Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 223 Kepercayaan


Keesokan harinya, Miko terbangun kepalanya terasa pusing dan ingin sekali muntah. Dengan tubuh yang masih telanjang di balik selimut, Miko berlari menuju kamar mandi. Gina yang mendengar suara Miko yang muntah dari kamar mandi pun terbangun. Gina melilitkan selimut pada tubuhnya lalu segera menyusul Miko ke kamar mandi.


''Ya ampun Mas, kamu muntah lagi.''


''Iya sayang, sekarang jadi pusing kliengan gini.'' Ucap Miko sambil memegangi kepalanya. Gina lalu memapah Miko dan membantunya berbaring di atas tempat tidur.


''Kamu sih, semalam begadang lagi. Mana tidur nggak pakai baju lagi. Tuh daritadi aku nahan tawa, lihat terongmu mengkerut bergelantungan.''


Miko tersenyum sambil melihat kearah Mr. P-nya. ''Namanya juga lagi bobok sayang, kalau bangun dia bisa biki kamu men...de...sah.''


''Minum dulu, Mas.'' Kata Gina sambil menuangkan air ke dalam gelas, lalu memberikannya pada Miko. Miko lalu menerima dan menenggaknya sampai habis.


''Kita periksa ke dokter ya. Aku khawatir dengan kondisi kamu.''


''Sudah tidak apa-apa sayang, mungkin memang masuk angin. Kemarin seperti ini juga pas pagi saja.''


''Ya sudah, aku ambilkan kamu baju ya.''


''Tidak usah. Aku mau kita mandi sama-sama. Kamu hari ini tidak ke butik dan aku juga akan cuti.''


''Lho memangnya ada apa, Mas?''


''Karena aku hari ini mau sama kamu terus sayang. Mau di rumah sama kamu seperti ini terus.''


''Ih kamu ini kenapa sih, Mas? Kamu tidak pernah seperti ini lho, Mas.''


''Tidak tahu! Yang jelas, aku ingin hari ini bersama kamu.'' Miko lalu menarik Gina dalam pelukannya. Ia kembali mengajak Gina bergumul dalam selimut.


Sementara itu Nyonya Rosa, sedang sarapan sendirian di ruang makan.


''Miko sama Gina ini kemana ya? Sudah waktunya sarapan dan ke kantor kenapa masih belum turun-turun. Apa Miko masih belum enakan?'' gumam Nyonya Rosa. Nyonya Rosa yang merasa khawatir, menyudahi makannya lalu segera pergi ke kamar Miko dan Gina.


''Miko-Gina! Kalian baik-baik saja kan?'' panggil Nyonya Rosa sambil mengetuk pintu.


''Kami baik-baik saja, Mah.'' Jawab Miko dengan nafas memburu karena ia kini sedang asyik menggenjot Gina.


''Ayo sarapan dulu!"


''Mama duluan saja, kami masih sibuk.'' Jawab Miko.


''Arrgghhh..." de...sa...han panjang Gina lolos dan terdengar oleh mertuanya.


''Hmmmm pasti sedang membuat adonan. Ya sudahlah, semoga adonan kali ini membuahkan hasil.'' Gumam Nyonya Rosa dengan senyum penuh harap. Tiba-tiba Nyonya Rosa teringat sesuatu.


''Oh ya Gina sudah cek lagi apa belum ya? Coba aku lihat kalender di kamarku.'' Nyonya Rosa kemudian pergi menuju kamarnya karena sejak ketahuan Miko yang tidak subur, Nyonya Rosa selalu rajin mencatat dan memantau tanggal terakhir Gina haid.


''Hari terakhir haid Gina kan tanggal ini. Berarti Gina telat tiga minggu tapi kira-kira bulan ini Gina sudah cek tespek atau belum ya?'' gumam Nyonya Rosa penuh tanya.


''Ya sudahlah, biarkan mereka selesaikan dulu kesibukannya itu. Nanti aku akan mengingatkan Gina.''


Masih di kamar, Miko dan Gina baru saja selesai bersenggama.


''Mas, aku lelah. Nanti kita lanjut lagi ya, aku lapar.''


''Iya sayang, maaf ya. Aku sampai lupa kalau kemarin seharian full kamu banyak pekerjaan. Ya sudah kita mandi sama-sama ya.''


''Tapi jangan mengajakku lagi ya, Mas? Nih selag...ka...ngan aku capek.''


''Hehehe iya-iya.''


Di dalam bathup, Miko menggosok perlahan punggung Gina.


''Rasanya nyaman sekali seperti ini, Mas. Seperti berada di sauna.''


''Kamu ini tumben-tumbenan kayak pengantin baru saja. Oh ya Mas, aku mau cerita sesuatu.''


''Cerita apa? Katakan saja, sayang.''


''Sebenarnya kemarin aku bertemu dengan William.''


''William? Untuk apa dia menemui mu?'' ketus Miko.


