Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 291 Menjaga Baby


Pagi itu Johan sedang menyiapkan sarapan untuk Tessa dan Anrez. Semenjak hamil, Tessa selalu mual mencium bau dapur. Jadi Johan lah yang mengurus dunia perdapuran. Tessa yang merasa kasihan pada suaminya, terkadang memilih membeli makanan di luar karena kasihan pada Johan yang selalu kerepotan mengurus dapur. Karena keduanya juga belum memutuskan untuk mencari pembantu. Tentu saja di karenakan keduanya masih mencicil angsusan rumah, hehehe.


''Selamat pagi istriku, ayo kita sarapan!"


''Maaf ya Mas Johan, aku selalu membuatmu repot seperti ini.''


''Tidak apa-apa Tessa. Namanya juga bawaan hamil. Yang penting anak kita sehat.'' Johan lalu mengelus perut Tessa yang usia kandungannya memasuki 4 bulan. Terlihat jelas perut Tessa tampak membuncit.


''Beruntunh sekali punya kamu.''


''Begitu juga denganku. Tunggu sebentar ya, aku panggil Anrez dulu. Sepertinya dia masih di kamar. Kamu duduk saja ya.''


''Iya-iya.'' Kata Tessa.


Beberapa saat kemudian, Johan kembali ke ruang makan bersama Anrez.


''Pagi Mama!" Anrez menyapa Tessa seraya memberikan kecupan untuk Mamanya.


''Pagi juga sayang.''


''Sayang, kalau kamu sudah tidak kuat kerja, kamu resign tidak apa-apa.''


''Jangan Mas, nanti saja dulu. Kalau urusan kerja, aku semangat bahkan tidak ada keluhan apapun. Tapi entah kenapa kalau soal dapur, mual banget. Pokoknya nyium aroma masakan jadi eneg.''


''Jangan-jangan anak kita cowok nih nanti.''


''Mau cewek atau cowok sama saja Mas. Yang penting sehat.''


''Ya sudah se-nyamannya kamu saja ya. Tapi harus aku antar jemput ya kerjanya, jangan nyetir sendiri.''


''Iya-iya, kamu jangan khawatir.''


''Mah, kapan sih adiknya keluar? Anrez sudah tidak sabar.''


''Sabar ya sayang, tunggu lima bulan lagi. Ini adiknya juga masih kecil di perut Mama.''


''Yahhhh, masih lama dong Mah.''


''Sabar ya sayang, kamu doain adik sehat-sehat ya.''


''Pasti Mah. Anrez selalu mendoakan Mama dan adik bayi di perut Mama.''


''Terima kasih sayang. Sudah mau jadi Kakak makin pintar saja ya kamu.''


''Harus dong, Mah.''


-


''Kak, jangan ke kantor ya.'' Rengek Laras sambil memeluk suaminya dari belakang.


''Lho-lho, kamu ini kenapa? Kamu baik-baik saja kan? Di kantor banyak pekerjaan, Laras.''


''Aku hari ini maunya sama kamu. Kamu tidak boleh kemana-mana.''


''Aduh, kamu sejak hamil manjanya semakin menjadi ya. Rasanya aku tidak bisa bergerak lho. Mau berangkat kerja di kintilin, pulang kerja juga langsung ngintilin.''


''Oh jadi kamu tidak suka ya kalau aku begitu? Terus, aku harus ngintilin siapa? Ngintilin cowok lain atau suami orang?'' Laras tersinggung dengan ucapan suaminya.


''Bukan begitu maksudnya, sayang. Aku senang kamu manja tapi aku jadi dilema juga. Kasihan kamu tapi aku juga punya tanggung jawab. Aku juga ingin menemani kamu sayang. Kamu jangan marah ya.'' Krisna berbalik memeluk istrinya yang cemberut itu.


''Kamu sayang nggak sama aku?''


''Sayang lah.''


''Terus kamu cinta nggak sama aku?''


''Ya cintalah, sayang. Kamu ini mempertanyakan pertanyaan yang sudah jelas kamu tahu jawabannya. Kalau tidak cinta dan tidak sayang, untuk apa aku menikahi dan menghamili kamu. Aku bahkan sangat, sangat, sangat mencintai kamu.''


''Ohhh manisnya suamiku. Maaf ya suamiku sayang, kalau aku jadi sangat manja. Aku selalu ingin berdekatan dengan kamu, aku tidak mau jauh lama-lama dari kamu. Maaf kalau sikap manjaku ini membuatmu susah.''


''Iya sayang, tadi ucapanku hanya bercanda saja. Ya sudah kita sarapan yuk! Aku antar kamu ke butik ya.''


''Iya. Tapi aku gendong ya.''


''Mau gendong gimana? Belakang atau depan?''


''Mau gendut, mau kurus, aku tetap cinta sama kamu sayang.''


''Bener ya, awas kalau di luar sana matanya jelalatan di luar sana.''


''Tenang sayang, pandanganku selalu lurus kedepan.'' Krisna terkekeh.


