Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 145 Ujian Cinta


Tiga puluh menit sudah, Laras dan Krisna menepi di jalanan untuk memulihkan rasa gugup yang Krisna rasakan.


''Bagaimana Kak? Sudah baikan?''


''I-iya.''


''Gugupnya kambuh lagi ya?''


''I-iya.''


''Apa karena tadi aku cium ya?'' celetuk Laras.


''Se-sebaiknya kita lanjutkan lagi perjalanan kita. Nanti Tuan Kevin bisa marah karena aku terlambat.''


''Oke baiklah.'' Jawab Laras dengan santai.


-


Kevin dan Keira kini juga sedang dalam perjalanan menuju kantor.


''Bagaimana Mas? Kamu sudah merancang tas baru itu?''


''Belum. Kan semalaman kita kuda-kudaan, sayang.'' Jawab Kevin dengan senyum nakalnya.


''Dasar kamu, Mas.''


''Ya sudah nanti kamu temani aku rapat ya. Aku akan membahasnya dengan Krisna, Siska dan kamu saja. Nanti kita rapat di ruangan aku saja.''


''Iya baiknya kamu saja, Mas.''


''Yang jelas kamu jangan tinggalin aku ya. Kamu harus temani aku terus ya, supaya aku merasa lebih tenang.''


''Iya, kamu tenang saja.''


Sesampainya di kantor, di saat yang bersamaan Mauren pun juga baru saja tiba. Mauren yang melihat Kevin dan Keira baru turun dari mobil segera menghampirinya.


''Keira, senang sekali melihatmu kembali.'' Basa-basi Mauren.


''Terima kasih, Mauren.''


''Tapi kasihan Kevin karena berita buruk itu, perusahaan mengalami guncangan yang sangat hebat. Kami semua bahkan merasa ketar-ketir takut perusahaan Kevin bangkrut.'' Kata Mauren yang memasang mimik wajah sedihnya.


''Perusahaan ini tidak akan bangkrut Mauren jadi kamu tenang saja. Oh ya kamu kan mempunyai perusahaan sendiri, kenapa kamu tidak mengelola perusahaanmu sendiri? Kenapa kamu bergabung dengan perusahaan suamiku? Apa perusahaanmu sudah bangkrut sehingga kamu bekerja disini?'' ucapan Keira benar-benar menusuk hati Mauren. Bahkan Mauren merasa sangat kesal dengan apa yang Mauren ucapkan. Seketika Mauren hanya bisa membisu sambil mengepalkan tangannya, menahan amarahnya.


''Aku kesini untuk membantu Kevin. Itu saja.'' Jawabnya yang berusaha santai.


''Sepertinya suamiku tidak butuh bantuanmu. Yang dia butuhkan adalah aku, istrinya. Jadi lebih baik kamu kembali saja dan urus perusahaanmu.'' Kata Keira dengan tegas dan lugas. Kevin tersenyum melihat sikap istrinya yang pemberani itu.


''Ayo Mas kita masuk!" ajak Keira sambil menggandeng tangan suaminya.


''Kami duluan ya Mauren.'' Kata Kevin dengan senyum kecilnya. Kevin sengaja untuk diam supaya tidak membuat Mauren curiga kalau dia juga sedang menyelidiki Mauren dan perusahannya.


''Kamu berani sekali, sayang.'' Kata Kevin.


''Harus, Mas. Meskipun kebenarannya belum terbukti tapi aku tidak terima kalau dia dan keluarganya menyakitimu.''


''Kamu memang wonder womenku.'' Kata Kevin seraya memberikan kecupan di pucuk kepala istrinya.


Sesampainya di ruangan, Kevin segera meminta Krisna dan Siska untuk masuk ke ruangannya. Mauren yang melihat itu merasa aneh kenapa dirinya tidak di libatkan.


''Kenapa Krisna dan Siska masuk ke ruangannya Kevin? Terus kenapa aku tidak di ajak? Pasti ada sesuatu deh,'' batin Mauren.


Hampir tiga jam mereka melakukan rapat intern hingga tiba saat makan siang. Siska pun keluar dari ruangan terlebih dahulu. Mauren yang sedari tadi memantau ruangan Kevin, sengaja mencegat Siska untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


''Mbak Siska, tadi aku cari kemana saja?'' tanya Mauren.


''Oh tadi aku sedang meeting.''


''Meeting? Tapi tadi ruangan meetingnya kok kosong.''


''Iya tadi meeting di ruangan Tuan Kevin.''


''Memang bahas apa Mbak? Kenapa aku tidak ajak?''


''Oh tidak bahas apa-apa. Hanya masalah Nyonya Keira kemarin, supaya beritanya tidak simpang siur.''


''Kasihan juga ya Kevin, sejak menikah dengan wanita itu, hidupnya semakin kacau.'' Kata Mauren yang berusaha mempengaruhi Siska.


''Ya sudah kalau begitu, aku mau kembali ke ruangan. Masih banyak hal yang harus di kerjakan.'' Kata Siska seraya berlalu tanpa menghiraukan ucapan Mauren.


Sementara itu Krisna sendiri masih berada di ruangan Kevin untuk memberikan informasi tentang sabotes proyeknya.


