
Masih di rumah sakit.
''Oh ya sayang, sebelum kamu tidak sadar, kamu seperti mengucapkan sesuatu.''
''Mengucapkan apa Mas?''
''Kamu waktu itu bilang katanya orang itu masih hidup.'' Mendengar ucapan Kevin, Keira pun mencoba mengingatnya.
''Apa kamu ingat kejadian itu sayang?''
''Iya Mas, aku mengingatnya. Aku melihat orang itu sebelum ledakan terjadi. Dia ternyata kabur dan meninggalkan kamu saat kecelakaan itu terjadi. Dia lari tapi dia terluka.''
''Apa orang itu sama dengan sketsa yang di gambar oleh Miko?''
''Iya Mas, sama persis. Tapi aku tidak tahu lebih jauh, aku hanya mengingat orang itu keluar dari mobil yang terbalik karena setelah menolongmu, aku pingsan. Berarti Kakak yang kecelakaan itu benar kamu, Mas?''
''Iya, Kei. Dan kamu adalah penyelamatku. Aku sekarang akan meminta David untuk melacak keberadaan orang itu. Perlahan misteri kematian orang tua ku akan terungkap.''
''Kamu yang sabar ya, Mas. Aku yakin semua masalah ini pasti akan segera berlalu. Yang penting kamu jangan gegabah ya karena keselamatan kamu juga sangat penting.''
''Iya sayang itu pasti. Sekarang aku akan fokus untuk pemulihan kesehatanmu ya. Luka di punggungmu juga belum kering.'' Setelah mendapat kesaksian dari Keira, Kevin pun segera menghubungi David dan meminta David untuk mencari orang itu.
-
Keesokan harinya, Johan sedang berada di kontrakan milik Tessa. Karena hari itu adalah hari libur, Johan berniat mengajak Tessa dan Anrez untuk piknik.
''Bagaimana Anrez, apa kamu setuju?''
''Aku setuju, Om. Aku mau!" sorak Anrez dengan senyum lebarnya.
''Tessa, cepatlah berganti pakaian. Aku akan menunggumu.'' Kata Johan pada Tessa.
''Mah, ayolah! Aku sudah lama tidak di ajak pergi piknik.'' Rengek Anrez.
''Baiklah, Mama akan bersiap.'' Kata Tessa.
''Oh ya apa aku harus memasak dulu?'' tanya Tessa.
''Tidak usah, aku sudah menyiapkannya. Berdandanlah supaya kamu semakin cantik.'' Tessa hanya bisa tersipu malu saat mendengar ucapan Johan.
Beberapa saat kemudian, Tessa pun sudah selesai bersiap. Dan mereka pun segera berangkat. Namun ada sesuatu yang mengejutkan Tessa, ada sebuah mobil pajero putih terparkir di tepat di pintu gerbang rumahnya.
''Itu mobil siapa ya? Kenapa ada di depan gerbang rumahku?'' gumam Tessa. Johan tersenyum lalu menekan remote mobilnya.
''Lho mana orangnya? Ini kan pintu keluar rumahku, nanti kalau aku ingin keluar dengan motorku bagaimana?'' gumam Tessa lagi.
''Tessa, ini mobilku. Aku baru membelinya. Jadi penumpang pertamaku adalah kamu dan Anrez.''
''Jadi ini mobil kamu?''
''Iya tapi aku belinya bekas bukan yang baru. Paling tidak aku bisa antar jemput Anrez saat kamu pergi bekerja. Karena aku sedang menabung untuk membeli rumah.''
''Kamu memang hebat Johan. Tapi ini mobilnya masih sangat bagus kok.''
''Om, jadi mobil ini milik Om?'' tanya Anrez.
''Iya Anrez. Mulai besok Om akan mengantar kamu ke sekolah ya, sekaligus Om akan menjemput kamu.''
''Hore asyik! Aku tidak kepanasan dan kehujanan lagi saat pergi ke sekolah.'' Ucap Anrez sambil melompat kegirangan.
''Jo, aku tidak mau merepotkanmu. Aku dan Anrez sudah banyak merepotkanmu. Aku masih bisa mengatur semuanya.''
''Sudahlah Tessa, jangan pikirkan itu. Sebaiknya kita berangkat saja sekarang, mumpun masih pagi.''
''Terima kasih ya, Jo. Kamu memang sangat baik.''
''Sama-sama Tessa.''
Sejak bertemu dengan Tessa, Johan semakin giat untuk bekerja. Setelah semua mimpinya terpenuhi, Johan ingin segera melamar Tessa.
Sesampainya di sebuah taman yang indah, Anrez pun berlari dengan senyumnya yang sangat ceria.
''Aku sudah lama sekali tidak melihat Anrez sebahagia ini. Terima kasih ya Jo, kamu mengembalikan kembali senyum Anrez.
''Sama-sama, Tessa. Aku juga senang melihat Anrez ceria seperti itu. Baiklah kalau begitu, kita letakkan tikar ini dimana ya? Ini semua masakan ku lho.''
