
''Sebaiknya Ayah disini dulu saja ya untuk menemani Keira dan Marvel. Kalau kalian mau ke rumah baru kalian sekarang juga tidak apa-apa. Biar Ayah yang mengurusnya. Kalian nikmatilah malam pengantin tanpa gangguan. Toh Marvel juga sudah tenang di kamar bersama Keira.''
''Lalu bagaimana dengan omongan para tetangga Yah?''
''Sudah jangan hiraukan ucapan tetangga. Mereka kan hanya melihat yang mereka lihat saja tanpa tahu yang sebenarnya.''
''Bagaimana kalau seandainya Keira menikah dengan seorang duda, Yah?''
''Jodoh, rezeki dan maut itu sudah takdir Tuhan. Kalau memang jodoh Keira seperti itu ya mau bagaimana lagi? yang penting bagi Ayah, Keira bahagia. Sudah kalian pergi saja.''
''Tapi kami tidak mungkin membiarkan Ayah melewati masalah ini sendiri kan?'' sahut Cindy.
''Ini hanya masalah kecil dan sederhana, Cindy. Keira juga sudah dewasa jadi dia juga pasti bisa menanganinya. Biarkan dia belajar menyelesaikan sendiri masalahnya.'' Kata Pak Ammar dengan bijak.
''Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu ya yah. Kalau ada apa-apa segera hubungi kami,'' kata Kenny.
''Iya kamu tidak usah khawatir.''
Kenny dan Cindy pun akhirnya berpamitan menuju rumah mereka.
-
''Mama Keira apa benar-benar tidak mau menjadi mamaku?'' tanya Marvel dengan tatapan penuh harap.
''Marvel, mama Keira tetap bisa menjadi mama kamu tanpa harus menikah dengan papa kan?''
''Tapi aku hanya ingin papa bersama mama. Aku tidak mau papa salah pilih. Banyak sekali wanita yang mencoba merayu papa tapi papa sama sekali tidak pernah terpengaruh. Aku ingin papa bahagia dengan pilihan yang tepat. Aku jamin kalau papa adalah pria yang baik dang sangat setia.''
''Iya mama mengerti kalau papa Kevin itu sangat baik tapi ini bukanlah sebuah lelucon, Marvel. Sekarang mama antar kamu pulang ya?''
''Aku tidak mau pulang!" ketus Marvel.
''Baiklah kamu disini dulu ya. Mama beberes dulu.'' Kata Keira.
''Iya.''
Keira kemudian berlalu dari kamarnya dan membiarkan Marvel istirahat di kamar.
''Kei, ayah ingin bicara,'' kata Pak Ammar saat melihat Keira keluar dari kamarnya.
''Iya Ayah.'' Pak Ammar lalu mengajak Keira menuju halaman belakang. Keduanya lalu duduk bersama dengan hamparan tanaman yang di rawat begitu telaten oleh Pak Ammar.
''Ayah menerima hadiah ini dari tuan Kevin,'' kata Pak Ammar sambil menyodorkan cek senilai 50 juta. Keira menganga dan matanya membulat saat melihat nominal cek itu.
''Banyak sekali, Yah. Apa maksudnya? dia pasti mau menghina kita,'' kata Keira dengan kesal.
''Kamu jangan suudzon dulu, Kei. Lebih baik kamu kembalikan cek ini ya. Hadiah bulan madu untuk kakakmu sudah cukup.''
''Hadiah bulan madu?''
''Iya. Tuan Kevin memberikan tiket bulan madu selama satu minggu di Maldives. Dia pasti orang yang baik dan menghargai kebaikan seseorang.''
''Menghargai apanya Yah? buktinya sama Kei saja dia selalu seperti itu. Selalu membuat darah tinggi.''
''Itu karena kalian sama-sama mengedepankan ego dan amarah. Dan setelah ayah pikir-pikir, sebaiknya kamu setelah lulus menikah saja, Kei.''
''Apa? menikah? Ayah ini apa-apaan sih, kenapa mendadak bicara seperti itu?''
''Ayah ini sudah tua. Kakak kamu juga sudah menikah dan sudah pasti dia punya tanggung jawab baru dengan keluarga kecilnya. Tidak mungkin kan dia selalu mengurusi kamu, Kei. Kalau kamu menikah, ayah akan tenang. Karena ada yang menjaga dan bertanggung jawab sama kamu. Ayah takut kalau usia ayah tidak lama lagi dan tidak bisa menikahkan kamu.''
