
Setelah selesai makan, Laras memaksa Krisna untuk mengajak rumahnya. Namun sebelum itu, Laras membeli makanan kesukaan Ibuna Krisna. Sesampainya di rumah Krisna, Krisna kemudian mengajak Laras masuk ke dalam rumahnya.
''Ibu! Ibu dimana?'' panggil Krisna sembari masuk ke rumah lebih dalam.
''Kemana Ibu kamu, Mas?''
''Mungkin di halaman belakang.''
''Rumah sebesar ini tidak ada pembantunya?''
''Ibu tidak mau aku carikan pembantu. Ya sudah sebaiknya kita ke belakang saja.''
''Ayo!" jawab Laras dengan penuh semangat. Ternyata Nyonya Dewi sedang sibuk bercocok tanam.
''Ibu!" seru Krisna.
''Nak, kamu sudah pulang?''ucap Nyonya Dewi dengan senyum tulusnya. Krisna dan Laras lalu mendekat ke arah Nyonya Dewi.
''Selamat siang, Tante. Saya Laras.'' Sapa Laras seraya mencium punggung tangan Nyonya Dewi.
''Oh jadi ini yang namanya nak Laras ya. Krisna sering sekali cerita tentang kamu.''
''Benarkah Tante? Padahal Kak Krisna selalu gugup saat aku mendekatinya.''
''Ya begitulah dia, Nak. Kamu adalah gadis pertama yang di bawa ke rumah, setelah bertahun-tahun menjomblo.''
''Berarti aku sangat beruntung. Iya kan Tante?''
''Pastinya. Kamu ternyata sangat cantik ya.''
''Sekarang kamu kan sudah bertemu dengan Ibuku, jadi sekarang aku antar kamu pulang.'' Sahut Krisna.
''Kan baru nyampe, Kak. Masa iya sudah di suruh pulang.''
''Biarkan Laras disini dulu, Kris. Laras kamu bantu Ibu masak ya? Bisa kan?''
''Hehehe cuma bisa masak air dan mie instan saja Tante. Oh ya aku panggil Tante Ibu juga ya, biar kita semakin akrab.''
''Boleh saja. Ya sudah kalau begitu kamu bantu Ibu masak ya.''
''Baiklah ayo Ibu.'' Kata Laras. Krisna tidak menyangka kalau Laras akan mudah akrab dan dekat dengan Ibunya. Nyonya Dewi pun tampak telaten mengajari Laras memasak. Sembari memasak, mereka pun terlibat obrolan.
''Oh ya kesibukan kamu apa?''
''Sebenarnya aku masih kuliah, Ibu. Tapi sudah semester akhir. Aku sedang menyelesaikan magangku di butik sembari mengerjakan skripsi. Setelah itu aku wisuda dan lulus.''
''Apa rencana kamu setelah lulus?''
''Membuka butik, Bu. Sekarang masih dalam tahap renovasi. Kebetulan aku kuliah mengambil fakultas fashion designer jadi sesuai bakat dan hobi saja.''
''Wah kamu hebat juga ya. Masih muda tapi pemikirannya sudah jauh melangkah ke depan.''
''Kalau tidak seperti itu Papa dan Mama akan selalu marah padaku, Bu. Karena yang mereka tahu, aku hobi belanja, hehehe. Oh ya Bu, ceritakan sedikit tengang Kak Krisna.''
''Kamu lucu ya ternyata. Mmmm kalau Krisna, tidak ada yang spesial. Dia hanyalah anak kampung dan tetap sama.''
''Maaf sebelumnya, Bu. Apa Ibu tahu masalah yang menyebabkan Krisna seperti itu?''
''Tentu saja tahu, Nak. Ya, dia memang anak yang pintar tapi tidak pandai bergaul. Puncak-puncaknya saat dia beranjak remaja, lebih tepatnya SMA. Dia sering sekali di rundung bahkan di pandang sebelah mata apalagi dengan seorang gadis. Ya sejak saat itu Krisna mengalami trauma saat berdekatan dengan wanita. Bahkan dia bilang sampai tidak mau menikah.''
''Apa? Kak Krisna sampai tidak mau menikah, Bu?''
''Iya. Dia bahkan benci sekali berdekatan dengan perempuan. Namun perlahan sudut pandangnya berubah, dia mau menikah asalkan wanita itu seperti Ibu. Begitulah Laras.''
''Iya, Kak Krisna memang pernah menceritakan hal itu pada ku.''
''Aku bertemu dengan Kak Krisna di panti jompo, Bu. Kebetulan Bosnya Kak Krisna adalah suami sahabat aku jadi ya disanalah kami bertemu. Cuma memang aku Bu, yang lebih agresif. Habisnya gemes lihat Kak Krisna yang suka grogi dan tiba-tiba keluar keringat dingin saat di dekati.'' Ucap Laras seraya tertawa kecil. Nyonya Dewi pun ikut tertawa.
