Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 284 Kembali ke rumah


''Sayang, makan dulu yuk! Rachel juga sudah anteng.'' Ucap Kevin.


''Rasa laparku hilang rasanya, Mas.'' Jawab Keira dengan suara lemah.


''Sayang, nanti kalau kamu sakit, kamu malah tidak bisa menjaga Rachel. Aku suapin ya? Sedikit saja, sayang. Rachel demamnya juga sudah turun. Ini sudah malam dan daritadi siang, kamu belum makan apapun.''


''Baiklah, Mas.'' Ucap Keira. Kevin lalu mengajak Keira untuk duduk di sofa. Dengan telaten ia lalu menyuapi istrinya.


''Terima kasih ya, Mas. Aku bersyukur sekali punya kamu.''


''Begitu juga denganku, sayang.''


''Kamu juga makan ya Mas?''


''Iya sayang. Kita harus semangat dan sehat untuk Rachel. Bukan hanya Rachel tapi Marvel juga.''


''Iya Mas.''


Empat hari sudah Rachel di rawat di rumah sakit. Empat hari itu pula, Kevin tidak pernah meninggalkan Keira. Bahkan ia selalu menemani istrinya itu. Keira sendiri sangat lega, akhirnya Rachel sudah sehat kembali dan di perbolehkan untuk pulang.


Setelah sampai di rumah, Keira segera membawa Rachel ke kamar dan meletakkannya di dalam keranjang bayinya. Keira belum tega jika Rachel harus tidur di kamar sendiri karena Rachel pasti masih sangat membutuhkannya.


''Akhirnya Mas, Rachel pulang juga. Aku lega sekali.''


''Iya sayang tapi wajah kamu tampak sayu karena hampir tiap malam Rachel rewel.''


''Tidak apa Mas, namanya juga masih bayi. Aku menjalani ini semua dengan ikhlas dan bahagia. Aku juga merasa bersalah padanya, Mas.''


''Sudah sayang, kamu tidak perlu menyalahkan diri kamu. Rachel juga sudah membaik kan?''


''Maaf juga ya Mas karena aku tidak bisa membantumu di kantor dulu. Rachel masih sangat membutuhkan aku.''


Kevin tersenyum lalu memeluk istrinya. ''Iya sayang, tidak apa-apa. Sudah ya jangan merasa bersalah. Kalau dicari siapa yang paling salah, sudah jelas aku yang paling salah. Aku tidak akan membebani kamu dengan urusan kantor, kamu fokus mengurus anak-anak kita ya. Mengurus anak sudah sangat melelahkan tapi aku justru menambah beban kamu. Maafkan aku sayang.''


''Tidak apa-apa Mas. Aku menjalani semuanya dengan happy kok.'' Ucap Keira. Kevin lalu mengecup kening istrinya.


Sementara itu Marvel yang baru pulang sekolah, sangat senang melihat adiknya sudah berada di rumah. Ia langsung berlari menuju kamarnya.


''Adik Rachel!" seru Marvel.


''Hei Kakak. Kakak kok baru pulang ya?'' tanya Keira.


''Iya Mama. Tadi telat, soalnya habis beliin ini buat adik.'' Marvel menunjukkan boneka hello kitty pada Keira.


''Wah cantik sekali, terima kasih Kakak.''


''Sama-sama.'' Marvel lalu mengecup lembut adiknya yang tertidur pulas itu.


''Adik jangan sakit lagi ya? Adik harus sehat. Kita harus kuat dan sehat supaya bisa menjaga Mama.'' Celoteh Marvel yang begitu menggemaskan.


''Kakak Marvel sudah pulang ya?'' sahut Kevin yang baru keluar dari kamar mandi.


''Hai Pah.''


''Hai jagoan Papa. Bagaimana sekolahmu?'' tanya Kevin seraya menggendong putra sulungnya itu.


''Tidak pernah ada masalah, Pah. Semuanya berjalan dengan lancar.''


''Bagus sekali.'' Kevin mengecup pucuk kepala putranya, lalu menurunkan Marvel dari gendongannya.


''Papa tidak ke kantor?''


''Siap Pah!" Marvel kemudian pergi berlalu meninggalkan kamar orang tuanya.


''Oh ya sayang, nanti kalau Rachel sudah besar, aku akan memasukannya ke dalam kelas karate. Aku ingin dia menjadi kuat. Apalagi kalau ada pria kurang ajar padanya.''


''Ya ampun Mas, pikiran kamu kejauhan. Dia aja merangkak belum bisa.'' Ucap Keira terkekeh.


''Justru itu sayang, kita harus merencanakannya sejak awal. Kamu tahu kan Rachel kita sangat cantik. Dia pasti akan menjadi primadona di sekolah. Pasti banyak lelaki yang berusaha mendekatinya jadi dia harus ikut kelas karate untuk menjaga diri. Dan yang jelas aku akan posesif padanya.''


