
''Sayang, aku sudah membuatkan susu untukmu.'' Ucap Kevin dengan semangat saat membuka pintu kamarnya. Tampak Keira bersiap untuk berbaring.
''Aku sudah kenyang, Mas. Masa harus minum susu?''
''Sayangku, istriku, ini bukan hanya untuk kamu tapi untuk bayi kita supaya dia selalu sehat dan mendapatlan nutrisi yang pas,'' ucapnya sambil mengelus perut Keira. Keira tersenyum lalu menerima susu itu.
''Sekarang minumlah.'' Keira menurut dan meminum susu itu sampai habis.
''Anak pintar,'' ucap Kevin sambil mengelus kepala Keira.
''Kamu ini apaan sih, Mas? memangnya aku anak kecil apa,'' ucap Keira sambil mencubit perut suaminya. Kevin meringis sakit sambil tertawa.
''Oh ya Mas, jujur saja aku kepikiran sama Kak Miko.''
''Apa yang membuatmu memikirkan si Miko?''
''Ya tidak biasanya saja kan Kak Miko jadi melow seperti itu. Dia biasanya selalu ceria. Sebenarnya dari awal aku ingin mencegah kamu mengadakan acara makan malam ini apalagi dengan mengundang Kak Miko dan Mbak Gina. Tapi kamu sudah terlanjur ya sudah. Karena aku tahu bagaimana perasaan mereka saat tahu aku hamil di tambah ada Mbak Cindy juga. Pasti mereka sangat sedih, Mas.''
''Maaf ya sayang, aku hanya ingin berbagi kebahagiaan saja bersama mereka. Sejujurnya tadi aku juga merasa bersalah saat melihat Miko seperti itu. Aku baru sadar, kalau kabar ini akan semakin membuat mereka sedih. Meskipun aku tahu kalau mereka juga bahagia.''
''Aku berharap Mbak Gina secepatnya hamil juga, Mas. Bayangin deh kalau aku, Mbak Cindy dan Mbak Gina hamilnya bareng, pasti lucu.''
''Iya juga sih, ya kita doakan saja semoga Miko dan Gina segera di beri momongan.''
''Amin.''
''Oh ya bagaimana hubungan Nona Nadia dengan Kak Miko, Mas?''
''Aku tidak tahu sayang tapi sepertinya sejak Nona Nadia menyelesaikan kasusku, aku sudah tidak bertemu Nona Nadia lagi.''
''Aku berharap Tante Rosa tidak mengambil keputusan yang menyakiti hati Mbak Gina.''
''Ya semoga saja. Kalau sampai itu terjadi, aku benar-benar akan menghajar Miko. Karena bagi aku, Gina sudah aku anggap seperti adik kandungku sendiri.''
''Oh ya Mas, kita sebaiknya mengirim hadiah untuk Nona Nadia, Mas. Karena dia sudah berhasil memenangkan kasus kecelakaan orang tua kamu dan berhasil menggiring Mauren ke penjara.''
''Tapi aku tidak tahu tempat tinggalnya.''
''Kita kan bisa tanya Kak Miko. Yang jelas aku bahagia sekali karena satu persatu masalah kamu selesai, Mas. Kasus kecelakaan orang tua kamu terpecahkan dan sekarang kamu bisa tenang. Semua orang yang jahat sama kamu, sudah mendapat ganjaran yang setimpal. Jadi jangan simpan dendam di hati kamu lagi ya, Mas.''
''Iya Kei, terima kasih ya kamu selalu setia mendampingi aku.''
''Sudah seharusnya kita seperti itu kan, Mas. Oh ya Mas, besok kita ke rumah sakit saja ya.''
''Lho aku kan sudah meminta Dokter ke rumah.''
''Mas, aku bosan di rumah. Aku besok ingin jalan-jalan. Setelah dari rumah sakit, aku ingin makan mie ayam di dekat kampus aku. Boleh ya Mas?'' rengek Keira sambil bergelayut manja di lengan suaminya.
''Iya-iya oke baiklah, sayang. Kalau begitu sekarang kamu tidur.''
''Tapi bacain dongeng ya, Mas.''
''Hah? bacain dongeng? kamu ini sudah dewasa lho dan akan menjadi Ibu. Masa iya minta di bacain dongeng.''
''Mas, ayolah. Aku ingin sekali di bacakan dongeng. Saat aku masih kecil dan sebelum tidur, Bunda selalu membacakan aku dongeng.''