''Ya Ibu berharap kalian juga bisa segera menikah. Ibu ingin segera menimang cucu.''
''Aku juga ingin seperti itu Bu tapi Kak Krisna belmu memberi kepastian.''
''Masalah itu, biar Ibu yang bicara pada Krisna.''
''Wah, makasih ya Bu. Senang sekali rasanya bisa langsung mendapat restu dari Ibu.'' Kata Laras seraya memeluk Nyonya Dewi. Dari kejauhan, Krisna melihat itu semua. Krisna tidak menyangka bahwa Laras akan dengan mudah mengambil hati Ibunya. Dan itu menjadi poin plus untuk Krisna. Karena Krisna memang mencari sosok istri yang juga mencintai Ibunya dengan tulus.
-
''Kevin, Keira, kita besok mau pergi liburan. Titip Mama ya,'' ucap Miko saat Miko dan Gina menjenguk Keira di rumah sakit.
''Memangnya kalian mau berlibur kemana?''
''Kita mau second honeymoon. Siapa tahu setelah honeymoon Gina bisa segera isi.''
''Ya sudah Kak Miko dan Mbak Gina pergi saja. Kalian memang butuh liburan. Biar selama kalian pergi berlibur, Tante Rosa tinggal bersama kita.'' Sahut Keira.
''Udahlah Mama biar di rumah saja. Aku khawatir kalau Mama tinggal bersama kalian, justru Mama akan membuat keributan. Terutama untuk kamu, Keira. Aku sendiri tidak tahu bagaimana jalan pikiran Mama. Dengan Gina seperti itu, dengan kamu juga seperti itu. Aku harap kamu tidak memasukkan hati semua omongan Mama ya, Kei.''
''Kak Miko tenang saja. Aku tidak apa-apa kok. Yang jelas kalian nikmati saja liburan kalian dan semoga membawa kabar baik ya setelah pulang nanti.''
''Amin.'' Jawab Gina.
''Lagi pula, besok Keira juga sudah boleh pulang. Tinggal merawat luka di punggungnya saja. Kalian nikmatilah waktu berdua kalian.'' Sahut Kevin.
''Thanks ya Kev. Kita juga berharap semoga Keira segera di berikan baby baru ya. Kamu harus tetap semangat dan jangan sedih lagi ya Kei.''
''Iya Kak Miko, terima kasih ya.''
-
Keesokan harinya, Keira akhirnya sudah tiba di rumah. Marvel, Bi Nani dan Rima menyambut Keira dengan antusias. Mereka senang sekali akhirnya Keira bisa kembali pulang kerumah. Namun hanya sosok Tante Rosa yang menatap kepulangan Keira dengan sini.
''Saya senang sekali akhirnya Nyonya bisa pulang ke rumah.'' Kata Bi Nani.
''Rumah sepi tidak ada Nyonya. Alhamdulillah Nyonya masih di berikan kesehatan dan keselamatan.'' Kata Rima.
''Terima kasih ya Bi Nani-Mbak Rima, saya juga senang bisa kembali lagi kerumah.''
''Mama, i miss you. Rumah memang sepi tanpa Mama.'' Ucap Marvel sambil memeluk Mamanya yang duduk di kursi roda.
''I miss you too sayang. Mama juga sangat merindukan kamu. Senang sekali akhirnya Mama bisa pulang ke rumah.''
''Oh ya Mah-Pah, aku ingi membuat acara syukuran boleh? Untuk menyambut kepulangan Mama dengan mengundang anak yatim.''
''Tentu saja boleh. Itu ide yang bagus, Nak.'' Sahut Kevin.
''Untuk apa Marvel? Buang-buang uang saja. Lagi pula dia sudah di rumah kan sudah cukup. Tidak perlu menyambutnya seperti itu.'' Sahut Tante Rosa.
''Oma Rosa, menyantuni anak yatim piatu tidak membuang uang. Justru doa mereka itu bisa dengan mudah di ijabah oleh Allah, itu kata guru agama di sekolah ku. Jadi aku ingin mereka mendoakan Mama ku, supaya Mama selalu sehat, selalu di lindungi dan yang pasti Allah segera memberi ganti adik bayi baru untuk Mama.''
''Wah, anak Mama semakin hebat. Mama bangga sekali dengan kamu sayang.''
''Papa juga semakin bangga dengan kamu, Marvel. Anak Papa memang hebat.''
Nyonya Rosa pun hanya bisa terdiam karena Marvel mematahkan ucapannya.
Bersambung.... Maaf ya baru up lagi, maklum author juga punya pekerjaan yang lain yg tidak bisa di tinggalkan. Sekali lagi maaf ya sudah membuat kalian lama menunggu, semoga bisa crazy up lagi🙏❤️