Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 301 Gunung Es Mencair


''Oh ya, besok kan hari libur. Bagaimana kalau kita jalan-jalan? Aku ingin sekali yang namanya nonton bioskop, pergi ke mall terus pergi ke arena time zone.''


''Memangnya kamu belum pernah sama sekali?''


''Belum pernah sama sekali. Rumahku di pelosok kampung, Zidni. Aku kuliah waktu itu juga ngekos. Dan aku tidak pernah pergi kemanapun. Ya, mungkin aku kuliah mendapat beasiswa tapi untuk kehidupan sehari-hari tetap saja kan membutuhkan uang. Jadi aku dulu habisin waktuku kerja part time. Habis kerja ya pulang. Sudah, begitu terus sampai akhirnya aku lulus. Aku tidak mungkin meminta sama Ibu dan Ayah terus. Jadi biaya kos dan makan sehari-hari, aku bayar sendiri. Karena aku sadar, Ayah dan Ibu tidak mungkin bisa memberi jatah setiap bulan. Apalagi kehidupan di kota itu sangat mahal.'' Sepanjang Chika bercerita, Zidni mendadak menjadi pendengar yang baik untuk Chika, sembari sesekali menatap Chika.


''Baiklah, besok kita pergi jalan-jalan. Lagi pula hari libur bete juga dirumah.''


''Kamu serius?'' Chika tidak percaya kalau Zidni mengabulkan keinginannya itu.


''Iya, aku serius.''


''Eh nanti dulu saja lah,'' ucap Chika.


''Kenapa?''


''Aku belum gajian. Tiket bioskop pasti mahal, mau ke mall juga mau beli apa? Kalau tidak mencari diskonan. Terus bermain di arena time zone kan juga pakai uang, mana mungkin gratis. Sebaiknya besok aku di rumah saja, membantu Bibi bersih-bersih.'' Chika hampir lupa kalau untuk pergi ke tempat yang ia inginkan itu tidak murah. Gajian juga masih lama.


''Biar aku yang membayar semuanya.'' Ucap Zidni.


''Ah, tidak-tidak! Aku tidak mau merepotkanmu Zidni, meskipun aku tahu kamu banyak uang tapi aku tidak mau dianggap memanfaatkanmu.''


Zidni tersenyum tipis mendengar kepolosan Chika. ''Memang siapa yang mau bilang begitu? Sudahlah tidak apa-apa. Kamu juga belum sempat keliling kan?''


''Belum sama sekali malah. Memangnya kamu hafal daerah sini?''


''Aku kan lahir disini juga. Setelah lulus SD, kami semua baru pindah ke Shanghai. Itupun dulu kami masih sering bolak-balik. Jadi bagaimana?''


''Tapi serius nih tidak apa-apa?''


''Jangan banyak bertanya, nanti aku malah berubah pikiran.''


''Oke.''


Keesokan harinya, Chika begitu sibuk memilih pakaian mana yang cocok untuknya hari ini. Tentu saja untuk keluar bersama Zidni, ia harus bisa mengimbangi penampilan Zidni yang modis. Sementara dirinya, sungguh jauh dari kata modis. Chika akhirnya memilih celana jeans, yang ia padukan dengan tank top dan kemeja flanell yang kancingnya sengaja tidak ia kaitkan. Chika juga memilih menguncir kuda rambutnya karena itu lebih simple. Di tambah flat shoes warna cream, yang menurut Chika itu adalah penampilan sempurnanya. Setelah siap, ia segera menuju ke rumah depan. Namun ia terkejut saat membuka pintu paviliunnya, Zidni sudah berdiri di depan sana.


''Zidni, kamu sudah lama?'' mendengar suara Chika, Zidni lalu berbalik menghadap Chika. Chika terpesona karena Zidni tampak sangat rapi. Biasanya rambut gondrongnya di biarkan terurai tapi kini tampak klimis dengan disisir kebelakang. Dan cara Zidni berpakaian juga lebih rapi tidak seperti biasanya yang acak-acakan.


''Sadar Chika,'' gumam Chika dalam hati.


''Sudah sejak sepuluh menit yang lalu.''


''Maaf sudah membuatmu menunggu. Baiklah, ayo kita jalan!"


''Oke.'' Jawab Zidni. Zidni selalu memilih motor untuk tunggangannya. Pertama, Zidni mengajak Chika untuk menonton bioskop.


''Mau nonton film apa?'' tanya Zidni.


''Aku tidak tahu dan bingung juga. Karena ini juga pertama kali bagiku.''