Kevin menghela nafas panjang. ''Baiklah, kamu ingin mendengar dongeng apa?''
''Cinderella, Mas.''
''Apa? Cinderella? kamu kan sudah tahu ceritanya. Ending ceritanya bagaimana juga sudah hafal, kenapa minta di dongengin itu?''
''Memangnya tidak boleh Mas? apa susahnya sih, membacakan cerita untuk aku.'' Keira pun menjadi marah. Ia segera berbaring dan mentupi sekujur tubuhnya dengan selimut.
''Sayang, jangan marah dong? masa begitu saja marah.''
''Ya habisnya kamu nyebelin. Masa iya cuma minta di bacain dongeng, kamu menolak?''
''Ya bukan menolak. Cinderella itu semua orang tahu ceritanya. Bahkan anak TK saja hafal.''
''Sudahlah kamu memang tidak sayang padaku, pergi sana! aku tidak mau tidur denganmu, Mas.'' Marah Keira dari balik selimutnya.
''Baiklah, aku akan membacakan dongenh untuk kamu sayang. Sekarang buka selimutnya, berbaringlah yang cantik.'' Bujuk Kevin. Keira lalu membuka selimutnya dan mengatur posisi tidurnya. Kevin kemudian naik ke atas tempat tidur dan duduk bersandar. Ia kemudian membuka ponselnya, mencari cerita dongeng untuk Cinderella. Kevin kemudian mulai membacakan dongeng itu untuk Keira. Sementara tangan kiri Kevin dengan lembut membelai kepala Keira, berharap Keira segera tidur. Dan perlahan Keira pun akhirnya tertidur. Setelah melihat istrinya terlelap, Kevin mengecup kening Keira dan merapikan kembali selimut Keira. Ia yang mulai mengantuk pun, akhirnya ikut tertidur.
-
Saat sampai di cafe, mereka segera menuju dapur untuk mencoba resep baru. Sejak tiba di cafe, Johan tampak sibuk sekali. Bahkan ia bicara seperlunya dengan Tessa. Tessa merasa ada sesuatu yang harus ia selesaikan dengan Johan. Tessa yang juga sedang memotong sayuran, meletakkan pisaunya dan mendekati Johan.
''Jo, ada yang ingin aku tanyakan padamu.''
''Tanyakan saja, Tes,'' ucap Johan tanpa melihat ke arah Tessa. Tessa sedikit kesal dengan sikap Johan.
''Apakah kamu bisa meletakkan pisaumu dan menatapku?'' kata Tessa. Mendengar ucapan Tessa, Johan kemudian meletakkan pisaunya dan menatap Tessa.
''Iya ada apa?'' kata Johan dengan lembut.
''Jo, apa aku melakukan kesalahan?''
''Tidak Tessa. Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?''
''Aku merasa kamu berubah belakangan ini. Meskipun perhatian kamu pada Anrez sama sekali tidak berkurang.''
''Berubah bagaiamana? aku sama sekali tidak merasa berubah. Mungkin aku terlalu fokus memikirkan cafe ini.''
''Tapi kamu terlihat menjaga jarak denganku, Jo. Aku merasakan itu tapi aku tidak tahu apa salahku. Bahkan kamu seperti takut menatap mata aku.''
Johan tergagap. ''Sungguh, aku tidak apa-apa Tes. Perasaanku bahkan masih sama kepadamu. Tidak ada yang berkurang sedikitpun.''
''Lalu kenapa kamu begitu padaku? apa kamu mulai ragu dan ingin berhenti?''
''Tidak sama sekali, sungguh. Sejujurnya aku merasa bersalah padamu.''
''Merasa bersalah karena apa Jo? aku merasa kamu selalu baik padamu.''
Johan kembali tergagap. ''Aku merasa bersalah karena aku sudah lancang menciummu. Seharusnya aku bersikap baik padamu. Mengingat aku dulu adalah muridmu.''
Mendengar pengakuan Johan, Tessa pun tertawa. Ia tidak menyangka bahwa pikiran Johan sejauh itu.
''Johan, kenapa kamu aneh sekali? hanya sebuah ciuman kamu merasa bersalah? usia kita hanya terpaut lima tahun saja, Jo. Bahkan kedewasaan kamu, melebihi usia kamu. Kamu pria gentle karena mau mencintai seorang janda seperti itu.''
''Maafkan aku, Tes. Awalnya aku menikmatinya tapi lama-lama setiap melihatmu, aku merasa malu.''
