Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 195 Pergilah Masa Lalu


''Hei sayang, sudah bangun ya.'' Sapa Kevin saat membawakan sarapan untuk istrinya.


''Sudah Mas.'' Jawab Keira yang sedang bersolek di depan cermin. Kevin meletakkan nampan berisi makanan di atas meja. Ia kemudian mendekat dan memeluk istrinya dari belakang.


''Kamu cantik sekali, sayang. Tumben sudah dandan. Biasanya masih tidur.''


''Nggak tahu juga sih, Mas. Rasanya semangat saja dan pingin kelihatan cantik.''


''Kamu baru bangun tidur saja cantik. Oh ya kamu masih merasa mual apa tidak?''


''Pagi ini rasanya membaik, Mas.''


''Mmmm apa jangan-jangan karena baby kita sudah dapat asupan ya? jadinya dia tenang.''


''Kalau itu spekulasi kamu saja, Mas.'' Kata Keira terkekeh. Kevin tersenyum lalu ia mencium perut istrinya.


''My baby, Papa berangkat ke kantor dulu ya. Kamu baik-baik ya sama Mama di rumah.''


''Iya Papa.'' Jawab Keira.


''Kamu berangkat saja Mas, setelah ini aku makan kok sarapannya. Terima kasih setiap pagi selalu membuatkan sarapan untukku.''


''Sama-sama istriku. Aku berangkat dulu ya. I love you.''


''I love you too, Mas. Kamu hati-hati ya.'' Kevin memberikan kecupan di kening istrinya, kemudian ia pung berangkat ke kantor.


-


Saat jam makan siang, ternyata Laras mendapat kiriman makan siang lagi. Bukan hanya itu saja, Laras juga mendapat kiriman buket bunga yang sangat cantik. Laras kemudian memfoto makanan dan buket bunga itu lalu mengirimkannya pada Krisna. Krisna yang baru saja selesai meeting, merasakan ponselnya yang bergetar dalam saku celananya, segera membuka notifikasi.


Laras : Kak, kali ini bukan hanya makanan tapi juga buket bunga.


Krisna : Baiklah aku akan segera ke butikmu.


Laras : Iya Kak, aku menunggumu. Hati-hati ya.


Krisna kemudian meminta ijin pada Kevin.


''Tuan, jadwal makan siang anda kosong. Jadi anda bisa makan siang di luar atau di rumah.''


''Iya Kris. Akhirnya aku bisa meluangkan waktu makan siangku bersama istriku.''


''Oh ya Tuan, saya juga mau minta ijin keluar.''


''Silahkan saja Kris. Tapi setelah makan siang kembali lagi ya dan nanti malam kita lembur lagi.''


''Baik Tuan. Kalau begitu saya permisi.''


Krisna dengan langkah terburu segera meninggalkan kantor dan menuju butik Laras.


Laras yang memilih membiarkan makanan dan buket bunga itu, memilih melanjutkan kembali pekerjaannya. Namun tiba-tiba kehadiran Andy sangat mengagetkannya.


''Laras,'' sapa Andy.


''An-Andy, ka-kamu?'' Laras tergagap.


''Maaf kalau aku masih mengganggumu. Apa kamu suka dengan makanan dan buket bunga yang aku kirimkan?''


''Sudah kuduga itu kamu. Aku mohon jangan ganggu aku lagi.''


''Kamu terima dulu cek dariku, Laras. Baru aku akan berhenti mengganggumu.''


''Laras, aku masih mencintaimu.''


''Cinta? omong kosong! Stop membual Andy. Sebaiknya kamu pergi dan jangan ganggu aku lagi.''


''Laras, aku menyesal. Aku menyesal telah menyia-nyiakan wanita tulus seperti mu. Hidupku sungguh tidak tenang Laras. Terimalah pemberianku ini, terserah mau kamu apakan yang jelas terima ini.'' Kata Andy sambil menyelipkan cek itu ketelapak tangan Laras.


''Aku mohon jangan tolak! ini permintaan terakhirku. Setelah ini aku akan meninggalkan kota ini dan tidak akan menganggumu lagi.''


Setelah berpikir beberapa detik.


''Baiklah aku akan menerimanya. Sekarang pergilah dan jangan menemui aku lagi.''


''Laras, apa aku boleh meminta sesuatu?''


''Apalagi Andy?''


''Ijinkan aku memelukmu untuk terakhir kali. Saat aku meninggalkanmu dulu, aku bahkan tidak memberikan pelukan perpisahan jadi berikan aku pelukan terakhir darimu. Mungkin ini hukuman yang harus aku terima karena telah menyia-nyiakanmu. Aku ingin hubungan kita membaik tanpa ada dendam."


"Maaf Andy, aku tidak bisa memberikan pelukan untukmu. Sebaiknya kamu pergi saja. Aku akan melupakan dan memaafkan semua kesalahanmu. Aku juga sudah lupa dan aku tidak mau mengingat itu lagi. Jadi tolong silahkan pergi!" Mata Andy berkaca-kaca menatap Laras yang sama sekali tak mengiraukannya. Saat Laras hendak berbalik, Andy yang begitu terbawa perasaan, tiba-tiba memeluk Laras dari belakang. Laras sangat terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Andy.


"Andy, lepaskan aku!" Lars berontak meminta Andy untuk melepaskannya.


