
Mata Anrez membulat sempurna, melihat meja makan penuh dengan aneka makanan.
''Wah, makanannya banyak sekali!” seru Anrez.
''Kamu boleh makan semua yang ada disini, Anrez.'' Kata Keira.
''Iya Rez, kamu boleh makan sampai kamu kenyang.'' Timpal Marvel.
''Anrez, kalau kamu mau boleh di bungkus juga,'' sahut Kevin.
''Terima kasih Tante Keira- Om Kevin, kalian baik sekali.''
''Sini Tante bantu ambilkan nasinya ya.''
''Iya Tante, terima kasih.'' Kata Anrez dengan mata berbinar. Anrez memang jarang sekali memakan makanan mewah seperti yang tersaji diata meja makan Marvel. Baru juga merasakan kehidupan yang layak bersama Johan tapi kehidupan mereka di uji kembali.
''Kamu mau apa Anrez?'' tanya Keira.
''Sama ayam gorengnya boleh, Tante?''
''Tentu saja boleh. Ada sup daging mau?''
''Iya mau Tante. Hampir setiap hari aku makan tahu tempe sama kecap dan disini bingung mau makan apa,'' kata Anrez dengan polosnya.
''Kamu boleh tambah lho, jangan malu-malu.'' Kata Keira.
''Terima kasih ya, Tante.''
''Sama-sama Anrez.'' Jawab Keira. Keira kemudian bergantian melayani Kevin dan Marvel. Mereka berempat makan siang bersama seperti sebuah keluarga.
''Marvel, kamu beruntung sekali ya punya Papa dan Mama yang sangat baik. Yang sangat sayang denganmu.''
''Iya Anrez. Akupun bahagia sekali. Kamu juga beruntung punya Mama yang hebat dan juga calon Papa seperti Om Johan.'' Ucap Marvel.
''Iya. Tapi Papa ku sendiri tidak sebaik Papa kamu. Papa ku tega meninggalkan aku dan Mama.'' Kata Anrez dengan tatapan mata sedih.
''Anrez sayang, semua Papa di dunia ini baik kok. Hanya saja mungkin Papa Anrez sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja, namanya juga orang dewasa.''
''Tapi Papa dulu sering memukuli Mama, Tante. Kalau Papa Marvel kan tidak pernah seperti itu.''
Keira terdiam, ia bingung bagaimana harus menjawab ucapan Anrez.
''Pasti saat itu Papa sedang lupa dan hilang kendali. Sebagai anak yang baik, kamu harus mendoakan Papa supaya Papa bisa menjadi baik lagi. Seburuk apapun orang tua kita, mereka tetaplah orang tua kita. Jangan sampai kita membenci mereka. Berikan mereka kasih sayang yang tulus, supaya hatinya kembali lembut. Karena hanya cinta dan kasih sayang yang bisa melembutkan kerasnya hati seseorang. Percayalah Anrez, kejahatan akan kalah dengan kebaikan.''
''Anrez, sekarang kamu harus menjadi anak yang baik. Hal yang baik harus di tiru dan hal yang buruk, harus kamu jauhi.'' Sambung Kevin.
''Iya Tante Keira-Om Kevin.''
''Sekarang habiskan makananmu dan makanlah yang banyak,'' kata Kevin.
''Iya Om.''
-
Setelah selesai makan siang, Marvel mengajak Anrez untuk berenang di kolam renang. Kevin dan Keira duduk santai di dekat kolam renang, mengawasi Marvel dan Anrez yang hendak berenang. Dua gelas jus jeruk segar, menemani mereka.
''Marvel, aku tidak bisa berenang.'' Kata Anrez.
''Pakai pelampung ini, Anrez. Aku akan mengajarimu.'' Kata Marvel.
''Wah, benarkah?''
''Iya. Aku akan mengajarimu.''
''Aku ingin sekali menjadi orang sukses dan punya rumah yang ada kolam renangnya seperti rumahmu.''
''Itu tandanya kamu harus semakin rajin belajar dan kurangi menyonteknya,'' kata Marvel dengan tawa kecilnya.
''Hehehe iya-iya.''
Melihat Marvel yang mengajari Anrez berenang, membuat Keira menjadi bangga.
''Mas, lihatlah putramu itu. Jiwa kepimpinannya sudah terlihat. Aku yakin dia nanti akan menjadi penerusmu yang hebat.''
''Semua ini berkat kamu, sayang. Kamu yang membuatnya lebih terbuka dan berani menghadapi dunia. Aku sadar kalau selama ini cara mendidikku salah.''
''Iya sayang, kamu benar. Oh ya ini Johan dan Tessa mau jam berapa menjemput Anrez?''
''Sepertinya agak sore, Mas. Mereka kan langsung ke cafe untuk beres-beres.''
''Sepertinya hari ini kita menjadi pengasuh. Digaji tidak tapi malah ngasih makan.'' Celetuk Kevin. Keira lalu memukul bahu suaminya.
''Aduh, sakit sayang!" Kevin merintih sambil mengusap bahunya.
''Lagian kamu ini ngomong apa. Kasihan Anrez, Mas. Berbuat baik sama orang tidak ada ruginya. Kita tidak tahu nanti kalau suatu saat, kita butuh bantuan Johan untuk menjaga Marvel. Jangan begitu, Mas.'' Kesal Keira.
''Hehehe aku bercanda sayang. Melihatmu marah, aku menjadi semakin gemas.'' Ucap Kevin seraya menjewer pipi istrinya.
''Nggak lucu tapi,'' ketus Keira.
''Aku semakin mencintaimu, Kei. Kamu memang luar biasa.'' Puji Kevin dengan tatapan penuh cinta.
''Masa baru tahu sih, Mas? Kamu menyesal kan pernah berprasangka buruk padaku.''
