
Marvel yang tengah tertidur mendadak terbangun, mendengar isakan tangis Keira. Namun ia tetap pura-pura tertidur dan membiarkan Keira tenggelam dalam kesedihannya. Keira membuka kembali semua kenangannya bersama Ferdi. Saat susah dan senang yang telah ia lewati bersama dengan Ferdi. Tiga tahun bersama dan empat tahun dengan setia menunggu namun ternyata di hianati, adalah sebuah hal yang sangat sulit untuk Keira lupakan begitu saja. Hanya saja ia selalu berusaha tegar di hadapan orang-orang yang ia cintai. Apalagi saat ia membaca secarik kertas dari Ferdi. Rupanya kedatangan Ferdi sekaligus ingin memberikan hadiah untuk Keira. Sebuah kalung emas putih yang selama ini Keira inginkan. Sebuah kalung sederhana yang memiliki bandul bulan sabit dengan permata di tengahnya. Ferdi sengaja memesan kalung dengan model yang sama untuk Keira.
Untuk Keira yang selalu aku cintai...
Ingatkah kamu saat ujian kelulusan SMA, tepat saat kita selesai merayakannya berdua dan kita berhenti di depan sebuah toko perhiasan. Kamu melihat dan menatap sebuah kalung yang terpajang di etalase kaca. Dan aku diam-diam memperhatikanmu. Meskipun kamu tidak bicara tapi aku tahu kalau kamu pasti ingin memilikinya. Di saat itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi orang yang sukses supaya kelak aku bisa memberikan kalung itu untukmu.
Maaf jika aku harus memberikannya dengan cara seperti ini, dengan cara yang menyakitkan. Aku hanya berusaha menepati janjiku. Sekali lagi maafkan aku. Aku tahu kalau penyesalan akan terus menghantui hidupku. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, aku selalu mencintaimu dan berdoa supaya kamu mendapatkan pasangan yang terbaik.
Dari yang selalu mencintaimu,
-FERDI-
Isak tangis Keira semakin terdengar keras setelah membaca isi surat dan melihat kalung itu.
"Untuk apa kamu mengirimkan kalung ini untukku, Fer. Sudah jelas kamu menggoreskan luka yang sangat dalam di hatiku. Bahkan kalung ini tidak mampu menyembuhkan luka yang telah kamu sayatkan secara diam-diam." Gumam Keira dalam hati. Keira lalu melipat kembali secarik kertas itu kedalam kotak perhiasan itu. Keira berniat mengembalikannya. Bahkan malam itu Keira membereskan semua benda yang menyimpan banyak kenangan dengan Ferdi. Keira kemudian pergi ke halaman belakang dan membakarnya sampai tak tersisa. Namun diam-diam sepasang mata anak kecil melihat itu semua. Melihat semua kesedihan, sakit dan kekecewaan yang Keira rasakan.
"Aku harus berdamai dengan papa dan meminta papa menemani Mama Keira ke pernikahan Om Ferdi," kata Marvel dalam hati.
-
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Kevin sedang dalam perjalanan menuju Keira. Karena hari ini Marvel harus pergi ke sekolah. Keira sendiri sedang menyiapkan sarapan, Ia berniat setelah sarapan akan mengantarkan Marvel untuk pulang.
''Sarapan pagi sudah siap! Marvel-Ayah, ayo kita sarapan,'' teriak Keira. Pak Ammar dan Marvel yang sedang memberi makan ayam, segera menuju ke ruang makan. Tak lupa Pak Ammar mengajak Marvel untuk cuci tangan terlebih dahulu.
''Wah, aromanya sedap sekali. Ayam goreng ya mah?'' kata Marvel dengan wajah gembiranya.
''Iya Marvel. Ayam goyeng, tempe goreng sama sayur sop.'' Kata Keira sambil menuangkan nasi ke dalam piring Marvel.
''Aku mau semuanya mah,'' kata Marvel.
''Oke. Anak pintar.'' Kata Keira sambil mengusap kepala Marvel.
''Oh ya Ayah mau apa?'' tanya Keira seraya menuangkan nasi kedalam piring Ayahnya.
''Ayah juga mau semuanya seperti Marvel, supaya Ayah selalu sehat.''
''Oke, baiklah. Sepertinya kalian semakin kompak.''
''Tentu saja dong, Mah. Kita kan cucu dan kakek yang kompak.''
Namun tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
''Siapa ya pagi-pagi bertamu,'' gumam Keira.
''Buka saja nak, siapa tahu Pak Rt atau teman kamu,'' sahut Pak Ammar.
''Ya sudah, aku buka pintu dulu ya Yah.'' Keira lalu berjalan ke depan untuk membuka pintu.
''Tuan Kevin!" seru Keira dengan rasa terkejut.
''Apa Marvel sudah bangun? aku sengaka kemari untuk mengantarkan seragam sekolahnya.'' Kata Kevin sambil menunjukkan gantungan baju yang ia bawa.
''Masuklah Tuan. Marvel sedang sarapan.''
''Terima kasih.'' Keira lalu mengajak Kevin masuk lebih dalam menuju ruang makan. Pandangan Kevin mengedar melihat setiap sudut rumah Keira.
