
Akhirnya Chika sampai juga di kantornya.
''Sudah sampai, turunlah!" perintah Zidni. Chika kemudian turun dari motor Zidni.
''Terima kasih ya sudah mengantarku. Oh ya nanti pulangnya nebeng lagi ya?''
''Tidak mau! "
"Ya sudah tidak jadi saja. Aku lupa kalau harus lembur. Aku mau nabung untuk membeli motor jadi harus semangat kerjanya. Lagi pula kasihan kamu juga kalau harus menunggu lama. Bye Zidni, terima kasih ya. Ganbatte!'' Ucap Chika dengan penuh semangat.
''Sudah, masuk sana! " ketus Zidni. Zidni kemudian segera berlalu begitu saja.
''Semangat Zidni, kamu tidak boleh larut dalam kesedihan. '' Gumam Chika.
-
''Mas, jangan lupa besok kita harus hadir di acara pertunangan Leon.'' Ucap Keira sambil menuangkan nasi kedalam piring Kevin.
''Iya sayang, aku ingat.''
''Om Leon mau menikah ya Mah?'' sahut Marvel.
''Iya sayang. Tapi besok baru hari pertunangannya.''
''Mah, aku boleh ikut? Aku juga ingin memberi selamat untuk Om Leon.''
''Boleh saja sayang. Besok Rachel juga akan Mama ajak. Mama sudah memesan baju seragam untuk kita berempat.''
''Seragam apa sayang?''
''Ya seragam buat pergi ke kondangan lah, Mas.''
''Norak ah pakai gituan, kayak anak panti saja.''
''Norak bagaimana sih, Mas. Bagus tahu. Aku pesan yang warna pink.''
''Apa? PINK?" kata Kevin dan Marvel bersamaan.
''Iya, pink. Bagus kok dan cocok untuk kalian para lelaki.'' Kata Keira.
''Tapi kan Mah...?'' sambung Marvel.
''Iya sayang, kok pink?" sambung Kevin.
''Sudah ya, itu keputusan mutlak Mama. Kalau besok Papa dan Kakak tidak mau ikut juga tidak masalah. Mama pergi sendiri saja, kalian jaga Rachel.''
Marvel dan Kevin saling melempar pandangan, akhirnya mereka hanya bisa mengalah dengan keputusan Nyonya Keira, pemegang kekuasaan tertinggi di rumah.
Setelah selesai sarapan Kevin dan Marvel pun segera berangkat.
-
Saat jam makan siang, Chika berniat mengajak Zidni untuk makan siang bersama.
''Aku akan mengganggu Zidni dengan mengajaknya makan siang.'' Gumam Chika. Telepon pun langsung tersambung, Zidni yang baru saja kembali dari ruangannya, merasakan ponselnya bergetar di dalam saku. Zidni mendecih saat melihat nama Chika ada di layar ponselnya.
''Ada apa lagi si burung beo ini?'' gumam Zidni.
''Halo ada apa lagi Chika?'' tanya Zidni.
''Hai Zidni, aku ingin mengajakmu makan siang. Karena kamu tadi sudah baik hati memberi tumpangan padaku.''
''Tidak perlu! Makan siang sendiri sana. Aku sibuk.'' Nut nut nut panggilan berakhir begitu saja.
''Yah, belum juga berhasil udah di matiin. Benar-benar susah sekali ya membuka diri Zidni. Aku sebaiknya pesan makanan online saja lah, supaya dia mau makan. Jangan sampai lah dia mati muda karena merana terus-terusan.'' Dan akhirnya Chika memesan makanan online untuk Zidni. Karena tidak tahu makanan kesukaan Zidni apa, Chika memilih masakan chinese food saja. Sedangkan Chika memilih makan siang di kantin kantor saja.
Zidni hari ini memilih untuk tidak keluar kantor. Sejak tadi pagi ia merasa tidak enak badan. Sepertinya ini efek semalam karena kehujanan. Selang satu jam, seorang office boy masuk ke ruangan Zidni.
''Tuan Zidni, permisi!" kata si office boy itu sambil mengetuk meja. Karena OB itu melihat Zidni tertidur di sofa. Zidni yang cukup terkejut pun akhirnya terbangun.
''Ah iya, ada apa?'' jawab Zidni sambil berusaha untuk bangun.
''Ini Tuan ada kiriman makanan.''
''Makanan?'' Zidni merasa bingung.
''Iya Tuan. Saya permisi.'' Ucap OB itu seraya berlalu.
''Makanan? Aku tidak memesan makanan.'' Gumam Zidni. Zidni kemudian membuka isi di dalamnya.
