
Di sekolah, saat jam istirahat, Marvel menuju kelas Anrez.
''Anrez!" panggil Marvel sambil melambaikan tangannya pada Anrez.
''Hei, Marvel!" balas Anrez. Anrez segera merapikan bukunya dan segera keluar menyusul Marvel. Namun tiba-tiba pandangan Marvel tertuju pada sosok gadis yang ia temua di sekolah. Gadis kecil itu duduk di bangku paling pojok.
''Hei ayo kita main! Kamu lihat apa?'' tepukan tangan Anrez di pundak Marvel, menyadarkan Marvel dari sosok gadis kecil itu.
''Eh iya ayo!" ucap Marvel.
''Kita main apa Marvel?''
''Bagaimana kalau sepak bola saja?''
''Oke baiklah aku setuju.''
''Oh ya aku mau tanya, apa di kelasmu ada anak baru?''
''Iya, dia baru pindah sekitar empat hari lalu. Tapi dia aneh banget.''
''Apa gadis yang duduk di bangku pojok belakang itu?''
''Iya, namanya Luna.''
''Memang apa yang membuatnya aneh?''
''Ya sejak dia datang, dia tidak pernah banyak bicara. Padahal teman-teman satu kelas ingin sekali bermain dengannya tapi dia tidak pernah mau. Dia lebih suka menyendiri terus jarang ngomong lagi. Pokoknya aneh lah, akhirnya teman-teman menganggapnya sombong.''
''Memangnya kamu tidak pernah mengajaknya berkenalan langsung?''
''Pernah sih tapi ya begitu, dia tidak mereponku. Bahkan dia hampir tidak pernah bicara. Dia selalu membaca buku cerita alias dongeng.''
''Tapi kalau untuk menerima pelajaran di kelas apa dia bisa mengikuti?''
''Bisa banget karena dia anak yang pintar. Hanya saja dia tidak banyak bicara.''
''Oh begitu.''
''Hmmmm kenapa ya dia? Apa dia juga seperti aku yang dulu? Tapi sepertinya itu lebih dari itu.'' Gumam Marvel dalam hati.
Bel pulang sekolah berbunyi, semua murid berhamburan termasuk Marvel. Marvel dengan semangat segera menghampiri Anrez di kelasnya, terlihat Anrez juga baru saja keluar dari kelasnya. Anrez tersenyum seraya berlari kecil menghampiri Marvel.
''Kamu belum di jemput?''
''Belum tahu juga sih, Rez.''
''Oh ya bagaimana hasil ulangan kemarin?''
''Memuaskan, Rez.''
''Pasti dapat nilai 10 ya?'' tebak Anrez.
''Iya.''
''Kenapa sih kamu pintar banget? Aku cuma dapat 7.''
''Tujuh sudah bagus, Rez. Kalau kamu lebih giat lagi pasti kamu hisa dapat nilai 10.''
''Sepertinya kamu tidak pernah mengalami kesulitan dalam pelajaran ya.''
''Pernah kok. Sudahlah tidak usah membahas nilai lagi. Aku ingin membeli es potong di depan, pasti sudah antre.''
''Ide bagus. Tapi kali ini biar aku yang mentraktirmu ya? Kamu sudah terlalu sering mentraktirku, Marvel.''
''Oke baiklah, aku menerimanya dengan senang hati.'' Mereka berdua lalu berjalan menuju halaman depan sekolah. Di depan sekolah, sudah banyak para pedagang yang berjejer.
''Tunggu disini saja, biar aku antre dulu.'' Kata Anrez seraya berlalu.
''Oke.'' Sambil menunggu Anrez, Marvel memilih untuk membaca buku milik Mamanya. Entahlah Marvel semakin tertarik belajar tentang dunia psikologi. Tiba-tiba fokus Marvel teralihkan, saat mendengar seseorang terjatuh di tengah kerumunan para siswa yang berhamburan keluar. Terdengar rintihan kecil yang Marvel dengar. Pandangan Marvel berusaha menerobos kerumunan itu dan ternyata Luna lah yang terjatuh tersungkur. Marvel meletakkan bukunya begitu saja dan segera menolong Luna. Marvel segera membantu Luna berdiri.
''Kamu tidak apa-apa?'' tanya Marvel. Luna hanya terdiam sambil meringis menahan perih di lututnya. Marvel lalu memapah Luna dan mengajaknya duduk. Marvel kemudian mengambil air dan tisu dari tasnya untuk membersihkan luka di lutut Luna. Luna mendesis menahan perih sambil memejamkan matanya.
''Tahan ya.'' Ucap Marvel sambil meniup lutut Luna. Setelah bersih, Marvel memplester lutut Luna.
''Marvel, ini es potongmu.'' Kata Anrez.
''Tolong pegang dulu ya, aku habis mengobati kaki Luna.''
