
''Kei, tuh suami sama anak elo datang,'' kata Johan saat melihat Kevin dan Marvel turun dari mobil. Keira lalu menoleh kearah luar, Marvel melambaikan tangannya dan Keira membalasnya.
''Ya udah Kei, elo pergi aja. Biar gue sama Johan.'' Sahut Laras.
''Ya udah gue balik ya. Sorry nggak bisa temenin kalian lama-lama.''
''Iya nggak apa-apa. Hati-hati ya, Kei.''
''Oke, bye.'' Keira lalu meninggalkan cafe milik Johan setelah berpamitan.
''Kasihan ya Keira, dia harus kehilangan bayinya.'' Ucap Johan.
''Iya Jo. Bahkan tadi gue sama sekali nggak berani tanya tentang itu. Bagi gue lihat Keira sehat udah cukup.''
''Iya sama, Ras. Gue takut kalau Keira sedih lagi. Kelihatan banget sih kalau dia berusaha menutupi kesedihannya.''
''Ya kita berdoa aja semoga Keira bisa secepatnya hamil lagi.''
''Amin.'' Sambung Johan.
''Eh itu siapa lagi berhenti di depan sini?'' Mendengar ucapan Johan, Laras menoleh ke arah keluar. Dan ternyata itu adalah Krisna.
''Oh itu mobil ayang beb, gue. Dia mau ngajakin gue makan ke rumahnya sama Ibu mertua.''
''Elo bener-bener serius sama sekretaris Krisna?''
''Iyalah. Emang elo pikir, gue main-main apa. Gue pepet terus lah. Gue udah capek punya berkorban terlalu banyak sama cowok, ujung-ujungnya gue menderita. Gue juga pingin nyari yang bisa bikin gue bahagia dan bisa perjuangin gue. Nggak kayak si Andy.''
''Ya-ya, syukurlah kalau elo udah dapat gantinya. Ya udah pergi sana, emang dasar apes nasib gue masih aja jomblo.''
''Masalah inceran elo berat sih, Jo. By one get one, jadi ya harus semangat kerja keras ya. Gue cabut dulu, bye!" ceplos Laras seraya berlalu meninggalkan cafe Johan.
''Ledekin gue aja terus, Ras. Emang hobi elo selalu ngledek gue.'' Gerutu Johan. Selepas Laras dan Krisna berlalu, tiba-tiba ponsel Johan berdering, ada nama Tessa di layar ponselnya.
''Halo, Tes. Ada apa?''
''Alamat cafe kamu di mana, Jo? Aku dan Anrez sedang perjalanan menuju kesana. Kita makan siang sama-sama, aku sengaja membawa makan siang untuk kamu.''
''Ada bangunan lama di sebelah barat ruko dekat mall, menghadap ke utara. Memangnya kamu di mana?''
''Aku sudah di jalan. Baiklah berarti aku sudah dekat. Kalau begitu aku matikan ya teleponnya.''
''Ya sudah kamu hati-hati ya.''
''Iya.'' Panggilan pun berakhir.
Tak lama kemudian, Tessa pun sampai di lokasi bersama dengan Anrez. Sementara Johan masih sibuk mengecat ruangannya.
''Om Johan!" seru Anrez. Mendengar suara Anrez, Johan menoleh kearah sumber suara. Ia melihat Tessa dan Anrez sudah berada di ambang pintu. Anrez kemudian berlari memeluk Johan. Mendapat pelukan dari Anrez, Johan meletakkan kuasnya dan membalas pelukan Johan.
''Maaf ya, Om tidak bisa menjemput kamu. Kamu sama Mama naik apa?''
''Tidak apa-apa, Om. Tadi aku dan Mama naik taksi.'' Anrez kemudian melepaskan pelukannya.
''Tessa, kenapa kamu tidak bilang? Aku kan bisa menjemput Anrez. Lalu dimana motor kamu?''
''Motor aku di bengkel. Tidak apa-apa Jo. Aku juga tidak bisa selalu menggantungkan kamu. Apalagi semalam kamu sudah cerita kalau hari ini kami akan merenovasi ulang tempat ini bersama Keira dan Laras. Tapi dimana mereka?''
''Mereka sudah pergi dengan pasangan masing-masing. Keira di jemput suami dan anaknya, Laras di jemput calon pacarnya dan tinggal aku sendiri disini.'' Ucap Johan memelas.
''Jo, aku boleh kan mendaftar sebagai karyawan kamu. Bagian bersih-bersih atau cuci piring tidak apa-apa. Sebenarnya aku kemarin baru saja di pecat dan sedang butuh pekerjaan. Karena ada pengurangan tenaga kerja.''
''Bukannya aku tidak mau, Tessa. Tapi nanti tangan kamu jadi kotor dan capek.''
''Ya ampun, aku ini Ibu rumah tangga jadi pekerjaan seperti itu setiap hari aku lakukan, Jo. Berapapun gaji yang kamu berikan, aku akan menerimanya. Aku janji akan bekerja sepenuh hati.''
Sebenarnya Johan tidak tega memperkerjakan Tessa tapi hal ini justru menguntungkannya karena bisa lebih dekat dengan Tessa. Apalagi semua yang ia lakukan saat ini adalah untuk masa depannya bersama Tessa dan Anrez. Setelah diam dan berfikir, akhirnya Johan memberikan jawabannya pada Tessa.
''Baiklah, hari ini kamu mulai bekerja.''
''Kamu serius?''
