
Malam harinya, Krisna sudah tiba di sebuah restoran bintang lima. Kevin memenuhi permintaan Keira untuk menyiapkan sebuah makan malam romantis untuk Krisna dan Laras. Keira sengaja melakukan itu untuk mendekatkan keduanya.
''Kata Tuan ini makan malam ramai-ramai tapi kenapa mejanya cuma untuk dua orang saja. Di tambah ada lilin dan mawar merah segala lagi. Tuan Kevin dan Nyonya Keira juga belum tiba.'' Gumam Krisna yang merasa bingung dengan situasi yang ia hadapi.
Sementara itu Laras baru saja tiba di restoran yang sama dengan Krisna. Laras sendiri mendapat undangan makan malam dengan Keira, dengan dalih hangout khusus buat mereka kaum hawa.
''Ah, si Keira ngajakin ke restoran mewah gini. Banyak duit dia sekarang, hangout aja di restoran semewah ini.'' Gumam Laras sesampainya di halaman restoran. Laras kemudian melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam restoran dan mencari meja no.7 yang sudah Keira pesan. Namun Laras justru melihat punggung seorang pria disana.
''Lah, itu kan tempat gue dan Keira. Kenapa di tempatin sama orang lain.'' Gumamnya. Laras kemudian segera menghampiri meja itu.
''Permisi Tuan, ini adalah mejaku,'' kata Laras tanpa basa-basi. Saat pria itu mendongakkan wajahnya, Laras terpaku dan mulutnya menganga. Melihat pria tampan di hadapannya. Tring! Seolah terpancar silau ketampanan yang membuat Laras terpesona seketika.
''Tu-tuan Krisna,'' ucapnya tergagap.
''Lho kamu?'' kata Krisna yang juga tergagap.
''Ehem, iya ini aku, Laras. Laras sahabatnya Keira yang paling cantik, yang kemarin ikut ke panti,'' jelas Laras dengan gaya centilnya.
''Kenapa kamu disini?'' tanya Krisna.
''Mmmm undangan dari Keira. Jadi ini tempat duduk kami.''
''Aku juga mendapat undangan dari Tuan Kevin dan Nyonya Keira. Tapi mereka tidak kunjung datang.''
''Kok aneh sih? Terus mereka kemana?'' tanya Laras yang tampak kebingungan.
''Kalau begitu, aku menelepon Tuan Kevin dulu.'' Krisna kemudian menelepon Tuannya. Kevin dan Keira sendiri sedang asyik di ruang tengah menonton televisi bersama Marvel. Mendengar ponselnya berdering, Kevin pun mengangkatnya.
''Iya Kris, ada apa?'' Keira yang mendengar bahwa itu Krisna, meminta Kevin untuk menyalakan mode speaker.
''Tuan anda dan Nyonya dimana? Aku sudah sampai di restoran.''
''Maaf ya, Kris. Kami tidak bisa datang, perutku tiba-tiba sakit dan mules sedari tadi.''
''Ta-tapi disini juga ada teman Nyonya Keira juga.''
''Ya sudah kamu temani saja dia ya. Pesan apapun yang kalian mau, aku yang akan membayar tagihannya. Sampaikan maaf Keira pada temannya itu karena dia harus menjagaku.'' Kata Kevin dengan suara merintih seperti orang kesakitan.
''Ba-baiklah Tuan kalau begitu. Semoga Tuan lekas sembuh ya.''
''Iya terima kasih, Kris.''
''Sama-sama Tuan.'' Krisna lalu mengakhiri panggilannya. Sementara Kevin dan Keira tertawa cekikikan karena berhasil menjebak Krisna dan Laras.
''Ya ampun, Mas. Apa Pak Krisna sepolos itu?''
''Ya begitulah dia, Kei. Aku sendiri tidak tahu, bagiku yang penting dia selalu bekerja dengan baik.''
''Kita tunggu kabar besok saja, Mas.''
''Papa dan Mama ngetawain apa sih?'' sahut Marvel.
''Papa dan Mama lagi ngetawain Pak Krisna saja.'' Kata Keira.
''Iya sih, Pak Krisna memang aneh.'' Kata Marvel dengan polosnya.
''Tuh, Marvel saja bilang aneh.'' Kata Keira terkekeh.