-Chika-
"Dia rupanya? Tidak ada pekerjaan lain apa selain mengangguku dan mengoceh." Namun tetap saja Zidni penasaran dengan isi makanan dari Chika. Satu porsi chicken charsiu, fuyunghai asam manis dan ice lemon tea, itulah yang ada di dalam isi kantong plastik itu. Tak lama kemudian terdengar nada dering pesan masuk.
Chika : Apa makanan yang aku pesan sudah sampai? Karena kamu lama tinggal di Shanghai jadi aku pilih masakan chinese food saja. Tolong dimakan ya. Dan tolong kirim fotonya kalau masakan itu sudah sampai. Aku hanya ingin membalas kebaikanmu saja. Jangan salah paham!
Dan Zidni pun memotret makanan yang telah Chika berikan.
Zidni : Terima kasih.
Chika sangat senang mendapat balasan pesan dari Zidni. Ia juga merasa lega karena makanan itu sampai ketangan Zidni.
Chika : Sama-sama. Pastikan makan ya. Awas jangan sampai kamu buang, apalagi kamu berikan pada orang lain!
Zidni menghela mendapat ancaman dari Chika. "Siapa dirimu, berani mengancamku." Gumam Zidni. Namun pada akhirnya Zidni memakan juga makanan itu.
-
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Chika bergegas merapikan mejanya dan mematikan layar komputernya.
''Akhirnya selesai juga pekerjaanku. Jam segini pasti juga masih banyak taksi lewat.'' Gumamnya seraya pergi meninggalkan ruangannya.
Hampir tiga puluh menit Chika menunggu taksi, namun tidak ada yang lewat juga.
''Ini kemana taksi? Kok nggak nongol-nongol,'' ucapnya dengan kesal. Namun tiba-tiba ada sebuah motor yang berhenti di depan Chika.
''Zidni," gumam Chika.
''Ayo naik!" pinta Zidni.
''Serius nih?''
''Iya cepat naik! Sebelum aku berubah pikiran.'' Ketus Zidni. Dan akhirnya Chika bergerak cepat naik ke motor Zidni. Zidni lalu melajukan motornya kembali.
''Kamu pasti sengaja menunggu ya? Kamu tidak tega kan membiarkan aku pulang sendiri?''
''Dasar ge-er! Aku juga lembur dan tidak sengaja melihatmu. Kan searah.''
''Oh begitu, tapi kalau memang faktanya begitu tidak masalah juga. Setidaknya kamu masih menjadi manusia yang punya hati.''
''Memang aku kejam?''
''Bukan hanya kejam tapi seperti kulkas dua pintu. Ah, bukan kulkas tapi frezeer, bukan hanya dingin tapi membeku.''
''Terserah apa katamu.''
''Oh ya bagaimana kalau kita makan malam? Aku lapar sekali.''
''Langsung pulang saja! Nanti hujan lagi seperti kemarin.''
''Baiklah kalau begitu. Aku makan malam di luar, merasa tidak enak saja pada Om dan Tante. Makanya aku hampir tidak pernah makan di rumah. Diberikan tempat tinggal saja aku sudah senang. Bayangkan saja kalau aku harus kost atau ngontrak, pasti lebih banyak pengeluarannya.''
''Aku tahu Chika baik. Bahkan dia tidak mau menanfaatkan Om Miko dan Tante Gina,'' batin Zidni.
''Baiklah kalau begitu ajak aku, ke tempat makan yang sering kamu kunjungi.''
''Aku lebih senang makan di pinggir jalan. Atau nggak di warteg gitu. Masakan di tempat seperti itu porsinya banyak, rasanya enak dan bikin kenyang. Kalau di restoran tahu sendiri kan? Harga mahal, porsinya kecil banget. Mana bisa kenyang.''
''Oke, aku ikut saja. Nanti aku yang bayar.''
''Beneran nih mau traktir?''
''Iya. Jangan banyak tanya atau aku berubah pikiran.''
''Belum juga jawab sudah mau berubah pikiran. Kita makan bebek goreng sambal ijo sama nasi uduk, sumpah itu enak banget.''
''Dimana tempatnya?''
''Di dekat supermarket sana.''
''Baiklah kita kesana.'' Kata Zidni.
''Tumben nih manusia baik. Perkembangan bagus.''
Bersambung....
NB: Saran dong dari kalian, setelah ini di bikin sekuel apa nggak? Karena rencana akhir bulan ini, cerita ini akan segera tamat 😭😭 Mungkin kalian punya ide cerita yang bisa author bikin cerita juga boleh. Mau di kolom komentar ataupun lewat DM juga bisa di ig @dydyailee536, makasih yaaa 🙏❤️