Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 66 Apa? Menikah?


''Maksud Nak Kevin dengan tanggung jawab?'' tanya Pak Ammar dengan tergagap.


''Saya akan menikahi Keira,'' ucap Kevin dengan tegas.


''Apa? menikah dengan anda?'' kata Keira seolah tidak percaya dengan ucapan Kevin. Mata Keira membulat dengan dahi yang mengkerut, ia tidak percaya kalau kata menikah akan muncul di bibir Kevin.


''Apa? menikah?'' sahut Kenny terbelalak.


''Iya. Saya akan menikahi Keira. Saya juga tidak main-main. Saya minta maaf atas apa yang terjadi dalam vidio itu karena semua terjadi begitu saja. Tapi sungguh saya tidak pernah menodai Keira sedikitpun, karena itu semua terjadi karena unsur ketidaksengajaan saja.'' Jelas Kevin.


''Apa? Papa akan menikah dengan Mama Keira?'' sahut Marvel yang mendengar obrolan itu.


''Iya Marvel. Papa dan Mama Keira akan menikah,'' sahut Miko.


''Yeay.... asyik... hore.... aku puny Mama. Aku punya Mama.'' Teriak Marvel sambil melompat.


Marvel kemudian memeluk Papanya. ''Papa terima kasih ya, akhirnya Papa mengabulkan keinginanku untuk menikah dengan Mama Keira. Aku bahagia sekali, Pah.''


Sementara Keira duduk lemas bersimpuh di lantai, ia tidak bisa membayangkan bagaimana ia hidup satu atap dengan Kevin.


''Aku menikah dengan si kepala batu? Bagaimana masa depanku nanti? Astaga, ini pernikaha yang tidak aku inginkan,'' batin Keira.


''Nak Kevin serius dengan ucapan Nak Kevin barusan?''


''Iya Ayah. Aku serius. Lagi pula ini juga sudah menjadi keinginan Marvel. Marvel pasti senang bisa mempunyai Kakek seperti anda dan juga seorang Paman seperti Tuan Kenny.''


''Kami bingung harus bahagia atau sedih. Tapi sungguh kami tidak berniat untuk mengambil kesempatan dengan posisi Nak Kevin saat ini. Sekalipun Nak Kevin hanyalah seorang biasa, kami juga akan tetap menerimanya.'' Kata Pak Ammar.


''Saya mengerti dan hal seperti itu sama sekali tidak terlintas di pikiran saya,'' jawab Kevin dengan senyum kecilnya.


Marvel kemudian memeluk Keira yang maish terduduk bersimpuh di lantai.


''Mama terima kasih ya sudah mau menjadi Mama untukku. Aku bahagia sekali, Mah. Aku tidak pernah merasakan bahagia seperti ini. Aku sangat bahagia.'' Marvel pun memberi kecupan di pipi Keira namun Keira masih terpaku dan terdiam.


''Kakek, akhirnya aku memiliki Kakek juga. Aku bahagia sekali, Kek.'' Kata Marvel yang giliran mendekat ke arah Pak Ammar. Marvel memberikan pelukan tulus untuk Pak Ammar. Pak Ammar sendiri hanya bisa tersenyum tanpa bisa berkata-kata karena ia sendiri masih bingung harus bahagia, sedih atau apa. Begitu pula dengan apa yang di rasakan oleh Kenny. Ia hanya bisa terdiam dan tersenyum saat mendapat pelukan dari Marvel.


''Ini pasti mimpi kan?'' kata Keira tiba-tiba. ''Ayah, cubit aku! ini pasti mimpi. Ini pasti Tuan Kevin yang sengaja menjebakku,'' kata Keira yang tidak terima dengan keputusan yang di dengar oleh Kevin.


''Cukup Kei! bukti di vidio itu sudah cukup. Kamu menyangkal apalagi? Ayah ini sudah cukup malu ya sama kelakuan kamu. Jadi jangan buat Ayah tambah malu lagi,'' kata Pak Ammar dengan tegas.


''Ayo bangunlah, Kei! Untuk apa kamu duduk di bawah seperti itu?'' sahut Kevin. Kevin lalu dengan sengaja membantu Keira berdiri namun ada sesuatu yang Kevin bisikkan pada Keira.


''Kalau kamu tidak menurut, aku akan membongkar rahasiamu tentang pekerjaan ilegalmu itu. Apalagi aku melihat kalau kamu masuk ke kamar hotel bersama pria bule itu. Aku sudah sering sekali memergoki mu. Bukan hal yang sulit bagiku untuk menemukan bukti tentang jasa pacar sewaanmu itu,'' ancam Kevin yang berbisik tepat di telinga Keira. Mendengar ancaman Kevin yang sepertinya bukan main-main, membuat Keira menelan ludah. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau Ayahnya tahu pekerjaan anehnya itu selama ini, ia takut dan tidak ingin kehilangan Ayahnya. Akhirnya Keira menyerah dan terpaksa menuruti permainan Kevin.


''Baiklah Ayah, aku setuju dengan ide pernikahan itu. Jadi sebaiknya Ayah pulang saja dan Kak Kenny, lanjutkan saja bulan madumu.'' Kata Keira yang berusaha tersenyum di depan Ayah dan Kakaknya.


''Setelah Tuan Kenny pulang bulan madu. Kita atur pernikahan ini.'' Sambung Kevin.


''Tapi kami belum siap apapun Nak Kevin,'' kata Pak Ammar dengan gugup.


''Tuan Kevin, apa tidak menunggu Keira lulus dulu. Kami tidak mau di katakan memberatkan atau memanfaatkan anda.''