''Ya semoga Krisna ada perkembangan lah. Masa iya mau jomblo terus.''
-
''Nona, Tuan Kevin mendadak sakit perut jadi terpaksa membatalkan ini semua. Dan Nyonya Keira menemani Tuan di rumah.''
''Oh begitu, ya sudah tidak apa-apa.''
''Kalai begitu Nona makan saja sendiri nanti tagihannya akan di urus oleh, Tuan. Jadi aku pulang saja.'' Kata Krisna dengan gugup dan buru-buru beranjak dari duduknya. Namun Laras dengan sigap menahan Krisna dengan memegang lengannya.
''Tuan tidak boleh pulang! Sudah sampai disini, masa iya mau pulang. Sebaiknya kita saja yang makan.'' Kata Laras.
''Ta-tapi Nona,'' ucap Krisna tergagap. Laras yang gemas lalu mendudukkan Krisna.
''Kita saja yang makan. Apa Tuan malu halan dengan ku? Apa aku ini tidak cantik?'' kata Laras sambil menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sambil berkedip.
''Can-cantik. Nona sangat cantik malam ini.''
''Oh, terima kasih pujiannya. Sebaiknya kita nikmati malam ini, aku juga tidak mungkin langsung pulang kan? Oh ya panggil aku Laras saja, jangan pakai Nona.''
''Ba-baiklah Laras.''
''Santai Tuan, kita mau makan bukan mau di interogasi.'' Kata Laras dengan gayanya yang ceplas-ceplos. Laras lalu memanggil pelayan dan segera memesan makanan. Krisna memilih makanan dan minuman yang sama dengan Laras.
''Oh ya sejak kapan Tuan Krisna bekerja dengan Tuan Kevin?''
''Mmmm sudah 7 tahun yang lalu.''
''Usiaku 29. Sebaiknya jangan panggil Tuan, sebut nama saja.'' Kata Krisna dengan gugupnya.
''Baiklah aku akan memanggil Kakak saja. Boleh kan?''
''Bo-boleh,'' jawabnya singkat.
''Berarti sudah lama sekali ya, bahkan di suai yang muda Kakak sudah di percaya menjadi seorang sekretaris. Hebat!" puji Laras sambil mengacungkan jempolnya. Akhirnya pesanan mereka berdua pun datang. Sudah ada dua porsi ice cream, wagyu steak dan dua gelas lemon squash.
''Nah, pesanan kita sudah datang. Bagaimana kalau kita maka dulu? Aku sudah lapar.'' Kata Laras.
''Iya silahkan.'' Kata Krisna yang masih tampak gugup dan kikuk. Sementara Laras makan dengan begitu santainya tanpa rasa canggung. Laras memperhatikan cara makan Krisna yang begitu rapi, berbeda sekali dengan dirinya yang apa adanya, bahkan terkesan rakus. Krisna merasa canggung dan salah tingkah saat Laras menatapnya.
''Ke-kenapa kamu melihatku seperti itu?''
''Kakak sudah punya pacar?'' tanya Laras. Pertanyaan itu seketika membuat Krisna tersedak. Laras langsung menyodorkan minuman untuk Krisna.
''Pelan-pelan Kak, makannya.'' Kata Laras sambil menepuk punggung Krisna. Mendadak gelas di tangan Krisna bergetar, saat Laras menepuk punggungnya. Setelah batuk Krisna reda, Laras pun duduk kembali.
''Kenapa Kak? Itu kenapa gelasnya bergetar? Kakak baik-baik saja kan?'' tanya Laras yang tampak panik.
''Iya, aku tidak apa-apa. Mungkin efek tersedak tadi.'' Jawabnya dengan tersenyum paksa.
''Aku pikir kenapa? Eh kita coba makan ice creamnya yuk!" kata Laras yang seperti bocah. Ia tidak tahu kalau pria di hadapnnya begitu gugup dan ingin secepatnya pulang ke rumah.
''Kenapa selalu saja gugu? Bahkan sampai tremor. Sampai kapan akan begini?'' batin Krisna dengan kesal. Laras pun memakan ice cream dengan lahapnya, sedangkan Krisna begitu kalem saat memasukkan ice cream ke mulutnya.
''Kak, tanya aku dong? Masa dari tadi aku terus yang tanya.''
''Tanya? Tanya apa ya?'' ucapnya bingung.
