Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 240 Musibah


Keira lalu mengusap air mata yang membasahi wajah tampan suaminya itu.


“Ya ampun, suamiku unyu banget pakai nangis segala.” Goda Keira yang berusaha mencairkan suasna hati suaminya.


“Kamu ini bagaimana sih? Aku sedang terharu tapi kamu malah menggodaku.”


“Aku ingin kamu selalu tersenyum, Mas. Mas, sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal pikiranku.”


“Apa sayang, katakanlah.” Kata Kevin sambil mengajak Keira duduk di sofa. Keira lalu menunjukkan foto yang telah ia ambil saat di restoran tadi.


“Lihat ini, Mas.”


“Siapa mereka, sayang?”


“Ini adalah Papanya, Anrez. Lebih tepatnya mantan suami Bu Tessa.”


“Iya, terus apa hubungannya dengan kita?”


“Ya tidak ada hubungannya sih, Mas. Ini ada hubungannya sama Johan.”


“Johan? Kok malah ke Johan.”


“Jadi gini lho, Mas. Bu Tessa cerai dari suaminya karena suaminya itu KDRT sama tukang selingkuh. Nah tiba-tiba saja suaminya Bu Tessa ini muncul lagi disaat Johan dan Bu Tessa sudah bahagia. Dengan alasan kalau mantan suaminya itu sakit keras. Bahkan Johan sampai membantu meminjamkan uang ke mantan suaminya Bu Tessa. Terus tadi aku lihat, mantan suami Bu Tessa tidak ada tanda-tanda sakit, malah asyik sama wanita lain. Aku kan kasihan sama Johan, kalau sampai dia cuma dimanfaatin. Mantan suaminya Bu Tessa itu datang minta maaf dan cerita kalau usianya tidak lama lagi dan meminta waktu untuk selalu bersama Anrez. Ya, intinya hartanya habis baru nyari anaknya. Aku tidak mau kalau Johan dan Bu Tessa di peralat oleh mantan suaminya.”


“Oh begitu ceritanya. Sebaiknya kamu tidak usah ikut campur urusan orang lain, sayang. Kamu cukup kasih tahu Johan saja apa yang kamu lihat tadi.”


“Tidak bisa dong, Mas. Johan sahabat aku, aku itdak bisa tinggal diam. Kasihan tahu Mas, dia kerja keras cuma pingin bisa punya rumah supaya bisa secepatnya menikahi Bu Tessa. Soalnya kan mereka masih mengontrak. Sedangkan tiap tahun Johan harus membayar dua kontrakan, yaitu kontrakannya sendiri dan juga kontrakannya Bu Tessa.”


“Oh, Johan masih mengontrak rupanya.”


“Iya, Mas. Makanya aku kasihan, cafenya juga masih ngontrak. Aku salut lho Mas sama Johan. Dia berani mengambil keputusan dan tanggung jawab menikahi seorang single mother. Apalagi Bu Tessa adalah cinta pertamanya Johan. Hebat banget kan dia.”


“Iya dia memang pria yang hebat dan gentle. Terus apalagi sayang?” tanya Kevin yang seolah mengerti kalau istrinya menginginkan sesuatu.


“Ya, kamu bantu Johan, hehehe.”


“Bantu Johan? Bantu apa?” Kevin mendelik.


“Ya bantu dia punya rumah, Mas. Kamu kan ada bisnis property juga.”


“Ya ada sih, sayang. Tapi Johan mau nyari yang mana?”


“Kamu kirimin foto brosurnya sama aku ya, Mas. Besok aku dan Laras akan menemui Johan, sekaligus aku beli lampu hias untuk Marvel. Kalu beli di olshop kelamaan nunggu.”


“Ya sudah nanti aku kirim ya. Apa yang menurut kamu baik, aku mendukungnya. Sebaiknya sekarang kita istirahat dan tidur. Kamu juga jangan membebani hal aneh-aneh dalam pikiran kamu. Ingat sayang, kamu sedang hamil. Jadi, jangan stress ya.”


“Iya suamiku.”


####


Keesokan harinya, setelah mendapat telepon dari Keira. Laras segera pergi kerumah Keira. Sesampainya di rumah Keira, Keira menunjukkan foto mantan suami Bu Tessa bersama seorang wanita.


“Wah ternyata bener kan feeling kita sama si Pak Rendy mantan suaminya Bu Tessa.”


“Iya, Ras. Gue kasihan sama Johan.”


“Ya udah Kei, mending sekarang kita ke cafenya Johan aja deh. Gue udah nggak enak nih kalau nggak ngomong langsung sama dia.”


“Ya udah kalau gitu, gue ganti baju dulu.”


“Iya, Kei.”


Setelah Keira ganti baju, Keira dan Laras segera berangkat menuju café Johan.


Namun sesampainya disana, pintu utama cafe itu tertempel papan akrilik tertulis closed tapi rolling door folding café terbuka setengah, meskipun pintu utamanya tertutup. Dari balik pintu kaca itu, Keira dan Laras melihat Johan termenung.