-


Sementara Miko dan Gina pagi itu baru saja sampai di luar kota.


''Nyonya, Tuan, alhamdulillah pulang dengan selamat.'' Kata Bi Minah saat membuka pintu untuk juragannya.


''Iya Bi. Bagaimana Sheeva? Apa dia rewel?'' tanya Gina.


''Non Sheeva aman kok, Nyonya. Meskipun Yuni mendadak ijin.''


''Oh syukurlah. Lalu dimana Sheeva sekarang, Bi?'' sahut Miko.


''Ada di kamar Den Zidni, Tuan.''


''Zidni?'' kata Miko dan Gina bersamaan. Keduanya terkejut mendengar kata Zidni. Miko dan Gina kemudian naik ke atas menuju kamar Zidni dengan langkah terburu.


Saat pintu terbuka, Miko dan Gina terkejut melihat Zidni, Chika dan Sheeva tidur bertiga diatas ranjang. Sheeva yang berada diantara Zidni dan Chika pun tampak tenang.


''Mas, pemandangan yang indah pagi ini. Pulang-pulang disambut dengan kedekatan mereka.''


''Iya sayang, akhirnya Zidni perlahan berubah. Dia di belakang kita bisa bersikap baik juga. Sheeva saja tampak tenang berada di tengah-tengah mereka.''


''Sepertinya meninggalkan Sheeva di rumah dan Mbak Yuni yang mendadak ijin sakit, membawa hikmah deh, Mas. Zidni dan Chika menjadi dekat karena mereka mau tidak mau harus mengurus Sheeva.''


''Iya kamu benar sayang. Ah, sebaiknya kita ambil Sheeva saja dan biarkan mereka tidur saja. Pasti semalam mereka begadang.'' Ide jahil Miko mulai muncul.


''Ide bagus, Mas. Ya sudah kamu ambil Sheeva dulu.''


''Oke sayang.'' Miko berjalan dengan perlahan dan mengendap untuk mengambil Sheeva. Sepertinya Sheeva juga bisa diajak kerja sama karena Sheeva masih tetap pulas dengan tidurnya.


Setelah berhasil membawa Sheeva, Gina dengan perlahan dan sangat hati-hati menutup pintu. Mereka berdua lalu pergi ke kamar dengan meninggalkan Chika dan Zidni tidur satu ranjang.


''Ssstttttt bobok ya sayang,'' Chika mengigau seraya merapatkan tubuhnya pada Zidni yang ia anggap Sheeva. Chika bahkan memeluknya sambil menepuk punggung Zidni.


''Bobok yang nyenyak ya cantik. Tante masih ngantuk.'' Ucap Chika dengan mata yang masih terpejam. Dalam mimpinya, Chika mendengar Sheeva menangis. Dengan mata terpejam, tangan Chika meraba kasur untuk mencari dot Sheeva. Setelah mendapatkannya, Chika perlahan membuka matanya. Dengan setengah sadar, Chika memasukkan dot itu ke mulut Zidni.


''Ayo minum susunya, sayang. Cup, cup, cup! Jangan nangis ya.''


Merasakan ada sesuatu yang masuk mulutnya dengan paksa, sontak Zidni terbangun. Matanya seketika membulat sempurna melihat Chika tepat berada di hadapannya.


''CHIKA!" Suara Zidni menggelegar, membuat mata Chika terbuka lebar. Mulut Chika menganga melihat tangannya memegang dot yang ia arahkan pada Zidni. Melihat ekspresi Zidni yang menyeramkan, membuat Chika langsung menyingkirkan tangannya. Chika lalu menjauh dan segera beranjak dari tempat tidur.


''Maaf-maaf, aku pasti mengigau. Aku pikir Sheeva menangis.''


''Pasti mau modus?''


''Modus? Oh sorry. Kamu bukan tipeku. Aku pikir Sheeva, sumpah!''


Zidni lalu melihat kearah kasurnya lagi dan Sheeva tidak ada di kasurnya.


''Lho, Sheeva mana?''


''Iya, Sheeva mana?''


''Mana aku tahu. Kamu sih tidur terus, ngorok lagi!" ketus Zidni. Mereka berdua baru menyadari kalau Sheeva sudah tidak ada bersama mereka.


''Ya namanya begadang ngurus bayi. Kamu juga ngorok terus ngiler lagi.''


''Enak saja,'' Zidni reflek mengusap bibirnya.


''Tenang-tenang, pasti Sheeva sama Bibi. Mending kita lihat di kamarnya. Sudah waktunya Sheeva mandi juga kan jam segini.''


''Ya sudah, kita susul ke kamarnya.'' Zidni masih saja bersikap ketus pada Chika.


Bersambung.... Yukkkkk like, komen dan votenya ya. Dukung juga karya author yang lain ya. Mampir juga ya di Promise Of Love ceritanya pria muda mengejar cinta seorang single mom alias janda. Mampir yaaa, seru bangettt!!!!!