Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 126 Kembalinya Cinta Pertama



''Mas, aku meneruskan magangku di kantor kamu saja ya. Sekalian aku bisa nyelesein skripsi.''


''Kamu serius?'' tanya Kevin seolah tak percaya.


''Iya lah. Kan aku bisa jadi konsultan psikolog disana, atau bagian HRD aja lah.'' Kata Keira sambil merapikan dasi suaminya.


''Jangan bagian HRD dong, Kei. Kamu kan istriku, kamu jadi konsultan pribadi aku aja ya.'' Goda Kevin sambil mengerlingkan matanya.


''Hmmm itu maunya kamu, Mas.''


''Itu lebih baik sih jadi kita tiap hari bisa ketemu terus aku dapat servis makan siang plus-plus juga.'' Ucapnya sambil mengecup hidung Keira.


''Tuh kan, bener dugaan aku.''


''Kamu tenang saja, aku akan memberikan nilai terbaik untuk kamu.''


''Kalau nilai, aku kan udah pintar Mas, hehehe.''


''Iya deh percaya. Ya udah kita berangkat sekarang.''


''Oh ya gimana kabar Pak Krisna dan Laras ya?''


''Mana aku tahu, sayang. Laras tidak menghubungimu?''


''Tidak sama sekali.''


''Ya udah lah mereka sudah dewasa, biarkan mereka menjalani prosesnya sendiri.'' Kata Kevin. Kevin dan Keira lalu turun dari kamarnya dan menuju meja makan.


''Pagi jagoan Papa,'' sapa Kevin sambil mengcup pucuk kepala putranya.


''Pagi Pah.''


''Pagi Marvel sayang,'' sapa Keira sambil mengecup pipi Marvel.


''Pagi juga, Mah.''


''Marvel, Papa dan Mama dapat hadiah bulan madu dari rekan bisnis Papa. Rencananya lusa kami akan berangkat. Kamu mau ikut?'' tanya Kevin sambil memberikan kode kedipan mata dan gelengan kecil pada putranya. Berharap Marvel menjawab tidak ikut.


''Memang dimana, Pah?''


''Di Amerika, Pulau pribadi milik Tuan Micahel.''


''Mas, ajak Marvel saja. Aku tidak tega meninggalkannya sendiri.''


''Mama dan Papa berangkat saja. Aku akan di rumah. Aku mau menginap di rumahnya Kakek Ammar dan Om Kenny, boleh kan?''


''Tentu saja boleh, dong. Lagi pula Papa dan Mama pergi cuma 4 hari saja.''


''Kenapa Mama tidak tega meninggalkan kamu ya, Marvel?''


''Mah, aku tidak apa-apa. Aku akan menjadi seorang Kakak jadi aku harus mandiri dan tidak boleh manja. Iya kan?''


''Jagoan Papa semakin pintar saja. Itu harus, Nak. Apalagi kamu seorang laki-laki, kamu harus tangguh.''


''Yang penting secepatnya beri aku adik ya, Mah-Pah.'' Kata Marvel.


''Iya. Kamu doanya juga yang semangat ya.'' Kata Keira.


''Biarkan Papa dan Mama yang semangat untuk berusaha. Kami berusaha dan berbuat, kamu yang berdoa.'' Seloroh Kevin.


''Bukan gitu juga kali konsepnya, Mas. Kita juga harus berdoa, masa iya cuma Marvel.''


''Hehehe iya-iya aku mengerti.''


-


Mauren yang barus aja tiba di kantor, sangat kesal karena pagi-pagi sudah di suguhkan adegan romantis Kevin dan Keira yang saling bergandengan erat.


''Kenapa tuh cewek ngintilin Kevin melulu sih? Ngeselin banget. Gue kan jadi nggak bisa dekat-dekat sama Kevin,'' gerutu Mauren.


Sebenarnya tujuan utama Keira ingin meneruskan magang di kantor karena tidak ingin Mauren terus berusaha mendekati Kevin.


-


Siang itu, Johan baru saja keluar dari mini market karena ada keperluan sehari-hari yang memang harus di beli. Namun di seberang jalan, Johan melihat Tessa sedang berdebat dengan seorang pria. Yang tak lain pria itu adalah suami Tessa, namanya Rio. Namun justru Rio sedang menggandeng wanita lain.


''Terus kenapa? Aku memang sudah bosan dengamu, Tessa. Kamu sudah tidak menarik lagi.'' Kata Rio dengan entengnya.


''Nona, sebaiknya anda jangan pernah berhubungan dengan pria brengsek ini. Anda sangat cantik dan anda berhak mendapatkan yang lebih baik. Dia itu benalu dan kasar!" kata Tessa sambil menunjuk wajah Rio.


''Hei, jaga ucapanmu! Surat percerain kita sebentar lagi keluar, jadi suka-suka aku dong mau ngapain. Sumpah, aku nyesel ya nikah sama kamu.''


''Apalagi aku? Aku menyesal menikah denganmu, Rio. Kamu brengesek, benalu dan gila!''


''Kurang ajar kamu ya?'' kata Rio sambil mengangkat tangannya hendak memukul Tessa. Namun tangan Johan berhasil menahan tangan Rio.


''Kalau berani sama gue! Jangan sama cewek!" kata Johan dengan geram.


''Siapa lo? Sok jadi pahlawan.''


''Nggak penting gue siapa, yang jelas elo itu BANCI!" Kata Johan dengan suara meninggi. Amarahnya benar-benar tersulut.


''Sialan Lo!" kata Rio sambil melayangkan tinju ke wajah Johan sampai membuat bibir Johan berdarah. Johan yang kesal berniat membalas pukulan Rio, namun Tessa menahan tangan Johan. Tatapan mata sendu Tessa pun, membuat Johan mengurungkan niatnya.


