Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 36 Mas Kevin?


Di rumah, Miko dan Gina sedang sarapan. Namun keduanya tak henti tertawa saat melihat sebuah vidio di layar ponsel milik Miko.


''Ow... ow..., Keira dengan gaya seksi dan beraninya menggoda sepupuku si kepala batu. Astaga, mereka ini lucu sekali,'' kata Miko dengan gelak tawanya.


''Dan Kak Kevin mulai bereaksi berani untuk melawan Keira. Lihat saja mereka, sayang. Seharusnya di kunci berdua dalam kamar, mereka kan bisa melakukan hal-hal yang menjurus ke adegan mesra. Masa iya sih, mereka biasa saja,'' ucap Gina yang merasa gemas melihat sikap keduanya. Sebenarnya Marvel meletakkan sebuah kamera di dalam kamar Kevin. Sedangkan Marvel mengontrol pergerakan mereka dari lantai bawah kamar tamu. Kemudian Marvel mengirimkan vidio itu pada Miko. Itu semua adalah ide Marvel yang sengaja ingin mendekatkan Keira dan juga Kevin.


''Tapi Kak Kevin sepertinya benar-benar tidak tertarik dengan Keira. Dia terlalu setia dengan Mbak Kania.''


''Dia memang sengaja menutup hatinya, Gin. Apalagi kan awal pertemuan antara Keira dan Kevin itu tidak baik. Di tambah pekerjaan aneh Keira itu. Jadi sudah pasti Keira masuk blacklist-nya Kevin. Sekalipun Keira baik pada Marvel tapi tetap saja sulit merubah pandangan Kevin pada Keira, apalagi dia sangat keras kepala.''


''Iya juga sih, aku salut sama Kak Kevin tapi namanya hidup harus tetap berjalan. Kasihan Marvel juga kan? dia pasti merindukan sosok seorang ibu di sampingnya.''


''Butuh kesabaran untuk membuka hati Kevin. Mauren yang cantik dan model itu saja menyerah menghadapi Kevin dan kembali ke London. Padahal dia begitu agresif tapi Kevin sama sekali tidak tergoda.''


''Jangan sampai deh dia kembali lagi kesini apalagi untuk mengejar Kak Kevin. Lalu apa rencana kita selanjutnya, Mik?''


''Pokoknya selama satu minggu ini kita dekatkan mereka. Nah di ending satu minggu nanti, harus ada yang boom supaya endingnya seru.'' Kata Miko dengan penuh antusias.


''Aku setuju! aku gemes banget sama mereka apalagi dengan Kak Kevin. Tapi Kak Kevin emang terlalu setia banget, empat tahun sejak kepergian Mbak Kania, dia benar-benar kuat ya. Coba itu kamu, pasti belum genap empat puluh hari udah kegatelan cari cewek lagi. Iya kan?''


''Lho-lho kok jadi aku yang kena, ya nggak lah sayang. Aku juga akan setia sama kamu sampai mati.'' Rayu Miko sambil memeluk istrinya.


''Halah gombal, mata kamu saja terkadang masih suka jelalatan.''


''Kan aku normal, jadi ya wajarlah. Kamu saja kalau ada cowok muda dan ganteng suka lirik-lirik.''


''Ya iya lah, aku juga normal. Nyesel aja dulu soalnya cowok yang aku lihat cuma kamu.''


''Ya ampun, kamu tega banget sih ngomong gitu. Aku kan udah taubat sayang. Kalaupun kamu pergi, belum tentu aku mendapatkan pengganti seperti kamu. Kamu itu is the best pokoknya,'' ucap Miko sambil mencium pipi Gina bertubi-tubi dan Gina pun tersenyum luluh dengan sikap suaminya itu.


''Kamu cantik kalau senyum gini, yuk bikin anak yuk! mumpung aku ke kantornya siang,'' ajak Miko dengan suara manja. Gina pun hanya tersenyum dan mengangguk malu. Dengan semangat empat lima, Miko menggendong Gina menuju kamar. Menyempatkan bercinta sebelum bekerja.


-


Di meja makan rumah Kevin, sudah ada Keira, Marvel dan juga Kevin disana. Kevin dan Keira sendiri tiba-tiba merasa canggung. Mereka merasa bodoh dengan apa yang terjadi barusan di dalam kamar. Namun Keira berusaha bersikap biasa, ia menganggap dirinya sedang bekerja jadi ia berusaha profesional. Begitu pula dengan Kevin yang sok cool dan cuek.


''Mah, aku mau ayamnya,'' kata Marvel yang duduk berdampingan bersama Keira.


''Oke, sayang. Saya sayurnya sekalian ya? kamu harus makan sayur karena banyak sekali kandungan vitamin dan gizi di dalamnya.'' Keira lalu mengambilkan ayam untuk Marvel.


''Iya mah, aku sekarang sudah mulai suka sayur kok.''


Sedari tadi Kevin hanya diam saja sambil melihat kedekatan Keira dan juga Marvel. Tiba-tiba Kevin berhalusinasi Keira berubah menjadi Kania. Kania yang begitu ia rindukan selama ini. Hal itu membuat Kevin tersenyum sambil melihat ke arah Keira.


''Ini orang senyum-senyum gila apa yah? Wah, jangan-jangan dia berfantasi liar setelah kejadian tadi,'' gumam Keira lagi dalam hati.


''Tuan! hello!" ucap Keira sambil mengetuk meja. Seketika Kevin pun tersadar.


''Apaan sih? berisik.'' Ketus Kevin.


''Anda sedang berimajinasi apa?'' selidik Keira.


