
Setelah Laras tenang, Krisna melepaskan pelukannya.
''Apa kamu sudah makan?'' tanya Krisna.
''Belum. Aku akan membuang makanan itu.''
''Jangan di buang. Berikan saja pada mereka yang membutuhkan.'' Kata Krisna.
''Lalu cek ini, apa yang harus aku lakukan?''
''Kamu sumbangkan saja ke yayasan sosial atas nama Andy. Bereskan?''
''Kak, aku beruntung sekali memiliki kamu saat ini. Kamu bisa bersikap dewasa dan kepala dingin dalam menghadapi situasi ini. Jujur aku sangat takut. Aku takut saat melihatmu marah.''
''Makanya jangan pernah membuatku marah. Kalau kamu jadi aku, bagaimana kalau ada wanita lain yang memelukku? Apa bisa kamu bersikap sama seperti aku saat ini?''
''Sepertinya aku tidak bisa. Aku bahkan bisa marah padamu berhari-hari.''
''Itulah bedanya pria dan wanita. Pria lebih memakai logika, sementara wanita menggunakan perasaannya. Baiklah sebaiknya kita makan di rumah ku ya. Tadi ibu mengirim pesan, memintaku untuk mengajakmu makan siang di rumah.''
''Iya Kak.''
''Seharusnya kamu tidak mengerjakan ini seorang diri. Aku akan meminta beberapa orang untuk mendesain butikmu ini.''
''Kak, budget ku sudah menipis. Aku tidak bisa membayar mereka. Aku juga tidak mungkin meminta uang Papa dan Mama.''
''Siapa yang menyuruhmu membayar? Biar aku yang mengurusnya dan kamu tahu semuanya beres.''
''Kakak serius?''
''Iya. Kapan aku bercanda?''
''Terima kasih, Kak.'' Laras memeluk Krisna kembali karena ia merasa sangat bahagia.
''Baiklah ayo kita ke rumah sekarang.''
''Iya Kak.''
''Sekalian kita bicarakan masalah pembantu baru saat kita menikah nanti.''
''Memang Kakak belum cerita?''
''Belum. Kurang lengkap kalau belum ada kamu.''
''Kak, aku semakin mencintaimu.'' Kata Laras.
''Aku juga mencintaimu.''
Sesampainya di rumah Krisna, Laras langsung menyapa Nyonya Dewi dengan ramahnya.
''Halo Ibu ku sayang,'' ucapnya seraya memeluk Nyonya Dewi.
''Halo juga anakku yang cantik.'' Kata Nyonya Dewi sambil memberikan kecupan di kening Laras.
''Ibu masak apa hari ini?''
''Ada sayur bening, pepes kerapu sama dadar jagung.''
''Wah, itu pasti sangat enak sekali.''
''Ya sudah yuk, makan.''
''Ibu sepertinya lupa untuk menyapa Krisna.'' Sahut Krisna yang merasa terabaikan.
Nyonya Dewi tersenyum. ''Oh iya, maaf ya nak. Ibu benar-benar lupa.'' Kata Nyonya Dewi seraya memberikan pelukan pada putranya itu. Mereka bertiga kemudian duduk bersama untuk menikmati makan siang.
''Oh ya Bu, setelah kita menikah nanti Krisna dan Laras sudah sepakat untuk memakai jasa ART.''
''Iya Bu. Supaya Ibu bisa istirahat dan menikmati hari tua Ibu dengan tenang. Kami tidak ingin Ibu merasa lelah karena mengurus rumah sebesar ini.'' Sahut Laras.
''Ibu tidak masalah, Krisna-Laras. Lakukan saja apa yang menurut kalian baik.''
''Kami hanya khawatir nanti kalau Ibu tersinggung.'' Kata Krisna.
''Kenapa Ibu mesti tersinggung? Ibu tidak masalah Krisna.''
''Ya karena Ibu selama ini selalu menolah saat Krisna mencoba memakai jasa ART.''
''Setelah Ibu pikir-pikir, Ibu setuju. Karena Ibu ingin sehat selalu supaya bisa bermain bersama cucu Ibu nanti. Hitung-hitung Ibu bisa menghemat tenaga.''
''Syukurlah kalau Ibu setuju, kami senang sekali mendengarnya.''
''Ibu tidak sabar ingin kalian segera menikah. Lebih tidak sabar lagi untuk menggendong cucu.''
''Sabar ya, Bu. Tinggal beberapa minggu saja.'' Kata Krisna sambil tersenyum ke arah Laras.
-
Malam harinya, Johan sedang menikmati makan malam bersama Tessa dan Anrez.
''Masa sih? Jangan mengatakan itu untuk menghiburku.''
''Lebih enak soalnya gratis, hehehe.''
''Dasar kamu!"
''Aku sudah tidak sabar menggu lusa. Akhrinya impianku terwujud untuk memiliki sebuah cafe.''
''Orang tua kamu pasti bangga sekali, Jo. Oh ya kapan kamu akan mengajakku menemui orang tua kamu, Jo?''
