
Begitu sampai di halaman belakang villa milik Leon, senyum Keira yang sedari tadi mengembang, lenyap begitu saja saat melihat ada Ferdi dan Lily disana. Kevin melihat perubahan senyum pada istrinya itu. Ferdi tampak sibuk membakar ikan, sementara Lily membantu mengoleskan bumbu pada ikan.
“Lily-Ferdi, kita kedatangan tamu.” Mendengar suara Leon, Lily dan Ferdi dengan kompak menoleh kebelakang. Ferdi sangat terkejut melihat ada Keira disana begitu pula dengan Lily.
“Keira,” gumam Ferdi.
“Lily, ini kesempatan yang bagus untukmu meminta maaf pada Tuan Kevin dan juga istrinya, Keira.” Kata Leon. Leon sendiri belum mengetahui betul kisah masa lalu antara Ferdi dan Keira. Yang Leon tahu, Ferdi hanya cinta monyet Keira.
“Kakak mengenal mereka?” ucap Lily.
“Iya, kami sebenarnya teman baik. Sapalah mereka dengan sopan karena mereka tamu kita.”
Keira terdiam, genggaman tangannya pada Kevin semakin erat. Marvel dan Kevin saling melempar pandangan. Marvel ingat betul dulu, bagaimana ia menyaksikan pertengkaran Ferdi dan Keira. Lily kemudian merangkul lengan suaminya dan mendekat kearah Kevin dan Keira. Tampak perut Lily membuncit karena Lily sendiri sedang mengandung.
“Tuan Kevin, Keira, dengan segala kerendahan hati, aku meminta maaf pada kalian. Aku melakukan itu karena aku terlalu mencintai suamiku.”
“Kalian sudah menikah?” tanya Keira dengan terbata.
“Iya. Maaf kalau kami tidak mengundang kalian karena kami menikah di luar negeri. Dan sekarang aku sedang mengandung anak dari Ferdi.” Kata Lily sambil mengusap perutnya.
“Selamat untuk pernikahan kalian dan selamat juga untuk kehamilannya.” Kata Keira dengan senyumnya yang begitu ia paksa.
“Dan kamu juga sudah menikah, Kei?” tanya Ferdi dengan terbata.
“Iya, aku sudah menikahinya. Menikahi wanita yang begitu luar biasa ini. Dan sekarang istriku sedang mengandung buah cinta kami. Meskipun awal hubungan kami sangat konyol tapi akhirnya cinta menyatukan kami.” Jawab Kevin penuh dengan penekanan.
“Dan aku juga bahagia karena Mama Keira menjadi Mamaku. Mama yang hebat dan yang amat sangat aku cintai,” sahut Marvel dengan senyum lebarnya.
“Dan aku sangat bahagia memiliki dua pria yang ada disampingku ini.” Sambung Keira sambil bergantian mentap kearah Kevin dan Marvel. Mendengar apa yang Keira ucapkan, membuat Ferdi merasa bersalah karena telah menyia-nyiakan Keira. Namun yang paling merasa sesak disini adalah Leon. Sampai detik ini, yang mengetahui perasaan Leon pada Keira hanyalah Nadia.
“Kalian kompak sekali, benar-benar keluarga yang bahagia. Sekali lagi maafkan atas semua kebodohan yang aku lakukan dulu, Tuan Kevin. Terutama padamu Keira, aku memfitnah dan memaki dirimu sesuka hatiku. Aku malu jika mengingat apa yang terjadi dulu.”
“Cinta boleh tapi jangan bodoh Nona. Stok pria di dunia ini kan masih banyak.” Kevin menyindir halus Lily dan Ferdi.
Lily tersenyum paksa. “Iya anda benar. Aku memang nenjadi bodoh dan buta karena cinta.”
“Mmmm baiklah, sebaiknya kita makan saja dulu. Kei, bukankah kamu sedang ingin makan ikan bakar?” sahut Leon yang mencoba mengalihkan suasana yang tampak memanas itu. Keira hanya mengangguk dengan senyumnya. Leon kemudian mempersilahkan Kevin, Keira dan Marvel untuk duduk di kursi makan yang telah disiapkan.
“Aku akan melanjutkan membakar kalau begitu,” Kata Ferdi.
“Kalian duduk saja, aku akan membantu mereka.” Kata Leon.
“Kami akan menjamu kalian dan anggap saja ini untuk menebus kesalahan ku,” sahut Lily. Kevin dan Keira hanya mengangguk dengan senyumnya.
“Sayang, are you okay?” tanya Kevin sambil berbisik.
“Iya Mas, aku baik-baik saja. Setelah makan kita pulang karena aku hanya ingin ikan bakar itu.”
“Yakin hanya karena itu?”
“Iya Mas.”
Setelah semuanya selesai dan makanan tersaji di atas meja, Leon mempersilahkan semuanya untuk makan.
“Ayo silahkan! Keira, Marvel dan Tuan Kevin, silahkan. Tidak usah sungkan-sungkan.”
“Terima kasih Leon.” Ucap Keira.
“Sama-sama Kei. Sepertinya disaat kamu sedang mengidam, aku selalu menjadi penolongmu.”
Kevin menatap kesal mendengar apa yang Leon ucapkan.
“Iya, memang kebetulan sekali.” Jawab Keira.
“Mah, boleh minta tolong pisahkan duri dari dagingnya?” sahut Marvel.
“Tentu saja sayang.” Jawab Keira. Keira dengan telaten memisahkan duri ikan dari dagingnya untuk Marvel. Sesekali Ferdi mencuri pandang kearah Keira. Kevin menahan kesal dan amarahnya ketika ada dua pria yang memperhatikan istrinya.