''Dia terjatuh.'' Jawab Marvel.
''Lukamu tidak akan parah. Oh ya namaku Marvel dan Anrez adalah sahabatku, aku tahu namamu dari dia.'' Jelas Marvel.
''Iya Luna karena dia bertanya terus tentangmu,'' kata Anrez dengan tawa kecilnya. Lagi-lagi Luna pergi tanpa sepatah katapun saat melihat sedan mewah berhenti di depan sekolahnya.
''Luna! Ada yang ketinggalan.'' Teriak Marvel namun Luna tidak menghiraukannya.
''Sudah aku bilang dia itu aneh, Marvel. Apa dia bisu ya? Aku belum pernah mendengar suaranya.''
''Husss, jaga ucapanmu Anrez. Ini gantungan tasnya terlepas saat dia jatuh tadi.'' Kata Marvel sambil memegang gantungan tas berbentuk boneka buah strawberry itu.
''Ya sudahlah kamu simpan saja.'' Kata Anrez.
''Kamu saja ya yang mengembalikannya. Dia kan teman sekelasmu.''
''Tidak mau ah. Kenapa kamu baik padanya? Lihat saja dia bahkan tidak berterima kasih ataupun sekedar senyum padamu, Marvel.''
''Mungkin dia memang pemalu. Ya sudahlah lebih baik kita makan es potongnya sebelum meleleh.''
''Hehehehe oh iya, aku hampir lupa.'' Kata Anrez.
Sementara itu di rumah, Keira begitu bahagia saat menerima sebuah buket bunga mawar putih yang begitu cantik, yang di kirim oleh seorang kurir.
''Pasti Mas Kevin yang mengirimkannya, soalnya tidak ada nama pengirimnya.'' Gumam Keira sambil berjalan menuju kamarnya. Keira kemudian mengabil ponselnya untuk menelepon suaminya. Sedangkan Kevin sendiri baru saja tiba di kantor setelah ada rapat di luar.
''Halo sayang, ada apa?'' tanya Kevin sambil berjalan menuju ruangannya.
''Tidak ada apa-apa Mas. Kamu sudah makan siang?''
''Aku baru saja selesai makan siang di luar bersama klien. Maaf ya aku tidak bisa makan siang di rumah, kamu kan tahu kalau Krisna masih cuti. Tapi kamu sudah makan belum? Vitamin dan susu?''
Keira tersenyum mendengar pertanyaan pokok Kevin yang begitu perhatian. ''Kebetulan belum semuanya Mas. Tadinya mau nunggu kamu eh tapi ternyata kamu sibuk.''
''Maaf ya sayang, sebaiknya kamu segera makan siang ya. Atau kamu menginginkan sesuatu?''
''Mmmm tidak ada Mas. Aku hanya menginginkan kamu.''
''Aku pun juga sebaliknya tapi sepertinya malam ini aku harus lembur sayang.''
''Yah kok lembur sih, Mas.'' Protes Keira.
''Malam ini saja sayang, besok tidak lagi. Ada sedikit masalah soalnya.''
''Ya sudah kalau begitu. Oh ya Mas tapi terima kasih untuk buket bunganya ya?''
''Buket bunga?'' Kevin terkejut karena tidak merasa mengirim bunga pada istrinya.
''Bunga apa sayang?''
''Kamu pasti bercanda kan Mas? Kamu mengirim buket mawar putih yang sangat cantik.''
''Buket bunga? Siapa yang mengirim buket bunga untuk istriku? Berani-beraninya menganggu istriku.'' Kevin merutuk dalam hati.
''Maaf sayang, aku tidak mengirim bunga untukmu. Apa tidak ada nama pengirimnya?''
''Tidak ada Mas jadi aku pikir ini dari kamu. Tadi kurirnya cuma bilang untuk Nyonya Keira jadi aku pikir kamu sengaja memberi kejutan kecil karena tidak bisa makan siang di rumah.''
''Ya sudah kamu simpan saja bunganya. Aku usahakan hari ini pulang cepat. Yang jelas kamu di rumah saja ya, jangan kemana-kemana.''
''Iya Mas. Ya sudah kalau begitu Mas, kamu selamat bekerja ya.''
''Kamu juga baik-baik ya sayang. Cepat makan ya, kasihan dedek bayinya.''
''Iya Mas. I love you.''
''I love you more, sayang.'' Panggilan berakhir.
''Kira-kira siapa yang mengirim buket bunga untuk istriku ya?'' benak Kevin penuh tanda tanya.
''Ternyata penggemar istriku banyak sekali, aku tidak boleh terkecoh. Pantas saja kliennya banyak sekali. Atau mungkin itu bunga dari salah satu kliennya dulu?'' gumamnya lagi yang semakin cemas.
Bersambung... Next part besok ya 🙏🤗❤️