''Tanya gitu aku kuliah ambil fakultas apa, rumah aku dimana, punya saudara apa nggak, atau gimana persahabatanku dengan Keira. Gitu misalnya.''
''Ya sudah, yang kamu sebutkan tadi kamu coba jawab.'' Kata Krisna dengan polosnya.
''Hah? Maksudnya? Aku bertanya dengan diriku sendiri? Kakak ini aneh banget sih,'' Laras pun mulai kesal.
''Ma-maaf Laras. Kamu sudah punya pacar belum?'' ceplos Krisna tanpa sadar dan tergagap.
''Hah? Kenapa aku malah bertanya seperti itu?'' kata Krisna dalam hati. Mendadak ia pun panik. Sementara Laras yang mendapat pertanyaan itu sangat senang.
''Belum Kak. Aku kebetulan single. Kalau Kakak?''
''Sama. Aku juga single.''
''Sejak kapan?''
''Sejak 8 tahun yang lalu?''
''Apa? Delapan tahun yang lalu? Kakak melewatkan 8 tahun dengan kesendiran? Astaga kok bisa sih Kak hidup seperti itu? Kakak itu kan ganteng, mapan, karir bagus, kenapa betah jomblo? Kakak bukan seorang gay kan?'' cerocos Laras begitu saja seperti kendaraan tanpa rem.
''Aku normal kok. Aku hanya ingin sendiri dan fokus dengan karir dulu.'' Jawabnya dengan gugup.
''Itu kelamaan, Kak.''
''Kalau kamu sendiri?''
''Aku? Ya, aku single sudah empat tahun,'' jawab Laras dengan suara pelan. Mendengar jawaban Laras, Krisna pun berusaha menahan tawanya.
''Ihhh meledek ya? Kenapa ketawa gitu?'' ketus Laras.
''Ya, berarti sama juga. Kamu juga cantik kenapa betah jomblo?''
''Aku punya pengalaman punya pacar parasit. Makan, belanja, pergi, nongkrong, sampai ke WC umum aja aku yang bayarin. Gila nggak tuh? Bodohnya aku kalau udah bucin, mungkin di suruh nyebur sumur, mau kali. Ya awalnya its okay lah ya, eh hampir dua tahun lho aku yang bayarin dia apa-apa. Emang bodoh sih aku. Makanya sekarang aku nggak mau nyari pacar Kak. Aku mau nyari suami yang tampan, mapan dan karir bagus kayak kakak. Kakak mau nggak jadi suami aku?''
Uhuk! Uhuk! Uhuk! Kali ini ice cream yang membuat Krisna tersedak. Tersedak karena mendengar ucapan Laras yang begitu apa adanya tanpa filter. Baru kali ini Krisna mendengar seorang wanita yang berani mengajaknya menikah. Ia sangat terkejut dengan sikap jujur dan sikap apa adanya Laras.
''Duh, hati-hati dong Kak.'' Kata Laras. Laras mengambil beberapa helai tisu lalu mengusap mulut Krisna yang sempat menyemburkan ice cream karena tersedak. Krisna mendadak pucat, saat Laras menyeka bibirnya dengan tisu.
''Sudah cukup, Laras. Aku bisa sendiri.'' Katanya gemetar sambil menurunkan tangan Laras dari bibirnya.
''Dari tadi kesedak melulu deh. Gimana Kak tawaranku?''
''Kamu ini lucu. Kita saja baru bertemu, masa iya mau nikah. Kita juga belum saling mengenal.''
''Hehehe maaf ya, Kak. Maaf kalau aku terlalu jujur. Ya udah kalau begitu kita saling mengenal dulu bagaimana? Mau kan?'' bujuk Laras. Krisna tidak menyangka kalau ada gadis berani seperti Laras. Ia bingung harus menjawab apa.
''Maaf aku bingung harus menjawab apa. Bisa memberi aku waktu? Karena ini terlalu cepat.''
''Tidak apa-apa Kak. Aku santai kok. Ya aku memang sedang mencari yang serius, bukan untuk main-main lagi. Aku sendiri sebenarnya bukan tipe yang mudah jatuh cinta juga, makanya betah menjomblo,'' kata Laras dengan tawa kecilnya.
''Ya sudah, kita habiskan saja makanannya.''
''Oke.''
Bersambung.....