''Ayah, jangan membuat ku sedih. Aku bisa menghidupi diri ku sendiri. Mulai sekarang aku akan ikut Johan kerja paruh waktu. Setelah pulang magang, aku akan bekerja dengan Johan di cafe. Sudahlah ayah jangan berpikir seperti itu. Ayah akan selalu sehat dan panjang umur. Kita akan bersama selamanya.'' Kata Keira sambil memeluk lengan ayahnya.
''Oh ya ayah dengar Ferdi kembali ya? atau kamu akan kembali bersama dia? dan kenapa dia tidak menemui ayah sama sekali?''
''Jangan berharap pada Ferdi lagi, Yah. Lusa dia akan tunangan dan aku mendapat undangan pertunangannya.''
''Tunangan? sama siapa? kenapa dia tinggalin kamu dengan cara seperti ini? kenapa kamu tidak cerita sama Ayah?''
''Untuk apa Yah? tidak ada yang perlu di ceritakan lagi tentang dia. Buktinya aku baik-baik saja kan Yah. Setidaknya kehadiran Marvel mampu membuat Kei, menghadapi rasa sakit ini.''
''Apa kamu akan datang?''
''Maafkan Ayah ya yang tidak peka dengan perasaan kamu. Ternyata kamu juga terluka karena perbuatan Ferdi. Ayah tidak menyangka kalau dia akan seperti itu. Padahal Ayah sudah menganggapnya anak sendiri tapi dia malah tega mencampakkan kamu demi wanita lain.''
''Karena wanita itu mampu memberikan kehidupan yang layak untuk Ferdi. Dia menikah dengan putri Tuan Handoko, pemilik yayasan sekolah Marvel.''
''Hmmm sangat disayangkan sekali kenapa Ferdi bersikap seperti itu. Padahal dia tampan dan pintar, tentu saja sangat mudah baginya mendapatkan pekerjaan. Apalagi dia lulusan luar negeri.''
''Ah sudah lah, Yah. Kita jangan bahas dia lagi. Kei malas sekali membahasnya. Dengan atau tanpa dia, Kei tetap bahagia.''
''Sabar ya, nak. Kamu pasti akan mendapatkan jodoh yang terbaik.''
''Amin.''
...****************...
Malam harinya, Ferdi sengaja datang menemui Keira di rumahnya.
''Ferdi!" seru Keira saat membuka pintu untuk Ferdi.
''Malam Kei, maaf menganggu. Apa aku boleh masuk?''
''Silahkan,'' ucap Keira.
''Ada perlu apa kamu datang kemari?''
''Aku kesini ingin memberikan hadiah pernikahan untuk Kak Kenny, sekaligus memberikan hadiah untuk Ayah mu.'' Kata Ferdi yang membawa dua kantong paperbag dengan nama brand terkenal.
''Siapa Kei?'' sahut Pak Ammar dari dalam kamar.
''Temen Kei, Yah.'' Sahut Keira. Pak Ammar sendiri sedang menemani Marvel menggambar namun kemudian keduanya keluar.
''Ferdi!" seru Pak Ammar.
''Ayah,'' sapa Ferdi sambil mencium punggung tangan Pak Ammar.
''Bagaimana kabar Ayah?''
''Seperti yang kamu lihat, Fer. Kamu sendiri bagaimana? sepertinya sudah sukses sekarang.''
''Ya begitulah, Ayah. Marvel, dia disini?'' kata Ferdi yang melihat Marvel berada di rumah Keira.
''Iya dia menginap disini.'' Jawab Keira. Marvel lalu duduk di pangkuan Keira dengan manjanya.
''Apa hubungan kamu dengan tuan Kevin sudah sejauh itu, Kei?''
''Bukan urusanmu, Fer. Kamu tidak ada hak mencampuri urusanku. Sebaiknya kamu pergi karena aku tidak mau kedatangan kamu kemari membawa kesalahan pahaman lagi.''