“Sepertinya aku salah membawa Keira kesini. Kalau bukan karena dia mengidam dan hamil, aku akan mengajaknya menunggu rumah makan itu buka.” Gumam Kevin dalam hati sambil menahan rasa kesal di hatinya.
“Sayang, aku bantu pisahin duri dari dagingnya ya? Supaya kamu makannya nyaman dan nggak ribet.”
“Iya Mas, terima kasih ya.”
“Bagaimana Marvel? Enak?” tanya Leon.
“Mmmmm ini enak sekali, Om. Om Leon ya yang membuat bumbunya ?”
“Yang membuat bumbunya Om Ferdi.”
“Oh, Om Ferdi, enak lho Om.”
“Terima kasih Marvel. Sudah lama sekali kita tidak bertemu ya?”
“Iya Om, sudah lama sekali.”
“Kamu tahu ikan bakar ini adalah makanan favorit teman Om dulu. Dulu saat pulang sekolah, Om dan teman Om suka pergi ke sungai untuk memancing. Terus hasil pancingannya kita masak tapi tetap saja Om yang memasaknya. Kata teman Om, ikan bakar buatan Om itu sangat enak dan paling enak di dunia.” Cerita Ferdi sambil mencuri pandang kearah Keira. Keira hanya terdiam dan pura-pura tidak mendengar apa yang Ferdi katakana. Keira sangat sadar, bahwa teman itu adalah dirinya.
“Iya Om, ini memang enak sekali. Berarti Om adalah chef yang hebat.” Puji Marvel.
“Marvel, fokus pada makananmu. Bicaralah setelah makannmu habis,” tegur Kevin.
“Iya Pah, maaf.”
“Tidak apa-apa Tuan. Marvel sangat tampan, lucu dan menggemaskan,” sahut Lily. Ternyata Leon juga sedari tadi memperhatikan Ferdi yang mencuri pandang kearah Keira.
“Sepertinya hubungan antara Keira dan Ferdi di masa lalu, lebih dari sekedar cinta monyet,” gumam Leon dalam hati.
“Oh ya Kei, kalau kamu memang masih mau, kamu bisa membawanya pulang.”
“Tidak usah Leon, ini saja sudah cukup. Yang penting ngidamnya sudah terpenuhi.”
“Oh ya memang berapa usia kandungan mu Kei?”
“Jalan 9 minggu, Lily. Kamu sendiri?”
“Lima bulan, Kei. Oh ya sudah sejak kapan kalian disini?”
“Sudah sejak kemarin tapi nanti kita akan kembali karena besok Marvel harus sekolah.”
“Maaf ya karena ulahku, Marvel sampai pindah sekolah dan karena ulahku, Papa kehilangan kerja sama dengan perusahaan Tuan Kevin.”
“Tidak perlu meminta maaf karena lebih baik memilih jalan lain daripada memaksa melewati jalan yang berduri.” Ucap Kevin dengan sarkas dan penuh penekanan. Lily pun terdiam dengan kalimat pedas yang Kevin lontarkan. Bagi Kevin tidak mudah melupakan apa sikap Lily dan Ferdi yang dengan seenaknya menyakiti perasaan Keira. Keira menepuk pelan paha Kevin, berusaha menenangkan amarah Kevin yang masih terpendam.
“Lily memang keterlaluan dulu, kalau bukan adikku mungkin aku akan melakukan seperti yang Tuan Kevin lakukan,” gumam Leon dalam hati.
“Sekali lagi maafkan aku, Kei. Aku bahagia melihatmu bahagia tapi tetap saja rasa bersalah ini terus menghantuiku dan dalam lubuk hatiku yang terdalam, masih ada ruang untukmu.” Kata Ferdi dalam hati.
Suasana makan hari itu terasa sangat canggung. Kevin bisa merasakan ketidak nyamanan yang di rasakan oleh Keira. Kevin sendiri sudah merasa gerah berada satu meja dengan mereka. Setelah selesai, Kevin lalu berpamitan.
“Terima kasih untuk ikan bakarnya dan maaf merepotkan.” Kata Kevin pada Leon.
“Sama-sama Tuan Kevin. Aku sangat senang bisa menjamu kalian hari ini. Aku harap hubungan kita semakin membaik setelah ini, terutama hubungan dalam pekerjaan.” Kata Leon dengan penuh.
Kevin tersenyum miring mendengar apa yang Leon katakana. “Jangan berharap banyak Leon.” Kata Kevin dalam hati.
“Leon, terima kasih ya sudah mengijinkan kami untuk makan bersama kalian. Terima kasih juga untuk Lily dan Ferdi yang sudah membuat ikan bakar selezat ini.”
“Sama-sama Keira. Aku mengerti sekali bagaimana ngidamnya ibu hamil. Aku saja jauh-jauh dari LA hanya karena ngidam ingin menginap disini.” Kata Lily dengan senyum lebarnya.
“Terima kasih Om Leon, Om Ferdi dan Tante Lily.” Sahut Marvel.
“Sama-sama Marvel.”
“Baiklah kalau begitu kami permisi. Sekali lagi terima kasih.” Ucap Kevin seraya mengajak istri dan anaknya berlalu.
“Hati-hati ya kalian.” Seru Leon.
“Fer, jangan kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu mencuri pandang dengan Keira.” Bisik Lily tepat di telinga Ferdi. Ferdi hanya bisa terdiam sambil menelan ludahnya, ia sama sekali tidak bisa membantah Lily karena masih ada Leon juga disana.
''Fer, kamu yakin hubunganmu dengan Keira hanya sekedar cinta monyet?'' selidik Leon.
''I-iya Kak. Lagi pula itu masa lalu, aku sudah bahagia bersama Lily.'' Ucap Ferdi tergagap. Leon tersenyum seraya berlalu sambil menepuk pundak Ferdi.
Bersambung....