Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 275 Berbagi Kabar Bahagia


Setelah mengetahui dirinya positif hamil, Laras bersama Krisna segera periksa ke dokter. Laras senang sekali melihat hasil USG janinannya, begitu pula dengan Krisna. Selesai periksa, Laras pergi mengunjungi rumah orang tuanya untuk memberikan kabar berita ini.


''Mama!" seru Laras seperti seorang anak kecil. Laras pun menghambur ke pelukan Mamanya.


''Ada apa sih, datang-datang ceria amat wajahnya.''


''Iya dong Mah. Mama bagaimana kabarnya? Terus mana Papa?''


''Mama baik sayang. Papa di kantor, memangnya kemana lagi.''


''Mah,'' sapa Krisna sambil mencium punggung tangan ibu mertuanya.


''Iya Kris. Ayo masuk! Kebetulan siang ini Mama masak makanan kesukaan kamu dan Laras. Eh kebetulan sekali kalian datang.'' Kata Nyonya Dila seraya mengajak Laras dan Krisna menuju ruang makan.


''Wah, ini enak banget Mah. Laras kangen makan masakan Mama.''


''Ya sudah ayo kita makan sama-sama. Krisna, ayo nak duduk.''


''Iya Mah, terima kasih.''


''Oh ya Mah ada sesuatu yang ingin kami sampaikan tapi sayangnya Papa tidak di rumah.''


''Ya sudah, kamu bilang saja. Nanti Mama sampein sama Papa.''


Laras dengan antusias menunjukkan hasil USGnya pada Mamanya.


''Laras, kamu beneran mengandung nak?''


''Iya Mah. Akhirnya Laras hamil setelah penantian yang cukup panjang bagi Laras tentunya.''


''Alhamdulillah, akhirnya Mama dan Papa mau punya cucu. Papa pasti senang sekali mendengarnya. Selamat ya untuk kalian berdua. Mama doakan supaya kalian selalu sehat begitu pula dengan calon anak kalian.''


''Amin,'' jawab Laras dan Krisna secara bersamaan.


Setelah dari rumah orang tua Laras, Krisna pun segera mengajak Laras pulang kerumah untuk istirahat. Nyonya Dewi pun ikut harap-harap cemas menanti kabar dari anak dan menantunya.


''Bagaimana Laras?'' tanya Nyonya Dewi saat Laras dan Krisna baru saja tiba di rumah.


''Laras hamil Bu. Usia kandungannya empat minggu.'' Laras kemudian menunjukkan hasil USGnya pada Ibu mertuanya.


''Ya Allah, Ibu bahagia sekali. Alhamdulillah ya, Nak. Kamu jaga kesehatan ya. Kamu butuh apapun dan ingin apapun, bilang saja sama Ibu ya. Ibu ini kan juga Ibu kamu.''


''Iya Ibu, Laras pasti bilang kok.'' Ucap Laras. Nyonya Dewi kemudian memeluk menantunya itu dengan erat. Nyonya Dewi tidak bisa membendung rasa harunya sampai ia meneteskan air mata.


''Krisna, jaga istri kamu ya. Apalagi Laras sangat menanti kehamilan ini. Jangan buat dia stres,'' pesan Nyonya Dewi pada putranya.


''Iya Ibu. Krisna pasti akan menjaga Laras dan juga anak kami dengan sangat baik.''


''Ya sudah kalau begitu kalian istirahat atau mau makan dulu?''


''Tadi setelah periksa kami mampir kerumah Mama, Bu. Kebetulan Mama baru selesai masak jadi kita makan disana. Sekaligus memberi kabar kalau Laras hamil.''


''Oh begitu ya sudah. Mama dan Papa sehat kan?''


''Sehat semua kok, Bu. Hanya saja tadi Papa masih di kantor.''


Malam harinya, setelah makan malam, Laras bersantai di kamarnya. Laras sudah tidak sabar untuk berbagi kabar bahagia pada Keira. Laras kemudian mengambil ponselnya untuk menelepon Keira.


''Halo Kei, lagi sibuk apa nih?'' sapa Laras di seberang sana.


''Baru aja nyusuin Rachel, Ras. Ada apa nih?'' ucap Keira seraya duduk sofa setelah meletakkan Rachel di keranjang bayinya.


''Ummm gue mau kasih kabar sama elo, Kei.''


''Kabar apa nih?'' tanya Keira penasaran.


''Gue hamil Kei! Dan usia kandungannya masuk empat minggu.''


''Selamat ya Laras! Sumpah gue seneng banget dengernya. Akhirnya doa elo terjawab, Ras. Udah nggak mikir aneh-aneh lagi kan?'' Kata Keira.


''Hehehe ya nggak lah, Kei. Maklum lah overthinking.''


''Iya, Ras. Gue dulu juga mikir gitu. Khawatir Mas Kevin nikah lagi. Tapi gue ikutan seneng banget, Ras. Tinggal nunggu kabar dari Johan nih.''


''Gue juga seneng banget, Kei. Iya nih gue juga nunggu kabar dari Johan. Tapi Johan bilang santai sih soalnya masih mikir cicilan rumah,'' celetuk Laras dengan tawanya. Keira pun ikut tertawa mendengar ucapan Laras.


