Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 161 Di Rumah Sakit


Malam harinya, Keira sedang mempersiapkan makan malam. Ia sibuk memindahkan masakan ke atas meja makan. Tampak Marvel sudah duduk tenang sementara Kevin terlihat berjalan menuruni anak tangga mendekat kearah ruang makan. Namun Keira merasa aneh, biasanya Tante Rosa selalu tetap waktu saat makan malam tapi kali ini belum kelihatan.


''Mas, sudah waktunya makan malam kenapa Tante Rosa belum kelihatan juga ya?''


''Mungkin masih di kamar, sayang.''


''Ya sudah, aku lihat Tante Rosa dulu ya. Kamu makan saja dulu bersama Marvel.''


''Iya Kei.'' Keira kemudian pergi menuju kamar Nyonya Rosa.


''Tante Rosa, makan malamnya sudah siap.'' Panggil Keira sambil mengetuk pintu kamar Nyonya Rosa. Namun tidak ada jawaban dari Nyonya Rosa.


''Tante, Tante baik-baik saja kan?'' panggil Keira kembali namun Nyonya Rosa sama sekali tidak menyahut. Akhirnya Keira mencoba membuka pintu kamar Nyonya Rosa dan ternyata Nyonya Rosa tergeletak pingsan di ambang pintu kamar mandi.


Keira sangat terkejut, ia lalu mendekat dan berusaha membangunkan Nyonya Rosa. ''Ya Allah, Tante.''


''Tante, bangun Tante.'' Keira kemudian mengecek denyut nadi Nyonya Rosa. Keira yang panik berteriak memanggil Kevin.


''Mas Kevin! Tante Rosa, Mas!"


''Pah, sepertinya Mama memanggil Papa.'' Kata Marvel yang mendengar teriakan Keira. Kevin mencoba menghentikan suapannya dan mendengar teriakan Keira kembali.


''Mas Kevin!" teriak Keira kembali.


''Ayo kita susul Mama ke kamar Oma.'' Kevin dan Marvel lalu naik ke lantai dua menuju kamar Nyonya Rosa. Kevin sangat terkejut dan panik saat melihat Nyonya Rosa pingsan yang tengah di pangku oleh Keira.


''Kei, ada apa?''


''Aku tidak tahu, Mas. Tadi saat aku masuk, Tante sudah seperti ini.''


''Ya sudah ayo kita bawa ke rumah sakit.''


''Iya Mas.'' Kevin lalu mengangkat tubuh Nyonya Rosa dan segera membawanya ke rumah sakit bersama Keira.


Sesampainya di rumah sakit, Nyonya Rosa segera di tangani oleh Dokter Alan. Beberapa saat kemudian, Dokter Alan keluar dari ruangannya.


''Alan bagaimana kondisi Tante Rosa?''


''Tensi darah dan kolestrolnya naik, juga demamnya cukup tinggi. Apa memang sebelumnya punya riwayat penyakit itu?''


''Aku sendiri kurang tahu karena selama ini Tante Rosa tinggal di luar negeri. Mungkin yang lebih tahu kondisinya ya, Miko. Sedangkan Miko sedang bulan madu. Apa ada cedera serius?''


''Dari pemeriksaan tulang dan kepalanya, semuanya normal. Kita tunggu setelah Tante Rosa sadar.''


''Syukurlah kalau semuanya baik-baik saja. Sebaiknya kita hubungi Kak Miko saja, Mas. Bisa jadi Tante Rosa kepikiran Kak Miko atau kangen mungkin. Aku takut Kak Miko marah kalau kita tidak memberitahukan keadaan Tante Rosa.''


''Apa yang di katakan Keira benar, Kev. Sebaiknya Miko juga harus tahu.''


''Baiklah, aku akan menghubunginya.''


''Ya sudah kalau begitu aku mau menangani pasien yang lain. Kalau ada apa-apa segera panggil suster.''


''Thanks ya, Lan.'' Kata Kevin.


''Sama-sama, Kevin.'' Dokter Alan kemudian berlalu.


''Sayang, kamu tunggu disini ya. Aku telepon Miko dulu.''


''Iya, Mas.'' Setelah menghubungi Miko, Kevin kembali duduk bersama Keira.


''Tidak apa-apa, Mas. Kamu besok ke kantor saja ya, aku akan menemani Tante Rosa disini sampai Kak Miko dan Mbak Gina datang.''


''Lalu bagaimana aku akan menghadapi Mauren?''


''Mas, berpura-pura sedihlah di hadapan Mauren.''


Sikap Kevin mendadak berubah seperti seorang bocah yang takut bertemu dengan kakak kelas yang suka merundungnya di sekolahnya. ''Bagaimana kalau dia mendekatiku seperti tadi? Atau dia menjebakku dengan hal yang lain?''


''Kamu kok jadi penakut begini sih, Mas? Masa iya menghadapi Mauren kamu menciut.'' Keira tampak heran dengan sikap suaminya yang mendadak berubah itu.


''Bukan takut sayang, aku hanya tidak ingin semua masalah ini menjadi rumit. Aku sedang membuat proyek baru perusahaan, perusahaanku berkali-kali di terpa isu sampah, di sabotase dan itu sangat berpengaruh dengan kinerja perusahaan terutama kondisi keuangan. Mauren membujukku ingin menyuntikkan dana ke dalam perusahaan, aku tidak ingin itu terjadi. Aku mati-matian berjuang mempertahankan perusahaan peninggalan Papa jadi aku tidak ingin mereka menguasai apalagi sampai merebut perusahaanku.''


