
Sementara itu di rumah, Miko sedang menikmati sarapan pagi bersama Gina, Zidni dan juga Chika.
''Zidni, terima kasih ya. Kamu kemarin sudah mengurus semuanya. Om lega karena perlahan kamu berubah.''
''Terpaksa Om. Mau tidak mau." Jawab Zidni dengan santainya sambil menyantap sepotong roti.
''Ya apapun itu, Om bangga sama kamu. Oh ya, daripada Chika naik taksi atau angkot, sebaiknya kamu ajak Chika berangkat sama-sama saja.''
''Tidak usah, Om. Aku sudah biasa naik taksi atau angkot. ''
''Kan arah kantor searah, Chika. Kasihan kamu kalau nunggu.''
''Tidak apa-apa Om. Ojek online juga on time kok.''
''Ya sudah kalau begitu nanti pulangnya Chika jemput ya, Zid. Kasihan kalau kemalaman pulang. Apalagi anak perempuan. '' Miko berusaha mendekatkan Zidni dengan Chika. Karena perlahan Zidni berubah karena Chika.
''Tidak usah, Om. Selama ini Chika sudah terbiasa pulang sendiri.''
''Kamu ini tidak usah melulu, Chika. Pokoknya Zidni, kamu harus jemput Chika. Kalian tinggal satu rumah, apa susahnya bareng-bareng sih? Kamu juga Zidni, masa iya tidak ada rasa empatinya sama sekali.'' Ucap Miko dengan kesal.
''Mas, kamu ini kok marah-marah sih.'' Sahut Gina yang merasa heran dengan sikap suaminya itu.
''Ya habisnya greget sama mereka. Aku tidak enak sama kamu sayang. Chika keponakan kamu, tapi keponakan ku ini tidak bisa bersikap baik sama Chika. Masa iya satu rumah seperti orang asing. Aku kan kasihan sama Chika.''
''Mas, Chika itu sudah terbiasa mandiri jadi kamu tidak usah pusing-pusing mikirin itu.''
''Tapi aku tetap khawatir sayang. Apalagi kalau Chika lembur dan pulang malam. Kalau ada apa-apa di jalan bagaimana?''
''Iya-iya Om, nanti aku jemput.'' Sahut Zidni.
''Nah, gitu dong! Jadi cowok itu tanggung jawab apalagi kita ini satu keluarga.''
Selain tidak mau merepotkan Zidni, sudah pasti Zidni tidak mau terus bersama Chika. Itulah yang ada dalam benak Chika. Sulit sekali mencairkan sikap Zidni.
-
''Bagaimana Leon?'' tanya Nadia. Leon di buat melongo oleh Nadia yang sedang mencoba gaun pengantin.
''Leon, hello! " ucap Nadia sambil menjentikkan jarinya di depan wajah Leon. Leon pun tersadar. Ia terbius dengan kecantikan Nadia.
''Kamu sempurna! Sangat cantik.'' Puji Leon tanpa bisa melepaskan pandangannya dari Nadia.
''Beneran nih? Tapi aku kurang nyaman karena bahunya terbuka begini.''
''Aku suka yang ini, Nadia. Namanya juga gaun pengantin. Kamu adalah pengantin tercantik yang pernah aku lihat.''
''Jangan banyak membual, Leon. Aku ini seorang jaksa, jadi rayuan seperti itu tidak mempan untukku.''
''Baiklah aku akan meralat ucapanku. Kamu adalah pengantin tercantik bagiku.''
''Itu baru kenyataan. Karena yang lebih cantik dari aku pasti banyak.''
''Baiklah kita pilih yang ini ya?''
''Iya deh.''
Setelah selesai fitting baju pengantin, Leon mengajak Nadia untuk melihat gedung pernikahan mereka nanti. Bukan gedung, lebih tepatnya Leon dan Nadia menginginkan konsep pernikahan outdoor dengan tema garden.
''Bagaimana menurut kamu, Nadia?''
''Bagus kok, aku suka konsepnya.''
''Untuk cateringnya bagaimana?''
''Apa yang baik menurut kamu, Leon.''
''Biasanya perempuan yang begitu heboh dengan persiapan pernikahan tapi Nadia sangat santai bahkan memasrahkan semua pilihan pada ku.'' Batin Leon.
Setelah melakukan fitting, melihat lokasi pernikahan dan mengurus beberapa hal yang lain, Leon mengajak Nadia untuk makan siang bersama.
''Nad, kamu bahagia?''
''Aku jelas bahagia lah. Kamu ini tanya apa sih?''
''Habisnya semua urusan pernikahan, kamu iya-iya saja. Biasanya cewek itu ribet dan dominan, ini kamu pasrah-pasrah saja. Seperti ini tidak ada antusias gitu.''
