
Keesokan harinya, Laras sedang duduk berhadapan dengan kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya baru saja tiba dari luar kota.
''Laras, jadi itu kerja sampingan kamu? Jangan pikir kami tidak memantau kamu!" marah Tuan Handi pada putri semata wayanya itu.
''Papa baru pulang kok marah sih? Ini masih pagi. Laras mau berangkat dulu ya,'' kata Laras yang berusaha kabur dari pelototan tajam Papanya.
''Letakkan kunci mobil dan atm. Papa akan menghukum kamu dengan mencabut semua fasilitas yang Papa berikan.'' Imbuh Tuan Handi.
''Pah, nanti Laras ke kampus dan magang naik apa?''
''Itu urusanmu! Kamu sudah bisa bekerja kan? Jadi bekerja saja kembali jual diri.''
''Ih Papa ngomongnya keterlaluan deh. Siapa sih yang jual diri.''
''Laras! Mau jadi apa kamu? Siapa yang mau sama kamu kalau mereka tahu kamu bekerja seperti itu?'' sahut Nyonya Dila.
''Mah, itu dulu Mah. Sekarang sudah tidak lagi. Lagi pula itu berita hoax, Mah. Menyewa jasa berkencan dan tidak ada plus-plusnya.''
''Tapi tetap saja, kamu menjatuhkan nama baik keluarga, Laras.'' Kata Nyonya Dila yang merasa kecewa dengan putrinya itu.
''Sudahlah, Mah. Nanti berita itu akan hilang dengan sendirinya. Yang penting Laras masih ting-ting. Laras pergi dulu ya." Kata Laras dengan santainya.
''Oh ya ini kunci dan atm nya. Terima kasih ya Papa-Mama.'' Sambung Laras sembari berlalu tanpa beban.
''Ini anak, kita sudah marah seperti ini masih saja bersikap santai.'' Kata Tuan Handi.
''Nggak tau lah, Pah. Kalau sampai tidak ada yang mau sama dia bagaimana Pah? Pasti berita ini juga sudah menyebar.'' Ucap Nyonya Dila dengan khawatir.
''Kita sebaiknya harus menikahkan Laras setelah lulus kuliah deh, Mah.''
''Iya tapi sama siapa Pah?''
''Itu biar menjadi urusan Papa saja.''
''Lebih baik kita carikan dia pria yang baik. Karena kalau Laras memilih sendiri dia akan sakit hati seperti itu. Punya pacar sekaligus benalu.'' Kata Nyonya Dila dengan kesal.
''Iya, Mama tenang saja.''
-
Laras kemudian berjalan sampai menuju halte. Ia lalu mengambil ponsel dari tasnya dan menekan nomor Krisna. Krisna yang sedang dalam perjalanan, melihat panggilan maksud di ponselnya, segera mengangkatnya.
''Halo!"
''Halo, Kak. Kak bisa jemput aku.''
''Maaf aku tidak bisa, aku harus ke kantor.''
''Kak, aku mendapat masalah. Mobil dan atm ku disita oleh Papa. Karena mereka mendengar berita hoax kemarin. Aku sekarang berada di halte. Aku tidak punya uang sepeser pun.'' Ucap Laras dengan nada memelas (akting).
''Baiklah, aku akan menjemputmu.'' Kata Krisna yang tidak tega mendengar kondisi Laras.
''Iya Kak, aku tunggu ya.'' Kata Laras seraya mengakhiri panggilannya.
''Hehehehe kesempatan baik dong, aku jadi minta antar jemput sama Kak Krisna,'' gumam Laras dengan senyum lebarnya.
Tak lama kemudian mobil Krisna pun terlihat. Laras pun memasang wajah memelasnya.
''Hmmm kasihan juga tuh anak,'' gumam Krisna. Krisna segera turun dari mobilnya, lalu membukakan pintu untuk Laras.
''Laras, masuklah!" pinta Krisna. Laras hanya mengangguk dengan wajah yang memelas. Setelah Laras duduk di bangku depan, Krisna kembali menutup pintu mobilnya. Ia pun segera kembali ke tempat duduknya dan melajukan mobilnya.