''Mas, aku mengerti kekhawatiranmu. Bersikaplah acuh dan fokus pada tujuanmu. Kita tunggu kabar dari Tuan David. Tapi apa kita tidak bisa menjebloskan Mauren langsung ke penjara.''


''Sebenarnya bisa saja tapi itu terlalu beresiko. Karena saat Mauren masuk penjara, Papanya pasti akan bertindak dan tentu saja keluarga kita lagi yang di incar. Apalagi sudah jelas-jelas dia menjadi tersangka karena menyakiti kamu. David bergerak dari arah lain jadi untuk sementara kita tidak di libatkan demi keamanan kamu dan kita semua. Setelah kepalanya tertangkap, baru David akan menangkap ekornya. Yang kita hadapi bukan sembarangan orang, sayang. Jadi setiap langkah dan tindakan haris hati-hati. Kamu pikir aku tidak tertekan berpura-pura baik. Kepalaku rasanya mau pecah menahan semua amarah yang menumpuk di hati aku.''


''Maaf ya, Mas. Aku memang tidak terlalu paham masalah bisnis. Aku hanya bisa menilai dari sisi psikologis dan gerak-gerik mereka saja. Maaf ya kalau kamu tersinggung. Aku hanya ingin kamu selalu kuat seperti Kevin yang biasanya. Yang jelas kamu masuk kantor seperti biasa saja. Besok Mauren pasti akan menemui kamu dan menanyakan bagaimana hubungan kita, jadi kamu jawab kalau aku masih marah dan aku tidak mau kamu sentuh.''


Kevin mengatur nafasnya, berusaha meredam kemarahannya. Ia kemudian merangkul Keira sambil mengecup pucuk kepalanya. ''Maaf ya sayang, kalau suaraku tadi meninggi. Terima kasih kamu sudah mengerti keadaanku dan tidak terpancing oleh amarahku.''


''Tidak perlu minta maaf, Mas. Aku yang seharusnya meminta maaf. Kamu yang sabar dan tenang ya, semua pasti akan berlalu dan kebahagiaan itu pasti akan datang.''


''Amin, terima kasih ya sayang.''


-


Hari berikutnya, Miko dan Gina akhirnya tiba di Indonesia. Sesampainya di bandara, Miko dan Gina segera menuju rumah sakit. Namun Miko sedikit lega mendengar kabar dari Keira bahwa Mamanya sudah sadar.


''Tante, makanlah. Kak Miko akan segera datang.'' Rupanya Keira tidak mampu membujuk Nyonya Rosa untuk makan padahal jam sarapan pagi sudah lewat.


''Tante, ceritalah pada ku. Apa yang membuat Tante sampai seperti ini? Apa ada masalah? Siapa tahu aku bisa membantu.''


''Kamu tidak akan bisa membantu ku.''


''Kan Tante belum cerita, siapa tahu setelah Tante cerita, aku bisa membantu Tante.''


''Kalau kamu memang mau membantu Tante, bujuk Miko untuk menikah lagi.'' Keira sangat terkejut mendengar apa yang di ucapkan oleh Nyonya Rosa.


''Mem-membujuk Kak Miko untuk menikah lagi? Memangnya kenapa Tante? Kak Miko sudah bahagia bersama Mbak Gina, bahkan mereka sedang menikmati bulan madu kedua.''


''Karena sudah hampir empat tahun Gina masih belum memiliki anak.'' Jawab Nyonya Rosa dengan sangat ketus.


''Tante, anak itu titipan Tuhan. Nanti kalau sudah waktunya, Tuhan akan menitipkan anak untuk Kak Miko dan Mbak Gina.''


''Iya tapi sampai kapan? Sampai aku mati.''


''Ya Allah, Tante jangan bicara seperti itu.''


''Ah sudahlah, kamu juga tidak akan bisa membantuku kan? Jadi untuk apa memaksaku cerita. Sebaiknya kamu pulang sana, aku tidak membutuhkanmu. Seharusnya kamu membiarkan aku mati saja daripada hidup tapi tidak ada yang mendengarku.''


''Tante, Kak Miko dan Mas Kevin sudah dewasa. Mereka sudah bisa menentukan mana yang baik dan yang buruk untuk diri mereka. Sebagai orang tua kita cukup mendoakan kebahagiaan mereka. Anak itu titipan Tante tapi kalau belum waktunya kita hanya pasrah, setelah doa dan usaha kita kerahkan.''


''Kurang ajar sekali kamu. Beran-beraninya menggurui aku. Kamu sendiri siapa? Kamu hanya wanita sewaan saja, bagiku kamu tetap wanita murahan dan rendahan. Jadi tidak usah sok baik.'' Keira mencoba untuk sabar menghadapi ucapan Nyonya Rosa yang sangat pedas dan menyakitkan itu. Percuma juga melawan ucapan seseorang yang memang dari awal sudah tidak menyukai dirinya. Apapun yang ia lakukan akan tetap salah. Keira lalu meletakkan piring yang sedari tadi ia bawa di atas meja. Ia lalu meninggalkan ruangan Nyonya Rosa dan membiarkan Nyonya Rosa untuk sendiri terlebih dahulu. Karena disana hanya Keira yang menemaninya, Kevin sendiri sudah berangkat ke kantor.


''Kasihan sekali Mbak Gina. Bagaimana perasaan Mbak Gina kalau mendengar semua ini? Aku saja yang mendengarnya sangat terluka. Apakah nanti Tante Rosa juga akan meminta Mas Kevin untuk menikah lagi kalau aku belum bisa hamil? Aduh, sekarang malah aku yang jadi kepikiran,'' gumam Keira dalam hati.


Bersambung....