''Please, ijinin aku untuk memeluk kamu sebentar saja Laras. Supaya aku selalu bisa mengenang bahwa aku pernah di cintai wanita setulus kamu. Jujur aku melakukan itu karena kebutuhan dan aku tertipu mulus manis gadis itu. Tapi cintaku benar adanya Laras, hanya saja desakan egoku, membuatku melakukan itu. Sekali lagi maaf, maaf dan maaf.'' Air mata penyesalan Andy membasahi pipinya. Dan entah kenapa, Laras memberikan waktu Andy untuk memeluknya. Laras kali ini bisa merasakan ketulusan penyesalan Andy. Ia mendengar suara Andy bergetar menahan tangis. Andy semakin mempererat pelukannya, terbayang semua kenangan indahnya bersama Laras.


Di saat yang bersamaan, Krisna sampai di butik Laras. Krisna melihat sebuah mobil sedan BMW warna hitam terparkir di halaman. Krisna masuk begitu saja dan ia melihat Laras di peluk oleh pria lain. Seketika emosi Krisna tersulut, ia mengeratkan rahangnya dan mengepalkan tangannya. Di tariknya Andy dan di lancarkan bogem mentah ke wajah Andy.


''Dasar ba...ji...ngan!" umpat Krisna. Andy tersungkur dengan ujung bibir yang berdarah. Laras sangat terkejut melihat amarah Krisna.


''Kenapa kamu diam saja Laras saat pria ini memelukmu?'' suara Krisna mulai meninggi. Andy kemudian berusaha berdiri.


''Maaf, kamu siapanya Laras?'' tanya Andy tanpa tersulut emosi sama sekali.


''Andy, dia calon suami aku.'' Kata Laras sambil memeluk lengan Krisna. Berharap emosi Krisna mereda.


''Kamu mengenalnya? ada hubungan apa kamu sama dia?'' tanya Krisna dengan suara meninggi. Dan itu sangat membuat Laras takut.


''Aku harap kamu jangan salah paham dulu. Aku kesini hanya untuk meminta maaf pada Laras sebelum aku pergi.'' Sahut Andy.


''Apa harus dengan memeluknya? sebenarnya ada hubungan apa kalian? jelaskan padaku, Laras!" Laras tidak bisa berkata-kata dengan kemarahan Krisna. Ia hanya bisa memeluk lengan Krisna lebih kuat.


''Aku hanya masa lalunya. Maaf kalau kamu harus melihat ini semua. Jangan salahkan Laras atau marah padanya. Semuanya aku yang salah. Aku selama ini merasa bersalah padanya jadi aku kemari ingin meminta maaf dan menebus kesalahanku. Kamu pasti pria yang baik jadi jaga dan cintai Laras dengan tulus jangan seperti aku yang dengan mudah mencampakkannya. Aku permisi.'' Jelas Andy panjang lebar. Ia kemudian berlalu begitu saja meninggalkan butik Laras. Krisna mendengus, ia kemudian memegang bahu Laras dan menatap mata Laras.


''Laras, katakan padaku? apa yang sebenarnya terjadi?''


''Dia adalah orang yang mengirimkan makanan dan buket bunga itu. Dia Andy, mantan yang pernah aku ceirtakan pada Kakak. Maafkan aku Kak, aku sama sekali tidak ada rasa padanya. Beberapa hari yang lalu dia menemuiku. Dia memberiku cek 100juta untuk mengembalikan semua uang dan kerugian selama kita bersama. Aku menolaknya tapi dia terus mengangguku karena aku tidak mau menerimanya. Tapi aku tidak tahu kalau dia akan melakukan ini, seolah menterorku. Maafkan aku, Kak.'' Jelas Laras sambil terus menangis.


''Aku harap Kakak tidak salah paham padaku dan marah padaku. Dia memelukku begitu saja tanpa aku tahu, dia menganggap pelukan itu sebagai pelukan terakhirnya karena dia akan pergi meninggalkan kota ini. Akhirnya aku memutuskan intuk menerima cek itu supaya dia tidak menggangguku lagi.'' Laras pun terisak sambil memberikan cek yang sedari tadi ia genggam di tangannya. Krisna lalu melihat isi cek itu. Krisna menghela nafas panjang, berusaha untuk percaya semua penjelasan Laras. Melihat Laras yang menangis sesenggukan, membuat Krisna tidak tega untuk marah padanya. Ia lalu menarik Laras dalam pelukannya. Melihat sikap Krisna yang begitu hangat, membuat tangisan Laras semakin keras dalam pelukan Krisna. Laras merasa bersalah tidak menceritakan semua ini dari awal.


''Seharusnya dari awal aku cerita sama Kakak. Tapi aku anggap pertemuan itu hanya pertemuan biasa. Tapi ternyata dia benar-benar mendesakku. Sekali lagi maafkan aku, Kak.''


''Sudah jangan menangis. Aku tidak marah padamu. Hanya saja aku tidak rela kalau ada pria lain yang menyentuhmu selain aku. Seharusnya tadi kamu bisa menendang atau menginjak kakinya. Bukannya larut dengan semua penyesalannya.''


''Iya aku salah, Kak. Maafkan aku ya.''


''Aku tahu bahwa hatimu sangat tulus Laras. Aku harap kamu bisa lebih menjaga kepercayaan yang aku berikan.''


''Iya Kak, aku janji.''


Bersambung....