Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 278 Kabar Bahagia Lagi


''Mas, kamu di kantor ada loker tidak?'' tanya Gina pada suaminya.


''Belum ada posisi kosong sih, sayang. Memangnya kenapa?''


''Tidak apa-apa, Mas. ''


''Yakin tidak ada apa-apa. Tidak mungkin kalau tidak ada apa-apa kamu tanya info loker di kantor aku. ''


''Hehehe sebenarnya aku tidak enak sih Mas mau ngomong. ''


''Ngomong aja sayang, sama suami pakai rahasia-rahasiaan segala. ''


''Ummm jadi begini Mas, keponakan aku baru saja lulus kuliah jurusan sekretaris dan dia tanya apa di kantor Mas ada lowongan. Tidak harus jadi sekretaris sih, yang penting dia bisa kerja. ''


''Oh begitu, cewek apa cowok sayang?''


''Cewek Mas, itu lho Mas si Chika anaknya Bibi, adik Ayah aku. Kamu ingat kan sama dia? Dia


''Oh Chika, iya aku ingat. Dia kan pintar sayang, dia yang kuliahnya dapat beasiswa itu kan?''


''Iya Mas, kalau tidak dapat beasiswa mana mungkin Bibi bisa menguliahkannya. ''


''Ya sudah kamu suruh dia buat cv nanti aku tanya sama si Kevin. Aku dengar info kalau dia sedang mencari asisten untuk Krisna soalnya Siska resign. ''


''Oh begitu tapi aku tidak enak sama Kak Kevin. Serasa KKN deh, Mas. ''


''Jaman sekarang kerja kalau tidak ada orang dalam susah, sayang, '' celetuk Miko dengan tawanya.


''Hehehe iya juga sih, Mas. Tapi biar Chika ikut tes saja Mas, dia juga ingin membuktikan kalau dia bisa dan punya kemampuan. ''


''Kalau begitu begini saja, suruh dia buat cv nanti kamu kirim sama aku, terus nanti aku tunjukkin sama Kevin. Dan nanti dia juga bisa kirim cv-nya lewat email perusahaan Kevin.''


''Ya sudah Mas, besok pagi aku kabari Chika ya, sekarang juga sudah malam atau aku kirim pesan dia saja ya, biar besok paginya siap. ''


''Iya terserah kamu sayang. ''


''Dia suruh tinggal disini saja, sayang. Masa iya dia mau kos? Toh di belakang ada paviliun, supaya kamu juga ada temannya. Mama juga udah balik kan?''


''Tapi katanya, keponakan kamu Zidni, dari almarhum Paman kamu mau disini juga, Mas. Kamu beberapa bulan lalu juga sudah mengiyakan kalau Zidni akan membantu kamu di perusahaan. ''


''Tidak masalah sayang. Rumah biar makin ramai. Lagi pula si Zidni itu emang agak bandel jadi aku harus ekstra mengawasi dia disini. Aku harus mendidiknya supaya dia jadi anak yang baik. Tapi melihat Zidni jadi teringat ke nakalan aku waktu muda, '' seloroh Miko dengan tawanya.


''Serasa bercermin ya, Mas?''


''Hehehe iya sayang. Tapi kamu tidak keberatan kan?''


''Tentu saja tidak, Mas. Rumah ini terlalu besar untuk kita tempati berdua. Kalaupun nanti Chika jadi tinggal disini, kamu boleh kok Mas menegurnya kalau dia salah. Apalagi Chika, dia pasti tidak mau cuma-cuma tinggal disini. ''


''Iya sayang, aku mengerti. Ya sudah kalau begitu kita istirahat ya. Perut kamu semakin membesar dan tidak boleh tidur larut malam. ''


''Iya Mas. Aduh, rasanya punggung panas semua. ''


''Sabar ya sayang, aku elus punggungnya supaya kamu enakan ya. ''


''Terima kasih ya, Mas. ''


''Sama-sama sayang. ''


Keesokan harinya sebelum pergi ke kantor, Miko menyempatkan untuk mampir ke kantor Kevin.


''Pagi my brother! Pagi-pagi sudah sibuk saja. '' Sapa Miko dengan gaya slengekannya yang tidak pernah berubah.


''Ada apa Mik, pagi-pagi kesini?''


''Oh ya katanya elo butuh asisten sekretaris ya?''


''Iya. Terus?''


''Mmmm gue ada rekomendasi nih. Ini keponakannya Gina. ''


''Ada foto atau civi?''


''Ini civinya tapi dia udah ngirim ke email perusahaan elo. '' Kata Miko sambil menunjukkan ponselnya pada Kevin. Kevin menerimanya lalu membacanya.


''Cumlaude ya nilainya?''


''Iya lah jangan salah. Dia emang pinter anaknya. Waktu SMA dia ikut akselerasi jadi 19 tahun sudah lulus S1. Jadi dia sekolah dapat beasiswa. Ya, kalau elo mau sih? Kalaupun nggak juga nggak masalah.''


''Kenapa dia nggak lanjut S2 lagi? Sayang lho dengan kecerdasannya.''


