
Sesampainya di rumah, Keira membagi daster yang ia beli untuk Bi Nani, Bi Surti dan Rima.
''Ya ampun Nya, terima kasih ya. Nyonya tidak usah repot-repot.'' Kata Bi Nani.
''Tidak apa-apa, Bi. Memang sengaja pingin beliin kalian semua.''
''Terima kasih Nyonya, baru kerja sudah di belikan hadiah.'' Sahut Bi Surti.
''Tidak apa-apa Bi, biar kerjanya makin semangat.'' Ucap Keira dengan senyumnya yang hangat.
''Saya juga terima kasih ya Nyonya untuk dasternya. Bagus banget ini.'' Sahut Rima.
''Ini daster mahal Rima, kalau milik kita yang 100 ribuan dapat 3,'' seloroh Bi Nani dengan tawanya.
''Bibi bisa saja. Oh ya Marvel sudah makan siang?''
''Sudah Nyonya. Sekarang Den Marvel sedang di kamarnya.'' Jelas Bi Nani.
''Ya sudah kalau begitu saya ke kamar Marvel dulu. Tolong belanjaannya bawa ke kamar saya ya.''
''Siap Nyonya!" jawab Bi Nani. Keira kemudian berjalan menuju kamar Marvel. Keira melihat Marvel sedang sibuk di meja belajarnya.
''Marvel, sedang sibuk apa Nak?'' tanya Keira dengan lembut.
Mendengar suara Mamanya, Marvel turun dari kursi lalu menyambut Mamanya dengan pelukan.
''Hei Mah, Mama darimana saja?''
''Mama tadi habis belanja sama Tante Cindy terus habis itu ke rumah Tante Gina juga. Bagaimana sekolah kamu sayang?'' tanya Keira seraya mengajak Marvel duduk di tepi kasur.
''Baik-baik saja, Mah. Tapi Luna masih tetap sama Mah. Aku ajak bicara tidak mau dan selalu menghindar. Kira-kira dia kenapa ya?''
''Oh, rupanya ada seseorang yang mengganggu pikiran kamu ya?'' selidik Keira.
''Bukan hanya Luna saja Mah, kalau Anrez sedih, Marvel kepikiran.''
''Oh anak Mama, sekarang lebih care ya dengan sekitarnya. Lalu apa yang ingin kamu lakukan untuk membuat Luna mau bicara denganmu?''
''Aku tidak tahu, Mah. Ternyata sulit sekali ya Mah berhadapan dengan seorang wanita.'' Seloroh Arsen yabg di sertai tawa kecil Keira.
''Kamu ini seperti orang dewasa saja, sayang.''
''Memang benar kan Mah? Mengajak Anrez bicara dan berteman dengannya sangat mudah tapi Luna sulit sekali.''
''Kalau teman-teman perempuan kamu yang lain bagaimana?''
''Kalau mereka justru mendekat dan mengajak Marvel berteman terlebih dahulu. Jadi hanya Luna saja yang aneh, Mah.''
''Pasti ada sesuatu yang membuat Luna seperti itu sayang. Kamu ajak dia bermain terus saja bersama Anrez.''
''Anrez saja tidak mau berteman dengan Luna. Karena ya begitu, Luna tidak mau bicara jadi Anrez menyerah untuk mengajaknya berteman.''
''Kamu ajak dia terus bermain sayang. Kasihan juga kan kalau dia terus menyendiri. Kamu coba kasih permen atau coklat, mungkin saja dia mau di ajak bicara.''
''Aku sudah menemukan gantungan tasnya saja dia tidak mengucapkan terima kasih, Mah. Apalagi memberinya coklat atau permen, pasti dia juga menolaknya.''
''Apa salahnya di coba sayang.''
''Lalu kapan aku membeli permen dan coklat?''
''Tenang saja, Mama tadi sudah belanja banyak. Ada snack, permen dan coklat. Mama juga membelikanmu beberapa pakaian baru.''
''Beneran Mah?''
''Iya Marvel.''
''Hore! Asyik! Makasih ya, Mah.''
''Sama-sama sayang. Ya sudah nanti snacknya kita bagi dua ya. Mama juga membeli almari kecil mau Mama letakkan di kamar kamu dan kamar Mama.''
