
Masalah kantor belum selesai, Kevin mendapat telepon dari kantor kalau Marvel bertengkar dengan temannya.
''Aduh, masalah apalagi ini?'' kata Kevin yang begitu frustasi.
''Apaan sih Kev?'' tanya Miko yang masih berada di ruangan Kevin.
''Kepala sekolah menelpon kalau Marvel berkelahi dengan temannya.'' Wajah Kevin semakin panik dan tampak kusut.
''Ya udah mending elo ke sekolah dan sebaiknya telepon Keira deh. Karena cuma Keira yang bisa ngertiin Marvel.''
''Iya elo bener.'' Kevin kemudian menelepon Keira namun Keira tidak mengangkatnya.
''Aduh kenapa nggak di angkat juga sih? pasti lagi mesra-mesraan sama tuh cowok,'' batin Kevin.
''Ya udah Mik, gue berangkat. Gue samperin Keira sekalian deh, soalnya tadi kita bertiga pergi sama-sama.''
''Oke deh. Hati-hati ya.'' Kata Miko dengan senyum puasnya.
''Hmmm kayaknya si Kevin udah mulai tanda-tanda nih,'' gumam Miko.
Sementara Keira sendiri sedang sibuk menemani para lansia dan juga sesekali melihat para tukang yang sedang bekerja. Bahkan Keira dan Leon pun juga ikut turun tangan. Saat jam istirahat untuk para lansia, Keira dan Leon memilih duduk di taman.
''Capek juga ya hari ini,'' kata Keira yang merasa gerah. Leon lalu membukakan air mineral untuk Keira.
''Ini minum dulu,'' kata Leon.
''Makasih ya, Leon.''
''Sama-sama Kei. Aku semakin kagum sama kamu, Kei.''
''Kagum bagaimana sih? aku ini biasa aja lho.''
''Ya jarang aja seorang cewek seperti kamu mau datang ke tempat ini.''
''Sebelumnya aku magang di sekolah tapi ya karena suatu hal aku di keluarkan. Jadi akhirnya aku memutuskan untuk pindah disini.''
''Di keluarkan? kok bisa? memangnya ada masalah apa?''
''Adalah Le tapi ya aku tidak perlu membahasnya. Intinya yang berkuasa yang jadi pemenangnya dan tidak aku perlu sebutkan juga aku dulu magang dimana. Aku tidak mau merusak reputasi sekolah juga. Jadi ya sudahlah, padahal aku senang sekali bisa bersama anak-anak disana. Tapi mungkin sekarang giliranku untuk menemani lansia.''
''Aku salut dengan pemikiran kamu yang dewasa.''
''Aku yang lebih salut sama kamu, Leon. Kamu muda, tampan iya, lulusan luar negeri tapi mau saja ke tempat seperti ini.''
''Itu karena panggilan hati saja, Kei. Aku juga menyayangi mereka semua. Dan aku di luar negeri sebenarnya mengambil jurusan bisnis tapi entah kenapa aku lebih senang berada di tempat seperti ini. Padahal papa selalu memaksa aku untuk membantunya di perusahaan tapi aku belum siap. Aku menyukai kebebasan seperti ini. Dimana aku bisa berbagi kebahagiaan dengan mereka yang membutuhkan. Kalau di perusahaan, sudah pasti aku tidak bisa sebebas ini. Aku sendiri juga baru kembali satu minggu lalu. Saat aku melintasi panti ini, hatiku tergerak untuk berhenti dan ingin berbagi kebahagiaan bersama mereka.''
''Kamu hebat ya, justru aku yang semakin kagum sama kamu.''
''Oh ya Kei, sepertinya besok aku ijin dulu tidak masuk. Karena aku ingin membantu persiapan pertunangan adikku.''
''Wah kamu di langkahin dong?''
''Iya Kei, coba saja aku sudah bertemu jodohku, pasti aku duluan yang akan bertunangan.''
''Iya sih banyak yang seksi tapi tidak ada yang bisa memikat hatiku. Melihat mereka rasanya sudah biasa bagiku, Kei.''
''Oh begitu? rasanya aneh ya mau percaya ucapan kamu?'' kata Keira seraya tertawa.
''Memang itu kenyatannya Kei. Saat ini yang bisa memikat hati aku itu.... KAMU!" Mendengar apa yang di ucapkan Leon, membuat Keira terkejut dan terbelalak tidak percaya.
''Hahahaha kamu ini bercanda saja,'' kata Keira sambil memukul bahu Leon. Leon hanya terdiam sambil menatap Keira yang tertawa begitu renyahnya.