''Maaf ya Kak, kalau aku merepotkan. Aku tidak tahu lagi harus meminta tolong siapa.''
''Iya tidak apa. Lalu bagaimana dengan orang tua kamu?''
''Ya mereka sangat marah. Imbasnya atm dan kunci mobil ku di sita deh dan entah sampai kapan aku tidak tahu. Aku bahkan belum sempat sarapan.'' Kata Laras sambil memegangi perutnya yang terasa lapar.
''Makanlah ini!" kata Krisna sambil memberikan sebuah paper bag pada Laras.
''Apa ini Kak?''
''Itu bekal makan siang dari Ibu.''
''Jangan Kak! Ini kan bekal makan siang untuk Kakak apalagi ini dari Ibu Kakak. Biar aku beli saja.''
''Tidak apa-apa, makanlah. Lagi pula aku sudah sarapan. Jadi makanlah.''
''Dari aromanya memang sangat menggugah selera sih.'' Kata Laras.
''Ya sudah, kamu makan saja.''
Laras kemudian membuka kotak makan yang ada dalam paper bag itu.
''Sayur asam, ayam goreng dan sambal ijo?'' ucap Laras.
''Iya, memang kenapa? Kalau kamu tidak menyukainya tidak masalah.''
''Tidak Kak. Justru aku sangat suka. Ini kan masakan rumahan banget. Tapi serius ini boleh di makan?''
''Makasih ya, Kak.'' Kata Laras kegirangan. Laras lalu mulai memakannya.
''Hmmmm ini enak banget. Sumpah enak banget. Aku sudah lama sekali tidak merasakan masakan Mama. Karena Papa dan Mama lebih sering bekerja di luar kota daripada di rumah. Paling masakan Bibi yang sering aku makan. Kakak beruntung sekali ya, sudah sebesar ini masih di bawakan bekal. Aku iri deh,'' ucapnya dengan mulut penuh makanan.
''Sebaiknya kalau makan, tidak usah banyak bicara. Nanti kami tersedak.'' Kata Krisna sambil terus fokus menyetir. Laras hanya mengangguk sambil menikmati makanan itu dengan sangat lahap. Krisna sangat senang melihat Laras yang makan dengan lahapnya.
''Kak ada minum?''
''Itu di paper bag juga sudah ada minuman.''
''Oh iya. Ini susu ya Kak?''
''Iya susu kedelai buatan Ibu juga. Karena aku alergi susu sapi jadi Ibu selalu membuatkanku itu.''
''Ya ampun sweet banget sih. Ibu Kakak pasti adalah Ibu terbaik dan terhebat di dunia. Aku minum boleh kan?''
''Iya, Ibuku memang terbaik. Ya sudah, kamu minum saja.'' Kata Krisna. Laras lalu menenggak susu kedelai dalam botol sampai habis tak bersisa. Krisna mengernyitkan dahinya melihat Laras yang pagi itu terlihat rakus.
''Ahhh, enak sekali Kak. Hehehe maaf ya Kak, aku habiskan bekal makan siang Kakak. Aku boleh ya kapan-kapan bertemu dengan Ibu Kakak?''
''Hah? Untuk apa? Tidak usah,'' kata Krisna mendadak tergagap.
''Memang kenapa Kak? Aku akan mendaftarkan diri menjadi calon menantu,'' celetuk Laras.
''Ka-kamu ini ada-ada saja. Sudah tidak perlu.''
''Aku serius Kak? Kapan-kapan ajak aku ke rumah ya?'' rengek Laras sambil menarik ujung lengan kemeja Krisna.
''I-iya baiklah. Tapi tidak untuk saat ini ya.''
''Oke. Mmmm bilang pada Ibu kakak terima kasih untuk makan siangnya.''
''I-iya nanti aku sampaikan.''
''Nanti aku traktir makan siang deh sebagai gantinya.''
''Bukanya kamu tidak ada uang?'' kata Krisna. Laras lalu menujukkan kartu kreditnya sendiri.
''Hehehe ini aku punya kok.''
''Jadi kamu membohongiku?''