''Ya ampun Johan. Bagaimana kita menikah kalau kamu seperti itu? Jo, aku ini kekasihmu, bukan gurumu. Buang semua masa lalu itu.''
Tessa kemudian meraih tangan Johan dan melingkarkan tangan Johan pada pinggangnya. ''Bisakah kamu menganggapku seorang wanita biasa? seorang wanita yang ingin di cintai dengan tulus tanpa melihat masa lalu ku. Aku tidak habis pikir kenapa pikiranmu sejauh itu, Johan. Padahal aku sama sekali tidak menganggapmu muridku. Bagiku kamu adalah pria dewasa yang bertanggung jawab. Makanya aku memutuskan untuk menerima lamaran kamu apalagi Anrez yang begitu menyayangimu juga.''
''Maafkan aku, Tessa.''
Tessa tersenyum sambil menangkupkan kedua tangannya pada wajah Johan. ''Jo, anggaplah aku sebagai wanita biasa. Bisa kan?''
''I-iya. Lalu apa aku boleh menciummu tanpa meminta ijin? aku takut dianggap tidak sopan?'' tanya Johan dengan polosnya.
''Boleh Jo. Aku milikmu. Kalau aku sudah mencintai seseorang, aku akan memberikan segalanya yang aku punya meskipun itu adalah sebuah kebodohan dengan memilih manusia kejam seperti mantan suamiku itu.''
''Sssssttttt jangan sebut mantan suami mu itu lagi.'' Ucap Johan sambil menempelkan telunjuknya pada bibir Tessa. Tessa pun mengangguk pelan. Johan kemudian mengangkat tubuh Tessa ke atas meja. Naluri Johan sebagai pria normal pun muncul. Meskipun Tessa seorang janda, tak di pungkiri bahwa tubuh Tessa masih sangat bagus. Bahkan Tessa masih terlihat seperti seorang gadis. Sungguh bodoh pria yang meninggalkan berlian seperti Tessa. Itulah yang di pikirkan Johan saat melihat Tessa.
''Jo, kamu mau apa? kenapa menaikkan ku di atas meja?'' tanya Tessa dengan bingung.
''Bukankah kamu ingin, aku menganggapmu seperti seorang wanita biasa?''
''I-iya Jo. Tapi kenap...mmphhhh.'' Belum selesai bicara Johan sudah me...l...u...m...at bibir Tessa. Tessa bahkan sampai gelagapan saat Johan tiba-tiba melahapnya. Johan kemudian melepaskan lu...ma..tannya dan mendapati Tessa terengah. Area bibir Tessa pun memerah.
''Jo, kamu mengagetkannku,'' lirih Tessa.
''Ma-maaf.''
''Bisakah kamu melakukannya dengan pelan?'' pinta Tessa. Johan tersenyum dan mengangguk. Johan kemudian mengangkat dagu Tessa, ia mulai menempelkan bibirnya dengan bibir Tessa. Kali ini sangat lembut, melihat mata Johan terpejam, Tessa pub ikut memejamkan matanya. Mereka saling mel...u...m...at, menjilat, bertukar saliva bahkan sampai saling membelit. Tubuh Tessa terasa sangat panas karena sudah hampir dua tahun, dia tidak merasakan sentuhan pria. Ia selalu menolak saat mantan suaminya mengajaknya berhubungan, mengingat ia di hianati secara terang-terangan di depan matanya. Bertahan dengan mantan suaminya pun hanya demi Anrez. Tessa benar-benar merasakan haus akan kasih sayang dan belaian seorang pria.
Tessa yang mulai menikmati ciuman itu, melingkarkan kakinya pada pinggang Johan. Johan semakin mempererat dekapannya pada Tessa. Hampir sepuluh menit ciuman panas itu berlangsung, keduanya saling melepaskan dan saling beradu hidung dengan nafas terengah.
''Tessa, bagaimana kalau aku hilang kendali sebelum waktunya?'' tanya Johan dengan hembusan nafas kasarnya.
''Lakukan saja, Jo. Aku akan memberikan apa yang kamu mau tanpa syarat.'' Ucap Tessa tanpa melepaskan tatapan Johan. Johan tersenyum lalu mengecup kening Tessa dan memeluknya dengan erat.
''Sebisa mungkin aku akan menjagamu sampai waktunya tiba, Tessa. Meskipun kamu seorang janda, aku juga tidak bisa memperlakukanmu sesuka hatiku tanpa menghargaimu,'' gumam Johan dalam hati.
Bersambung....