Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 304 Gelisah


''Oh ya Chika, aku boleh main ke rumah mu?''


Seketika pertanyaan Nino membuat Chika terkesiap.


''Main kerumah, Mas?''


''Iya. Apa tidak boleh?''


''Bukannya tidak boleh, Mas. Kalau rumahku sendiri jauh dari sini. Rumahku ada di kampung. Sedangkan disini, aku tinggal di rumah Tante aku.''


''Oh begitu, ya sudah nanti pulang kerja aku antar ya. Aku mau tahu dimana kamu tinggal. Atau aku boleh berkenalan dengan Tante kamu?''


''Sekali lagi maaf ya Mas tapi Tante dan Om sedang tidak di rumah. Mereka sedang ke luar negeri jadi tidak enak rasanya kalau aku membawa seorang pria ke rumah.''


Nino tersenyum. ''Iya juga ya. Ya sudah kapan-kapan saja aku mampirnya. Tapi aku boleh kan mengantarmu pulang?''


''Boleh kok, Mas.''


''Sekalian nanti aku ajak kamu makan malam. Kamu mau kan menemani aku makan malam?''


''Boleh, Mas.'' Jawab Chika malu-malu. Selesai makan siang, Chika dan Nino segera kembali ke kantor.


''Sekali lagi terima kasih untuk makan siangnya ya, Mas.''


''Sama-sama Chika. Aku juga terima kasih karena kamu sudah menemani aku makan siang.''


''Iya Mas. Kalau begitu, aku kembali keruanganku dulu ya.''


''Oke. Sampai ketemu nanti.'' Kata Nino. Chika lalu kembali keruangannya, begitu juga dengan Nino.


Chika dibuat jantungan begitu masuk ke dalam ruangannya. Ternyata Zidni sudah ada di dalam ruangannya.


''Darimana saja? Aku telepon tidak bisa? Aku membawakan makan siang untukmu.'' Ucap Zidni nada ketus sekaligus kesal.


''Tumben baik. Aku sudah makan siang.'' Jawab Chika dengan nada malas.


''Makan siang? Makan siang dengan siapa?'' selidik Zidni.


''Dengan temanku lah. Memangnya kenapa? Dan tumben juga kamu bela-belain mengantar makan siang untukku.''


''Ya, aku tadi kebetulan bertemu klien di dekat sini jadi sekalian mampir. Sudah aku bilang juga kalau kamu tanggung jawabku selama Om dan Tante tidak di rumah. Jadi jangan ge-er!"


''Ge-er? Oh, aku sama sekali tidak ge-er kok. Makasih ya buat makan siangnya, nanti aku makan deh.''


''Ya sudah kalau begitu aku pergi. Nanti tidak lembur kan? Jadi aku bisa menjemputmu tepat waktu.''


''Mmmm nanti tidak usah jemput aku.''


''Kenapa memangnya?'' selidik Zidni.


''Nanti Mas Nino mau mengantarku pulang, sekalian aku mau di ajak makan malam. Jadi kamu nanti makan malam sendiri saja ya.''


''Mas Nino? Siapa dia?''


''Dia itu manajer pemasaran disini. Apa jangan-jangan dia ya Mr. X itu?''


''Bisa-bisanya Chika berpikir kalau Mr. X itu pria lain,'' gumam Zidni dalam hati.


''Memang ada buktinya?'' tanya Zidni.


''Belum ada bukti sih. Tapi saat pertama kali aku bekerja disini, Mas Nino yang lebih dulu menyapaku. Dan tiba-tiba saja dia tadi mengajakku makan siang. Terus nanti kita mau pulang bareng. Kenapa aku jadi senang begini ya Zidni? Dia itu tipe aku banget. Kalem, dewasa dan hangat.''


''Halah, palingan juga modus karena dia tahu kamu gadis kampung yang mudah untuk di rayu dan dibohongi.'' Kata Zidni. Entah kenapa Zidni merasa kesal saat Chika memuji Nino.


''Kalau aku gadis kampung memangnya kenapa? Salah? Nyebelin banget. Sebaiknya kamu balik ke kantor. Mulutmu pedas sekali.'' Kesal Chika.


''Bukan begitu maksudku. Aku hanya berpesan kamu harus hati-hati. Kalau kamu kenapa-kenapa aku juga yang repot. Makanya jangan gampangan.''


''Enak saja bilang aku gampangan. Aku bukan wanita seperti itu.''


Zidni menjadi kesal, ia kemudian pergi dari ruangan Chika tanpa pamit.


...****************...


Jam pulang kantor pun tiba. Nino tidak begitu saja mengajak Chika makan malam. Tapi Nino mengajak Chika ke bioskop terlebih dahulu. Tentu saja Chika sangat senang. Setelah seharian penat karena pekerjaan, mendapat hiburan yang cukup merefresh otak. Setelah selesai menonton, Nino kemudian mengajak Chika makan malam. Kali ini Nino mengajak Chika makan malam di warung tenda pinggir jalan.


''Tidak apa-apa kan kita makan disini?''