''Kita tidak bisa menunggu lama lagi. Gunjingan orang akan semakin membuat kita gerah. Apalagi tudingan buruk yang menghampiri saya. Anda nikmati saja bulan madu anda, saya akan mengurus semuanya.'' Kata Kevin yang berusaha meyakinkan keluarga Keira. Akhirnya setelah diskusi cukup panjang, Pak Ammar dan Kenny meninggalkan rumah Kevin. Sementara Kevin masih menahan Keira disana. Setelah Pak Ammar dan Kenny pergi, Kevin lalu menyeret tangan Keira menuju ruang kerjanya. Marvel dan Miko saling menatap penuh khawatir melihat Kevin yang memaksa Keira seperti itu.


Setelah masuk ke dalam ruang kerja, Kevin mengunci rapat pintunya.


''Sebenarnya apa mau mu?'' tanya Kevin dengan serius.


''Mau bagaimana Tuan?'' kata Keira yang mendongakan kepalanya menantang pertanyaan Kevin.


''Kamu pasti memasang kamera di kamarku dan sengaja melakukan itu semua kan? kamu ingin menjebakku dan memanfaatkanku, iya kan?''


''Hello Tuan! Aku sendiri tidak tahu darimana vidio itu berasal. Aku saja kaget bagaimana itu bisa terekam dengan sempurna. Untuk apa aku melakukan hal bodoh yang merugikan diriku. Menikah dengan Tuan bukanlah cita-cita ku, paham! Kalau bukan karena ancaman tuan, aku menolaknya mentah-mentah.''


''Hhh kamu pikir aku serius? Jangan mimpi!" ucap Kevin sambil mendorong kening Keira dengan jari telunjuknya.


''Asal kamu tahu, aku melakukan ini demi reputasi perusahaan dan nama baikku. Dan juga untuk menepis isu itu. Aku tidak mau kehilangan apa yang sudah aku rintis selama ini hanya karena berita murahan ini. Ingat ya itu! Anggap saja ini pernikahan bisnis. Tenang saja, aku akan membayarmu setiap bulan dengan pernikahan ini. Apalagi ribuan karyawan bersandar padaku.''


''Apa pernikahan bisnis? Tuan pikir pernikahan itu mainan.''


''Memangnya kenapa? Kamu saja suka bermain-main dengan pekerjaan konyol mu itu. Jadi anggap saja ini pernikahan kontrak kita. Aku janji tidak akan macam-macam padamu. Ingat ini demi repuatsiku! Demi nasib ribuan karyawan dan perusahaan.''


''Astaga, mimpi apa aku semalam akan menikah dengan Tuan. Ini benar-benar mimpi buruk. Aku berharap menikah dengan orang yang aku cintai, bukan dengan kepala batu seperti Tuan.''


''Hei, kamu pikir aku mau? Kamu pikir aku tidak punya hati. Melihat Ayahmu menangis seperti itu, sudah pasti Ayah kamu kecewa dengan semua ini. Makanya aku mau melakukan ini, itu salah satu alasan ku juga.''


''Jadi Tuan berusaha menjaga perasaan Ayah ku juga?'' kata Keira yang kini dengan suara memelan.


''Iya! Kamu pikir apa? Apalagi setelah melihat isi vidio itu, mereka pasti akan berpikir sangat buruk tentangku jika aku mencampakkanmu begitu saja. Seumur hidup aku akan di cap sebagai pria brengsek. Sikap bijak Ayah mu sangat mengingatkan ku pada almarhum Papa ku. Jadi lebih baik diam dan ikuti permainanku! Kamu tenang saja, aku tidak akan macam-macam denganmu.'' Mendengar ucapan Kevin, Keira hanya bisa terdiam. Ia tidak menyangka kalau Kevin memikirkan perasaan Ayahnya juga. Kevin kemudian pergi meninggalkan ruangannya.


Kevin kemudian menghampiri Miko yang sedang duduk di teras samping, sambil menikmati segelas jus jeruk dingin yang segar.


''Miko! Gue tahu ini ulah elo?'' suara Kevin sungguh membuat Miko kaget dan tercekat. Jus yang sudah di genggamannya pun tumpah saking kagetnya.


''Astaga Kevin, elo bikin kaget aja.''


''Sudah jangan sok tidak tahu.''


''Tapi gue nggak ngerti Kevin,'' kata Miko yang tetap memasang wajah bodohnya.


''Vidio gue di kamar sama Keira.''


''Oh itu, emangnya elo tahu apa gue datang kesana? Hah? Saat vidio itu di rekam, gue nggak di rumah elo kan? Bisa jadi Marvel. Ya udah lah ngapain elo marah juga. Apa yang elo lakuin itu udah bener. Menikah adalah solusi, nama elo bersih dan perusahaan selamat. Elo yakin nggak ada rasa sama sekali dengan Keira? Lebih baik pikirkan juga kebahagiaan Marvel. Gue akan bantu urus pernikahan elo dan urus media. Kita buat vidio klarifikasi, oke. Jujur saja tadi karyawan elo di kantor pada panik buat terima telepon dari para klien. Mereka konfirmasi kebenaran dan mendadak menunda semua kontrak. Betapa pengaruhnya setiap langkah elo untuk perusahaan, Kevin. Tidak mungkin perusahaan yang di tinggalkan oleh orang tua elo, perlahan hancur dengan cara seperti ini. Ingat itu Kevin!" kata Miko panjang lebar dengan gaya sok bijaknya untuk meyakinkan Kevin. Miko lalu menenggak habis segelas jus itu, kemudian ia pergi dan meninggalkan rumah Kevin. Sementara Kevin masih terdiam dan terpaku, mencoba memahami keadaan yang baru saja terjadi.


"Semoga, aku tidak salah langkah," gumamnya dalam hati.


Bersambung.....