlu merasa bersalah. Aku kan juga masih bisa berteman denganmu.''


''Benar ya kita jadi teman? Nanti kamu memusuhi aku lagi.'' Gurau Keira.


''Mana bisa aku memusuhi kamu, Kei. Ya sudah kalau begitu aku kedepan dulu ya. Semoga kamu dan suami kamu suka dengan hadiahku.''


''Iya Leon. Sekali lagi terima kasih ya untuk hadiahnya.''


''Sama-sama Kei. Oh ya aku menunggumu di depan. Aku ingin menyanyikan sebuah lagu untukmu, lagi ciptaanku sendiri.'' Kata Leon.


''Baiklah, aku akan segera menyusul.'' Jawab Keira dengan senyum kecilnya.


Leon pun segera kembali ke halaman depan. Ia pun segera mempersiapkan diri untuk menyanyi di hadapan para lansia dan tamu yang hadir, termasuk keluarga Kevin dan Keira. Lagu pembuka, Leon menyanyikan sebuah lagu dengan musik beat dengan alunan musik yang ceria, membuat siapapun yang mendengarnya menjadi semangat. Tak lama kemudian Keira menyusul dan duduk di samping Kevin menghadap sebuah panggung kecil. Dimana Leon sedang duduk sambil memainkan jemarinya di atas piano.


''Sayang, kamu darimana saja?''


''Aku habis dari dapur cek makanan, Mas.''


''Kan sudah ada chef, kenapa kamu masih ribet sih?''


''Ya rasanya kurang sreg kalau nggak aku tengokin.''


''Dasar kamu!"


''Suara Leon bagus juga ya, Mas. Lumayan kan kita dapat hiburan gratis.''


''Aku juga bisa seperti itu,'' kata Kevin yang tidak mau kalah.


''Sudah ah, jangan cemburu. Kamu adalah yang terbaik.'' Kata Keira sambil mengecup pipi suaminya. Kevin tersenyum lalu membalas dengan mengecup kening Keira. Melihat pemandangan di hadapannya membuat Leon merasa cemburu namun ia sadar dengan posisinya.


Bersambung....