''Tidak-tidak, Kak. Orang tua ku tidak tahu kalau aku punya kartu sendiri. Sejak aku menekuni pekerjaan aneh itu, aku membuat kartu kredit sendiri. Sekalipun aku masih mendapat jatah uang jajan, aku jarang memakainya. Aku yang memang suka belanja, memutuskan menjual pakaian bekas, tas, dan sepatu branded aku yang sudah tidak terpakai dengan harga yang lebih murah. Tentunya barangnya masih bagus juga karena lemari aku sudah tidak cukup juga, hehehe. Setiap kali belanja, kontrakan Johan yang menjadi sasaran tumpukan belanjaan aku. Karena kalau Papa dan Mama tahu, mereka bisa marah. Tapi semakin bertambah usia, kebiasaan burukku itu aku jadikan pekerjaan. Hobi belanja aku jadikan pekerjaan dengan menjual baju bekas. Mungkin kalau Papa dan Mama tahu aku akan membuka butik, mereka pasti akan sangat terkejut.'' Cerita Laras panjang lebar.
''Ya ide kamu bagus juga. Dan memang harus seperti itu.''
''Ya walaupun setiap habis dapat jatah uang jajan, aku transfer ke rekeningku sendiri, hehehe.''
''Kalau seperti itu ceritanya sama saja Laras. Dasar!" kata Krisna dengan senyum kecilnya.
''Kan aku pakai buat tambahan modal, Kak. Aku juga sudah lama tidak belanja pakaian. Kalau sekarang lebih sering belanja untuk desain baju yang sedang aku buat.''
''Ya apapun mimpi kamu, kamu harus semangat dan jangan pantang menyerah.''
''Pasti Kak. Oh ya ulang tahun Ibu kakak kapan?''
''Memangnya kenapa?''
''Tidak, hanya bertanya saja.''
''Minggu depan Ibu ulang tahun.''
''Kalau ulang tahun Kakak?''
''Bulan depan. Ka-kalau kamu?''
''Sudah lewat bulan lalu, hehehe.''
''Selamat ulang tahun ya, walaupun terlambat.'' Kata Krisna dengan senyum kecilnya.
''Hehehe sama-sama Kak. Kakak sudah ada rencana ingin memberi hadiah apa untuk Ibu Kakak?''
''Belum tahu. Aku juga bingung ingin memberi Ibu apa. Biasanya aku ajak Ibu untuk belanja atau makan bersama. Ibu tidak pernah mau apapun. Ibu selalu memintaku untuk menyimpan uangku daripada harus membeli hadiah-hadiah mewah. Bagi Ibu, melihatku bisa sukses adalah hadiah yang sangat luar biasa.''
''Kakak, memang hebat! Aku akan berterima kasih pada Ibu Kakak karena telah melahirkan seorang anak yang tampan dan super baik ini.'' Kata Laras. Muach! Sebuah kecupan mendarat di pipi Krisna. Membuat Krisna mengerem mendadak mobilnya.
''Lho-lho kenapa Kak?'' tanya Laras tanpa ada perasaan berdosa. Mendadak tubuh Krisna merasa gemetar dan keringat dingin keluar dari tubuhnya. Krisna lalu memegangi dadanya dan berusaha mengatur nafasnya.
''Kak, Kakak kenapa? Dada Kakak sakit? Kenapa keluar keringat dingin?'' tanya Laras degan khawatir. Namun Krisna hanya bisa diam sambil berusaha mengatur nafasnya. Laras lalu mengambil tisu dari tasnya. Ia kemudian menyeka keringat dingin yang membasahi wajah Krisna. Namun jantung Krisna mendadak berdegup semakin cepat bahkan tidak seperti biasanya.
''Kita kerumah sakit ya? Kakak tidak memiliki riwayat jantung kan?''
''Ti-tidak usah. Nanti juga membaik.'' Ucap Krisna tergagap. Krisna berusaha keras melawan rasa gugupnya. Laras kemudian menepuk pelan punggung Krisna.
''Tenanglah, Kak! Buang rasa panik dan gelisah itu, tenang ya. Atur nafas pelan-pelan, berpikirlah posiitif untuk mendapat ketenangan,'' kata Laras dengan lembut.
Bersambung..... Maaf ya baru upload lagi 🙏😁