
''Permisi tuan,'' sapa Bi Nani dan Mbak Rima bersamaan.
''Masuk Bi,'' jawab Kevin yang sedang duduk di sofa.
''Rima, kamu sudah kembali? bagaimana kondisi putramu?''
''Iya tuan. Saya mendapat kabar dari Bi Nani kalau Den Marvel sakit, jadi saya langsung kemari. Alhamdulillah anak saya sudah membaik. Justru dia yang meminta saya segera kembali karena tuan adalah penolongnya. Berkat tuan dia bisa melanjutkan sekolah dan sekarang sudah duduk di bangku SMP.'' Jelas Mbak Rima.
''Syukurlah kalau sudah membaik.''
''Hmmm ternyata tuan bawel ini baik juga,'' gumam Keira dalam hati.
''Ada Bu Keira juga disini?'' tanya Bi Nani.
''Iya, Bi. Tadi tidak sengaja bertemu dengan Papanya Marvel, pas saya tidak sengaja mendengar Marvel sakit, saya langsung ikut begitu saja.'' Jelas Keira.
''Oh ya ini makanan untuk Den Marvel.'' Kata Bi Nani sambil memberikan kotak makan pada Keira.
''Dan ini celengan milik Den Marvel.''
''Makasih ya, Bi.''
''Iya, Den.''
''Tante, bisa bantu suapi aku makan?''
''Tidak, Marvel! kamu masih punya dua tangan yang sempurna dan tanganmu masih berfungsi kan?'' sahut Kevin.
''Tapi tubuhku lemas, Pah.''
''Sini tante bantu suapin ya. Janji harus makan teratur dan mau minum obat.''
''Iya tante. Aku selalu memegang janjiku.'' Keira kemudian menyuapi Marvel makan. Marvel memakannya dengan lahap tanpa banyak protes. Bi Nani dan Mbak Rima senang melihat Marvel sudah mau makan. Apalagi kehadiran Keira mampu menjadi obat bagi Marvel.
''Tuan kalau begitu kami permisi dulu ya.'' Pamit Bi Nani.
''Iya, Bi. Kalian hati-hati ya.''
''Iya tuan.''
Bi Nani dan Mbak Rima pun segera pamit pulang.
''Tante, sudah cukup!" kata Marvel.
''Baiklah, ini minum dulu.''
''Terima kasih ya tante sudah menjengukku.''
''Iya sama-sama. Kalau begitu tante pamit pulang dulu ya.''
''Tante,'' cegah Marvel sambil menarik lengan Keira.
''Marvel, biarkan dia pulang. Untuk apa kamu menahannya disini?'' ketus Kevin.
''Tante, ini adalah celengan milikku. Sepertinya ini cukup untuk membeli jasa tante.''
''Maksud kamu jasa apa Marvel?'' tanya Keira tidak mengerti.
''Aku tahu kalau tante menjual jasa pacar sewaan. Aku mendengar semua obrolan tante dengan teman tante saat itu. Dan aku ingin tante menjadi mama dan istri untuk ku dan papa, meskipun hanya sewaan saja. Tante boleh mengambil semua isinya." Kata Marvel dengan tatapan polosnya.
"Iya, tante. Aku tahu semuanya. Aku juga mau menandatangani kontrak itu."
Mendengar ucapan Marvel, hati Keira menjadi teriris. Ia bingung untuk menjawab keinginan Marvel.
"Marvel, untuk apa kamu membayarnya? papa tidak butuh istri baru dan kamu juga tidak butuh mama baru. Mama Kania segalanya untuk kita dan Mama Kania tidak akan tergantikan oleh siapapun apalagi dengan wanita seperti dia." Tegas Kevin.