''Elo yang banci,'' kata Rio sambil berlalu menuju mobil bersama selingkuhannya.


''Kamu tidak apa-apa?'' tanya Johan. Tessa hanya menggeleng sambil terus menangis.


''Johan, apa kamu bisa membantu aku?''


''Selama aku bisa, akan aku bantu.''


''Tolong antar aku ke rumah untuk mengambil semua pakaianku dan anakku.''


''Baiklah.'' Kata Johan. Johan lalu mencegat sebuah taksi untuk Tessa. Johan tidak banyak bicara saat keduanya dalam perjalanan. Johan tidak ingin bertanya ataupun memaksa Tessa menceritakan apa yang di alaminya. Sesampainya di rumah, Tessa segera masuk ke kamarnya. Sementara Johan lebih memilih menunghu di dalam taksi. Tak butuh waktu lama bagi Tessa untuk mengemasi pakaiannya karena sebelumnya Tessa sudah mengemasi semuanya. Setidaknya ada empat koper besar yang Tessa bawa. Setelah semua koper masuk ke dalam bagasi, Tessa meminta taksi untuk jalan kembali.


''Kamu mau kemana? Kenapa harus pergi dari rumah?'' tanya Johan.


''Sebenarnya aku dan suamiku sudah berpisah. Tinggal menunggu surat pengadilan keluar.''


''Berpisah? Kenapa harus sampai berpisah?''


''Mungkin ini sudah jalannya, Jo. Hubungan kita sudah berakhir.''


''Lalu di jalan tadi?''


''Tadi aku sedang mencari rumah kontrakan. Rio mengusirku dari rumah tanpa memberikan harta gono-gini untukku. Bukan untukku tapi setidak untuk Anrez, anaknya.''


''Kalau Anrez sudah seusia anak sambungnya Keira, berarti dulu saat masih mengajar kamu sudah menikah dong?''


''Iya. Aku menikah saat usiaku masih 19 tahun sedangkan dia berusia 27 tahun. Mungkin ini salahku juga karena tidak menurut pada orang tuaku. Orang tuaku tidak suka pada Rio tapi ya namanya cinta, akhirnya aku menikah saja dengan Rio. Jadi ada masalah seperti ini pun aku tidak berani mengadu pada mereka. Biar aku yang bertanggung jawab menyeselesaikan masalah ini. Jadi aku dulu meneruskan magang di sekolah kamu saat Anrez sudah berusia 3 tahun. Aku dulu sempat cuti kuliah satu tahun, lalu akhirnya aku melanjutkan kuliah ku lagi sampai akhirnya lulus. Ternyata setelah menikah, tabiat Rio pun tercium. Dia yang mengaku pengusaha dan bla bla bla, ternyata hanyalah bualan saja. Aku memberikan tabungan dan apa yang aku punya untuk dia dengan dalih modal usaha tapi ternyata NIHIL. Dia suka judi, main perempuan dan kasar.''


''Kenapa saat itu kamu tidak meminta berpisah?''


''Itu karena aku masih cinta dan karena Anrez. Aku berharap dia bisa berubah dan kita bisa melewati semuanya bersama. Tapi ternyata dia belum juga berubah, aku bekerja keras untuk menghidupi dia dan keluarga kecil kita. Aku begitu bodoh dan lemah di hadapan dia. Tapi setelah aku bisa terbebas dengannya, perasaanku sangat lega. Dan asal kamu tahu, rumah itupun telah di jual oleh Rio tanpa sepengetahuanku. Apalagi tadi aku bertemu dengannya dengan wanita lain, aku sangat marah. Aku marah bukan karena aku maish mencintainya tapi setidaknya dia punya nurani untuk memikirkan masa depan anaknya.''


''Jadi apa lukamu kemarin karena perbuatannya?''


''Iya. Saat aku tidak bisa memenuhi keinginannya, dia akan memukulku. Sampai akhirnya aku benar-benar berani berpisah dan siap hidup tanpa dia. Sungguh Anrez yang aku jadikan kekuatan, Jo.''


''Kenapa kamu tidak melaporkan kekerasan ini pada polisi?''


''Tidak Jo! Aku tidak mau. Aku tidak ingin Anrez sedih mempunyai seorang Ayah narapidana. Aku tidak ingin dia malu dan sedih, terlebih saat dia menanyakan dimana Ayahnya? Aku hanya membawa bukti perselingkuhannya di pengadilan. Aku berusaha menjaga perasaan Anrez karena perpisahan ini sudah pasti akan membuatnya sedih.''


''Aku yakin Anrez mengerti apa yang di alami oleh Ibunya. Aku yakin dia pasti akan menjaga kamu dan melindungi kamu. Yang harus kamu lakukan sekarang, kuat dan bertahanlah untuk Anrez.''


''Iya kamu benar. Kini Anrez adalah kekuatanku. Setidaknya aku selalu berusaha menyembunyikan air mata ini dari dia.''


''Oh ya kebetulan di sebelah kontrakan aku ada rumah kosong. Kebetulan juga orang yang menempatinya baru saja pindah kemarin. Ada dua kamar disana, apa kamu mau?''


''Iya aku mau. Setidaknya saat Anrez pulang nanti, dia sudah bisa berteduh.''


''Aku ingin sekali bertemu dengan Anrez.''


''Nanti kamu juga tahu, Jo. Sekali lagi terima kasih untuk bantuanmu tapi maaf juga karena Rio, kamu harus terluka.''


''Tidak apa-apa, ini hanya luka kecil.'' Jawab Johan dengan senyum kecilnya.


''Kasihan sekali kamu Tessa. Mutiara seindah ini di campakkan begitu saja,'' kata Johan dalam hati.


Bersambung...