''Mmmmm iya sih, aku nyesel. Tapi kalau tidak begitu, kita tidak akan bersama sekarang.''
-
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, Johan dan Tessa sudah sampai di rumah Keira. Mereka sedang mengobrol santai di ruang tamu.
''Tuan Kevin, Keira, maaf ya aku merepotkan kalian.'' Kata Johan.
''Iya maafkan kami karena selalu merepotkan kalian. Kami juga mengucapkan terima kasih karena telah menjaga Anrez seharian ini. Kami tidak tahu dan bingung ingin menitipkan Anrez pada siapa. Karena disini kami memang tidak punya siapa-siapa.''
''Mbak Tessa, sudahlah jangan berlebihan. Kita kan teman, sudah seharusnya saling bantu. Siapa tahu nanti kami yang membutuhkan bantuan kalian. Marvel juga sangat senang karena ada Anrez disini.'' Ucap Keira.
''Mah, Tante Keira dan Om Kevin baik sekali. Tadi Anrez dimasakin banyak sekali. Anrez juga berenang di kolam renang sama Marvel.'' Celoteh Anrez dengan polosnya.
''Apa kamu senang?'' tanya Tessa.
''Iya Mah, aku senang sekali disini.'' Kata Anrez dengan rona wajah bahagianya. Tessa hanya tersenyum sambil mengelus kepala putranya itu.
''Oh ya Jo, segera siapkan cv lamaran pekerjaanmu.'' Sahut Kevin.
''Cv pekerjaan, untuk apa Tuan?'' tanya Johan tergagap.
''Untuk bekerja lah. Aku akan mencarikan posisi yang pas untukmu.''
''Tu-tuan serius?'' Johan seolah tidak percaya.
''Sejak kapan aku bercanda dengan hal seperti ini. Aku juga akan menawarkan kredit rumah untukmu. Supaya kamu tidak perlu mengontrak lagi. Hanya kamu calon karyawan baru yang mendapat tawaran kredit rumah dengan potongan harga dan bunga yang ringan.''
Mendengar apa yang Kevin ucapkan, mata Johan berkaca-kaca. Antara bahagia tapi juga tidak percaya.
''Tuan, anda baik sekali. Ya Allah, alhamdulillah. Saya juga bingung setelah ini bagaimana tapi Tuan begitu murah hati membantu saya.''
''Johan, membangun sebuah bisnis itu tidaklah mudah. Apalagi untukmu yang baru selesai kuliah. Diperlukan modal yang tidak sedikit dan juga mental yang kuat. Setidaknya kamu harus memiliki pekerjaan tetap dulu dan jadikan bisnis itu sebagai pekerjaan sampinganmu. Aku akui keberanianmu dan keputusanmu untuk terjun langsung ke dunia bisnis tapi kamu juga harus punya pondasi yang kuat untuk mendirikan semua itu. Mental, ilmu dan materi itu sangat penting. Belum lagi menghadapi para pesaing, kecurangan bahkan kemungkinan buruk persaingan yang tidak sehat itu pasti ada. Karena aku juga merasakannya, aku bahkan pernah rugi lebih dari yang kamu rasakan saat ini. Tapi dari hal itulah aku terus belajar dan tidak menyerah. Mental pebisnis itu harus siap untung dan juga rugi. Jangan pikirkan untung atau bahkan ekspetesi yang tinggi. Tapi pikirkanlah inovasi dan pemasaran yang tepat untuk produkmu. Dan hati-hatilah dalam memilih relasi bisnis. Dia bisa membantu tapi juga bisa mendadak menjatuhkanmu. Buatlah pondasi yang kokoh dulu sebelum memulai sebuah usaha, Jo. Karena dunia bisnis tidak seindah yang dibayangkan. Kamu harus kuat dan jangan lemah.'' Jelas Kevin panjang lebar. Selama Kevin berbicara, Keira menatap suaminya penuh cinta. Kevin terlihat bijaksana sebagai seorang pemimpin.
''Iya Tuan, anda benar sekali. Saya hanya ambisius saja ingin membuat usaha sendiri tapi saya tidak memikirkan apa saja yang harus saya siapkan untuk mewujudkan mimpi saya selain materi. Terima kasih sekali Tuan.'' Ucap Johan dengan air mata haru yang keluar dari pelupuk matanya.
''Dan satu lagi, aku juga akan membeli perabot cafemu yang ingin kamu jual.'' Ucap Kevin.
''Alhamdulillah, akhirnya ada yang mau membelinya. Terima kasih Tuan, terima kasih sekali.''
''Tentu saja aku melakukan ini semua karena istriku yang memaksaku.'' Sambung Kevin.
''Kei, terima kasih ya. Kami berhutang budi pada kalian. Aku janji akan bekerja dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati.''
''Iya Jo, sama-sama.''
''Besok aku tunggu jam 7 di kantor, jangan sampai terlambat. Kalau terlambat satu menit saja, aku akan membatalkan semuanya.'' Ucap Kevin dengan tegas. Keira melirik tajam kearah suaminya, memberi kode untuk tidak terlalu galak. Namun kali ini Kevin tidak menghiraukan Keira. Karena Kevun ingin melihat semangat dan keseriusan Johan.
''Siap Tuan! Saya pastikan, saya tidak akan terlambat.'' Kata Johan dengan penuh semangat. Tessa pun ikut terharu dan bahagia dengan kebaikan yang Kevin dan Keira berikan kepada mereka.
''Percayalah Jo, kalau kemudahan akan datang bersama kesulitan. Jangan pesimis dan tetap semangat.'' Ucap Keira.
''Iya Kei. Sekali lagi terima kasih yang sebanyak-banyaknya. Aku tidak akan mengecewakan kalian terutama Tuan Kevin.''
Bersambung....