"Pah, jangan menghina tante Keira. Aku tahu semuanya. Tante Keira baik, dia bukan seperti yang ada dalam pikiran papa. Dia hanya membantu kliennya saja. Aku juga sudah melihat situs itu dan mereka tidak ada yang menghina tante Keira. Mereka justru berterima kasih dengan jasa yang tante Keira buka. Tante Keira pun tidak bekerja sendiri, dia bekerja bersama kedua temannya. Bahkan tante Keira rela berkorban untuk teman-temannya. Tidak peduli apakah tante Keira akan selamat atau tidak." Jelas Marvel panjang lebar. Keira tidak percaya bagaimana Marvel tahu semuanya.
"Apa? pacar sewaan? bukankah itu situs yang di bicarakan oleh Miko? jadi aku salah sangka padanya selama ini? tapi tetap saja itu pekerjaan rendahan. Mana ada pekerjaan aneh seperti itu?" batin Kevin.
"Marvel, darimana kamu tahu semua itu?" tanya Keira.
"Tante tidak perlu tahu itu. Tante mau kan jadi mama sewaan untukku? kalau papa tidak mau, aku saja tante."
"Marvel, maafkan tante. Tante sudah menutup situs itu dan mengakhiri semuanya. Jadi tante tidak akan menerima klien lagi." Tolak Keira dengan lembut.
"Apa tante tidak menerima klien anak kecil? atau uang ku kurang?"
"Tidak, Marvel. Hal seperti itu tidak bisa di jadikan permainan. Tante harap kamu mengerti ya? kamu simpan saja celengan ini. Kita akan tetap dekat seperti ini kok. Tante akan menjadi teman yang baik untuk kamu." Kata Keira sambil membelai lembut kepala Marvel.
"Tante, aku sayang tante!" peluk Marvel. Keira benar-benar terkejut dengan sikap Marvel. Keira menatap bingung kearah Kevin. Kevin kemudian mendekat, mencoba membujuk Marvel.
"Marvel, biarkan dia pergi. Ada papa disini, Marvel."
"Aku tidak mau! papa selalu sibuk dan tidak sayang padaku," bantah Marvel. Emosi Kevin benar-benar sudah di ubun-ubun.
"Pah, sebentar lagi ulang tahunku. Papa janji saat aku ulang tahun akan mengabulkan keinginanku. Papa masih ingat kan?"
"Iya, papa masih ingat."
"Kalau begitu berikan aku mama, Pa. Selama aku ulang tahun, aku tidak pernah meminta apapun dari papa. Aku hanya ingin seorang mama. Satu minggu saja, pa. Biarkan aku merasakan kasih sayang seorang mama yang sudah lama tidak aku dapat."
"Marvel, itu permintaan konyol. Tidak ada permintaan seperti itu." Tegas Kevin. Keira benar-benar bingung berada di tengah-tengah mereka. Ia bingung apa yang harus ia lakukan.
"Marvel, kita tadi sudah sepakat kalau tante boleh pulang setelah menyuapi kamu kan? jadi tante akan pulang sebentar. Nanti tante akan kembali lagi. Beri tante waktu berfikir ya?" kata Keira dengan lembut. Marvel kemudian perlahan melepas pelukannya pada Keira.
"Sekarang sudah siang dan sebaiknya kamu tidur siang. Nanti kalau kamu sembuh, tante akan ajak kamu jalan-jalan, bagaimana?"
"Sungguh?"
"Iya, Marvel. Tante tidak akan bohong. Tante harus pulang karena Ayah sudah menunggu."
"Baiklah tapi janji harus kembali nanti."
"Iya, Marvel." kata Keira. "Tuan, saya permisi."
"Iya, terima kasih." Kata Kevin dengan penuh rasa gengsi.
"Sama-sama." Keira akhirnya pergi meninggalkan rumah sakit. Ia bergegas menuju rumah kakaknya.
"Marvel, sekarang kamu istirahat ya."
"Pah, janji padaku panggil dia Tante Keira. Dia orang baik, Pah."
"Iya, maafkan papa." Keduanya lalu berpelukan.
Bersambung....