Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 94 Membakar Surat Kontrak


''Kamu hati-hati ya dan secepatnya sarapan lalu minum obat. Dan tetap di rumah, tunggu aku pulang.'' Kata Kevin sambil mengusap kepala Keira.


''Kenapa mendadak manis seperti ini?'' batin Keira. Kevin lalu mendorong kursi roda Keira sampai di depan pintu.


''Rima, tolong setelah sampai rumah, siapkan sarapan untuk Nona ya.''


''Baik Tuan.'' Keira kemudian pergi meninggalkan kantor Kevin. Namun saat sudah sampai di depan pintu keluar, ia bertemu dengan Miko.


''Kei, ada apa denganmu? Kenapa sampai duduk di kursi roda?''


''Eh Kak Miko, aku tidak apa-apa. Hanya terkilir saja.''


''Aku boleh bicara berdua saja denganmu Kei?''


''Boleh Kak.''


''Rima, aku pinjam Keira sebentar ya. Ada yang ingin aku sampaikan padanya.''


''Iya Tuan.''


Miko lalu membawa Keira menuju halaman belakang kantor.


''Kei, aku ingin bertanya denganmu. Apa kamu ada hubungan dengan pria lain?''


''Tidak ada, Kak. Aku sampai detik ini masih sendiri. Memangnya kenapa?''


''Aku sudah melihat berita itu dari media. Sebenarnya apa yang terjadi.''


''Sebenarnya kemarin aku mengajak Mas Kevin ke bioskop tapi dia tidak mau masuk karena aku ingin menonton film scooby doo. Eh tanpa sengaja aku bertemu Leo. Dia adalah Leon yang sering di panti jompo itu. Padahal aku dan Leon sudah minta ijin untuk menonton film. Dan Mas Kevin mengijinkannya. Setelah selesai, dia marah dan meninggalkanku. Saat aku mengejarnya aku terjatuh dan berakhir seperti ini.''


''Oh jadi dia marah saat kamu bersama Leon?''


''Iya karena alasan kalau hubungan kita akan disorot oleh media. Tapi aku baru saja melihat dia membuat vidio klarifikasi. Ya semua ini memang salahku sih. Tapi sikap Mas Kevin akhir-akhir ini aneh sekali. Aku merasa semakin tidak bebas dan dia mengekangku. Masa iya hanya bermain game mengusapkan bedak, Leon tidak boleh mengusapkan bedak di wajahku. Begitu juga saat aku ingin mengusapkan bedak ke wajah Leon, eh dia malah yang menggantikannya. Aneh kan?'' cerita Keira apa adanya.


''Mmmmm sepertinya Kevin sudah mulai menyukai Keira nih,'' batin Miko.


''Kei, apa kamu tidak ingin membuka hatimu untuk Kevin. Dia pria yang sangat baik dan setia. Hidupnya sangat kesepian. Seorang yatim piatu di tambah dia seoran single father. Dia kehilangan semua orang yang mencintainya, setelah orang tuanya, kemudian istrinya. Kamu bisa membayangkan betapa sepinya hati Kevin. Belajarlah membuka hatimu untuk Kevin. Apalagi Marvel juga sangat menyayangimu. Baik Kevin ataupun Marvel, semenjak kepergian Kania, tidak pernah sedekat ini dengan seorang wanita selain kamu. Aku harap kamu bisa menjaganya ya. Karena aku juga sangat menyayangimu seperti adikku sendiri. Saat ini hanya kamu yang di butuhkan oleh Kevin dan Marvel. Dan hentikan kontrak pernikahan itu.''


''Kontrak? Darimana Kak Miko tahu?'' tanya Keira tergagap.


