
Krisna dan Laras, tengah menikmati indahnya kota St. Mark’s Square yang mana merupakan alun-alun atau pusat kota Venice, Italia.
Suasana romantis di St. Mark’s Square semakin menambah kehangatan pasangan pengantin baru itu. Laras dengan wajah cerianya, mengejar dan menggoda sekumpulan burung merpati yang menggemaskan itu. Sementara Krisna tampak sibuk memotret setiap gerak tubuh Laras yang begitu lincah dan ceria. Tawa lebar yang khas tersungging di bibir Laras, semakin membuat Krisna beruntung memiliki Laras dalam hidupnya.
''Laras, ayo kita makan siang! Kita daritadi sudah muter-muter dan sekarang ayo kita makan.''
''Iya Kak, sebentar ya. Aku suka sekali bermain dengan burung-burung ini. Nanti malam main deh sama burungnya Kakak.'' Celoteh Laras dengan senyum lebarnya. Ya, selama bulan madu, Krisna benar-benar terpenjara oleh Laras. Permainan ranjang Laras, begitu hebat. Krisna sendiri sangat senang karena Laras begitu pintar membuatnya puas.
Namun ada hal yang membuatnya ketar-ketir setelah mereka pulang bulan madu, yaitu Kevin. Karena Laras tiba-tina merubah tujuan utama bulan madunya. Yang rencana awal hanya di kawasan Asia tapi malah melancong ke kawasan benua Eropa. Kevin sudah terlanjur janji untuk menuruti kemana Laras dan Krisna bulan madu. Saat itu ekspresi wajah Kevin berubah drastis saat mendengar benua Eropa itu menjadi tujuan utama mereka. Tentu saja Kevin harus merogoh kocek sangat dalam untuk honeymoon Laras dan Krisna selama satu Minggu di Venice. Padahal ia sendiri dan Keira honeymoon gratis dan itupun hanya empat hari.
Sambil menyesap kopinya, lamunan Krisna menerawang jauh. Ya, setelah puas berkeliling, Krisna akhirnya mengajak Laras makan siang sambil menikmati kopi di café kawasan St. Mark’s Square. Laras mengadu sendok dan garpunya, mencoba membuyarkan lamunan Krisna.
''Kak, kenapa sih?''
''E- tidak apa-apa. Kamu habiskan saja makannya.''
''Iya tapi Kakak makan juga, masa cuma minum kopi doang.''
''Iya-iya.'' Jawab Krisna dengan senyum memaksa. Saat sedang menikmati makan siangnya, Krisna mendapat pesan masuk dari bosnya.
Kevin : Cepat kembali Kris! Awas ya setelah kamu kembali tapi pekerjaanmu tidak beres, aku akan meminta kamu mengembalikan separuh harga honeymoonmu.
Membaca pesan dari bosnya, Krisna tersedak. Laras segera menyodorkan minuman untuk Krisna. Krisna segera meminumnya.
''Hati-hati dong, Kak. Memangnya siapa yang mengirim pesan sampai kamu kaget gitu?'' selidik Laras.
''Mmmm bukan siapa-siapa.'' Krisna tergagap.
''Kalau bukan siapa-siapa, terus siapa? Awas ya kalau Kakak berani main api di belakang ku.'' Ancam Laras sambil menodongkan garpu di tepat di wajah Krisna.
''Tit-tidak mungkin aku melakukan itu Laras.''
''Kalau begitu, berikan padaku ponselnya.''
''Kamu lanjutkan saja makannya Laras.'' Krisna berusaha mengalihkan perhatian Laras.
''Kalau sampai kamu tidak memberikannya, aku akan menangis.''
Krisna menghela, lalu menyerah dan memberikan ponselnya pada Laras. Laras menaikkan alisnya mendapati pesan dari suami Keira.
''Maksud Tuan Kevin apa sih, Kak? Bukannya kita sudah di jatah satu Minggu?''
''I-iya. Sudahlah abaikan saja, Tuan Kevin sudah biasa seperti itu. Kita nikmati saja bulan madu kita.''
''Maaf ya aku sudah curiga pada Kakak.''