''Lalu apa yang bisa aku lakukan?''
''Apapun yang ingin kamu lakukan, Tessa.''
''Tapi bisakah kita makan siang dulu? Nanti makanannya keburu dingin.''
''Baiklah, aku sendiri juga sudah lapar.'' Johan, Tessa dan Anrez kemudian duduk bertiga menikmati makan siang sederhana yang di bawa oleh Tessa. Mereka terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia meskipun dalam kesederhanaan. Setelah selesai makan siang, Johan mulai kembali mengecat seluruh ruangan itu dengan bantuan Tessa. Anrez pun tak mau ketinggalan untuk membantu. Mereka bertiga sangat kompak. Johan juga sangat bahagia melihat senyum bahagia yang terukir di bibir Tessa dan Anrez.
''Maafkan aku ya Johan. Maafkan aku yang baru menyadari bahwa kamu adalah pria yang sangat baik. Sekarang Anrez menjadi lebih ceria dari biasanya. Seandainya dulu aku di pertemukan denganmu terlebih dulu, tentu saja aku pasti akan memilihmu.'' Kata Tessa dalam hati.
-
Sementara itu, Laras sedang menikmati makan siangnya bersama Krisna dan Nyonya Dewi di rumah Krisna. Laras memuji masakan Nyonya Dewi yang begitu lezat. ''Mmmm masakan Ibu enak sekali. Aku sudah lama sekali tidak merasakan masakan dari tangan Mama.''
''Lalu siapa yang memasak setiap harinya, Ras?'' tanya Nyonya Dewi.
''Bibi, Bu. Maklum Papa dan Mama sama-sama sibuk. Bahkan aku bertemu dengannya saat malam hari saja tapi aku sudah terbiasa dengan kesibukkan mereka.''
''Oh begitu. Namanya orang tua pasti akan melakukan yang terbaik untuk anaknya.''
''Alasan itu juga yang selalu Papa dan Mama katakan padaku, Bu. Keisbukan mereka untuk masa depanku. Tapi aku tidak masalah karena saat aku sedang bersedih, mereka selalu ada untuk aku.''
''Kamu ini lucu ya, bicaranya ceplas-ceplos.''
''Hehehe maaf ya kalau sikap ku membuat Ibu tidak nyaman.''
''Justru Ibu senang dengan sikap kamu yang apa adanya.''
''Terima kasih ya, Ibu. Oh ya kapan Kak Krisna dan Ibu datang ke rumah untuk melamarku?'' celetuk Laras. Mendengar ucapan Laras, Krisna sangat terkejut bahkan sampai ia terbatuk.
''Krisna, hati-hati nak.'' Ucap Nyonya Dewi. Laras dengan sigap menyodorkan segelas air putih untuk Krisna. ''Minum dulu, Kak.''
Krisna kemudian meminumnya. ''Terima kasih.''
''Tapi kamu yakin benar-benar serius dengan Krisna?'' tanya Nyonya Dewi.
''Iya, Ibu. Kak Krisna adalah pilihan terakhirku. Aku tidak mau yang lain selain dia.''
''Krisna, bagaimana denganmu nak? Kapan kamu akan menemui orang tua Laras?''
''Mmmm aku-aku, belum bisa menjawabnya sekarang, Bu. Aku akan memikirkannya lagi, kalau aku sudah siap, aku akan memberitahu Ibu dan juga Laras.''
''Begitulah jawab Kak Krisna, Bu.'' Laras pun menjadi kesal dengan sikap Krisna. Krisna yang sudah selesai makan, pamit untuk pergi kekamarnya.
''Ibu, aku ke kamar dulu ya.''
''Iya Nak.''
Bibir Laras pun sudah mengerucut. Laras merasa kecewa dengan jawaban Krisna. Nyonya Dewi menyadari bahwa Laras sedang marah. Nyonya Dewi kemudian beranjak dan duduk di samping Laras.
''Laras, kamu sabar ya. Sepertinya Krisna memang masih trauma. Tapi percayalah, Krisna juga punya perasaan yang sama denganmu. Setiap hari dia selalu menceritakan tentangmu. Mungkin dia sulit untuk mengungkapkannya. Krisna memang membutuhkan sosok wanita seperti kamu. Ibu sendiri ingin sekali melihatnya menikah. Kamu sabar ya dan jangan tinggalkan Krisna.'' Melihat tatapan tulus Nyonya Dewi, Laras menjadi tidak tega.
''Iya Ibu, aku akan bersabar.'' Tiba-tiba munculah ide untuk menggoda Krisna.
''Ibu, aku boleh kan menyusul Kak Krisna ke kamar?''
''Untuk apa?'' tanya Nyonya Dewi dengan ekspresi terkejut.
''Aku ingin membuatnya bilang iya. Ibu tenang saja, aku tidak akan berbuat aneh-aneh. Boleh kan?''
''Iya terserah kamu saja.'' Ucap Nyonya Dewi sambil tersenyum.
''Tapi biasanya apa yang di lakukan Kak Krisna setelah makan siang?''
''Dia biasanya mandi lalu kembali lagi ke kantor.''
''Baiklah Bu, doakan aku. Aku sungguh ingin melihat dia berubah dan lebih berani.'' Laras lalu naik ke lantai atas menuju kamar Krisna. Nyonya Dewi tidak habis pikir bagaimana mungkin ada seorang wanita yang mencintai putranya dengan terang-terangan. Setelah putranya mengalami hal menyalitkan di masa lalu.
Bersambung.....