''Setelah acara pernikahan kalian, aku mampir ke rumah. Aku ingin mengambil berkas yang ada di ruang kerja Kevin tapi justru aku melihat kontrak konyol itu. Aku peringatkan pada kalian, jangan pernah permainkan sebuah pernikahan. Pernikahan itu sakral. Bayangkan jika Ayah dan Kakak kamu tahu ini semua. Betapa hancur dan sakitnya hati mereka. Pikirkan ucapanku baik-baik, Kei. Kalau kalian sudah siap menikah, maka jalani pernikahan itu dengan baik dan penuh kasih sayang. Bicarakan lagi pada Kevin juga. Aku tidak ingin nantinya hal ini bisa membuat Marvel terluka.''


Keira hanya terdiam mendengar semua nasihat Kevin. Tapi ia bingung apa yang harus ia lakukan sekarang.


-


''Apaan sih elo Mik, nggak sopan banget!" protes Kevin saat Miko melempar sebuah dokumen di hadapannya.


''Maksud elo apa bikin kayak gitu?''


''Bikin apaan sih?''


''Ya elo baca aja lah, pake pura-pura nggak tahu segala.'' Ketus Miko. Kevin mendengus lalu membuka dokumen itu. Kevin terbelalak kaget setelah membaca isi dokumen itu.


''Darimana elo tahu ini?''


''Nggak penting darimana. Yang jelas gue mau kasih tahu elo, kalau ini semua nggak bener. Pernikahan itu bukan mainan, Kevin. Apalagi elo udah mengucap ijab kabul di hadapan orang tua dan Kakak Keira. Saat elo udah mengucapkan itu, janji elo bukan cuma sama manusia saja tapi sama Tuhan. Pernikahan elo buat mainan. Keira udah tanggung jawab dunia dan akhirat, Kevin. Gue yang the king of playboy aja bisa serius sama pernikahan, masa elo cowok baik-baik bisa nglakuin itu. Bagaimana kalau orang tua Keira tahu ini semua? Pasti perasaan mereka akan hancur. Apalagi setelah satu tahun kontrak kalian selsai. Elo mau jadiin Keira janda, iya? Terus gimana perasaan orang tuanya. Berharap anaknya menikah satu kali seumur hidup dan mereka menganggap bahwa elo adalah pendamping hidup yang tepat tapi ternyata ini semua permainan saja. Permainan elo yang sangat egois!" cerocos Miko panjang lebar. Kevin hanya bisa terdiam mendengar ocehan Miko.


''Mending elo buang, elo sobek, sebelum dokumen ini membawa masalah!" perintah Miko.


''Elo mikirin reputasi tapi elo nggak pikiran perasaan orang-orang di samping elo, terutama Marvel. Elo pingin Marvel terluka dan kehilangan dia. Kalau sampai elo nerusin kontrak konyol ini, gue bener-bener nggak mau ikut campur urusan elo lagi. Gue bakal bawa Marvel ke luar negeri daripada punya Papa yang egois.'' Miko yang marah menyambar dokumen itu lalu membakarnya di hadapan Kevin.


''Mik, elo apa-apaan sih?''


''Sekarang gue tanya, elo apain Keira? Sampai dia kayak gitu. Elo udah ada rasa kan sama dia?'' desak Miko. Kevin pun terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa.


''Gue-gue nggak tahu.''


''Kalau elo emang suka, ambil hati Keira sebelum dimiliki oleh orang lain. Jangan sampai elo nyesel, Kevin. Belum tentu elo bakal nemu seorang wanita seperti Keira, terutama yang bisa menyatu dengan Marvel. Gue cabut, BYE! Pikirkan baik-baik ucapan gue, Kevin.'' Miko setelah menumpahkan amarahnya segera pergi meninggalkan ruangan Kevin.


''Kesini cuma buat maki-maki gue doang,'' gerutu Kevin.


''Hehehehe emang enak gue damprat elo, Kevin. Lagian sok-sokan permainin pernikahan. Huh, capek juga akting marah kayak tadi.'' Kata Miko dalam hati sembari berjalan keluar meninggalkan kantor Kevin.


-


''Kei, bagaimana kakimu?'' tanya Kevin begitu Kevin sampai di kamarnya. Keira sendiri sedang duduk di kursin rodanya sambil menatap kearah luar jendela.