''Sederhana dan rapi juga,'' batin Kevin.
''Selamat pagi, Pak.'' Sapa Kevin dengan sopan.
''Oh Tuan Kevin rupanya. Silahkan duduk Tuan. Kami sedang sarapan.'' Kata Pak Ammar yang mempersilahkan Kevin duduk.
''Papa!" seru Marvel seraya memeluk papanya.
''Papa sangat merindukanmu. Kamu sudah tidak marah lagi pada papa?''
''Tidak pah. Aku sudah tidak marah lagi.''
''Apa itu artinya kita baikan?''
''Maafkan papa juga ya karena sudah bersikap kasar.''
Entah kenapa Keira senang sekali setiap melihat Kevin bersikap hangat seperti itu pada Marvel.
''Oh ya ini seragam sekolah kamu. Kamu harus sekolah ya.''
''Iya pah, aku mau sekolah kok.''
''Tadinya setelah sarapan, aku berniat mengantar Marvel pulang tapi ternyata tuan sudah datang kemari.''
''Tidak masalah. Karena aku juga merindukannya. Kalau begitu aku pamit ke kantor.''
''Tuan Kevin, sebaiknya kita sarapan dulu. Pasti tuan juga belum sarapan kan? apalagi ini juga masih sangat pagi,'' sahut Pak Ammar.
''Mmm terima kasih Pak tapi saya harus ke kantor.'' Tolak Kevin dengan halus namun tiba-tiba saja terdengar bunyi kruukk... kruukk... kruukk... suara cacing di perut Kevin tidak bisa di bohongi. Keira, Pak Ammar dan Marvel berusaha menahan tawa saat mendengar suara cacing kelaparan di perut Kevin. Seketika Kevin memegangi perutnya.
''Sudah Tuan, jangan malu. Kita makan sama-sama. Apalagi tuan juga baru sembuh dari sakit lambung tuan,'' kata Keira sambil menahan tawanya.
''Keira benar sekali. Ayo kita sarapan!" sahut Pak Ammar. Kevin sebenarnya mendadak lapar saat mencium aroma masakan yang tersaji di atas meja.
''Kei, layani tuan Kevin. Masa kamu diam saja,'' perintah Pak Ammar. Keira dengan terpaksa menuruti perintah Ayahnya.
''Tuan mau apa? tapi hanya ini yang kami punya,'' ketus Keira.
''Ini sudah lebih dari cukup. Aku mau ayam, sayur dan tempe gorengnya juga. Boleh minta teh hangat?'' Kata Kevin yang membuat Keira mengerutkan dahinya.
''Memangnya aku penjaga warteg apa?'' ketus Keira sambil menuangkan nasi dan lauk ke dalam piring Kevin.
''Keira, tuan Kevin itu tamu jadi kamu harus melayaninya. Tamu itu pembawa rezeki, nak.'' Kata Pak Ammar.
Keira mendengus kesal. ''Hhhhh iya-iya.''
''Maaf ya Pak karena saya setiap sarapan selalu tersedia teh hangat di meja.''
''Tidak apa-apa tuan Kevin.''
''Papa ini merepotkan sekali,'' sahut Marvel yang di sambut tawa Pak Ammar.
''Kamu lebih merepotkan, sudah punya rumah tapi malah menginap dan makan disini,'' kata Kevin yang membalik ucapan putranya.
''Sudah-sudah, kalian ini lucu sekali ya. Ayo kita sarapan dengan tenang supaya perut cepat kenyang,'' kata Pak Ammar.
''Iya terima kasih Pak.....,'' Kevin berfikir karena tidak tahu nama Ayah Keira.
''Pak Ammar, Tuan Kevin.''
''Iya Pak Ammar.'' Kata Kevin.
''Ini tehnya tuan,'' kata Keira sambil menyodorkan secangkir teh untuk Kevin.
''Terima kasih, maaf merepotkan.''
''Memang selalu merepotkan,'' ketus Keira.
''Keira, jangan seperti itu pada tuan Kevin,'' tegur Pak Ammar.
''Pak, jangan panggil tuan tapi panggil nama saja. Bapak kan sudah menganggap Marvel cucu, jadi anda tidak usah bersikap formal pada saya.''
''Baiklah kalau begitu nak Kevin. Kamu juga jangan panggil Bapak tapi panggil Ayah saja karena hampir semua teman Keira, memanggil saya Ayah.''
''Ayah tapi dia kan bukan teman Keira. Dia usianya jauh sekali dari Keira,'' sahut Keira yang mulai kesal karena ia merasa Ayahnya sudah mulai berpihak pada Kevin.
''Keira, nak Kevin kan papanya Marvel jadi berarti kalian juga teman kan? sudah sebaiknya kita fokus makan, nanti Marvel terlambat ke sekolah karena kita beradu argumen seperti ini.''
Kevin merasa menang karena Pak Ammar membelanya. Kevin tersenyum miring menatap Keira yang memasang wajah cemberutnya.
Bersambung.... Yukkk like, komen dan votenya yang banyakkk yaaa 🙏🙏❤️❤️