Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 73 Kei, Apa Kamu Mencintainya?


Saat hendak pulang dari cafe, tiba-tiba ponsel Keira berdering. Satu panggilan masuk dari Leon.


''Halo Leon, ada apa?''


''Kei, kamu sibuk nggak? Aku ingin bertemu.''


''Kebetulan aku lagi di luar nih. Mau ketemu dimana, Le?''


''Di taman kota saja ya. Aku tunggu kamu disini.''


''Baiklah kalau begitu. Aku segera kesana,'' kata Keira seraya mengakhiri panggilannya.


Sepuluh menit kemudian, Keira sampai disana. Wajah Leon tampak sumringah melihat Keira datang.


''Apa ada yang penting, Le?''


''Duduklah dulu, Kei. Aku ingin bertanya sesuatu. Aku hari ini sudah melihat berita tentangmu dengan pria itu. Aku tidak menyangka kamu bisa dekat dengan seorang pria yang luar biasa.''


''Oh, itu namanya Tuan Kevin. Aku sendiri tidak tahu, semuanya terjadi begitu saja.''


''Lalu apa kamu mencintainya?''


Mendengar pertanyaan Leon, Keira terdiam sesaat.


''Kenapa diam Kei?''


''Aku tidak tahu. Pertemuan kami sangat singkat. Yang jelas aku begitu menyayangi Marvel, putra tunggal Tuan Kevin. Awal pertemuan kami di restoran, lalu pertemuan berlanjut saat aku menjadi guru magang di sekolah Marvel. Dia anak yang introvert jadi aku berusaha dekat dengannya sampai pada akhirnya dia memintaku untuk menjadi Mamanya. Bahkan aku menolak keras tapi penolakan ku membuat dia sangat terpukul sampai akhirnya dia jatuh sakit. Hubunganku dengan Tuan Kevin tidak begitu baik karena kita selalu saja bertengkar. Aku juga tidak tahu bagaimana pernikahan kami nanti? Sepertinya ini hanya sebuah kompromi dan tidak tahu sampai kapan.''


''Kei, kenapa kamu menyulitkan diri kamu sendiri?''


''Bagaimana lagi Le, semua ini sudah terlanjur. Apalagi berita sebelumnya juga sudah cukup membuatku malu, pasti kamu juga sudah melihatnya. Jadi Tuan Kevin memutuskan untuk menikahiku. Ah sudahlah, aku pusing. Aku tidak menyangka akan menikah secepat ini. Aku sendiri bingung, Le. Aku tidak tahu harus berbuat apa karenna aku sudah terlanjur menyayangi Marvel. Dia ditinggal ibunya meninggal sejak usia 3 tahun. Papanya terlalu sibuk bekerja dan beginilah dampak cara Tuan Kevin mendidiknya.''


''Aku mengerti perasaan kamu, Kei. Kamu memiliki hati yang tulus bahkan seorang anak kecil pun bisa merasakan ketulusanmu. Tapi apakah kita tetap bisa berteman Kei?''


''Tentu saja bisa, Leon. Kita akan tetap berteman jadi kamu tidak usah khawatir.''


''Apa Tuan Kevin akan cemburu kalau kita dekat?''


''Sepertinya tidak cemburu jadi santai saja, hehehe. Lagi pula mana mungkin cemburu. Sudahlah jangan membahas ini lagi, aku ingin menikmati hari bebasku.''


''Baiklah aku akan menghiburmu. Apa kamu mau melihat musik jalanan?''


''Mau! Dimana itu, Leon?''


''Itu di ujung taman sebelah sana. Ayo!" Ajak Leon sambil menggandeng tangan Keira. Suasana disana ternyata sangat ramai. Para musisi jalanan sangat piawai memadupadankan musik modern dengan alat musik tradisional. Keira dan Leon kompak saling bertepuk tangan. Leon sangat bahagia melihat Keira bisa tersenyum tanpa beban seperti itu. Hiburan dari Leon, bisa membuat Keira lupa dengan beban pikiran yang menggelayut beberapa hari ini. Setelah acara musik selesai, Leon mengajak Keira untuk membeli kembang api.


''Kamu suka bermain kembang api juga?''


''Iya lah. Aku sangat suka bermain ini, Kei.''


''Aku pikir terlalu lama tinggal di luar negeri, membuat kamu melupakan hal seperti ini.''


''Sekalipun di luar negeri tapi aku tetap darah Indonesia. Aku suka sekali dengan kembang api ini, Kei. Dia terlihat biasa saja, sederhana, cahaya yang di hasilkan tidak begitu terang tapi dia membuat semua orang bahagia dan tertawa. Sesederhana itu alasanku menyukai kembang api ini, sama seperti aku menyukaimu.''


''Menyukaiku? Maksudnya, Le?'' tanya Keira sambil mengernyitkan dahinya.


