Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 52 Membujuk Marvel


Sesampainya di rumah, Keira segera menuju halaman belakang. Ia melihat Marvel sedang bermain di kandang ayam bersama ayahnya. Marvel tampak bahagia dengan hal yang baru yang selama ini tidak pernah ia dapatkan.


''Marvel,'' panggil Keira.


''Mama!" seru Marvel. Marvel segera berlari dan menghambur dalam pelukan Keira.


''Mama kenapa lama sekali? darimana saja,'' tanya Marvel.


''Namanya juga sekolah, ya pasti lama dong.''


''Oh ya mah, hari ini aku memberi makan ayam bersama kakek. Aku senang sekali. Dan aku di ajak kakek pergi ke sungai untuk memancing ikan. Aku ingin makan malam dengan ikan hasil pancingan tadi, boleh kan?''


''Tentu saja boleh, apa kamu menyusahkan kakek?''


''Tidak mah! aku kan sudah berjanji.''


''Anak yang pintar,'' ucap Keira sambil mengusap kepala Marvel.


''Dia anak yang sangat baik, Kei. Ayah menyukainya dan tidak sabar ingin punya cucu.'' Kata Pak Ammar.


''Kakek kan sudah punya cucu dan itu aku,'' kata Marvel sambil menunjuk dirinya sendiri.


''Hoho, benarkah? jadi kamu mau jadi cucu kakek?''


''Boleh Kek, sampai kapan pun aku adalah cucu kakek. Aku sendiri sudah tidak punya kakek dan nenek jadi sekarang aku sangat senang karena mempunyai kakek.''


''Kalau begitu kemarilah dan peluk kakek,'' kata Pak Ammar sambil mengulurkan tangannya. Marvel tersenyum lalu berlari kepelukan Pak Ammar.


''Ayah, makasih ya sudah menjaganya untukku.''


''Iya, Nak. Ayah juga mulai menyayangi Marvel. Oh ya ikannya ayah letakkan di kulkas ya.''


''Iya. Marvel, ayo sekarang mandi! mama akan menyiapkan makan malam untuk kamu.''


''Oke mah.'' Kata Marvel.


''Kakek, aku mandi dulu ya.'' Sambungnya.


''Iya, cepat mandi sana.''


-


''Mmmm ikannya enak, mah. Apalagi ini buatan mama,'' puji Marvel sambil mengacungkan jempolnya pada Keira.


''Ikannya enak karena kamu dan kakek yang memancingnya jadi ikannya fresh dan segar.'' Kata Keira.


''Oh ya Marvel, Om ada sesuatu untuk kamu.'' Kata Kenny.


''Apa itu Om?''


''Tapi habiskan dulu makananmu ya?''


''Iya Om. Aku pasti akan menghabiskannya.''


Setelah selesai makan malam, Kenny sudah menyiapkan sesuatu untuk Marvel. Kenny membelikan perlengkapan menggambar karena sejak tinggal bersama, Kenny sering sekali melihat Marvel menghabiskan waktunya untuk menggambar. Ia kemudian masuk ke dalam kamar Keira. Disana ia mendapati Marvel yang duduk di meja belajar milik Keira. Marvel tengah sibuk menggambar sesuatu namun suara Kenny mengalihkan perhatiannya.


''Marvel, ini sesuatu yang Om janjikan sama kamu.''


''Wah, makasih ya Om. Aku memang suka banget menggambar.'' Ucap Marvel seraya memeluk Kenny.


''Iya sama-sama. Oh ya mana mama Keira?''


''Kamu gambar apa?'' tanya Kenny.


''Aku sedang menggambar diriku bersama Mama Keira.'' Kata Marvel sambil menunjukkan gambarnya.


''Kok cuma Mama Keira saja, papa kamu mana?''


''Mmmm papa tidak sayang padaku.''


''Tidak mungkin, Marvel. Tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya.''


''Tapi papa ku seperti itu. Dia tidak pernah mau merayakan ulang tahun ku karena aku di anggap sebagai penyebab meninggalnya mama. Dan mama meninggal di saat hari ulang tahun ku.'' Cerita Marvel dengan polosnya.