''Sudah berkurang sakitnya. Hanya saja pinggulku yang terkadang masih nyeri. Tolong ya jangan beritahu Ayah atau Kak Kenny tentang kondisiku ini. Aku tidak mau mereka khawatir. Karena saat aku sakit flu saja, mereka sudah bingung setengah mati.''


''Iya tenang saja. Kamu sangat beruntung memiliki Ayah dan Kakak yang sangat menyayangimu. Rasanya aku iri sekali ingin di perhatikan seperti itu.''


''Sudah tua masih saja iri.''


''Apa? Kamu bilang aku tua?''


''Iya, kan memang sudah tua.''


''Kamu belum tahu saja betapa kuatnya aku, Kei.''


''Tapi aku tidak ingin tahu. Tidak ada hubungannya juga mau kuat atau tidak.''


''Suami pulang, bukanya di ajak romantis-romantisan tapi selalu diajak berdebat.''


''Suami apa? Suami pura-pura kan?'' kata Keira dengan sini. Kevin kemudian duduk berlutut dihadapan Keira.


''Kei, bagaimana kalau kita menjadi suami istri sungguhan?''


''Maksud Mas Kevin?''


''Ya kita jalani saja kehidupan kita seperti seorang suami dan istri. Kalaupun tidak bisa, bagaimana kalau kita berteman? Kita memulainya dari awal.''


''Mas tidak sedang mabuk kan?''


''Tidak. Sepertinya aku sudah kena kutukan karena mempermainkan pernikahan. Bagaimana kalau kita mencoba hubungan ini selama tiga bulan? Kalau memang kamu tidak mencintaiku, aku akan melepaskanmu.''


''Enak saja! Mas mau menjadikan aku janda setelah tiga bulan pernikahan ya? Lalu apa guna kontrak itu? Jujur aku menyesal melakukan pernikahan ini. Aku menyesal karena sudah mempermainkan ikatan suci yang sakral ini hanya karena masalah tidak penting. Padahal saat itu kita bisa saja klarifikasi dan setelah itu kita saling menjauh, tapi justru semuanya semakin rumit. Aku tidak bisa menikmati kebebasanku. Terikat oleh ini dan itu dengan peraturan yang tidak jelas. Semua impianku sirna begitu saja hanya dengan pernikahan konyol ini. Kalau sampai aku menjadi janda di usia muda, bagaimana perasaan orang tua ku dan Kakakku? Seandainya waktu bisa aku putar kembali, aku memilih kita tidak bertemu. Setidaknya setelah kontrak itu berakhir, lebih baik aku mati bunuh diri saja. Daripada aku harus melukai perasaan Ayah dan Kakakku.'' Keira mengeluarkan segala uneg-unegnya, bahkan tanpa ia sadari air matanya mengalir membasahi pipinya.


Mendengar semua isi hati Keira, Kevin merasa bersalah.


''Aku benar-benar terjebak di situasi yang sama sekali tidak aku inginkan. Bukan pernikahan yang seperti ini yang aku inginkan.'' Sambung Keira yang benar-benar sudah di ubun-ubun emosi yang berusaha ia tahan.


''Maafkan aku, Kei. Aku sudah membakar kontrak itu. Sekarang kamu bebas melakukan apapun. Aku tidak akan melarangmu atau bahkan menceraikanmu. Kamu bisa menjadi istriku untuk selamanya, sekalipun kamu tidak memiliki perasaan untukku. Kita akan menjalani sisa hidup sebagai suami istri, sekalipun tanpa cinta. Jadi kamu tidak perlu lagi takut dengan denda dalam kontrak itu.'' Jelas Kevin panjang lebar. Kevin kemudian berusaha bangkit dan berlalu meninggalkan kamar. Mendengar ucapan Kevin, Keira sungguh merasa bersalah juga.


''Aku harus bagaimana? Apa aku harus mengikuti saran Kak Miko? Sejujurnya ada sedikit rasa kagum yang aku rasakan pada dia.'' Batin Keira.


Bersambung.....