
Setelah mengantarkan Marvel, Keira pun kembali ke rumah Kevin. Ia benar-benar merasa seperti di penjara. Dan anehnya ia menurut begitu saja dengan perintah Kevin. Keira merasa bingung apa yang bisa ia lakukan di rumah Kevin itu. Keira lalu memutuskan untuk pergi ke halaman samping rumah Kevin dan tiba-tiba ponselnya berdering. Ada nama Kevin di layar ponselnya.
''Halo, ada apa?'' tanya Keira dengan nada suara malas.
''Apa kamu sudah di rumah?''
''Iya, aku baru beberapa menit lalu sampai di rumah. Memangnya ada apa?''
''Tidak ada apa-apa. Sebaiknya kamu memang di rumah saja, biar aku yang menjemput Marvel. Emmm, aku lanjutkan pekerjaanku dulu.'' Ucap Kevin mengakhiri panggilannya begitu saja.
''Ih aneh banget sih.'' Gerutunya sambil meletakkan begitu saja ponselnya di atas meja.
Sementara di kantor, Miko tertawa terbahak melihat sikap sepupunya itu.
''Kayaknya elo jatuh cinta beneran deh sama Keira,'' kata Miko yang masih terus saja tertawa.
''Jatuh cinta gimana maksud elo? Gue cuma cek aja kalau dia di rumah, nggak keluyuran dan jalan sama cowok lain. Bisa jadi masalah besar kan kalau media tahu.''
''Masalah besar kalau media tahu atau masalah besar kalau sebenarnya elo itu mulai cemburu dan posesif?'' kata Miko yang begitu bahagia melihat ekspresi wajah Kevin yang salah tingkah.
''Daripada bahas ini mending kita bahas pembangunan panti. Apa ada kendala?'' Kevin mencoba mengalihkan pembicaraannya karena jika tidak di alihkan, Miko akan terus mangganggunya.
''So far, semuanya baik-baik saja. Mereka juga bahagia di tempat barunya. Dan si cowok itu juga selalu ada disana, namanya Leon. Kayaknya dia emang suka sama Keira sih. Soalnya beberapa kali gue pergokin dia lihatin foto Keira terus. Dia anak yang baik, kalem dan sopan terus telaten lagi jagain lansia disana.'' Jelas Miko yang memuji Leon di hadapan Kevin. Mendengar itu, Kevin merasa kesal dan gelisah.
''Ah sudahlah, kenapa membahas anak itu. Biarkan saja dia disana.''
''Setelah menikah, elo bener-bener bakal ijinin Keira magang disana lagi?'' selidik Miko.
''Ya, itu terserah dia. Toh itu untuk tugas akhirnya kan. Lagian kenapa sih tanya kayak gitu?''
''Elo rela, dia sama Leon itu? Mereka setiap hari bertemu dan pasti Leon tidak akan melwatkan kesempatan itu. Tapi untuk apa juga aku bertanya itu, elo juga nggak ada perasaan kan sama Keira?''
''Nah itu elo tahu. Ngapain juga di bahas.'' Namun Miko tidak percaya dengan ucapan Kevin karena dari sorot matanya, tampaknya Kevin sudah mulai memiliki rasa untuk Keira.
''Eh besok elo udah nikah, kenapa masih kerja aja? Sumpah deh gimana ya malam pertama kalian nanti? Bakal mesra atau cakar-cakaran kayak kucing ya?'' goda Miko seraya tertawa. Seketika ucapan Miko, membuat Kevin tertegun dan melamun. Ia juga bingung bagaimana nanti ia akan berbagi tempat tidur dengan Keira.
''Woi! Malah nglamun lagi,'' kata Miko sambil memukul meja.
''Apaan sih? Lagi mikir kerjaan juga.''
''Lagi mikirin kerjaan atau lagi mikirin malam pertama nanti? Pasti elo lagi mikirin ide mau pakai gaya gimana buat besok? Atau lagi cari referensi obat kuat?'' cerocos Miko dengan puas sampai membuat Kevin tidak berkutik.
''Mending elo keluar, daripada bikin gue naik darah!" kesal Kevin mendengar ocehan sepupunya itu.
''Oke-oke, gue balik tapi kalau elo butuh obat kuat atau elo lupa cara belah duren, elo telepon gue aja. Gue kasih tutorial yang bikin Keira mendesah nikmat,'' kata Miko dengan tawanya. Kevin yang kesal, melempar bolpoin ke arah Miko. Miko hanya tertawa sambil terus menghindar dan akhirnya ia meninggalkan ruangan Kevin. Kevin menghela nafas panjang dan membasuh wajahnya, tiba-tiba perasaan gugup dan gelisah menghampirinya.
-
Keira yang sedang bersantai di samping rumah, di hampiri oleh Bi Nani.