''Marvel, mungkin kamu hanya salah pahamm dan salah mendengar saja. Apalagi terkadang ucapan orang dewasa sangat sulit di pahami oleh anak-anak. Sebaiknya kamu duduk berdua bersama papa dan bicara baik-baik antara pria dengan pria. Karena pria dewasa dan pria yang baik akan menyelesaikan masalah, bukanya justru kabur meninggalkan masalah. Papa kamu mungkin sengaja menyimpan semua lukanya demi menjaga perasaan kamu, meskipun apa yang di lakukan itu kurang baik. Jadi saran Om, kamu lebih baik pulang dan menyelesaikan masalah dengan papa.''


''Om mengusirku? apa Om tidak suka aku ada disini?''


''Tidak Marvel. Om bahkan sangat sayang padamu, Om seperti merasa punya anak. Tadi saat kerja ingin sekali rasanya cepat-cepar pulang untuk menemui kamu. Maksud Om, berikan kabar pada papa. Dia juga pasti sangat khawatir. Ingat pesan Om tadi, pria yang baik akan menyelesaikan masalah, bukan justru kabur untuk menghindari masalah. Kamu mengerti kan?''


''Iya Om tapi aku butuh waktu. Aku ingin disini dulu. Karena setiap hari aku hanya menghabiskan waktuku di kamar saja. Papa hampir tidak punya waktu untukku. Nanti kalau aku sudah puas disini, aku pasti akan pulang.''


''Baiklah kalau begitu, Om harap semoga semuanya lekas membaik. Kalau begitu Om keluar dan kamu istirahat ya.''


''Terima kasih ya, Om.''


''Iya sama-sama.'' Kenny kemudian pergi meninggalkan kamar Keira.


Beberapa saat kemudian, Keira masuk ke kamarnya.


''Marvel, kamu belum tidur?''


''Belum mah. Masih sibuk menggambar. Lihat deh mah, aku menggambar mama Keira dengan ku.''


''Terus papa Kevin mana?''


''Aku hanya ingin mama saja!"


''Marvel, dengarkan mama. Papa kamu sedang sakit. Sebenarnya mama seharian ini menjaga papa kamu.''


''Apa? papa sakit? sakit apa pah?''


''Papa kamu demam tinggi, terus maagnya kambuh sampai muntah-muntah tadi. Dia terus mengigau memanggil nama kamu dan dia sangat merindukan kamu. Apa kamu tidak ingin menjenguknya? kasihan papa, Marvel. Sekarang yang papa kamu miliki hanyalah kamu, begitu juga sebaliknya. Kalau kamu bersikap seperti ini, sama saja kamu keras kepala seperti papa.''


''Tapi papa benci padaku mah?''


''Siapa bilang papa benci sama kamu? kamu kan anak baik jadi kamu harus menjadi pemaaf. Besok kita jenguk papa ya? jangan sampai kamu juga kehilangan papa, Marvel. Kalian harus saling menjaga satu sama lain.'' Kata Keira dengan sangat lembut.


''Baiklah mah. Besok aku akan pulang untuk papa. Lalu bagaimana keadaan papa?''


''Tadi saat mama pulang, papa sudah sadar. Makanya besok kamu jenguk papa ya.''


''Iya mah. Aku janji akan pulang, asalkan mama bantu aku merawat papa ya. Kasihan dia mah karena tidak ada yang merawatnya dan aku tidak mau kehilangan papa.''


''Mmmm baiklah, mama akan bantu merawat papa.'' Kata Keira, keduanya lalu saling berpelukan.


''Aku bisa memanfaatkan situasi ini, supaya Mama Keira benar-benar dekat dengan Papa,'' gumam Marvel dalam hati.


''Aduh bagaimana ya, aku sudah janji akan ke panti jompo bersama Leon. Tapi ya sudahlah, kasihan Marvel juga. Apalagi Dokter Alan berpesan kalau penyakit maag itu berbahaya. Bagaimana kalau dia kena kanker lambung? pasti dia meninggal, lalu Marvel? kasihan dia masih kecil, masa iya yatim piatu. Aku harus punya kesabaran ekstra setiap berhadapan dengannya,'' batin Keira dengan segala pertimbangannya


Bersambung.....