Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 78 Mama Hanya Milikku&Papa


Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi namun Keira dan Marvel masih kompak untuk tidur karena sekarang adalah hari Minggu. Sedangkan Kevin sudah memakai pakaian untuk jogging.


''Sepi sekali, dimana mereka?'' gumam Kevin sesaat setelah keluar dari kamarnya. Rumah itu tampak sunyi dan tidak terdengar suara Marvel ataupun Keira. Kevin lalu berjalan menuju kamar Marvel.


''Astaga, mereka masih tidur ternyata,'' gumam Kevin. Kevin melihat Marvel dan Keira masih tertidur pulas sambil berpelukan.


''Kei, bangun!" kata Marvel dengan suara keras sambil mengguncang bahu Keira.


''Apa sih Yah, aku masih ngantuk. Ini kan hari libur,'' jawab Keira dengan malas. Keira menganggap kalau ia sedang berada di rumahnya.


''Ayah? Dia pikir aku Ayahnya?'' gumamnya sini.


''Marvel, ayo bangun! Kita olahraga pagi." Panggil Kevin sambil menepuk lengan Marvel.


''Mbak Rima, ini hari libur. Aku mengantuk,'' ucapnya dengan suara malas dan mata terpejam.


''Mbak Rima? Kalian berdua ini kenapa malas sekali? Ayo bangun semuanya!" Kevin menyibak selimut. Kevin yang melihat air di dalam gelas, memercikkan air itu di wajah Marvel dan Keira. Marvel dan Keira terkejut lalu terbangun.


''Hujan! Hujan!" seru keduanya dengan kompak.


''Eh Tuan Kevin, hehehe. Maaf ya udah nginap malah bangunnya kesiangan.'' Kata Keira sambil mengucek matanya.


''Bagaimana mau jadi istri dan seorang Ibu,. kalau jam segini belum bangun?'' protes Kevin.


''Namanya juga capek apalagi hari libur. Ya suka-suka lah,'' bantah Keira.


''Aku malas berdebat. Cepat ajak Marvel bangun! Kita olahraga pagi. Sepuluh menit dari sekarang!" kata Kevin dengan tegas seraya berlalu meninggalkan kamar Marvel.


''Nggak ngenak-ngenakin orang tidur aja sih,'' gerutu Keira dalam hati.


Sepuluh menit kemudian, Keira dan Marvel sudah siap. Sementara Kevin sudah menunggu di halaman depan rumahnya.


''Tuan, eh Mas maksudnya kita mau kemana sih?''


''Kita joging di alun-alun kota. Ayo naik ke mobil.''


''Kenapa tidak di sekitar komplek saja sih?'' protes Keira.


''Aku harus bertemu klien.''


''Apa? Hari Minggu seperti ini masih bertemu klien? Sambil joging pula?''


''Iya, memangnya kenapa? Justru membicarakan bisnis lebih nyaman dengan suasana santai seperti ini.'' Kata Kevin.


Keira pun hanya pasrah saat dan menurut dengan perintah Kevin.


''Mana ada menemui klien sambil joging. Dasar aneh!" gerutunya dalam hati.


Setelah sampai di alun-alun, suasana pagi itu memang sangat ramai.


''Ayo kita joging dulu!'' Ajak Kevin. Kevin lalu mengajak Keira dan Marvel untuk berlari kecil mengelilingi taman. Keira dan Marvel pun berlari dengan malas bahkan tidak semangat sama sekali.


''Memang setiap hari minggu Papa selalu joging disini?''


''Iya Mah tapi aku tidak pernah ikut sih dan ini pertama kali ikut karena biasanya Papa pergi sendiri.''


''Terus untuk apa sekarang Papa mengajak kita?''


''Mana aku tahu, Mah.''


Dua putaran sudah Kevin mengajak keduanya joging.


''Pah, aku capek!" teriak Marvel dengan nafas terengah-engah.


''Aku juga menyerah Mas!" sahut Keira sambil mengangkat tangannya.


''Ini baru dua kali putaran, masa iya capek?''


''Mas duda, ini dua kali putaran segini luasnya. Kita mau joging apa pelatihan militer sih?'' gerutu Keira sambil berusaha mengatur nafasnya.


''Oke kalian boleh istirahat. Aku akan menemui Mr. Dave, dia menginap di hotel depan sana dan kita janji akan lari bersama sekaligus membicarakan bisnis.'' Jelas Kevin pada Keira.


''Ya suka-suka Mas- lah. Untuk apa menjelaskan sedetail itu. Aku mau mengajak Marvel sarapan bubur ayam di ujung sana.''


''Pergilah dan jangan jauh-jauh!" pesan Kevin. Keira lalu mengajak Marvel pergi untuk sarapan bubur ayam.


''Eh tapi untuk apa aku menjelaskan sedetail itu padanya? Seharusnya itu juga tidak perlu kan?'' gumam Kevin yang merasa heran dengan dirinya.


Saat sedang membeli bubur, Keira melihat Leon ada disana juga.


''Leon!" seru Keira.


''Kei, kamu disini juga?''


''Iya. Aku sama Marvel dan Mas Kevin, kita sedang joging tapi Mas Kevin bersama klien. Kamu sama siapa?''