''Bagaimana nonton film horor?''


Chika mengerutkan dahinya. ''Horor? Bisa yang lain tidak? Yang ada, nanti malam aku tidak bisa tidur.''


''Baiklah, kita nonton film romance saja. Bagaimana?''


''Iya, itu lebih baik.''


''Iya.'' Singkat Chika. Pandangan Chika mengedar, untuk pertama kalinya ia pergi ke bioskop. Setelah membeli pop corn dan tiket, Zidni segera menghampiri Chika lalu mengajaknya masuk.


Setelah puas menonton, Zidni lalu mengajak Chika jalan-jalan ke mall.


''Ada yang ingin kamu beli?'' tanya Zidni.


''Tidak ada. Jalan-jalan saja sudah cukup.'' Jawab Chika.


''Ada toko baju disana, kamu tidak ingin melihatnya?'' sambung Zidni.


''Tidak Zidni, lain kali saja. Bajuku masih ada kok.''


''Aku lihat baju kerjamu itu-itu saja. Kamu seorang sekretaris, jadi kamu harus perhatikan penampilanmu.''


''Ya, memang punyanya itu. Memang kenapa? Aku tidak malu kok. Aku bergaya sesuai kemampuanku.'' Chika tersinggung dengan ucapan Zidni.


''Sorry-sorry, aku tidak bermaksud. Oh ya sebaiknya kita makan dulu, setelah itu aku akan mengajakmu ke arena time zone.''


''Iya baiklah.''


Setelah memesan makanan, Zidni mendadak ingin pergi ke toilet.


''Eh tunggu disini ya, aku mau ke toilet sebentar. Kamu makan saja dulu.''


''Jangan lama-lama ya.'' Pesan Chika. Chika khawatir kalau Zidni mengerjainya dengan cara meninggalkannya begitu saja.


''Oke.'' Zidni lalu meninggalkan makanannya dan segera pergi ketoilet.


Namun sebenarnya, Zidni tidak pergi ke toilet. Melainkan, Zidni pergi ke sebuah toko pakaian wanita. Hati Zidni tiba-tiba terketuk ingin membelikan beberapa stel baju kerja untuk Chika. Satu rumah dengan Chika selama hampir empat bulan, Zidni tentu saja memperhatikan pakaian Chika yang itu-itu saja. Apalagi ia pernah memergoki Chika mengelem heels sepatunya yang patah. Zidni akhirnya memilih dua blouse dan dua rok kantoran untuk Chika. Zidni juga membelikan dua pasang sepatu kerja untuk Chika. Zidni meminta kepada toko untuk mengirim semua belanjaannya langsung ke rumah. Apalagi ia juga tidak membawa mobil.


Sementara Chika berkali-kali celingak-celinguk karena Zidni tak kunjung datang.


''Kemana nih anak? Awas saja kalau sampai tega meninggalkanku. Aku akan mengadu pada Om Miko dan Tante Gina supaya dia di pecat jadi keponakan. Mana aku tidak tahu jalan pulang. Apa dia memang sengaja bersikap baik untuk menyingkirkan aku?'' gumam Chika dengan segala kepanikan di dalam hatinya.


Akhirnya yang di tunggu Chika datang juga. Dengan ekspresi datarnya, Zidni duduk di hadapan Chika.


''Kenapa lama sekali? Sudah empat puluh menit, Zidni.''


''Maaf ya, perutku sakit dan kebetulan toilet penuh jadi aku lari-lari ke lantai bawah yang kosong.''


''Aku pikir kamu akan meninggalkanku. Bahkan dengan sengaja meninggalkan aku.''


''Aku sudah menduga kalau kamu akan berpikir seperti itu. Makananmu kenapa belum habis?''


''Bagaimana mau habis? Kamu pergi sangat lama. Aku kan takut.''


''Ya sudah, cepat habiskan. Masih banyak jadwal kita bermain-bermain.'' Ucapnya dengan senyumnya yang sangat tipis.


Setelah selesai makan, Zidni dan Chika pergi ke arena time zone. Semua permainan mereka coba. Mereka seperti dua bocah yang masa kecilnya kurang bahagia. Dan Chika bisa melihat tawa lepas Zidni setelah sekian lama mereka tinggal satu rumah.


''Kenapa aku bahagia sekali melihat kamu tertawa lepas Zidni? Akhirnya aku bisa melihat tawamu hari ini.'' Gumam Chika dalam hati.


Bersambung.....