“Ya udah masuk aja, Ras. Tuh kelihatan Johan ada di dalam.”


“Ya udah masuk yuk!” Laras dan Keira lalu masuk ke café Johan.


“Jo!” seru Laras yang melihat Johan sedang melamun.


“Ras, Kei! Café ku tutup, ada apa?” kata Johan yang berusaha bersikap biasa di hadapan kedua sahabatnya itu. Keira dan Laras lalu duduk berhadapan dengan Johan.


“Kenapa elo tutup, Jo?” tanya Laras.


“Nggak kenapa-kenapa Ras. Emang lagi pingin tutup aja.” Jawab Johan. Namun Keira tidak bisa di bohongi dengan ekpresi palsu Johan.


“Bohong! Udahlah cerita aja, Jo. Elo nggak bakal bisa bohongin gue.” Kata Keira sambil melirik kesebuah dokumen yang berusaha Johan tindih dengan tangannya itu. Melihat tatapan tajam Keira padanya, akhirnya Johan memberikan dokumen itu pada Keira. Keira dan Laras kemudain membacanya.


“What? Elo di tuntut Jo?” mata Laras membulat melihat isi dokumen itu.


“Astaga Jo, kenapa elo bisa ketipu?” kata Keira dengan suara meninggi.


Johan lalu menangis dengan kencangnya. Hua… hua… hua… “Gue ketipu. Ternyata café ini bukan milik Pak Dino. Pemilik ruko yang asli baru balik dari luar negeri. Pas orangnya datang, dia kaget karena rukonya ini gue jadiin café. Setelah gue jelasin, ternyata gue di tipu. Pemiliknya marah dan mau nuntut gue karena nggak percaya kalau gue juga di tipu. Gue pusing, mereka juga minta ganti rugi.”


“Ya ampun Jo. Elo ini bodoh banget. Kenapa bisa ketipu sih?” Laras antara kesal dan kasihan melihat Johan.


“Terus Pak Dino-nya mana?” tanya Keira.


“Nomornya tidak bisa di hubungi.”


“Terus, elo kenal Pak Dino darimana? Kenapa elo langsung deal?” tanya Keira.


“Ya, gue waktu itu muter-muter aja nyari ruko. Eh pas waktu itu, gue lihat si Pak Dino itu disini terus gue tanya-tanya deh dan ternyata dia mengaku pemilik ruko ini. Ya udah deh gue percaya teru tanda tangan kontrak selama lima tahun.”


“Terus kenapa si Pak Dino itu tahu kunci ruko ini?” tanya Laras.


“Sepertinya Pak Dino ini udah pro deh, Ras.”


“Terus elo pas buat perjanjian, Pak Dino nunjukin sertifikat bangunan ini apa nggak?” sambung Laras.


“Nggak, Ras.”


“Ihhh Johan, gemes banget gue sama elo. Pingin gue jitak kepala elo sampai botak.” Kesal Laras sambil mengepalkan tangannya ke wajah Johan.


“Terus orang yang ngaku pemilik ruko ini, punya sertifikatnya nggak?” tanya Keira.


“Punya Kei, bahkan mereka datang kesini bersama pengacaranya. Mereka juga meninggalkan alamat rumahnya. Habis semuanya, uang gue hilang. Modal udah habis buat café ini, belum lagi tuntutan ganti rugi, pusing kepala gue. Apes banget hidup gue, baru juga satu bulan udah bangkrut begini. Baru juga mau bahagia.” Tangis Johan sesenggukan sambil mengacak rambutnya.


“Makanya Johan, elo ini jangan bodoh! Elo ini juga kuliah, seharusnya elo bisa kroscek dulu. Pasti elo tergiur dengan harganya yang miring ini kan?’' Laras terus menekan Johan. Johan hanya bisa mengangguk.


“Gue kasihan tapi gue kesel sama elo.” Sambung Laras dengan kekesalan yang sudah di ubun-ubun.


“Terus Bu Tessa tahu nggak?” tanya Keira.


“Gue belum cerita apa-apa. Karena pas kejadian dia sedang di rumah dan gue juga minta sama karyawan untuk diam jangan sampai Tessa tahu. Gue nggak mau nambahin beban pikiran dia dan gue nggak mau Tessa merasa kalau dia dan Anrez beban buat gue.”


“Sepertinya kita harus ke rumah pemilik asli ruko ini, Kei. Supaya kita tahu kebenarannya.” Sahut Laras.


“Iya Ras, gue setuju.” Ucap Keira.


“Terus Jo, elo bawa bukti transaksi elo kemarin deh sama si Pak Dino nggak jelas itu,” ketus Laras.


“Makasih ya, kalian udah mau bantu. Sebenarnya gue nggak mau cerita karena gue nggak mau ngrepotin kalian.”


“Ya, kebetulan aja kita mau mampir kesini Jo.” Kata Keira. Akhirnya Keira dan Laras mengurungkan niatnya untuk memberitahu tentang Rendy, mantan suami Tessa. Keira dan Laras tidak tega kalau harus menambahi beban pikiran Johan.


Bersambung....