''Boleh deh.'' Jawab Keira. ''Marvel, kita sarapan disini ya, mau kan?''


''Iya Mah.''


''Oh ya kenalkan ini namanya Om Leon. Leon, ini adalah Marvel putra dari Tuan Kevin.''


''Hai, Marvel. Senang bertemu denganmu.'' Kata Leon sambil mengulurkan tangannya tapi Marvel tidak mau menerima uluran tangan Leon.


''Marvel, ayo jabat tangan Om Leon,'' bujuk Keira. Namun Marvel tidak merespon dan hanya diam.


''Leon, maaf ya. Marvel memang seperti ini kalau bertemu dengan orang asing.''


''Tidak masalah, Kei. Namanya juga anak-anak.'' Kata Leon. Saat Leon hendak mengambil duduk disamping Keira, Marvel langsung menggeser kursi Leon dengan kursi miliknya.


''Aku mau duduk disini, Mah.''


''Oke, tidak apa-apa.'' Kata Keira yang merasa tidak enak dengan Leon karena sikap Marvel.


''Maaf ya, Le.''


''Tidak apa-apa, Kei. Namanya juga anak-anak, dia sepertinya sangat menyayangimu,'' kata Leon sambil mengusap kepala Marvel. Alhasil Marvel duduk di tengah-tengah mereka, Marvel tidak rela kalau Keira harus duduk berdampingan dengan Leon. Akhirnya pesanan bubur pun datang.


''Mah, bisa minta tolong pisahkan daun bawangnya? Aku tidak suka.''


''Baiklah, Marvel. Biar untuk Mama saja ya.'' Kata Keira sambil memindahkan daun bawang itu kedalam mangkoknya. Leon terus saja memperhatikan Keira sambil terus mengaduk buburnya. Ia kagum karena Keira yang masih muda sangat keibuan.


''Sudah, sekarang kamu bisa makan.''


''Makasih ya, Mah.'' Kata Marvel.


''Sama-sama, Marvel.''


''Leon, kenapa buburnya cuma di aduk?'' tanya Keira. Namun Leon hanya terdiam karena larut dalam lamunannya.


''Leon!" seru Keira sambil menjetikkan jarinya tepat di depan wajah Leon. Leon mendadak salah tingkah dan tersadar.


''Maaf, maaf. Tadi kamu ngomong apa?''


''Kamu lihat apa sih?'' tanya Keira sambil melihat sekelilingnya.


''Aku tidak melihat apa-apa, Kei. Aku hanya melihat kamu saja. Kamu cantik sekali pagi ini, di tambah sikap keibuan kamu yang semakin menambah kecantikan kamu.'' Puji Leon.


''Ini masih pagi, Le. Jadi stop menggombalnya. Lebih baik kita makan buburnya nanti keburu dingin.''


Leon hanya mengangguk lalu melanjutkan menyantap bubur ayam itu.


''Hmmm sepertinya dia menyukai Mama. Aku tidak akan membiarkan sipapun merebut Mama Keira dari ku dan dari Papa,'' kata Marvel dalam hati. Marvel lalu mempunyai ide jahil. Di hadapan mereka bertiga sudah tersaji teh hangat. Marvel lalu meraih gelas berisi teh hangat itu dan mencecapnya sedikit. Saat akan meletakkannya kembali, Marvel pura-pura menjatuhkannya dan menumpahi bubur sekaligus tangan Leon.


''Marvel, kamu hati-hati. Itu kena tangan dan bubur Om Leon tidak bisa di makan lagi.'' Kata Keira yang sangat terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Marvel.


''Sudah Kei, Marvel juga tidak sengaja.'' Keira lalu mengambil beberapa lembar tisu dan membantu Leon mengusap tangannya.


''Maaf ya Mah, aku tidak sengaja.''


''Iya tidak apa-apa. Mama tidak marah, hanya saja kamu harus lebih hati-hati ya.'' Kata Keira yang tetap berusaha lembut dengan Marvel. Leon semakin kagum dengan sikap Keira yang sabar dan bisa memberi pengertian pada Marvel tanpa marah-marah.


''Makasih ya, Kei. Sudah bersih juga,'' kata Leon.


''Tapi bubur kamu bagaimana?''


''Sudah tidak apa-apa. Tadi aku sudah cukup makan kok.''


''Marvel, minta maaf sama Om Leon ya.'' Bujuk Keira sambil mengusap kepala Marvel.


''Maaf Om, aku tidak sengaja,'' ucapnya dengan tetap memasang wajah jutek.


''Iya. Om maafkan kok.'' Kata Leon.


''Mah, kita susulin Papa yuk! Aku juga sudah kenyang. Selera makan ku sudah hilang, aku mau pulang saja.''


''Baiklah kalau begitu. Ya udah yuk!"


''Oh ya, Le. Aku duluan ya.''


''Iya Kei, kamu hati-hati ya.''


''Iya.''


''Beruntung sekali pria yang memiliki kamu, Kei. Kenapa aku tidak mengenalmu sejak dulu saja ya?'' gumam Leon sembari menatap Keira yang semakin jauh dari pandangan matanya.


Bersambung....