Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 51 TURN ON!


Mendengar ucapan Keira, Kevin benar-benar geram.


''Apa? apa yang kamu katakan? kurang ajar


kamu ya!" Kevin lalu meletakkan mangkuknya dan hendak menyerang Keira namun tiba-tiba Kevin merasa mual dan muntah.


Huueek.... huueek... huueek... makanan yang baru saja di makan oleh Kevin pun keluar semua.


''Tuan, tuan baik-baik saja?'' kata Keira panik.


''Perutku sakit! sudah sejak bangun tadi mual dan ingin muntah,'' ucapnya lemas.


''Makanya sudah tahu sakit tapi selalu saja mengajakku ribut. Ini namanya kualat, anda mau mukul aku kan tadi?'' kata Keira sambil mengusap bibir Kevin yang kotor karena sisa muntahannya dengan menggunakan tisu. Pakaian dan selimut yang di pakai Kevin pun kotor karena bekas muntahannya. Kevin tidak bisa membalas ocehan Keira karena tubuhnya terasa lemas. Keira lalu mengambil selimut itu dan membersihkan sisa muntahan Kevin di lantai. Kevin tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Keira. Keira mau membersihkannya tanpa merasa jijik. Meskipun Keira mengelap lantai dengan selimut yang di pakai Kevin, hahaha. Sekalian kotor, itulah yang ada di benak Keira. Keira kemudian berjalan ke arah pintu untuk memanggil Bi Nani.


''Bi Nani, tolong ke kamar sebentar! sekalian bawakan air hangat dan handuk ya," panggil Keira dengan berteriak.


''Iya Non!" sahut Bi Nani dari bawah. Keira lalu kembali ke arah Kevin.


''Tuan, sekarang lepas pakaianmu!"


''Untuk apa?'' tanya Kevin lemas.


''Lihat, bajumu kotor tuan!" Ucap Keira penuh dengan penekanan. Kevin dengan lemas membuka kancing kemejanya. Bahkan sejak kemarin Kevin belum mengganti pakaiannya. Mendadak Keira merasa salah tingkah saat melihat Kevin bertelanjang dada di hadapannya. Lagi-lagi tubuhnya yang atletis dan berotot berada di depan matanya.


''Sekalian lepas celana tuan! sepertinya kotor juga.'' Pinta Keira dengan ragu-ragu.


''Ap... apa? kamu mau memperkos....'' belum selesai Kevin bicara, Keira buru-buru membungkan mulut Kevin dengan telapak tangannya.


''Jangan suudzon lagi, tuan! aku tidak *****!" tegas Keira.


''Tapi nanti kelihatan, Kei?'' ucap Kevin dengan mulut yang terbekap sambil melihat kearah pusakanya.


''Oh iya ya! masa iya dia telanjang bulat di hadapanku,'' gumam Keira dalam hati.


''Kalau begitu, di mana selimut baru dan pakain anda?'' tanya Keira.


''Disana!" kata Kevin sambil menunjuk ke arah sebelah kiri. Keira lalu berjalan menuju walk ini closet untuk dan mencari selimut serta piyama untuk Kevin. Disaat Keira sudah menemukan pakaian dan selimut, Bi Nani pun masuk.


''Bi, ini selimut dan pakaian tuan yang kotor, soalnya habis muntah barusan.''


''I-iya Non.''


''Ini air hangat sama handuknya ya Non.''


''Iya. Makasih ya, Bi. Maaf merepotkan bibi.''


''Tidak apa-apa, Non. Saya permisi ya.''


''Iya Bi.'' Bi Nani pun akhirnya undur diri dari kamar Kevin dengan membawa selimut dan pakaian kotor milik tuannya. Keira kemudian mencelupkan handuk ke air hangat lalu membasuhkannya pada tubuh Kevin. Saat tangan Keira menyentuhnya, mendadak Kevin terdiam tak berkutik. Ia hanya bisa duduk mematung, membiarkan Keira membasuh badannya. Mulai dari wajah, leher, dada, perut, tangan, hingga punggung Kevin. Setelah itu Keira mengusap tubuh Kevin dengan handuk yang kering. Hanya ada keheningan di antara mereka berdua. Pertama kalinya Kevin di perlakukan seperti ini oleh wanita setelah sekian lama selain istrinya. Apalagi wanita di hadapannya itu hanya orang asing yang baru ia kenal. Sikap Keira mendadak membuat Kevin sedikit tersentuh tapi ia buru-buru menepis pikiran itu dengan menganggap Keira sedang modus dengannya.


''Sekarang, pakai pakaian tuan. Pakai selimut ini untuk melepas celana tuan, supaya tidak terlihat benda berharga milik anda.''


''Siapa juga yang mau mengintip, kurang kerjaan saja!'' ketus Keira seraya berbalik.