''Nona Keira, ada Kakaknya Non menunggu di ruang tengah.''
''Iya, Bi. Saya segera kesana, terima kasih ya.''
''Sama-sama Non.''
Keira dengan semangat menggebu pun menghampiri Kakaknya.
''Kakak!" seru Keira saat melihat Kakaknya datang dan sedang duduk di ruang tengah. Keira lalu memeluk kakaknya.
''Kak, aku sangat merindukanmu.''
''Kakak juga sangat merindukanmu.''
''Mbak Cindy mana?''
''Mbak Cindy di rumah, menemani Ayah. Dan dia kecapekan jadi tidak ikut.''
''Pasti kecapekan karena Kakak gaspol terus ya?'' goda Keira.
''Ssstttt kamu ini masih kecil jadi diam saja.'' Kata Kenny sambil mengacak rambut adiknya.
''Kakak kok sudah pulang? Bukanya belum full satu minggu ya.''
''Mmmm semuanya beres kok, Kak.'' Jawab Keira ragu-ragu, padahal Kevin sendiri tidak pernah membicarakan tentang konsep pernikahannya dengan Keira.
''Kei, bagaimana kamu bisa menginap disini? Kamu tidak tidur satu ranjang kan?''
''E... tidak Kak! Tuan Kevin memintaku tinggal disini. Bahkan aku merasa terkurung di rumah ini, dia tidak mengjinkan aku kemana-mana. Lagipula aku juga tidur di kamar tamu.''
''Ayah sebenarnya sudah cerita semuanya. Bahkan selama kamu disini, Tuan Kevin juga merawat Ayah dengan baik. Anak buahnya selalu mengirimkan Ayah makan bahkan penjaga rumahnya disuruh menginap disana untuk menjaga Ayah. Dia pria yang bertanggung jawab, Kei. Dia sangat peduli pada Ayah. Jadi Kakak harap kamu juga bersikap baik padanya. Apalagi Tuan Kevin juga memberikan hadiah bulan madu yang sangat luar biasa.''
''Iya Kak, aku mengerti.''
''Kakak bawa hadiah untuk Tuan Kevin dan juga Marvel. Marvel masih sekolah ya?''
''Iya Kak. Tapi sepertinya juga sebentar lagi pulang dan Tuan Kevin juga di kantor.''
Baru beberapa detik membahas Kevin dan Marvel, mereka pun datang.
''Tuan Kenny!" seru Kevin.
''Tuan Kevin,'' balas Kenny sambil menjabat tangan Kevin.
''Sudah kembali dari bulan madu rupanya?''
''Iya. Terima kasih sekali atas hadiah yang anda berikan Tuan.''
''Sama-sama Tuan Kenny.''
''Hai Om, lama tidak bertemu.''
''Hai juga Marvel. Bagaimana kabarmu?''
''Aku baik Om, Om sendiri?''
''Om juga baik, Marvel. Oh ya Om ada hadiah untuk kamu.''
''Wah, apa ini Om?''
''Kamu buka saja.''
Marvel dengan antusias membuka hadiah dari Kenny. Dan ternyata itu adalah miniatur kapal dalam botol.
''Om ini bagus banget. Aku akan meletakkannya di kamarku. Terima kasih ya, Om.''
''Sama-sama Marvel. Maaf ya kalau hadiahnya tidak seberapa.''
''Saat kita menerima hadiah jangan di lihat nominal tapi harus di lihat dari ketulusan mereka yang memberi,'' jelas Marvel.
''Kamu memang anak yang sangat baik.'' Kata Kenny sambil mengecup pucuk kepala Marvel.
''Baiklah aku ke kamar dulu ya, Om.''
''Iya Marvel.''
''Oh ya dan ini untuk Tuan.'' Kata Kennya sambil memberikan sebuah hadiah berupa lukisan dari Maldives.
''Apa ini Tuan Kenny, hadiah ini besar sekali.''
''Ini hanya sebuah lukisan. Semoga Tuan suka.''
''Pasti aku akan menyukainya.'' Kevin lalu membuka bungkusan itu dan terlihatlah sebuah lukisan dinding Maldives yang sangat indah.
''Ini indah sekali. Aku akan memajangnya di kamarku. Pemandangannya meneduhkan.''
''Oh ya sebenarnya saya kesini juga ada sesuatu yang ingin saya bicarakan.''
''Baiklah kalau begitu, mari kita bicara di teras belakang sana. Supaya kita lebih santai.'' Kata Kevin dengan ramah.
''Iya, terima kasih.''
''Ternyata kamu sebenarnya memang sangat baik. Sekalipun pernikahan kita hanya sebuah hitam di atas putih tapi kamu juga sangat peduli dengan keluargaku.'' Ucap Keira dalam hati yang mulai menaruh simpati pada Kevin.
Bersambung.....