''Siapa yang berimajinasi. Jangan asal menuduh,'' ketusnya.


''Pah, hari ini kan tante Keira mulai menjadi mama Marvel jadi tante Keira harus melayani papa.''


''Tidak perlu Marvel, biarkan dia menjalankan perannya hanya untuk kamu saja.''


''Papa sudah menyepakati itu dan itu tidak boleh di langgar. Kalau papa melanggar, itu akan memberatkan tante Keira.'' Jelas Marvel.


''Lho, kok bisa? kemarin tante baca tidak ada peraturan seperti itu.''


''Kok aneh sih? apa tante akan di denda juga?''


''Iya lah dan itu lebih banyak dendanya bahkan berkali lipat. Kalau mama bisa menyelesaikannya maka mama akan mendapatkan hadiah berlipat ganda pula,'' jawab Marvel. Sebenarnya Marvel dan Miko sudah memanipulasi peraturan itu. Setelah mereka tanda tangan, Miko merubah isi dari peraturan itu tanpa sepengatahuan Kevin dan Keira.


''Memangnya kamu punya uang, Marvel?''


''Ya punya lah, pah. Aku siap membayar berapapun dan aku juga akan membuat mama Keira membayar berapapun. Karena kontrak itu sudah di tanda tangani di atas materai bahkan ada saksinya juga. Kalau mama Keira melanggar, mama juga bisa di tuntut.'' Mendadak wajah Marvel menjadi serius itu semua ia lakukan untuk menggertak Kevin dan Keira. Sudah jelas apa yang ia lakukan di bantu oleh Miko dan Gina. Sebenarnya Marvel ingin sekali menahan tawa melihat eskpresi Keira yang bingung begitu juga dengan Kevin.


''Tuan ayolah, kerja sama yang baik. Saya tidak cukup banyak uang, apalagi masuk penjara. Bisa-bisa ayah saya kena serangan jantung. Oke tuan?'' bujuk Keira sambil merengek.


''Memangnya apa yang harus dia lakukan Marvel?'' tanya Kevin dengan wajah serius. Kevin merasa di jebak dengan situasi ini. Di satu sisi ia tidak ingin terlibat tapi di sisi lain, dia juga tidak bisa membuat Keira membayar denda apalagi di penjara karena perjanjian aneh ini. Kevin sudah cukup pusing dengan pekerjaan di kantor di tambah keinginan Marvel yang sangat aneh ini.


''Tidak usah berlebihan kok pah. Mama cukup melayani papa untuk sarapan dan juga membawa makan siang ke kantor.''


''Apa?'' sahut keduanya dengan kompak.


''Ke-kenapa harus ke kantor segala sih?'' reaksi Kevin terbelalak kaget.


''I-iya kenapa harus ke kantor?'' sahut Keira.


''Mama Keira, papa saat bekerja tidak pernah memperhatikan pola makannya. Bahkan papa sering terkena maag karena kesibukannya sampai lupa makan. Jadi aku juga ingin maka menjaganya untukku. Aku mohon ya, mah? kan cuma satu minggu saja.'' Ucap Marvel sambil mengatupkan kedua tangannya. Keira mendengus kasar dan ia kini juga merasa di jebak oleh bocah di sampingnya itu.


''Hmmm daripada kena denda terus ayah tahu pekerjaan ku, lebih baik aku bilang iya saja.'' Batin Keira.


''Oke baiklah,'' jawab Keira pasrah. Keira pun mulai melayani Kevin.


''Anda mau apa tuan?'' tanya Keira.


''Mama, kenapa memanggi tuan? panggil dengan sebutan lain. Mama kan disini bukan pelayan terus jangan terlalu formal,'' protes Marvel.


''Marvel, kamu jangan menyusahkannya? suka-suka dia lah mau manggil papa apa.''


''Tapi di dalam perjanjian itu, Mama Keira harus memanggil papa dengan sebutan papa atau mas, masa iya Marvel udah panggil mama tapi mama panggil papanya tuan? kan aneh? Marvel merasa seperti anak tiri papa,'' jelasnya sambil menahan tawa. Mendengar penjelasan putranya Kevin hanya bisa memjit keningnya sementara Keira benar-benar merasa bingung. Baru kali ini selama menjual jasanya ia terjebak dengan situasi rumit ini.


''Ini bocah pintar banget membaca situasi. Marvel, tante sayang kamu tapi kenapa kamu menjebak tante dalam situasi seperti ini?'' batin Keira.


''Baiklah dari pada papa, lebih baik mama memanggil Mas saja, toh usia tuan Kevin jauh lebih tua jadi sangat pantas di panggil masz'' kata Keira dengan kikuk.


''Memangnya aku mas-mas apa? wajah masih muda seperti ini di bilang tua.''


''Selisih usia kita kan jauh daripada saya harus memanggil Om? iya kan?'' kata Keira.


''Coba mama panggil papa dengan Mas? aku ingin mendengarnya,'' sahut Marvel.


''Mas Kevin,'' kata Keira terbata-bata.


''Bagus mama!" kata Marvel sambil mengacungkan jempolnya.


''Dan papa juga panggil mama Keira dengan nama ya, jangan dia atau wanita itu, bisa kan?''


''Bisa kok cuma panggil nama saja kan? tidak ada panggilan lain.'' Kata Kevin yang cukup khawatir karena takut putranya akan menjebaknya dengan sebuah panggilan.


''Tidak pah, itu saja.''


''Untuk papa memang harus perlahan dan tidak bisa di paksa jadi aku harus memaksanya lewat tante Keira,'' gumam Marvel dalam hati dengan senyum penuh kemenangan.


Bersambung......