Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 128 Cerita Cinta


Setelah Krisna pulang, Keira segera menyusul suaminya ke kamar. Kevin tampak duduk selonjoran di atas sofa sambil membaca sebuah buku. Keira lalu mendekat dan duduk di samping suaminya.


''Kenapa lama sekali, Kei?''


''Ya namanya konsultasi, masa iya cuma satu menit.''


''Lalu, hasilnya apa?''


''Ternyata Pak Krisna pernah mengalami trauma berat dengan seorang wanita. Bukan hanya sekedar di tolak tapi di buli di hadapan banyak wanita. Ya karena dulu Pak Krisna masih cupu dan miskin. Itu yang dia ceritakan tadi, Mas.''


''Kasihan juga ya dia.''


''Tapi bagaimana awal pertemuan Mas dengan Pak Krisna?''


''Saat itu aku memang butuh sekretaris yang cekatan dan kompeten tentunya. Dan saat melihat surat lamarannya, semua nilai akademisnya bagus. Dia kuliah juga mendapat beasiswa, bahkan cumlaude. Meskipun hari pertama keteteran tapi dia belajar dengan sangat cepat. Dia sangat fokus saat bekerja, dia hidupnya lempeng banget. Tidak seperti anak muda pada umumnya yang suka senang-senang atau foya-foya. Lalu setelah Siska masuk, Siska sih yang banyak merubah penampilan Krisna. Mungkin karena Siska sudah bersuami jadi dia tidak terlalu canggung atau gugup.''


''Ya semoga dengan konsultasi tadi, Pak Krisna mau membuka diri dan perlahan bisa menghilangkan traumanya.''


''Terima kasih ya, kamu memang baik dan suka menolong sama rajin menabung, hehehehe.''


''Dasar kamu, Mas.''


''Ya udah kita mulai yuk!"


''Mulai apa sih?''


''Itu minum susu. Kan udah malam waktunya minum susu.'' Kata Kevin sambil mengedipkan matanya.


''Ya udah kamu buka sendiri saja.'' Kata Keira dengan suara manja.


''Kamu mau yang lembut atau sedikit kasar?''


''Yang bikin enak saja deh, Mas.'' Kata Keira dengan tawa kecilnya. Kevin kemudian menarik Keira ke dalam pelukannya.


''Kok tiba-tiba meluk? Katanya mau minum susu.''


''Foreplay dulu dong, sayang. Aku kan ingin bertanya sesuatu kepadamu.''


''Bertanya tentang apa?''


''Apa kamu sudah ingat tentang kecelakaan yang menimpaku dulu?''


''Belum Mas. Aku beberapa kali mencobanya tapi masih saja lupa. Memangnya kenapa?''


''Sebenarnya aku sedang menyelidiki tentang kecelakaan ini. Tapi aku belum menemukan jawabannya. Karena aku merasa aneh saja. Semua berita tentang kecelakaan itu lenyap begitu saja. Karena setelah mengalami itu semua, aku hanya fokus untuk meneruskan perusahaan Papa. Jadi kasus itupun di tutup begitu saja.''


''Memang saat kecelakaan itu, orang tua kamu menyetir sendiri atau bersama supir, Mas?''


''Dari informasi yang aku dapat, mereka menyetir sendiri.''


''Lalu supir yang menjemputmu? Apa dia juga selamat?''


''Setelah ledakan itu, aku tidak ingat lagi. Tapi ada jam tangan supir yang menjemputku itu disana dan sepertinya dia terperangkap dalam mobil dan meninggal karena ledakan.''


''Apa yang membuat kamu menyelidiki ini lagi?''


''Kematian Kania yang membuatku teringat kecelakaan itu.''


''Apa tidak ada saksi disana? Lalu Pak Wahyu apa tidak ada disana?''


''Pak Wahyu menunggu di mobil dan saat terjadi kecelakaan itu.''


''Lalu mobil yang menabraknya kemana?''


''Dia sempat lari tapi akhirnya polisi berhasil menangkapnya.''


''Lalu apa motif kecelakaan itu?''


''Dia mengantuk katanya. Di tambah kondisi Kania yang memang sedang drop jadi dia tidak bisa bertahan.''


''Apa kamu tidak menanyai saksi itu? Atau mobil yang di pakai untuk menabraknya?''


''Dia hanya supir rental, Kei. Setidaknya dia mempertanggung jawabkan keputusannya. Meskipun itu tidak setimpal dengan apa yang telah dia lakukan.''


''Apa kamu pernah berpikir kalau Tuhan mengambil semua orang yang kamu cintai karena takdir atau memang takdir yang di rencanakan oleh manusia?''


''Apa maksud kamu ada yang sengaja melakukannya?''


''Kenapa kamu tidak mencoba menjenguk supir itu di penjara? Atau melihat rekaman ulang kecelakaan, kalau memang kamu merasa ada yang mengganjal, Mas.''


''Apa yang kamu katakan benar juga, Kei. Apa mungkin dulu aku terlalu muda dan menganggap semuanya memang sudah musibah jadi aku tidak berpikir sedetail itu.''


''Ya sudah lah, Mas. Kita cari tahu pelan-pelan saja, kalau memang firasatmu benar, Tuhan pasti akan menunjukkan jalannya.''