''Kata Gina dia pingin cepet-cepet dapat kerja. Berada di posisi ini aja dia usah syukur banget, Kev. Nanti kalau kuliah lagi, tambah biaya hidup lagi untuk kos dan sehari-hari. Maklum dia juga berasal dari golongan menengah kebawah.''


''Kenapa nggak di perusahaan elo aja?''


''Ya gue kan lagi nggak butuh. Lagi pula si Zidni juga mau di kirim kesini untuk belajar di perusahaan.''


''Serius lho? Puyeng deh lho.'' Ledek Kevin dengan tawanya.


''Nggak apa-apa lah, hitung-hitung elo belajar ngedidik anak. Amanah harus di jalankan, Mik.''


''Iya gue tahu kali, Kev. Ya udah sih gue cuma mau ngomong gitu aja.''


''Suruh saja anaknya datang langsung ke perusahaan. Soalnya nanti gue juga mau minta tolong Keira untuk ikut interview langsung.''


''Oke deh. Thank you ya, sorry kalau gue ngrepotin.''


''Udah biasa kan kita saling merepotkan. Ya udah hati-hati, Mik. ''


''Oke, semoga cocok ya. ''


''Urusan cocok biar Keira yang menangani. ''


''Iya Tuan Kevin si bucin akut. '' Ucap Miko seraya berlalu meninggalkan ruangan Kevin.


Sementara itu Johan hari ini tampak letih dan pucat. Kepalanya sejak tadi pagi rasanya pusing.


''Aduh, pandangan gue jadi kabur gini ya. '' Gumam Johan.


''Johan, ini laporan penjualan bulan lalu. Semuanya sudah aku periksa, '' kata Doni rekan timnya.


''Iya Don, terima kasih.''


''Johan kamu kenapa? Kok kelihatan pucat sekali.''


''Iya nih, kepala ku pusing.''


''Sepertinya kamu terlalu bekerja keras. Aku melihatmu sejak masuk kerja sampai detik ini, hampir tidak setiap hari lembur.''


''Maklum banyak cicilan, Don. ''


''Ah bisa aja. Masa iya manajer banyak cicilan. ''


''Iya lah, namanya hidup tanpa cicilan ya nggak semangat kerja. ''


''Hehehe bisa aja. Sebaiknya kamu istirahat saja Jo. Atau mending periksa ke dokter gih.''


''Iya nanti saja saat jam makan siang. ''


''Jangan di paksain, Jo. Kesehatan itu juga penting. ''


''Iya-iya makasih Don. ''


''Ya sudah kalau begitu aku kembali ke mejaku. ''


''Oke, terima kasih. ''


''Sama-sama. ''


Johan kemudian beranjak dari duduknya untuk mengambil minum namun baru berjalan beberapa langkah, Johan sudah pingsan. Semuanya pun tampak panik melihat Johan tergeletak tidak berdaya. Johan kemudian segera di bawa ke rumah sakit.


-


''Tessa, kenapa kamu menangis?'' tanya Johan sesaat setelah ia sadar.


''Aku khawatir Mas.''


''Aku tidak apa-apa. Kata dokter aku hanya anemia saja. ''


''Kenapa tadi kamu memaksa ke kantor, padahal aku sudah melarangmu. Bagaimana kalau terjadi sesuatu di jalan? Nanti anak kita bagaimana?''


''Anak? Maksud kamu Anrez?''


''Bukan hanya Anrez tapi dia. '' Kata Tessa sambil mengelus perutnya.


Mata Johan seketika berkaca-kaca. ''Kamu hamil Tes?''


''Iya. Aku tadi iseng untuk mengetesnya dan ternyata hasilnya positif.''


''Alhamdulillah, akhirnya kamu hamil juga. ''


''Makanya kamu jangan memforsir tenaga kamu. Aku takut kamu kenapa-kenapa. Apalagi ada calon anak kita di dalam perut aku ini. '' Ucap Tessa yang masih terus menangis. Johan tersenyum, ia kemudian menyeka air mata istrinya. Tessa kemudian memeluk Johan yang masih terbaring lemah.


''Iya-iya aku akan lebih mengatur waktu ku bekerja. Aku bahagia sekali, Tessa. Kita periksa sekalian saja ya mumpung kita di rumah sakit. ''


''Nanti saja setelah kamu pulih. Kamu harus sehat dulu. Aku, Anrez dan anak kita yang masih di dalam sini sangat membutuhkan kamu, Mas. Jadi kamu harus sehat. Lagian kita masih punya masa tenggang 3 bulan dari waktu kelonggaran yang di berikan Tuan Kevin. ''


''Iya aku mengerti. Aku memang terlalu semangat bekerja untuk keluarga kecil kita sampai aku lupa kalau tubuh ini bisa drop kapan saja. Next time aku akan berusaha menyeimbangkan semuanya. ''


''Itu harus Mas. Jangan seperti ini lagi ya.''


''Iya Tessa, maaf ya aku sudah membuatmu khawatir. ''


Bersambung....