''Kamu lucu deh, Mas.'' Kata Keira dengan tawa kecilnya.


''Sudah, kamu temani Marvel makan siang sana. Aku mau jagain Rachel disini. Dia harus ne..nen.''


''Kalau begitu, aku nanti bawa makan siang kamu ke kamar ya, sayang.''


''Iya Mas.''


Kevin kemudian meninggalkan kamar lalu menuju ruang makan.


-


''Om-Tante, bagaimana keadaan putrinya Tuan Kevin dan Nyonya Keira?'' tanya Chika saat mereka sedang makan malam bersama.


''Rachel sudah membaik Chika. Tadi Rachel sudah di perbolehkan pulang.'' Jawab Gina.


''Syukurlah, aku lega sekali mendengarnya. Karena satu kantor tidak ada yang tahu, Tante. Hanya aku dan Pak Krisna saja yang tahu.''


''Mungkin mereka tidak mau merepotkan atau membuat cemas yang lain juga, Chika. Kamu tentu harus tahu, kamu dan Krisna kan sekretarisnya.'' Sahut Miko.


''Apa kamu senang kerja disana Chika? Apa ada kesulitan?'' tanya Gina.


''Sejauh ini tidak ada, Tante. Begitu hari pertama Nyonya Keira menyambutku, aku sudah merasa nyaman. Apalagi Pak Krisna juga sangat baik dan bisa membimbing aku.''


''Syukurlah kalau kamu nyaman disana, Chika. Yang jelas jangan buat malu Om dan Tante ya.'' Pesan Gina.


''Iya Tante. Tante jangan khawatir. Aku niat kerja sungguh-sungguh kok.''


''Zidni, tuh dengerin Chika. Kamu ini di ajak kerja malas banget. Om sampai malu bawa kamu ke perusahaan. Masa iya godain cewek-cewek melulu.''


''Itukan si Chika. Aku Zidni. Sudah jelas beda lah, Om. Kalau Om malu, ya sudah tidak usah bawa aku ke kantor. Aku juga tidak memintanya kok. Pulangkan saja aku.''


''Zidni! Kamu ini harapan Mama kamu. Penerus perusahaan keluarga kamu. Kalau kamu tidak belajar sekarang, kamu mau kapan? Mau membiarkan perusahaan peninggalan Papa kamu hancur begitu saja, iya? Kamu bukan anak kecil lagi, Zidni. Kamu sudah dewasa! Bukan saatnya untuk bermain-main. Om mendapat amanah dari Mama kamu untuk membimbing kamu. Apa kamu tidak ada rasa sedikitpun berfikir ke arah sana? Bisa kan kamu serius sedikit? Jangan hanya main, main dan main. Mau jadi apa kamu nanti? Hah?'' kali ini Miko tidak bisa meredam amarahnya. Zidni justru semakin kesal. Ia lalu pergi meninggalkan kamarnya begitu saja. Bahkan Zidni menutup pintu kamar dan membantingnya. Gina sendiri terkejut melihat Miko yang marah seperti itu. Karena selama menikah, Miko tidak pernah marah sehebat itu. Apalagi Chika, Chika merasa tidak enak karena dijadikan bahan perbandingan. Dan tentu saja itu semakin melukai perasaan Zidni.


''Ampun deh anak itu. Sejak Papanya meninggal, jadi tidak karuan seperti itu.'' Ucap Miko yang berusaha menelankan suaranya.


''Mas, kamu ini kok malah marah-marah. Dia tidak bisa di keras, Mas.''


''Tapi dia sudah keterlauan, Gina. Terlalu banyak di manja jadinya begitu. Masa tanggung jawabnya tidak ada sama sekali pada dirinya dan perusahaan. Kamu tahu kan, selama ini aku yang mengurus perusahaannya. Berusaha mati-matian mempertahankannya, sementara dia sedikitpun tidak pernah ingin tahu.''


''Mas, tenanglah. Nanti dia juga akan terbuka pikirannya. Kamu harus sabar, Mas. Kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah.''


''Mamanya yang menasihatinya dengan lembut saja tidak dia dengarkan, Gina. Bagaimana aku yang hanya Om-nya saja?''


''Sudah Mas, kamu tenang ya. Kendalikan emosi kamu. Aku takut lho lihat kamu marah seperti ini.''


Miko lalu mengatur nafasnya pelan. ''Maafkan aku sayang.'' Ucap Miko pada Gina. Chika hanya bisa diam dan ia juga merasa tidak enak. Namun Chika justru penasaran, apa yang membuat Zidni bersikap seperti itu.


''Dia kenapa ya?'' gumam Chika dalam hati.


Bersambung... Yukkk like, komen dan votenya ya, makasih 🙏❤️ mampir juga ke karya baru author "Takdir Cinta Aruna" cerita yang berbeda dari sebelumnya