''Leon, beginilah aku. Kamu tahu kan, aku bukan tipe cewek yang manja dan menye-menye. Aku tidak dominan, bukan berarti aku seperti yang kamu pikirkan. Mungkin terbiasa hidup mandiri, membuat karakterku terbentuk seperti ini. Lagi pula untuk aku ribet dan mau rewel, toh semua pilihan kamu sudah pasti bagus. Kamu juga pasti akan memberikan yang terbaik untuk aku, Leon. Bukan berarti aku tidak antusias, Leon. Aku bahagia dengan pernikahan ini. Tidak ada alasan bagiku untuk tidak bahagia. Aku mempunyai suami yang sangat baik dan perhatian, secara ekonomi sudah sangat mapan, jadi apalagi yang harus aku risaukan, Leon? Aku mempunyai suami yang sempurna.''
Leon kemudian menggenggam tangan Nadia. ''Nadia, kadang aku ingin melihat kamu manja. Jujur saja, aku merasa takut kalau kamu tidak butuh aku karena kamu terlalu mandiri. Aku ingin sekali melihatmu merengek manja atau ngambek gitu. Mungkin perbedaan usia yang membuat pemikiran kita beda.''
''Bukan masalah usia Leon tapi tentang keadaan. Keadaan yang memaksaku menjadi dewasa, kuat dan mandiri. Kamu tahu tidak, rasanya melewati hari demi hari tanpa adanya orang tua yang mendampingi kita. Saat kamu sedih dan menangis tidak ada tempat untuk bersandar, saat kamu bahagia pun tidak ada tempat untukmu berbagi tawa. Bahkan saat kamu sedang lelah dengan semuanya, tidak ada sentuhan lembut yang menenangkan. Pelukan dan sentuhan lembut juga tidak ada. Apalagi untuk mengulang suapan pertama dari seorang Ibu dan Ayah. Apa kamu tahu? Bagaimana rasanya melewati semua itu sendiri? Disaat kamu tidak ingin melewati semuanya sendiri tapi kamu di paksa sendiri, di paksa berjuang sendiri dan di paksa jatuh bangun sendiri. Apa kamu pernah merasakan itu?'' seketika air mata Nadia jatuh membasahi wajah cantiknya. Melihat Nadia menangis, Leon menggeser kursinya dekat dengan Nadia. Leon kemudian menyeka air mata Nadia. Leon lalu menyandarkan kepala Nadia di bahunya.
''Sekarang, ada aku tempat kamu bersandar, Nadia. Sekarang, saat kamu ingin menangis, ingin mengeluh bahkan ingin marah sekalipun, kamu bisa membaginya dengan aku. Aku akan mengisi semua kekosongan yang kamu lewati sendiri selama ini. Kamu bisa menangis sekarang, aku siap menjadi tempatmu bersandar.'' Ucap Leon sambil mengelus kepala Nadia yanh ia sandarkan di bahunya. Nadia pun menumpahkan semua kesedihannya dengan tangisan. Leon memeluk Nadia yang menangis sesenggukan.
''Aku akan selalu menjaga kamu, Nad. Sampai nafasku tidak ada lagi.''
''Maafkan aku Leon yang tidak bisa menjadi seperti yang kamu minta.''
''Aku justru yang minta maaf karena aku tidak melihat jauh kedalam lubuk hati kamu. Maafkan aku ya. Sekarang kamu tidak perlu sedih atau merasa sendiri. Karena ada aku, Mama dan Papa. Mereka juga sangat sayang sama kamu.''
''Iya, aku tahu itu dan aku sangat beruntung memiliki mertua yang sangat baik dan tulus seperti itu.'' Nadia kemudian melepaskan rangkulan Leon. Ia menyeka air matanya sendiri.
''Sepertinya Nadia yang cengeng tadi bukanlah aku. Tidak seharusnya aku menangis disini.''
''Tidak apa-apa. Kalau ada yang komplain, aku yang akan mengusir mereka dari sini. Sesekali tidak masalah menunjukkan sisi lain diri kita. Dari pada kamu pendam sendiri. Memang seorang jaksa tidak boleh manja gitu dengan calon suaminya?''
''Pasti kalau tim ku melihat aku yang tadi, mereka akan tertawa. Karena image tegas , disiplin dan galak sudah terlanjur melekat dengan diriku.''
''Tidak masalah Nadia. Diluar seperti singa tapi dirumah seperti kucing, '' ucap Leon seraya tertawa. Nadia pun ikut tertawa mendengar ucapan Leon. Leon lalu memberikan kecupan di kening Leon. Nadia beruntung sekali mempunyai calon suami yang begitu penyayang.
Bersambung....