''Iya aku percaya, masakanmu memang sangat enak.'' Kata Tessa dengan senyum lebarnya.
Hari itu Johan benar-benar menghabiskan waktunya bersama Anrez dan Tessa. Johan bahagia sekali melihat senyum Anrez dan Tessa yang mengembang. Johan berharap segera bisa membeli rumah yang nantinya akan ia tempati bersama Tessa dan Anrez.
-
''Kakak pernah berciuman seperti itu?'' tanya Laras sambil berbisik. Krisna pun hanya menggeleng.
''Hah? Serius Kakak belum pernah berciuman? Sudah sedewasa ini?''
''Iya.'' Singkat Krisna.
''Bagaimana kalau setelah ini kita coba?''
''Apa?'' seru Krisna. Krisna benar-benar terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh Laras. Namun Laras justru tak peduli dengan ekspresi gugup Krisna. Laras justru menyeringai dengan tatapan mennggoda.
Setelah selesai menonton film, Laras mengajak Krisna untuk makan siang di sebuah restoran.
''Terima kasih ya Kak, sudah mau menemani aku hari ini.''
''Iya sama-sama.''
''Memangnya saat hari libur Kakak tidak pernah keluar untuk jalan-jalan?''
''Tidak pernah. Aku lebih memilih menghabiskan waktuku untuk berkebun di rumah bersama Ibu.''
''Ih Kakak ini benar-benar suami idaman ya. Biasanya kalau seorang laki-laki memperlakukan Ibunya dengan sangat baik, dia juga pasti akan baik juga kepada pasangannya.''
''Ya semoga aku bisa seperti itu.''
''Bagaimana perasaan Kakak padaku?''
''Perasaan apa?''
''Apakah sudah tumbuh benih-benih cinta?'' tanya Laras tanpa basa-basi.
''Maaf ya aku masih belum bisa menjawab.'' Kata Krisna.
''Huft, sampai kapan aku harus menunggu Kak?'' tanya Laras dengan kesal.
''Sampai aku siap.''
''Siap apa Kak?'' Laras yang gemas, kemudian menarik kerah jaket Krisna dengan kasar lalu Laras mengecup bibir Krisna. Mata Krisna membulat mendapat serangan ciuman mendadak dari Laras. Laras bahkan mengunci bibir Krisna untuk beberapa saat. Krisna seketika mematung dan tidak bergerak. Setelah puas, Laras melepaskan ciumannya.
''Lar-Laras, ini kan tempat umum? Banyak yang melihat kita,'' ucap Krisna tergagap.
''Memangnya kenapa? Aku tidak suka basa-basi. Jangan membuat aku menunggu lama atau aku akan pergi. Aku serius dengan ucapanky, Kak. Aku bahkan ingin menikah dengan mu dan memiliki anak denganmu.''
''Laras, semua orang memperhatikan kita.'' Ucap Krisna dengan tergagap.
''Tidak masalah. Itu adalah terapi untukmu. Terapi supaya rasa gugup dan cemasmu saat berhadapan denganku hilang. Setelah ini bawa aku ke rumah Kakak ya. Aku ingin menemui Ibu Kakak dan meminta restu.'' Kata Laras dengan jujur dan apa adanya.
''Dia adalah gadis pertama yang bergitu berani bersikap seperti ini padaku. Seharusnya aku ini di lindungi, bukan di lecehkan oleh Laras,'' gumam Krisna dalam hati.
''Kak, kenapa terdiam? Boleh kan aku main ke rumah?''
''I-iya boleh kok.''
''Lalu bagaimana ciumanku? Apa bisa merasakan bibirku?'' mendengar pertanyaan Laras, Krisna pun terbatuk. Ia dengan gugupnya menyambar minuman di hadapannya sampai habis.
''Maaf, aku tidak merasakan apa-apa. Hanya seperti kulit yang bersentuhan saja.'' Jawab Krisna dengan polosnya.
''Apa? Tidak merasakan apa-apa? Wah, sepertinya aku menyukai pria tidak normal.''
''Aku normal kok. Memang rasanya hanya seperti itu. Kan cuma menempel biasa.''
''Oh jadi Kakak ingin meminta yang lebih?'' selidik Laras.
''Kenapa kamu berani sekali Laras? Seharusnya kamu bisa menjaga diri kamu juga.''
''Kak, aku kalau sudah cinta dan klik dengan seseorang juga seperti ini. Lagi pula aku juga serius sama Kakak kalau aku tidak mau pacaran.''
''Tapi kan kamu belum tahu jawabanku.''
''Terlalu lama menunggu jawaban dari Kakak. Aku kalau pacaran itu setia Kak tapi sayang kemarin itu parasit.''
''Yang benar saja di cium cuma merasa seperti itu. Mantan ku saja bilang kalau aku good kisser. Tapi sayang dia parasit.'' Kata Laras dalam hati.
''Maaf ya Laras, aku harap kamu lebih sabar.'' Kata Krisna.
Bersambung... Maaf ya upnya cuma 1, maklum authornya juga ada pekerjaan lain jadi di sambi2 dulu ya 😁🙏❤️