''Aku kesini juga ingin minta maaf padamu tentang Lily. Aku tidak menyangka kalau Lily akan melakukan itu. Aku juga ingin minta maaf pada Ayah, kalau aku telah mengecewakan Kei dan juga ayah. Tapi aku tidak pernah melupakan semua kebaikan kalian padaku dan ibu. Sekali lagi maafkan aku Ayah-Keira,'' kata Ferdi dengan tatapan tulus.
''Sudahlah nak Ferdi, yang berlalu biarlah berlalu. Mungkin kamu dan Kei memang tidak berjodoh.'' Kata Pak Ammar dengan bijak.
''Sebenarnya di hati ku masih menyimpan cinta untuk Keira, Ayah. Tapi kebaikan hati keluarga Lily di saat aku mengalami musibah di luar negeri, membuatku luluh dan akhirnya kami menjalin hubungan. Lily dan keluarganya sudah sangat banyak membantuku dan juga ibu yang sering sakit-sakitan saat aku disana. Mereka yng membantuku menyambung hidup sana. Meskipun telah menjalin hubungan dengan Lily, bayang-bayang Keira selalu hadir dalam benakku. Ada rasa bersalah yang sangat besar saat aku tiba-tiba menghilang dan meninggalkan Keira demi Lily. Tapi jika aku meninggalkan Lily, aku khawatir kalau Lily akan menyakiti Keira. Karena penyebab Keira di keluarkan dari sekolah adalah atas perintah Lily. Maafkan aku, Ayah. Aku menyia-nyiakan putrimu begitu saja. Aku sangat pengecut dan tidak berdaya. Hukumlah aku untuk semua kesalahanku pada Keira. Aku juga menyia-nyiakan kepercayaan dan pengorbanan Ayah. Maafkan aku Ayah,'' cerita Ferdi panjang lebar yang di iringi air mata penyesalan. Keira sendiri tidak bisa menahan air matanya tapi tangan kecil Marvel menghapus air mata itu.
Pak Ammar menghela nafas panjang mencoba memahami apa yang di rasakan oleh Ferdi. Pada dasarnya Ferdi memang anak yang baik dan sopan. Bahkan hubungan keduanya sudah seperti Ayah dan anak. Sebagai seorang Ayah, jelas saja Pak Ammar sangat kecewa dengan sikap Ferdi. Tapi Pak Ammar juga tidak bisa menghakimi Ferdi begitu saja. Karena bagaimanapun kedatangan Ferdi untuk meminta maaf adalah sebuah sikap gentle seorang pria.
''Ayah sudah memaafkan mu nak Ferdi. Walaupun kamu tidak bersama Kei, bukan berarti silaturahmi kita terputus. Ayah turut bahagia dengan kabar pertunanganmu. Ya memang kalian tidak berjodoh, mau bagaimana lagi. Semua itu kan Tuhan yang mengatur. Ayah juga bahagia karena sekarang kamu mendapat kehidupan yang lebih layak dari sebelumnya.''
''Sebaiknya kamu pergi, Fer. Aku tidak mau terlibat lagi dengan semua kehidupanmu. Semuanya sudah selesai dan bawa hadiah itu kembali. Kami tidak butuh,'' kata Keira yang mencob bersikap tegas sekalipun hatinya terasa sakit.
''Tapi Kei ini hadiah pernikahan untuk Kak Kenny dan untuk Ayah, anggaplah ini hadiah terakhir dari ku. Karena mungkin setelah menikah aku dan Lily akan menetap di luar negeri.''
''Silahkan pergi! pintunya ada di sebelah sana,'' kata Keira tanpa memandang Ferdi sama sekali.
''Baiklah aku pergi. Ayah, aku pamit sekali lagi maaf dan terima kasih untuk semuanya. Tapi asal kamu tahu Kei, sampai detik ini aku masih menyimpan cinta untukmu.'' Ferdi kemudian beranjak dari duduknya dan pergi. Ia memilih meninggalkan hadiah itu di meja. Melihat putrinya menahan tangis, Pak Ammar pun mendekapnya.
''Sudah ya, lupakan dia.'' Kata Pak Ammar.
''Mah, jangan menangis. Masih ada aku dan papa,'' ucap Marvel yang juga merasa sedih melihat Keira menangis. Keira hanya tersenyum sambil mendekap Marvel.
Bersambung.....