''Untuk apa Mah almari kecil?''
''Untuk tempat snack, biar kalau kita mager tidak perlu turun kebawah.''
''Hehehe Mama memang yang terbaik. Nanti kalau Papa marah bagaimana?''
''Itu biar menjadi urusan Mama. Lebih baik, sekarang kamu bantu Mama milihin belanjaan ya. Sebentar lagi almarinya juga sampai.''
''Oke Mah.''
Almari berbahan plastik yang terdiri lima susun akhirnya sampai juga di rumah Keira. Hari ini Keira begitu mood untuk belanja. Yang jelas sasaran utamanya adalah snack. Keira menyetok snack sebanyak-banyaknya untuk di rumah. Kedua almari itu kemudian di letakkan di kamar Keira dan juga Marvel. Dengan bantuan para asisten rumah tangga, Keira merapikan almari khusus untuk snack di kamarnya. Tak lupa Keira juga berbagi dengan para asisten, satpam dan beberapa bodyguard yang ada di rumah. Mereka duduk di bawah lantai tanpa ada jarak antara Nyonya dan pembantu.
''Bi, tolong bagikan sama yang lain ya? Sama satpam dan bodyguard di luar juga.''
''Ini banyak sekali Nyonya snacknya.'' Kata Bi Surti.
''Tidak apa-apa Bi. Tolong kosongkan almari khusus untuk snack kalian ya. Untuk satpam dan para bodyguard di luar juga. Mereka kan harus jaga 24 jam jadi kalau ada camilannya biar semangat. Saya juga beli dua papan catur lagi. Saya beli dispenser juga, supaya kalau mereka membuat kopi tidak perlu masuk kedalam. Semua barang yang saya pesan, hari ini akan datang.''
''Apa tidak berlebih Nyonya?'' sahut Bi Nani.
''Kalau ngemil sekali-sekali kan tidak apa-apa. Masa iya kalian mau makan terus? Kalian kan juga sudah pasti tahu saatnya kerja, istirahat dan makan. Kalau malam kan mereka butuh kopi, kasihan kalau ambilnya kejauhan. Ya walaupun ada dapur yang lain milik kalian.''
''Selama ini Tuan menyuruhnya ngemil yang sehat-sehat saja Nyonya.'' Kata Bi Nani.
''Habis gimana ya Bi, Tuan saja protes karena tagihan kartu yang saya bawa sedikit. Ya sudah saya belanjain saja hari ini,'' seloroh Keira dengan tawanya.
''Iya ya, Tuan ini aneh. Istri hemat malah protes,'' sahut Rima dengan tawanya juga.
''Ya begitulah Tuan kalau sudah cinta, bucin kalau kata anak jaman sekarang.'' Kata Bi Nani dengan tawanya juga.
''Ya sudah Bi, kalau Tuan marah, biar saya yang mengurusnya. Lagian masa hanya karena camilan Tuan mau marah.''
''Iya deh, sekarang pemegang kekuasan tertinggi di rumah kan Nyonya Keira,'' seloroh Bi Nani di iringi tawa semuanya.
''Saya akan betah disini dan tentunya semakin semangat kerja Nyonya,'' sahut Bi Surti.
''Harus dong, Bi.'' Sahut Keira sambil merangkul pundak Bi Surti. Bi Nani, Rima dan Bi Surti sangat senang dan bersyukur mempunyai Nyonya besar seperti Keira. Yang mau membaur dengan semuanya.
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Kevin baru saja tiba di rumah. Semua memberi salam dan menyapa Tuan besarnya. Namun kali ini ada yang beda di area pos security dan pelataran rumah. Kevin segera masuk ke dalam rumah dan segera menuju kamarnya. Keira sendiri masih belum tidur. Keira masih asyik menonton televisi dan di temani oleh camilan.
''Sayang, kamu belum tidur?''
''Eh Mas, kamu sudah pulang.'' Keira segera turun dari tempat tidur untuk menyambut suaminya. Kevin memeluk dan memberikan kecupan di kening istrinya. Keira melepas kemeja dan membantu Kevin meletakkan tas kerjanya. Pandangan Kevin tertuju pada sebuah almari yang bersebelahan dengan meja rias Keira.