''Tentu saja tidak apa-apa, Mas. Aku sebenarnya lebih suka makan di tempat seperti ini. Maklum Mas, bawaan orang kampung.''


''Jangan merendah seperti itu, Chika. Aku dulu juga berasal dari kampung. Aku suka kamu yang sederhana dan apa adanya.''


Chika hanya tersenyum mendengar ucapan Nino. Ia tidak tahu harus berkata apa. Apalagi dengan maksud Nino yang mengatakan 'suka' karena kepribadian Chika atau 'suka' karena memang ada rasa.


''Ah jangan ge-er Chika. Jangan permalukan diri kamu. Kamu harus tetap jual mahal dulu.'' Gumam Chika dalam hati.


''Oh ya Mas terima kasih ya sudah mengajakku nonton dan makan malam.''


''Apa kamu senang?''


''Tentu saja aku senang, Mas. Selama disini aku tidak pernah pergi kemana-kemana. Setelah pulang kantor, aku lebih banyak menghabiskan waktuku di rumah.''


''Kamu benar-benar anak rumahan ya?''


''Banget, Mas.'' Ucap Chika dengan tawa kecilnya.


''Memang ya jaman sekarang wanita seperti kamu itu sudah sangat jarang. Kamu sama sekali tidak terpengaruh dengan pergaulan jaman sekarang apalagi dengan dunia malam.''


''Karena niat ku dari awal datang kesini itu memang untuk kerja, Mas. Aku Ingin menjadi orang sukses dan bisa mengangkat derajat keluarga. Ingin sekali bisa membanggakan orang tua.''


''Aku salut banget sama kamu, Chika. Semoga yang kamu cita-cita kan tercapai ya.''


''Amin. Terima kasih, Mas.''


Sementara itu, Zidni di rumah begitu gelisah. Berkali-kali ia melihat kearah luar jendela menanti Chika pulang.


''Si Chika ini kenapa belum pulang? Sudah jam 8 juga. Pulang kerja normal jam 4, paling sore jam 5. Ini kemana aja belum pulang-pulang. Sebaiknya aku coba telepon saja.'' Zidni lalu mencoba untuk menghubungi Chika namun tidak ada jawaban dari Chika. Ponsel Chika sendiri dalam mode hening di dalam tasnya. Tentu saja panggilan dari Zidni terabaikan.


''Kenapa aku jadi gelisah begini ya? Kenapa juga aku peduli? Dasar bodoh!" Zidni kemudian pergi ke kamarnya. Di kamarnya, Zidni menyambar gitarnya dan mulai memetik senar gitar itu. Namun petikan gitar yang indah itu tidak menghilangkan rasa gelisah dalam benak Zidni.


''Aduh, aku ini kenapa sih?'' Zidni lalu meletakkan gitarnya. Ia kemudian menyalakan musik rock lewat ponselnya. Ia yang gelisah melakukan streching malam dan membuat dirinya sibuk. Namun tetap saja itu tidak mempan. Zidni kemudian menyambar ponselnya dan kembali menelepon Chika. Namun lagi-lagi Chika tidak menjawab panggilannnya. Akhirnya Zidni memutuskan untuk mengirim pesan pada Chika.


Zidni : Chika, cepat pulang! Aku sakit perut. Sekalian belikan aku obat. Di rumah tidak ada obat.


"Nah, kalau lihat pesan ini, Chika pasti akan cepat pulang." Gumam Zidni dengan senyum penuh kemenangan.


Dan benar saja, setelah selesai makan Chika mengecek ponselnya untuk melihat jam. Chika terkejut saat melihat panggilan tak terjawab begitu banyak dari Zidni. Melihat pesan masuk dari Zidni, Chika segera membacanya.


"Hah? Zidni sakit perut? Apa lambungnya kumat? Apa dia tidak makan teratur lagi?" gumam Chika dalam hati. Chika pun menjadi khawatir, apalagi Gina pernah cerita kalau Zidni punya riwayat pengakit lambung.


"Mas, sebelum pulang bisa mampir ke apotek dulu?"


"Iya tidak apa. Memangnya kenapa? Kamu sakit?"


"Tidak Mas. Aku hanya ingin membeli vitamin saja."


"Baiklah nanti aku antar. Kamu tunggu di mobil ya, aku mau bayar dulu."


"Iya Mas. Terima kasih ya."


"Iya Chika, sama-sama."


Chika lalu membalas pesan dari Zidni.


Chika : Iya, aku sudah mau pulang. Tunggu ya, akan aku belikan. Maaf, ponselku dalam mode hening jadi tidak tahu kalau kamu menelepon.


Mendapat balasan pesan dari Chika. Senyum lebar tersungging dari bibir Zidni. Zidni langsung melompat kegirangan sambil menari tidak jelas seperti orang yang telah memenangkan lotre.


"Hahahaha, berhasil! Berhasil! Berhasil!"


Bersambung.... Oh ya Kira-kira kalau mau dibuat sekuel Chika dan Zidni, judulnya apa ya? Boleh kok kasih saran di kolom komentar 😁😁🙏