''Iya tidak apa-apa.''
''Setelah ini kita kembali ke hotel ya. Aku mau mandi.''
''Oke.''
Sesampainya di hotel, Laras segera pergi untuk mandi. Sementara Krisna memilih menunggu sambil memainkan ponselnya. Beberapa munit kemudian, Laras keluar dari kamar mandi dan menghampiri Krisna yang asyik bermain di ponsel di teras balkon.
"Kak, aku sudah selesai. Kakak cepat mandi ya."
"Laras, aku ingin minum teh. Tolong buatkan ya."
"Iya suamiku tapi kiss dulu." Ucap Laras sambil mengetuk bibirnya. Krisna tersenyum lalu mencium bibir Laras sekilas.
Selesai mandi, Krisna keluar dari kamar mandi dan melihat Laras sudah menunggunya di atas ranjang dengan pakaian dinas yang tipis. Bahkan Laras menanggalkan pakaian dalam.
''Kak, ayolah! Aku ingin kita olahraga di atas ranjang.'' Rengek Laras sambil menepuk sisi ranjang yang kosong. Krisna tersenyum melihat tubuh istrinya yang memang menggairahkan. Tentu saja Krisna sekarang menjadi ketagihan merasakan nikmatnya bercinta dengan seorang wanita, wanita dalam arti istrinya. Karena sikap Krisna masih tetap sama ketika berhadapan dengan perempuan asing.
Krisna tersenyum lalu ia merangkak naik ke atas tempat tidur. Lebih tepatnya ke atas tubuh Laras. Laras tersenyum nakal, lalu membuang handuk yang melilit pinggang suaminya. Dan terjadilah aksi cumbu mesra yang penuh dengan gairah yang membara.
...****************...
Keesokan harinya di kantor, salah satu anak buah utusan Kevin sudah berada di hadapannya.
''Tuan, yang mengirim buket bunga itu adalah seorang pria bernama Ferdi.''
''Ferdi?'' Kevin tercekat.
''Iya Tuan. Ini bukti foto dan vidonya karena tadi saya melihat Tuan Ferdi mendatangi toko bunga dan meminta kurir mengantarnya ke rumah.'' Kata anak buah Kevin sambil menunjukkan hasil foto dan vidionya.
''Kirim segera ke nomorku,'' pinta Kevin. Anak buah Kevin mengangguk dan segera mengirim bukti itu ke ponselnya.
''Sudah Tuan.''
''Baik Tuan, saya permisi.'' Anak buah Kevin segera berlalu meninggalkan ruangannya.
''Apa maksud Ferdi mengirim bunga pada istriku? Dia sendiri sudah punya istri. Dia benar-benar ingin bermain denganku.'' Gumam Kevin sambil mengeratkan rahangnya dengan penuh kekesalan.
Sementara itu Keira yang sedang bersantai di gazebo rumahnya, mendengar suara Bi Nani memanggil namanya.
''Nyonya Keira!"
''Iya Bi, saya disini.'' Sahut Keira. Bi Nani datang membawa sebuah rangakaian bunga mawar berbentuk hati.
''Nyonya, ini ada kiriman bunga. Ya ampun ini bunganya cantik sekali Nyonya.'' Kata Bi Nani sambil meletakkannya di atas gazebo.
''Iya Bi, ini sangat cantik. Tapi ini dari siapa Bi?''
''Tidak tahu Nyonya. Yang jelas ini untuk Nyonya, tidak ada nama pengirimnya juga.'' Kata Bi Nani.
''Ya sudah Bi, Bibi boleh kembali. Oh ya tolong siapkan makan siang dan antar ke kantor Tuan ya.''
''Siap Nyonya!" jawab Bi Nani seraya berlalu.
''Siapa sih pengirim bunga ini? Bunga ini sangat canti. Mau di buang juga sayang. Sebaiknya aku foto dan aku kirimkan pada Mas Kevin.'' Keira lalu memotret bunga itu dan mengirimkannya pada Kevin.
Kevin yang masih terus melamun, setelah anak buahnya pergi, terkesiap mendengar bunyi pesan masuk dari ponselnya. Ada nama My Lovely Wife dengan emoticon love merah di layar ponsel Kevin.