''Apa? Jadi benar dugaanku kalau ini ada hubungannya dengan Mauren.'' Kata Kevin dengan suara meninggi.


''Iya Tuan. Bisa jadi hadiah bulan madu itu adalah kesempatan bagi mereka untuk mencuri semua itu dari. Semua data anak cabang perusahaan Tuan Sandi sudah saya kirim lewat email pribadi anda. Saya yakin Nona Mauren disini bukan hanya sekedar membantu tapi juga mata-mata.'' Jelas Krisna.


''Mereka memang benar-benar gembong mafia licik. Astaga, bagaimana aku bisa tertipu. Kali ini proyekku tidak boleh gagal. Aku harus bisa membalaskan dendam kematian orang tuaku,'' gumam Kevin dalam hati sambil mengepalkan erat tangannya. Melihat raut wajah Kevin, Keira mengerti bahwa Kevin sangatlah marah.


''Kamu boleh pergi Kris. Jangan lupa awasi terus Mauren.''


''Baik Tuan. Kalau begitu saya permisi.'' Krisna pun kemudian meninggalkan ruangan Kevin.


''Sebenarnya apa keuntungan mereka menggangguku? Mereka berniat sekali menghancurkan ku.''


''Mas, kamu tidak boleh putus asa. Tuhan tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan umat-Nya. Kamu di berikan ujian ini karena kamu bisa melewatinya.''


''Asal ada kamu disisiku, Kei. Kamu jangan pernah tinggalkan aku ya?'' Kata Kevin sambil menggenggam erat tangan Keira.


''Tinggalkan kemana, Mas? Aku masih disini kok. Daripada bete, mending kita jemput Marvel terus kita makan siang sama-sama.''


''Ide yang bagus. Aku hari ini rasanya ingin makan ice cream coklat dengan porsi besar. Supaya otak aku menjadi dingin dan suasana hatiku kembali tenang.''


''Akhirnya kamu tetarik juga makan ice cream.''


''Aku ingin mencobanya saja. Baiklah ayo kita berangkat. Marvel pasti akan sangat senang kalau kita bertiga makan ice cream bersama.''


-


Miko yang sedang di kantornya, di kejutkan dengan kedatangan Nyonya Rosa.


''Mama, tumben ke kantor?''


''Memangnya kenapa? Tidak boleh?'' jawabnya ketus.


''Boleh kok, Mah. Cuma ya tumben-tumbenan saja.''


''Istrimu tidak kemari?''


''Dia sangat sibuk di butik, Mah. Sedang banyak orderan gaun pengantin.''


''Istri macam apa itu? Waktunya makan siang, suami malah di abaikan.''


''Mah, kalau Gina tidak sibuk, kita pasti meluangkan waktu bersama kok.''


''Memang sok sibuk saja dia. Kalau begitu, temani Mama makan siang ya. Mama ingin makan siang bersama kamu di restoran.''


''Oke baiklah, Mah. Ayo kita berangkat!" ajak Miko seraya menggandeng tangan Mamanya.


Sesampainya di restoran, Miko pun segera memesan makanan. Miko sedari tadi mengamati Mamanya yang tampak celingak-celinguk seperti sedang mencari sesuatu.


''Mama cari siapa sih?''


''Mama sedang menunggu seseorang, Miko. Katanya dia mau datang menemui Mama.''


''Oh...,'' singkat Miko.


''Nadia!" panggil Nyonya Rosa pada seorang gadis cantik berambut pirang, kulit putih, hidung mancung dan tubuh yang indah. Gadis itu menyunggingkan senyumnya saat Nyonya Rosa memanggilnya. Nadia kemudian mendekat kearah meja Nyonya Rosa.


''Miko, ini yang sedang Mama tunggu.'' Kata Nyonya Rosa.


''Siapa dia Mah?''


''Ini adalah Nadia. Dulu saat di liar negeri, kami adalah tetangga. Kebetulan dia ini adalah seorang Jaksa, Miko. Cuma sudah dua tahun terakhir dia kembali ke Indonesia.'' Kata Nyonya Rosa.


''Nadia,'' kata Nadia sambil mengulurkan tangannya pada Miko.


''Miko. Profesi yang hebat.'' Kata Miko singkat. Tak di pungkiri, Nadia memang sangat cantik bahkan nyaris sempurna.


''Bolehkan kalau Nadia bergabung dengan kita, Miko?'' tanya Nyonya Rosa.


''Tentu saja boleh, Mah.'' Ucap Miko. ''Silahkan Nona Nadia,'' lanjut Miko.


''Panggil nama saja, Tuan Miko.''


''Kalau begitu panggil aku, Miko juga.''


''Baiklah, Miko.'' Ucap Nadia dengan senyum manisnya.


''Ya semoga hubungan mereka bisa berlanjut. Aku sudah tidak sabar ingin memiliki seorang cucu. Aku akan meminta Nadia untuk menjadi istri Miko. Nadia lebih pantas bersama Miko daripada bersama Gina,'' gumam Nyonya Rosa dalam hati.


Bersambung.... Akankah jiwa playboy Miko kembali bergejolak???? Hehehehe