''Mmmm maksudnya menyukai sebagai teman. Sejak kembali ke Indo, kamu lah orang asing yang pertama kali aku kenal.''


''Masa sih? Bukanya banyak bule disana? Apalagi pasti cantik dan seksi juga,'' seloroh Keira dengan senyumnya.


''Melihat pemandangan seperti itu sudah biasa, Kei. Aku lebih menyukai produk lokal,'' kata Leon dengan tawa kecilnya.


''Memangnya apaan produk lokal? Kamu ini ada-ada saja, Kei. Oh ya apa sebelumnya kamu tidak punya pacar?''


''Berakhir? Memangnya kenapa?''


''Aku tidak mau membahasnya lagi. Yang jelas dia meninggalkan aku begitu saja. Penantianku selama bertahun-tahun sia-sia begitu saja.''


''Pasti pria itu adalah pria yang bodoh.''


''Apa yang membuat kamu berpikir seperti itu?''


''Ya dia meninggalkan berlian seperti kamu begitu saja.''


''Aduh Leon, kamu terlalu menyanjungku. Kamu tahu kepalaku terasa berat sekali karena tidak kuat menerima pujian dari kamu.'' Ucap Keira seraya tertawa kecil.


''Karena kembang apinya sudah habis, sebaiknya kita pulang. Aku akan mengantarkanmu pulang.''


''Aku kan bawa motor, Le. Jadi kamu pulang saja.''


''Tidak apa-apa, aku akan mengikutimu dari belakang. Lagi pula ini sudah jam 10 lewat. Aku khawtir saja.''


''Baiklah kalau begitu.'' Jawab Keira pasrah. Leon sangat bahagia karena mendapat kesempatan untuk mengantar Keira pulang.


-


Keesokan harinya saat sarapan...


"Nak, siapa semalam yang mengantarmu pulang? Nak Kevin ya?" tanya Ayah penuh selidik.


"Bukan Yah. Yang mengantar itu Leon teman magang ku. Tadinya aku mau pulang sendiri tapi dia tidak tega dan memilih membuntuti aku dari belakang. Sebenarnya mau mampir, berhubung sudah malam jadi dia memilih pulang."


"Nak, dengarkan Ayah. Omongan buruk tetangga baru saja bisa kita redam jadi sebaiknya kamu juga jaga diri kamu. Apalagi tentang Tuan Kevin, dia bukan orang sembarangan jadi kamu juga harus hati-hati. Jangan sampai kamu membuatnya terbelit masalah lagi. Apalagi kalau Marvel tahu, pasti dia akan sakit hati sekali. Kamu harus menjaga itu semua, Nak. Apalagi hari pernikahan kamu sudah di depan mata."


"Ayah, apa tidak ada jalan lain selain menikah?" tanya Keira lirih.


"Tuan Kevin sudah mau tanggung jawab bahkan membuat klarifikasi di depan publik, bagaimana kamu bisa bicara seperti itu? Kamu mau menyakiti perasaan kami semua? Apalagi dengan kedekatan kalian yang seperti itu, Ayah juga tidak rela kalau anak Ayah hanya di permainkan saja. Tolong dengarkan nasihat Ayah."


"Iya Yah, maaf. Aku hanya ingin menikmati masa lajangku yang tinggal beberapa hari. Kenapa semuanya rasanya seperti mimpi? Aku tidak menyangka akan segera menikah seperti ini." Ucap Keira dengan nada suara putus asa.


Setelah selesai sarapan dan hendak berangkat, Keira melihat mobil Kevin yang baru saja berhenti di depan rumahnya.


"Tuan Kevin," gumam Keira. Namun yang keluar adalah Marvel. Kevin masih tetap di mobil sambil membuka kaca mobilnya.


"Mah, ayo kita berangkat! Mulai sekarang aku dan Papa akan mengantar jemput Mama. Jadi Mama tidak perlu lagi bawa motor atau berangkat sendiri." Kata Marvel.


"Memang harus begitu ya?"


"Iya Mah. Karena aku dan Papa akan melindungi Mama." Kata Marvel dengan tulus. Keira merasa tersentuh dengan apa yang di ucapkan oleh Marvel. Keira kemudian menurut dan mengiyakan ucapan Marvel. Marvel lalu menggandeng tangan Keira menuju mobil dan membuka pintu depan mobil. Sementara Marvel memilih duduk di bangku belakang.


"Selamat pagi, Tuan!" sapa Keira.


"Pagi juga!"


"Mama lupa ya? Jangan panggil Tuan," tegur Marvel.


"Maaf, Mama lupa. Baiklah mulai hari ini Mama akan membiasakan memanggil Mas."


"Itu lebih bagus. Baiklah Pah, ayo kita berangkat!"


"Oke!" Kevin pun melajukan kembali mobilnya.


Bersambung.....