''Tapi namanya rezeki kan nggak bisa di tolak juga, Ras. Nanti rezeki baby juga pasti ada aja.''


''Iya sih Kei. Ya udah lah kita doakan yang terbaik untuk Johan dan Mbak Tessa. Oh ya gimana baby Rachel? Dia udah bisa apa?''


''Eh kali ya kalau nanti kita bertiga nongkrong bawa anak-anak kita. Nanti kita harus bikin jadwal hangout bareng nih. Seru kali ya bawa anak daj pasangan.''


''Ide bagus sih, Ras. Ya kita tunggu kabar dari Johan dulu.''


''Siap Kei. Ya udah Kei, gue telepon cuma pingin berbagi kabar bahagia. Jadi gue tutup dulu ya.''


''Iya deh, iya. Elo baik-baik ya, Ras. Sehat semuanya.''


''Amin, makasih Kei. Bye Kei sayang, i love you.''


''Iya i love you too bawel.'' Panggilan pun berakhir.


''Ehem! I love you untuk siapa tuh?'' tanya Kevin penuh selidik, saat dirinya baru saja masuk ke kamar.


''Laras, Mas.''


''Masa? Yakin? Kok pakai i love you segala.'' Ucap Kevin penuh rasa curiga.


''Ya udah kamu lihat aja nih panggilan keluar di ponsel aku.'' Kata Keira sambil memberikan ponselnya pada Kevin. Kevin pun segera memeriksanya dan Keia tidak bohong.


''Ummm memang ada apa Laras telepon?''


''Sudah puas kan? Masih saja suamiku ini cemburuan. Laras telepon kalau dia hamil, Mas.''


''Syukurlah, aku ikut senang mendengarnya. Harap maklum ya sayang, suami mu ini memang posesif.'' Ucap Kevin dengan senyum kecilnya.


''Rachel sudah bobo ya sayang?''


''Iya nih, Mas. Habis ne..nen langsung bobo.''


''Papanya kapan boleh ne...nen?'' goda Kevin.


''Mas, jangan mulai deh. Yang ada Rachel bisa sawan gantian ne...nen sama kamu.'' Ucap Keira dengan tawa kecilnya.


''Kamu ini bisa saja, sayang.'' Kata Kevin sambil mengelus kepala istrinya.


''Oh ya Marvel sudah tidur kan Mas?''


''Sudah kok sayang. Habis aku bacain cerita dia langsung tidur. Dia semakin pintar dan tidak cemburu pada adiknya. Dia pengertian sekali.''


''Itu karena kita selalu berbagi tugas, Mas. Jadi Marvel tidak merasakan kehilangan kasih, sayang. Walau bagaimanapun dia tetap masih membutuhkan kasih sayang kita. Makanya selama kamu cuti, aku senang kita bisa saling berbagi tugas. Marvel juga senang sekali karena kamu selalu mengajaknya bermain. Apapun yang terjadi, kita tidak boleh mengabaikan Marvel, Mas. Kita boleh mendidiknya mandiri tapi juga kita harus tetap mencurahkan kasih sayang padanya. Supaya dia tidak merasa tersisihkan dengan kehadiran adiknya.''


''Iya sayang, aku mengerti sekali. Kamu memang istri dan ibu yang sangat hebat. Kamu begitu pengertian dan penuh kasih sayang. Meskipun kadang galak juga sih.''


''Habis muji eh di jatuhin lagi,'' kesal Keira.


''Tapi aku suka kalau kamu galak sayang, aku jadi gemes.''


''Dasar gombal.'' Ucap Keira. Kevin lalu mengangkat tubuh Keira di pangkuannya.


''Sayang, aku kangen kita mesra-mesraan seperti biasanya. Sejak ada baby Rachel, kita jarang mesra lagi.''


''Namanya juga mengurus bayi, Mas. Masa iya cemburu sama anak sendiri.''


''Bukannya cemburu tapi kangen seperti ini.''


''Tahan suamiku, tahan.'' Ucap Keira.


''Kiss me," pinta Kevin sambil mengenyodorkan bibirnya. Keira tersenyum lalu mengecup bibir suaminya bertubi-bertubi.


''Sudah puas Mas?''


''Belum tapi aku tahan deh.'' Ucap Kevin dengan senyum kecilnya. Kini giliran Kevin yang mengecup bibir istrinya. Bukan hanya mengecup tapi melu...matnya dengan ganas. Namun tangisan baby Rachel, membuat keduanya segera melepaskan pagutannya.


''Sabar suamiku, aku tenangin Rachel dulu ya.'' Ucap Keira seraya beranjak dari pangkuan suaminya. Keira segera memeriksa Rachel.


''Ya ampun Mas, dia puph. Tolong ambilkan diapersnya ya, Mas.''


''Iya sayangku. Habis tenangin Rachel, tenangin aku ya sayang.''


''Iya-iya Mas.'' Jawab Keira dengan tawa kecilnya. Setelah Rachel tenang, justru Kevin yang malah tertidur di sofa.


''Syukurlah, Mas Kevin juga ikutan tenang, dia ikutan tidur. Jadi aku bisa tidur juga. Bayi besar ku lebih rewel ternyata,'' gumam Keira sambil menatap suaminya yang sudah terlelap.


Bersambung....