''Setelah launching saja ya, bagaimana?''
''Iya tidak masalah.''
Saat mereka asyik menikmati makan malam tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu.
''Sebentar ya, aku buka pintu dulu.'' Kata Tessa.
''Iya.'' Jawab Johan.
Tessa sangat terkejut melihat siapa yang datang.
''Mas Rendy,'' Tessa tergagap. Penampilan Rendy semakin terlihat lusuh dan tidak terurus seperti biasanya.
''Maaf aku mengganggumu, Tes. Aku membawakan makanan untuk Anrez.''
''Maaf tapi kami sudah makan, sebaiknya kamu pulang saja.''
''Maafkan aku untuk masalah tadi, Tessa. Aku kesini hanya untuk Anrez dan ingin meminjam uang padamu.''
Johan yang merasa Tessa lama belum kembali, akhirnya memutuskan menyusul Tessa ke depan.
''Siapa Tessa?'' teriak Johan. Johan sangat terkejut melihat ada Rendy berdiri disana.
''Untuk apa kamu kemari?'' tanya Johan dengan sinis.
''Aku hanya ingin bertemu Anrez saja. Aku membawakannya makanan. Kebetulan ada kamu disini, aku ingin meminjam uang. Pasti uangmu banyak.'' Kata Rendy pada Johan.
''Mas, kamu jangan macam-macam ya. Kamu tidak tahu malu sekali meminjam uang pada Johan.''
''Kalau begitu ijinkan aku bertemu Anrez.''
''Anrez sudah tidur. Sebaiknya kamu pergi saja.''
''Ijinkan aku bertemu dengannya sekali saja, Tessa. Sebelum waktuku habis untuknya.''
''Maksudmu apa?''
''Mungkin ini karma untukku, aku terkena kanker otak. Usiaku tidak lama lagi. Aku benar-benar ingin memperbaiki keadaan ini. Aku butuh uang karena aku sudah tidak ada uang untuk berobat. Hasil penjualan rumah, aku gunakan untuk berobat. Aku memang tidak tahu malu tapi aku tidak bisa menahan rasa sakit yang suka datang tiba-tiba ini. Aku sudah tidak punya rumah lagi, Tessa. Aku benar-benar menjadi gelandangan.''cerita Rendy memelas.
Rendy kemudian menangis dan tiba-tiba berlutut memeluk kaki Tessa. ''Tessa, maafkan aku. Maafkan aku karena sudah menyia-nyiakan kamu dan Anrez. Aku memang manusia bodoh dan biadab. Ijinkan aku bertaubat dan menebus kesalahanku, Tessa.''
''Siapa Mah?'' sahut Anrez tiba-tiba.
''Anrez,'' gumam Rendy yang menerobos masuk untuk memeluk putranya itu.
''Papa? Untuk apa Papa kesini?''
''Papa sangat merindukan kamu, Nak. Papa kesini untuk meminta maaf atas semua kesalahan Papa. Ijinkan Papa untuk bersama kamu ya.''
''Tapi Papa jahat! Papa sudah memukul dan membuat Mama menangis.''
''Iya Papa salah. Papa ingin berubah dan menebus semua kesalahan Papa sebelum Papa pergi.''
''Memangnya Papa mau pergi kemana?''
''Papa akan pergi jauh sekali, bahkan mungkin kita tidak akan bertemu lagi. Untuk itu, Papa ingin habiskan waktu denganmu disisa waktu terakhir Papa.''
Tessa dan Johan saling melempar pandangan. Tessa merasa tidak enak pada Johan. Namun Johan mengerti apa yang harus ia lakukan. Johan kemudian mengajak Tessa untuk bicara di luar.
''Tessa, kalau begitu aku pulang dulu. Selesaikan dulu masalah kalian.''
''Tapi Jo, aku takut.'' Bisik Tessa sambil mencengkeram kuat tangan Johan.
''Kamu tenang saja ya. Kamu tinggal teriak saja kalau ada apa-apa. Kasihan juga mantan suami kamu itu. Walau bagaimanapun dia tetap Ayah kandung Anrez. Kamu dan aku tidak berhak memisahkan mereka.''
''Johan, kamu sungguh tidak apa-apa?''
''Tidak apa-apa Tessa. Perbaiki lah hubungan antara Anrez dan Papanya. Setidaknya saat Papanya pergi, Anrez memiliki kenangan indah bersama Papanya. Aku akan memberikan Anrez dan kamu waktu untuk menyelesaikan semua ini.''
''Jo, maafkan aku ya. Apa kamu marah padaku?''
Johan tersenyum sambil membelai wajah Tessa. ''Untuk apa aku marah? Tidak ada alasan bagiku untuk marah, Tessa. Masuklah dan perbaiki semuanya sebelum berakhir.'' Johan kemudian memberikan kecupan di kening Tessa, setelah itu ia pergi meninggalkan rumah Tessa.
Bersambung.... Maaf yaaa baru bisa up 🙏❤️