''Sayang, kamu habis beli almari?''
''Iya Mas.''
''Apa almari pakaian mu sudah tidak cukup?''
''Masih cukup kok.'' Ucap Keira seraya mengajak suaminya duduk di sofa.
''Lalu itu apa?''
''Untuk tempat snack. Aku beli dua Mas, yang satunya aku letakkan di kamar Marvel.''
''Apa?'' Kevin mendelik. Melihat ekspresi suaminya, Keira lalu memeluknya dengan erat.
''Tidak apa-apa lah, Mas. Hanya snack saja. Kalau turun ke bawah aku kecapekan nanti kan jauh juga. Kasihan Marvel juga Mas kalau harus naik turun. Supaya Marvel belajarnya juga nyaman Mas, ada camilannya. Biar dia tidak jenuh dan semangat belajarnya.''
''Lalu yang ada di luar itu apa? Kenapa banyak sachetan minuman kemasan? Mau buka kedai kopi?''
''Hehehe kan buat satpam dan bodyguard kamu, Mas. Kasihan mereka kalau kejauhan buat kopinya. Kalau aku sediakan disana, mereka juga enak. Apalagi mereka harus berjaga 24 jam. Biar mereka semangat kerjanya, Mas. Jangan marah ya, Mas.'' Kevin berusaha merayu suaminya itu, Kevin hanya bisa menghela nafas saja.
''Oh ya daster aku bagus tidak, Mas?'' Keira lalu berdiri beranjak dari sofa sambil berputar di hadapan suaminya. Wajah kesal Kevin seketika hilang, melihat tingkah konyol istrinya itu.
''Bagus sayang. Kamu selalu cantik.''
''Aku tadi juga membelikan untuk Bi Surti, Bi Nani dan Rima juga. Pokoknya mood aku hari ini happy shoping.''
''Iya terserah kamu sayang. Aku sudah memberikan semua untukmu jadi suka-suka kamu saja.''
''Oh ya tadi aku bertemu Ferdi.''
''Aku sudah tahu dari bodyguard yang mengawal kamu. Bahkan aku mendengar semua yang kalian bicarakan dan dia memberimu hadiah daster juga kan?''
''Kamu memata-matai ku ya, Mas?''
''Tidak! Aku hanya menjagamu. Para bodyguard itu wajib melaporkan kemanapun kamu pergi dan dengan siapa juga kamu seharian ini. Aku marah, cemburu dan kesal dengan yang namanya Ferdi. Dia sama sekali tidak bisa menghargai istrinya.'' Wajah Kevin kembali merengut ketika membicarakan Ferdi.
''Kalau kamu tidak suka, aku bisa mengembalikan hadiah itu.''
''Kalau kamu menginginkannya, ambil saja.'' Ucap Kevin dengan ekspresi dinginnya.
Keira dengan manja kemudian duduk di pangkuan suaminya. Ia berusaha menghibur suaminya supaya tidak marah.
''Maaf ya Mas, aku tidak maksud seperti itu. Biar dasternya aku kasih sama Mbak Rima saja. Lagi pula aku juga sudah beli banyak tadi. Tapi jangan marah dong, Mas. Ayo senyum!" Keira menarik garis senyum di bibir Kevin. Keira lalu mengecup seluruh wajah suaminya itu dengan gemas.
''Sudah tidak marah lagi Kan?'' kata Keira dengan senyum lebarnya.
Kevin menghela. ''Aku tidak bisa marah lama-lama denganmu, sayang. Tapi kamu harus di hukum.''
''Oke baiklah, aku siap di hukum.''
''Kalau begitu pijitin aku sayang, aku lelah sekali. Setelah itu mandiin aku juga dan yang terakhir, aku mau menjadi bayi sebelum tidur.''
''Hmmm aku sudah menduganya.'' Ucap Keira terkekeh.
''Jadi kamu menolak?''
''Tentu tidak suamiku, aku akan melayanimu sepenuh hati.''
''Begitu dong sayang.'' Malam itupun akhirnya Keira menerima semua hukuman yang di berikan oleh suaminya. Hukuman yang penuh kenikmatan.
Bersambung.....