''Kenapa kamu tidak jijik membersihkan sisa muntahanku? apalagi mengelapku seperti tadi,'' tanya Kevin.


''Ya karena aku menganggap anda seperti kakek-kakek tidak berdaya yang ada di panti jompo. Jadi ya aku tidak jijik, aku menggangap anda sebagai kakek tua yang malang dan tidak berdaya,'' celetuk Keira dengan santainya.


''Apa? kakek-kakek panti jompo? kamu memang keterlaluan!" kata Kevin dengan suara meninggi sambil mengeratkan rahangnya.


''Sudah tuan, jangan marah! aku sendiri sedang melatih diriku. Karena setelah di berhentikan dari sekolah, aku memutuskan pindah magang di panti jompo. Jadi aku menganggap apa yang aku lakukan pada tuan hanya latihan saja. Anda juga sudah mendengar-kan? kalau aku di keluarkan karena urusan pribadi jadi aku tidak perlu menjelaskannya. Toh anda juga sudah menguping pembicaraan ku tadi.'u


''Kamu benar-benar keterlaluan Kei! kamu anggap aku ini kakek-kakek. Kamu belum tahu siapa aku kan?'' Kevin benar-benar marah dengan ucapan Keira. Ia tidak terima di katakan kakek-kakek tidak berdaya. Kevin lalu menarik tubuh Keira dan menjatuhkan Keira di pangkuannya. Mata Keira membulat dengan apa yang di lakukan Kevin, ia terkejut saat Kevin menjatuhkan tubuhnya di pangakuannya.


''Apa aku terlihat tidak berdaya?'' ucap Kevin dengan tangan kiri yang memeluk erat pinggang Keira. Untuk pertama kalinya Keira merasakan sentuhan pria secara nyata tanpa skenario kontrak pacar sewaan.


''Tuan, lepaskan aku! kenapa tuan jadi mesum?'' Keira meronta sambil memeluk tubuhnya sendiri, ia takut jika Kevin macam-macam dengannya.


''Siapa yang mesum? aku hanya ingin menunjukkan kalau aku bukan kakek-kakek. Namanya juga orang sedang sakit, sudah pasti aku lemas. Aku juga tidak memintamu untuk membersihkannya.''


''Lalu kenapa anda tidak menolaknya? anda menikmati sentuhan ku kan?''


''Menikmati? tentu saja tidak! tubuhku hanya lemas saja.''


''Lalu kenapa anda tiba-tiba kuat seperti ini?''


''Karena kamu menyepelekan kemampuanku!" kata Kevin yang terus membalas ucapan Keira. Tiba-tiba suasan menjadi hening karena Keira merasakan menduduki sesuatu.


''Tuan, apa anda sudah memakai celana yang aku ambilkan?'' kata Keira dengan tergagap, saat menanyakan hal itu pada Kevin.


''Belum? aku baru saja melepas celanaku yang kotor tadi. Memangnya kenapa?'' tanya Kevin dengan ketus.


''Tuan tapi aku merasakan sesuatu yang mengeras di balik selimut, apa mungkin ototmu tegang karena sepanjang hari barbaring?'' kata Keira dengan tergagap. Menyadari ucapan Keira dan menyadari ada yang tidak beres dengan dirinya, Kevin spontan mendorong Keira sampai Keira tersungkur di lantai.


''Jangan mesuk otakmu! itu ikat pinggangku yang kamu duduki!" kata Kevin sambil melempar celana kotornya yang masih terlilit ikat pinggangnya. Kevin kemudian buru-buru memakai celana piyama yang di ambilkan oleh Keira.


''Tuan! anda kasar sekali mendorongku! beraninya sama perempuan,'' marah Keira sambil berusaha berdiri.


''Salah siapa yang menyamakan ku dengan kakek-kakek di panti jompo. Tolong simpan kan ikat pinggang ku, itu mahal dan bisa membeli sepuluh motor bututmu itu,'' ketus Kevin yang berusaha menutupi salah tingkahnya.


''Baru ikat pinggang saja sombong. Memang kalau aku duduki bisa lecet apa? sabar Kei, berurusan dengan orang ini membuatmu darah tinggi,'' kata Keira dalam hati. Ia lalu mengambil dan meletakkn ikat pinggang Kevin di meja begitu saja.


''Kenapa dia mendadak turn on? ayo turn off, sangat memalukan!'' gumam Kevin dalam hati.


''Baikkah tuan, aku permisi mau pulang!''


''Iya-iya pulang sana! terima kasih!" kata Kevin dengan gugup. Keira pun segera pergi meninggalkan rumah Kevin.


''Bodoh! apa yang membuatmu turn on mendadak seperti ini? apalagi setelah bertahun-tahun dan kenapa harus dia?'' gumam Kevin yang berbicara dengan benda pusakanya itu.


Bersambung....