
Senyum Leon lenyap saat ia melihat Keira turun dari mobil bersama Kevin. Pria yang mengaku sebagai suami Keira. Keira melambaikan tangan serta memberikan senyum pada Leon. Leon pun membalasnya, sementara wajah Kevin entah sudah sekusut apa.
''Kei, kamu sudah datang dan bersama dia. Apa benar kamu sudah menikah dan punya anak?''
''Tidak Leon. Itu hanya salah paham saja.''
''Tapi satu minggu kita akan menikah. Dia akan menjadi ibu sambung untuk putraku,'' sahut Kevin dengan tatapan dingin.
''Kei, kamu serius? kamu serius mau menikah dengan seorang duda?'' tanya Leon seolah tak jangan percaya dengan keputusan Keira.
''Leon, kita bahas itu ya. Lebih baik kita bahas panti ini. Yang jelas ini Tuan Kevin yang akan membantu merenovasi panti jompo ini.''
''Tapi kan Kei, aku...,''
''Leon, aku pasti akan cerita tapi tidak untuk sekarang.''
''Tapi sepertinya Keira tidak menyukai pria ini,'' gumam Leon dalam hati.
''Oh ya perkenalkan dulu ini Tuan Kevin. Dan ini adalah Leon, Tuan Kevin.''
''Iya aku sudah tahu. Kamu sering sekali menerima telepon darinya. Lebih baik aku melihat lokasi ini.'' Kata Kevin sembari berlalu.
Bu Rini sangat senang sekali dengan kedatangan Kevin apalagi mendengar Kevin akan merenovasi ulang bangunan itu. Bersama Bu Rini, Keira dan Leon, Kevin meninjau panti itu. Bahkan Kevin memotret di setiap sudut ruangan dan halaman dengan sangat cermat juga teliti. Keira tidak menyangka kalau Kevin memanglah luar biasa. Sekalipun Kevin itu judes dan keras kepala tapi tidak di pungkiri Kevin memang luar biasa dan mempunyai sisi kemanusian yang tinggi, di luar perkiraannya.
''Tuan keras kepala ini keren juga ternyata,'' gumam Keira dalam hati.
''Seandainya saya lebih awal mengetahui ada panti seperti ini, saya sudah dari awal merenovasinya, Bu. Tanahnya luas tapi bangunannya terbatas.''
''Ya mau bagaimana lagi Tuan, saya hanya bisa mengurus semampu saya dan suami saya.''
''Setelah mendengar cerita Bu Rini tadi, ternyata anda memiliki hati yang sangat mulia sekali ya, Bu. Jarang sekali ada orang yang memikirkan orang lain seperti ini. Saya janji akan membantu semuanya. Mulai dari renovasi bangunan, serta akan mengirimkkan tenaga medis untuk mengontrol kondisi mereka setiap harinya. Serta kita harus membenahi administrasi yang ada terutama untuk mereka orang mampu yang sengaja menitipkan orang tua mereka disini.''
''Semuanya saya serahkan semuanya pada anda, Tuan. Yang jelas saya ucapkan beribu-ribu terima kasih. Tapi saat tempat ini di renovasi, dimana kita akan membawa mereka tinggal untuk sementara waktu?''
''Oh untuk itu tidak usah anda pikirkan. Kebetulan saya punya rumah yang tidak saya tempati. Lebih tepatnya rumah almarhum orang tua saya dan kebetulan penyewanya juga sudah mengakhiri kontrak sewanya. Cukup luas untuk mereka semua tempati.''
''Alhamdulillah sekali, akhirnya kami di pertemukan dengan orang seperti anda Tuan. Kami sangat senang sekali.''
''Saya hanya perantara. Keira lah yang membawa saya kemari.'' Ucap Kevin sambil melempar pandangannya dengan Keira yang sedari tadi mengekor bersama Leon.
''Terima kasih juga ya Mbak Keira, sudah membantu kami dan Mas Leon juga.''
''Sama-sama Bu,'' jawab Keira dan Leon secara bersamaan dan itu membuat Kevin tidak suka.
''Oh ya Bu, sebenarnya saya dan Keira akan menikah Minggu depan.''
''Sungguh? Saya turut bahagia. Saya pikir Mas Leon dan Mbak Keira yang punya hubungan karena mereka sangat dekat dan sering bersama. Tapi ternyata Mbak Keira sudah punya calon suami yang sangat tampan dan juga baik hati sekali,'' kata Bu Rini yang menyanjung Kevin setinggi langit. Keira mengedipkan matanya pada Kevin sambil menggigit bibir bawahnya pada Kevin, memberi kode supaya Kevin tidak asal bicara. Namun hal itu tidak mempan untuk Kevin.
''Saya harap Ibu juga bisa datang tapi kami hanya menggelar pernikahan sederhana saja. Yang penting sah dan sakral.''
''Semoga saya bisa hadir dan tidak ada acara nanti. Saya doakan supaya kalian selaku akur, bahagia, sampai maut memisahkan dan di karuniai anak-anak yang lucu-lucu.''
''Amin. Terima kasih doanya, Bu.''
''Hmmm untuk apa Tuan Kevin meng-aminkan segala. Toh dia menikah untuk menjaga reputasinya sendiri,'' gerutunya dalam hati.
Setelah bicara panjang lebar dengan Bu Rini, Kevin memutuskan untuk pamit.
''Baiklah saya permisi dulu, Bu. Sekaligus saya minta ijin untuk mengajak Keira juga. Karena ada hal yang harus kami persiapkan.''
''Oh tentu saja boleh, Tuan.''
''Tapi aku masih ingin disini,'' sahut Keira.
''Keira, banyak sekali hal yang harus kita siapkan jadi kamu harus menurut ya. Besok kamu boleh datang kembali lagi kesini.'' Kata Kevin dengan lembut sambil membelai kepala Keira. Keira terpaku saat Kevin berani menyentuh kepalanya, ingin sekali memelintir tangan Kevin namun sayang situasinya tidak tepat.
''Baiklah Bu, kami permisi.''
''Iya hati-hati ya kalian.'' Kata Bu Rini. Leon menatap kepergian Keira dengan penuh rasa kecewa. Ada rasa sesak yang hinggap di dada Leon.
-
Di dalam mobil Keira pun terus mengoceh pada Kevin.
''Kenapa Tuan menyentuhku? Kesempatan kan?''
''Hei, aku juga berusaha menahan jijik saat menyentuh kepalamu. Kepalamu lepek dan bau sekali. Sudah berapa bulan kamu tidak keramas?''
''Enak saja, aku baru kemarin ya keramas.''
''Pasti kamu memakai shampo murahan.''
''Terus saja menghina ku!''
''Sudah jangan banyak bicara, kita harus ke kantor hari ini untuk membuat vidio klarifikasi. Miko sudah menunggu disana, sekaligus aku ingin membicarakan masalah renovasi panti jompo itu. Ingat juga nama baik Ayahmu, Kei. Kamu jangan egois! Nasi sudah menjadi bubur jadi kita jalani saja semuanya.''
Mendengar ucapan Kevin, Keira hanya bisa terdiam sambil menyandarkan kepalanya di kaca jendela mobil. Ia hanya bisa pasrah menerima nasib hidupnya yang akan datang.
Bersambung... Maaf ya upnya dikit lagi nggak badan soalnya, semoga besok bisa crazy up ya 🙏❤️