''Jadi setelah selesai pagelaran busana, dia mengajakku untuk bicara berdua di kamar hotel.''


''Apa? Dia mengajakmu ke kamar? Apa yang dia lakukan padamu?'' perlahan amarah Miko naik. Ia lalu memutar tubuh Gina untuk menghadapnya.


''Kamu jangan marah, Mas. Biarkan aku bicara dulu. Aku sebenarnya semalam ingin cerita tapi sepertinya kamu sedang ingin kita bercinta jadi aku tunda karena aku tidak mau merusak moodmu.''


''Baiklah, teruskan.''


''Awalnya dia membicarakan acara fashion week di New York tapi akhirnya dia mengatakan perasaannya padaku, Mas. Dia bilang kalau dia mencintaiku.''


Mendengar jawaban Gina, ekspresi wajah Miko mendadak sedih. ''Oh!" singkat Miko.


''Mas, aku menolaknya. Secara aku kan sudah memilikimu, Mas.''


''Lalu apalagi yang terjadi? Apa dia menyentuhmu? Kalian berpelukan?Berciuman? Kamu termakan rayuannya iya? Sampai kamu pulang selarut itu? Apa aroma parfum itu karena kalian berkontak fisik secara lebih? Bahkan saat aku hendak menciummu, kamu mengelak dan ingin bersih-bersih dulu, apakah terjadi sesuatu?'' cerocos Miko dengan segala amarah. Miko laku beranjak dari bathup, ia memakai handuknya. Melihat Miko yang marah, Gina juga beranjak dari bathup dan memakai kembali handuknya.


''Mas, kamu jangan salah paham. Aku tidak melakukan apapun. Aku bahkan memukulnya setelah itu aku pergi.'' Gina terus memberikan penjelasan pada Miko yang sedang sibuk memakai baju.


''Kamu sudah berbohong Gina.''


''Mas, berbohong bagaimana? Aku justru cerita padamu, supaya kamu tidak mendengar dari orang lain.''


''Feeling aku terbukti kan kalau dia itu menyukai kamu. Kamu saja yang selalu membelanya dan tidak mau menjaga jarak dengannya. Apa sikap kamu seperti itu, sengaja untuk menutupi hubungan kalian?'' Mata Miko memerah sambil mengguncang tubuh Gina. Tak terasa air mata Gina mengalir membasahi pipinya.


''Mas, jadi kamu menuduhku? Kamu tidak percaya dengan ku, Mas? Demi Tuhan aku tidak melakukan apapun, Mas?''


''Kenapa kamu melakukan ini padaku, Gina? Kenapa?'' cengkraman Miko semakin kuat pada kedua lengan Gina.


''Mas sakit,'' rintih Gina sambil berderai air mata. Melihat Gina merintih kesakitan karena cengkramannya, Miko tersadar dan melepaskan tangannya.


''Maaf sayang,'' ucap Miko sambil memeluk istrinya.


''Mas, aku tidak pernah menghianatimu. Aku bersumpah demi Tuhan, aku tidak pernah menghiantimu. Justru dia ingin menjebakku tapi aku berhasil kabur. Kamu tidak tahu betapa takutnya aku saat dia mencengkram ku dan menatapku dengan tajam. Aku takut, Mas. Aku takut!" tangis Gina dalam pelukan suaminya.


''Aku berusaha bersikap biasa karena aku tidak mau membuatmu khawatir. Aku bahkan merasa sangat bersyukur karena bisa bebas dairnya. Tapi aku sekarang takut kalau dia menterorku, Mas. Melihat wajah dan senyum kamu, membuat rasa takutku hilang, Mas. Mana mungkin aku menghianatimu, Mas.'' Ucap Gina sambil terus menangis dalam pelukan suaminya.


''Maafkan aku sayang, maafkan aku. Kenapa kamu tidak meneleponku? Karena jujur saja, sejak kamu pergi perasaanku tidak tenang. Aku sudah ingin menyusulmu tapi mendadak kepalaku terasa sangat berat. Aku ingin menelepon tapi aku takut mengganggumu. Aku sendiri tahu bagaimana keadaanmu kalau sedang dalam kondisi pagelaran seperti itu. Maafkan aku ya.''


''Mas satu hal yang aku minta, jangan pernah ragukan kepercayaanku.''


''Iya sayang, maafkan aku. Maaf karena aku sudah menyakitimu.''


Tiba-tiba Gina merasakan nyeri hebat di perutnya. ''Mas, aduh. Perut aku kenapa tiba-tiba sakit.''


''Sayang, kamu kenapa?'' Miko begitu panik.


''Sakit Mas, auw.'' Sakit di perut Gina benar-benar tidak bisa tertahan dan akhirnya Gina pingsan.


''Gina, bangun Gina! Maafkan aku, sayang!" Miko menangis sambil memeluk istrinya.


Bersambung.... Next part besok yaaa, di jamin makin seruuu 😁😁