Keira : Mas, aku mendapat bunga lagi. Cantik ya.
Kevin mendengus kesal, melihat Keira memotret bunga itu. Kevin tidak percaya kalau Ferdi masih menaruh hati dan masih memperhatikan Keira. Apa maksud semua ini?
Kevin kemudian menekan nomor Keira untuk meneleponnya. Keira segera mengangkat telepon begitu ada nama My Lovely Husband di layar ponselnya, tentu saja nama itu Kevin sendiri yang menulisnya di kontak Keira.
"Halo Mas, ada apa?"
"Sayang, aku sudah tahu siapa pengirim bunga itu."
"Siapa Mas memangnya?"
"Mantan kekasihmu itu." Jawab Kevin dengan suara malas.
"Maksud kamu Ferdi?"
"Memang kamu memiliki berapa mantan selain dia?" Kevin mulai marah.
"Jangan marah ya, Mas. Aku sendiri tidak percaya kalau Ferdi akan melakukannya. Dia sungguh tega sekali, padahal istrinya sedang hamil."
"Yang aku takutkan kalau sampai istrinya tahu dan kamu yang menjadi sasaran amukannya. Aku akan menemui Ferdi dan menghajarnya."
"Eh, kamu ini apa sih? Itu sama saja dengan menambah masalah, Mas. Aku ini sedang hamil ya, ingat itu Mas. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa jadi jangan main fisik. Apalagi istrinya Ferdi juga sedang hamil, terlalu beresiko Mas." Kevin terdiam mendengarkan apa yang di katakan oleh istrinya. Apa yang di katakan Keira memang ada benarnya juga.
"Lalu kita harus bagaimana sayang? Aku tidak rela jika istriku di ganggu pria seperti Ferdi."
"Kita ikuti saja sampai kapan dia akan mengirim bunga, Mas. Jadi aku akan menerima bunga itu dari Ferdi."
"Untuk apa menyimpannya? Kamu masih mencintainya dan berharap padanya?" ucap Kevin dengan suara meninggi.
"Bukan begitu, Mas. Jadi bunga yang Ferdi kirim akan aku kirimkaj pada Lily atas nama Ferdi. Jadi Lily akan senang menerima bunga pemberian suaminya. Ferdi juga tidak akan berani mengelak. Dengan begitu tidak akan ada masalah lagi dan Lily juga pasti akan sangat bahagia. Kita kerjain balik si Ferdi."
Kevin tersenyum diseberang sana, mendengar ide brilian istrinya. "Oke sayang, itu ide yang sangat bagus dan cemerlang. Aku setuju."
"Tugas kamu cari tahu dimana Lily dan Ferdi tinggal untuk sementara waktu, setelah itu kita kirim bunga itu dan sekalian kita beri sepucuk surat saat mengirim bunga itu."
"Baiklah sayang, anak buahkunakan mengurus semuanya. Aku khawatir kalau dia merayumu dan kamu tergoda."
"Memangnya aku ini apa dengan mudahnya tergoda. Leon yang tampan saja aku abaikan demi menerima duda beranak satu," gurau Keira dengan tawanya.
"Iyalah soalnya dudanya keren dan banyak duit. Kalau dudahya udah kakek-kakek, memang kamu mau?'i
''Hehehe ya nggak lah, Mas. Ya sudah Mas, setelah ini Bibi akan mengantar makan siang untukmu ke kantor.''
''Iya sayang, terima kasih ya. Ya sudah kamu istirahat saja dan kalau ada apa-apa segera hubungi aku.''
''Iya Mas, itu pasti. Aku bisa jaga diri kok.''
''Ya sudah sayang, i love you. Muah, muah, muah. Oh ya kamu juga harus makan, minum obat dan susunya jangan lupa.''
''Iya suamiku yang bawel. I love you too juga, Mas. Muah, muah, muah." Keira membalas ciuman jauh dari Kevin. Meski hanya kecupan sambungan telepon saja, Kevin dan Keira sudah sangat bahagia. Mereka seperti sepasang remaja yang sedang jatuh cinta.
Bersambung....