''Kamu semakin cantik kalau tertawa seperti ini,'' sambung Leon yang mendadak membuat Keira terdiam. Leon lalu menyibak rambut Keira yang terurai kebelakang. Tubuh Keira mendadak kaku dengan sikap Leon itu. Kedua mata mereka saling bertemu satu sama lain.
''Keira!" panggil Kevin yang merasa kesal melihat Keira dan Leon saling memandang cukup dekat. Keira tersentak mendengar suara Kevin. Kevin dengan tatapan penuh amarahnya, berjalan menuju kearah Keira dan Leon.
''Dimana ponselmu? aku meneleponmu berkali-kali tidak kamu angkat.''
''Ponselku aku silent, Tuan. Untuk apa Tuan kemari?''
''Kamu ini magang atau pacaran sih? Sekolah menelepon katanya Marvel bertengkar dengan temannya. Kamu ini bagaimana? kamu kan mamanya? anak kita sedang dalam masalah tapi malah pacaran disini,'' cerocos Kevin dengan penuh amarah.
''Kei, kamu sudah menikah dan memiliki anak?'' tanya Leon seolah tak percaya.
''Tidak Leon, kamu salah paham.''
''Sudah, ayo kita ke sekolah,'' Kevin lalu menarik tangan Keira kasar.
''Tuan, jangan kasar!" kata Leon yang mencengkeram lengan Kevin.
''Ini masalah rumah tangga, jangan ikut campur.''
''Tapi Keira kesakitan,'' kata Leon dengan suara meninggi melihat Kevin mencengkeram kuat pergelangan tangan Keira. Melihat Keira meringis kesakitan, Kevin lalu melepaskannya.
''Tuan pergi saja sendiri! tugasku belum selesai,'' bantah Keira sambil mengusap pergelangan tangannya. Kevin yang kesal dengan Keira yang tidak menurut padanya, lalu mengambil tas Keira dan menggendong paksa Keira ala bridal style.
''Tuan turunkan aku!" Keira terus meronta sambil memukul dada Kevin. Namun Kevin sama sekali tidak peduli dan terus berjalan sampai ke mobil. Tenaga Kevin terlalu kuat untuk Keira lawan. Kevin lalu memasukkan Keira ke dalam mobilnya di bangku depan dan segera melajukan kembali mobilnya.
''Tuan ini apa-apaan sih? main gendong-gendong saja, itu pelecehan.''
''Aku tidak peduli. Hari ini terlalu banyak masalah. Apa kamu tahu kejadian kemarin menjadi hot news! aku sudah meneleponmu dan sudah mengirimkan link vidio itu.'' Kata Kevin dengan marahnya. Keira seketika terdiam dan melihat ponselnya. Ada dua puluh kali panggilan tak terjawab dari Kevin dan ada link vidio yang telah di kirim Kevin. Keira terkejut melihat isi vidio itu dan yang lebih membuat Keira tercengang Kevin mendapat tuduhan seorang gay.
''Astaga ketikan mereka mengerikan sekali. Tidak punya perasaan sekali. Bukankah itu foto sekretaris anda tuan?''
''Iya. Itu saat kita di hotel untuk menghadiri acara pernikahan. Saat kamu bersama pria bule itu.''
''Sudahlah jangan mengingatkan ku dengan pria bajingan itu lagi. Lalu sekarang bagaimana Marvel? apa yang menyebabkan dia seperti itu?''
''Aku sendiri tidak tahu? baru juga sampai di kantor, sudah ada pemberitaan seperti ini. Sejak kapan juga mereka ingin tahu urusan pribadiku? aku sebelumnya tidak pernah di usik dengan berita murahan seperti ini. Apa salah jika aku tidak buru-buru menikah? biasanya mereka selalu meliput prestasi perusahaan, bukan menyorot kehidupan pribadi. Tentu saja ini akan berdampak pada reputasi perusahaanku, begitu juga dengan diriku.'' Cerita Kevin dengan raut wajah sedihnya. Keira menatap wajah Kevin yang memang menunjukkan sebuah kesedihan, kekecewaan dan juga kebingungan dengan apa yang harus ia lakukan.
''Tenanglah Tuan, aku akan membantumu. Sebaiknya kita selesaikan satu persatu masalah ini,'' kata Keira sambil mengusap lengan Kevin. Kevin terkejut dengan sentuhan Keira di lengannya namun sentuhan Keira cukup menangkan perasannya yang sedang kacau.
Bersambung.....