''Dan kita nikmati dulu bulan madu kita. Aku juga butuh liburan meskipun hanya bisa empat hari.''


''Tidak apa-apa, Mas. Liburan empat hari sudah cukup.''


''Hhh baiklah, sekarang ayo kita mulai ritualnya. Ritual yang selalu membuat mood ku kembali pulih dari segala kesedihan dan masalah.''


''Kamu ini Mas, selalu saja begitu. Lakukanlah apa yang kamu mau, Mas.'' Kata Keira dengan senyum kecilnya. Dan terjadilah pertempuran yang berlangsung hingga tengah malam itu.


-


''Krisna, Siska, kalian tahu kalau saya akan pergi bulan madu selama empat hari. Jadi, sebisa mungkin selama empat hari jangan sampai ada masalah bahkan seterusnya. Karena aku ingin menikmati waktuku bersama dengan istriku tanpa ada gangguan dari kantor.''


''Siap Tuan! Saya jamin anda bisa menikmati bulan madu dengan sangat tenang,'' kata Siska.


''Oh ya bagaimana dengan proyek smartwatch? Apa tim produksi menemui kendala?''


''Sejauh ini semuanya aman, Tuan. Tidak ada yang perlu anda khawatirkan.'' Sahut Krisna.


''Oh ya Tuan, nanti ada jadwal meeting sekaligus makan siang dengan Dirgantara Group. Itu jadwal meeting terakhir anda sebelum berangkat bulan madu dan juga pertemuan ini sudah di atur dua bulan yang lalu.'' Sambung Siska.


''Baiklah kalau begitu Siska, kamu atur saja dimana restorannya. Kalian silahkan kembali bekerja.''


''Baik Tuan. Kalau begitu kami permisi.'' Pamit Siska yang di ikuti oleh Krisna.


-


Johan yang sedang bekerja sangat senang melihat Tessa datang bersama putranya. Johan pun menyapanya dengan wajahnya yang selalu ceria.


''Hai Anrez, bagaimana sekolahmu?'' sapa Johan sambil adu tos dengan Anrez.


''Aku baik, Om.''


''Tessa, kamu mau pesan apa?''


''Aku kesini bukan untuk membeli sesuatu tapi aku membawakan mu makan siang.'' Kata Tessa sambil menunjukkan paper bag warna coklat itu.


''Kamu tidak usah repot-repot melakukan ini. Aku kan bekerja di cafe, sudah pasti aku tidak akan kelaparan,'' gurau Johan.


''Ya siapa tahu kamu bosan makanan di cafe. Jadi aku sengaja memasaknya untukmu, Jo. Mungkin tidak semewah makanan di cafe ini tapi anggaplah ini sebagai tanda terima kasih karena kamu telah membantuku.''


''Aku tulus membantumu, Tessa. Lagi pula rumah kontrakan kita hanya berjarak satu rumah saja. Jadi kamu tidak usah terlalu repot.''


''Tidak apa-apa. Aku tidak merasa di repotkan, apalagi kamu selalu pulang malam.''


''Baiklah aku menerimanya. Terima kasih ya, Tessa.''


''Mah, aku mau ice cream,'' kata Anrez sambil menarik ujung baju Mamanya.


''Kita pulang saja ya, sayang. Di rumah kan ada.''


''Aku mau yang disini, Mah.'' Rengek Anrez.


''Anrez, kamu mau ice cream kan?''


''Iya, Om.''


''Baiklah, Om akan membuatkannya untukmu.''


''Jo tapi....,''


''Tessa, tunggulah sebenter. Kasihan Anrez kan? Toh hanya ice cream saja. Aku akan membungkusnya untuk Anrez.''


Johan kemudian menuju dapur, menyiapkan ice cream untuk Anrez. Tak berapa lama kemudian Johan pun kembali.


''Ini untukmu, Anrez. Rasa coklat dengan taburan kacang almond. Apa kamu suka?''


''Bagaimana Om tahu kesukaan ku?''


''Karena semua anak pasti menyukai rasa coklat.''


''Berapa Jo, harga ice creamnya?''


''Tessa, apa aku menunjukkan bilnya padamu? Jadi sebaiknya kamu bawa Anrez pulang ya. Anggap saja kita barter.''


''Maaf ya kalau aku menyusahkanmu.''


''Tidak, Tessa. Aku sama sekali tidak merasa susah, hehehe.''


''Om terima kasih ya untuk ice creamnya. Aku sudah lama tidak makan ice cream karena setiap aku minta pada Papa, Papa selalu bilang tidak ada uang.'' Kata Anrez dengan polosnya. Hati Johan terenyuh mendengar apa yang di katakan oleh Anrez.


''Tenang saja Anrez, khusus untuk kamu, Om akan memberikannya setiap hari.''


''Benarkah Om? Om tidak bohong kan?''


''Tidak! Om tidak bohong.''


''Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu ya.''


''Iya. Kamu hati-hati ya.''


''Anrez, jaga Mama ya.''


''Pasti Om!" jawab Anrez sambil mengacungkan jempolnya. Hati Johan tersentuh melihat Anrez yang harus menghadapi perceraian orang tuanya. Apalagi saat mendengar apa yang Anrez ucapkan tadi.


Bersambung.... Maaf ya baru up 🙏😁